Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Cerita Ibu


__ADS_3

Ada dua hal penting yang bermanfaat bagi anak ketika ia dewasa nanti, yaitu kenangan indah bersama orang tuanya dan kebiasaan baik yang diajarkan orang tuanya.


Hal ini pula yang dirasakan Akhtar hingga saat ini. Kekuatan cinta kasih sang Ibu adalah keajaiban untuknya. Kebersamaan dengan sang Ibu di masa golden agenya membuat semua yang pernah dia alami di masa lalu menjadi kenangan yang indah untuknya. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dia lakukan karena ajaran sang Ibu masih membekas hingga saat ini.


Setiap orang pasti memiliki cerita dan kesan tersendiri terhadap ibunda tercintanya, terutama pengalaman-pengalaman suka dan duka ketika menjalani hari-hari kehidupan.


Dari kacamata spiritual, kita dapat melihat bahwa do'a seorang ibu ternyata memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan hidup keluarga. Tidak dapat dipungkiri lagi, setiap ibu pasti memiliki "modal dengkul" untuk berlutut berdo'a menopang kehidupan keluarga, anak-anak serta pekerjaan suami.


Banyak ahli seni yang mengekspresikan peran seorang ibu dalam kehidupan, salah satunya melalui lagu-lagu yang menceritakan betapa berharga dan berartinya seorang ibu.


Ummi, jiwa dan hidupku. Pemberi kebahagiaan dan harapan. Sekarang, juga di masa yang akan datang, ... Ibu ... Ibu!


Demikian juga ada artis yang selalu mengingat ibundanya dengan "dengkul" yang kuat dalam reff lagunya,


Di do'a ibuku, namaku disebut. Di do'a ibu kudengar, ada namaku disebut!


Demikian pula bagi Akhtar, kehadiran dan peran Ibunya adalah semangat baru untuk hidupnya.


"Shadaqallahul'adzim", Akhtar mengakhiri aktivitas ba'da shalat subuhnya.


Salah satu kebiasaan baik yang diajarkan ibunya sejak dulu adalah membaca Al-Qur'an setiap habis Shalat. Apalagi Maghrib dan Subuh adalah momen yang pas untuknya memperbanyak bacaan Al-Qur'an karena siang hari aktivitas padat kadang hanya membuatnya membaca beberapa ayat selepas shalat bahkan kadang melewatkannya karena sudah ditunggu pekerjaan atau pertemuan dengan klien.


Akhtar beranjak dari tempatnya, berdiri melipat sejadah dan menyimpannya ke tempat semula. Dia keluar kamar saat hari masih gelap. Cuaca pagi ini agak mendung sehingga membuat suasana pagi lebih dingin di Bandung.


Sudah tiga hari dia kembali ke Bandung dengan membawa sang Ibu, sebuah rumah sederhana di daerah perbatasan Bandung-Cimahi sudah dia siapkan untuk menyambut kedatangan sang Ibu, tentunya dengan bantuan Ghifar sang asisten dia mempersiapkan semua ini tanpa sepengetahuan sang ayah.


Akhtar memutuskan membawa ibunya ke rumah ini. Rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan dan kamar mandi yang berada di ujung dapur. Sengaja di design minimalis namun memiliki halaman yang cukup luas. Dia tahu dari dulu ibunya paling suka merawat tanaman-tanaman hias. Dia pun sudah menyiapkan semuanya agar Ibunya tidak bosan saat berada di rumah.


Aneka bunga dan tanaman hias lainnya sudah berjajar rapi di halaman dan mulai menjadi rutinitas sang ibu setiap pagi dan sore untuk merawatnya. Jarak yang tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat dari yayasan dan perusahaannya membuat dia lebih mudah memantau sang ibu.


Semenjak kedatangannya dari Jakarta Akhtar sudah kembali mengurus perusahaannya, hanya dia belum sempat kembali ke yayasan mengingat kesibukannya di perusahaan setelah lebih dari seminggu dia tinggalkan. Ditambah lagi kesibukan di yayasan terkait acara pertunangannya membuat dia semakin enggan kembali ke yayasan karena dia tahu berdasarkan laporan dari Ghifar, Shanum dan Ahsan yang menyiapkan semuanya.


Dia tidak bisa membayangkan harus melihat Shanum dan Ahsan terus bersama. Dia pun tidak ingin membuat Shanum semakin terluka, Akhtar tahu Shanum pasti terluka harus terlibat langsung dalam persiapan pertunangannya, tapi sepertinya memang tidak ada pilihan untuk Shanum menolak.


Suara yang berasal dari arah dapur menjadi perhatiannya saat keluar kamar. Akhtar menghentikan langkahnya ketika melihat sang ibu tengah sibuk dengan aktivitas dapurnya. Akhtar berjalan lebih pelan agar tak mengganggu aktivitas sang Ibu, dia ingin mengejutkan sang Ibu dengan kehadirannya seperti dahulu saat mereka masih hidup bersama dengan sang ayah.


Tanpa aba-aba Akhtar memeluk sang Ibu dari belakang. Sontak hal tersebut membuat sang ibu terlonjak kaget.


"Astaghfirulloh...", teriak sang Ibu saat mendapati sepasang tangan kekar berada di pinggangnya.


"Hahahaha....." Akhtar tertawa melihat ekspresi sang Ibu.

__ADS_1


"Kamu ini ya, nakalnya masih ada," ucap sang Ibu sembari memukul pelan tangan yang masih melingkar di pinggangnya.


"Akhtar kangen lihat Ibu kaget kaya tadi, hahaha...." Akhtar masih tak bisa berhenti tertawa.


Kali ini tawanya sangat lepas, aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya. Kehadiran sang Ibu sungguh membuat hidupnya kembali bermakna. Membahagiakan sang Ibu kini adalah prioritasnya.


Semenjak kehadiran sang Ibu kembali dalam hidupnya, sejenak dia bisa melupakan konflik batinnya tentang keputusannya menerima pertunangan dengan Raina dan harus rela melepas Shanum bahagia dengan Ahsan.


"Kamu duduk dulu di sana, biarkan Ibu menyelesaikan ini. Setelahnya kita sarapan bersama ya!", pinta sang Ibu dengan lembutnya.


Dari dulu beliau memang jarang marah. Ibu selalu melayani Akhtar dan Ayahnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Akhtar pun heran dengan pilihan ayahnya yang lebih rela kehilangan perempuan sederhana, lemah lembut dan penuh kasih ini.


"Baiklah, Ibunda Ratuku. Pangeran akan menunggu Ibunda menyelesaikan hidangan istimewa untuk Pangeran, hahaha...." jawabnya dengan canda. Akhtar melepas pelukannya dari sang Ibu dan duduk di kursi meja makan yang masih berada di dapur masih dengan tawanya.


"Bu, Akhtar bisa bantu apa?" tanya Akhtar melihat sang Ibu yang masih tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Tidak ada, kamu duduk saja yang manis ya. Ini Ibu sudah buatkan teh hijau untuk kamu", jawab ibu sejenak beralih dari pekerjaannya dan mengambilkan teh hijau yang sudah disiapkannya untuk sang putra.


"Baiklah..." Akhtar tersenyum menjawabnya sambil menerima uluran secangkir teh hijau yang sudah disiapkan sang ibu untuknya dan menyesapnya perlahan.


Akhtar terus memandangi sang Ibu yang tampak masih sibuk menyiapkan sarapan.


'Ada matahari dalam rumah, wajahnya bersih, matanya penuh cerita. Padanya lenyap segala duka. Dia ratu tak bermahkota, namun bertelapak kaki Surga.' ucapnya dalam hati sambil tersenyum memandangi Ibunya.


Akhtar bahagia kini dia dapat kembali merasakan kebersamaannya dengan sang ibu. Kekuatan sang Ibu berada dalam tangannya yang dingin dan hati yang tulus serta pikiran optimis dalam membangun kebahagiaan di rumah. Keteladanan sang ibu tampak dari untaian do'a-do'a yang mengalir disertai air mata untuk memanjatkan syukur dan permohonan kepada Sang Pencipta.


Dalam perwujudannya, cinta kasih sang ibu semakin bermakna untuk Akhtar ketika ketulusan hadir. Dan entah mengapa dia sungguh tidak mendapati itu ketika bersama dengan keluarga ayahnya, walau pun ibu sambungnya itu selalu memberinya perhatian, tapi Akhtar tak merasakan kebermaknaan dari perhatian sang ibu sambung.


Siapakah yang dapat menggantikan peran dan kasih sayang seorang ibu? Jawabannya tidak ada! Ibu adalah ibu dan satu adanya.


Akhtar menikmati sarapan yang telah dibuatkan ibu untuknya. Dia begitu lahap menikmati nasi goreng kesukaannya, sejak dulu menu sarapan paling spesial pilihan Akhtar adalah nasi goreng buatan sang ibu.


Ibunya menatap senang melihat Akhtar makan dengan lahapnya.


"Kenapa Ibu belum makan?" Akhtar menjeda aktivitas sarapannya karena melihat sang ibu belum juga memulai sarapannya.


"Ibu senang melihat kamu makan dengan lahap, ternyata kamu masih suka dengan nasi goreng buatan ibu", jawab sang ibu jujur.


"Dari dulu aku memang paling suka dengan nasi goreng buatan ibu, aku jadi lebih bersemangat menjalani hari-hariku hhe..." Akhtar terkekeh dengan mulut penuh saat mengatakannya.


"Pelan-pelan makannya", Ibu mengingatkan dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Akhtar. Dia kembali fokus dengan nasi gorengnya. Ibu pun memulai sarapannya, pandangannya tetap sering tertuju pada sang putra yang begitu antusias menikmati sarapannya.

__ADS_1


Kebersamaan di meja makan mengawali hari mereka sejak beberapa hari ini, membuat Akhtar merasakan semangatnya bertambah beberapa kali lipat. Kehadiran kembali sang ibunda memberi efek positif luar biasa bagi dirinya.


Mereka kini tengah berada di halaman belakang, Akhtar sengaja menunda keberangkatannya ke kantor agar bisa lebih lama bersama sang ibu.


"Bu, sejak Ibu pergi aku belum pernah lho merasakan lagi nasi goreng seenak buatan Ibu", Akhtar membuka percakapan.


"Oya? memangnya di rumah Ayahmu enggak pernah sarapan nasi goreng?"


"Pernah sih cuman gak ada yang seenak buatan Ibu",


"Masa? padahal resepnya sama lho", Ibu sepertinya tidak sadar sudah mengatakan sesuatu yang membuat Akhtar keheranan.


"Benarkah? kenapa bisa sama, Bu?" tanya Akhtar penasaran.


Ibu menghentikan aktivitasnya menyiram tanaman. Beliau sadar sudah keceplosan berbicara. Ibu menatap Akhtar yang sedang menunggu jawaban. Beliau berpikir mungkin memang sudah saatnya putranya itu mengetahui kenyataan tentang kehidupannya.


Ibu menyimpan selang air yang digunakan untuk menyiram tanaman, beliau mencuci tangan dan menghampiri Akhtar duduk disampingnya.


"Nak, maafkan Ibu jika selama ini Ibu menyembunyikan sesuatu yang membuat kamu penasaran", Akhtar terdiam menunggu Ibu melanjutkan pembicaraannya.


"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa dulu Ibu memilih berpisah dengan Ayahmu. Ibu juga tahu kamu pernah menanyakan hal ini kepada Kakek dan Nenek. Sekarang kamu sudah dewasa, sudah bisa mempertimbangkan dengan baik sebab akibat dari setiap sebuah keputusan. Ibu akan menceritakan semuanya, Ibu harap kamu bisa bijaksana menanggapinya dan menerima ini sebagai ketentuan Allah yang terbaik untuk kita." Ibu menghela.napas menjeda ucapannya.


"Ibu dan Sopia ibu sambungmu adalah teman. Dulu kami menuntut ilmu di tempat yang sama. Dia yang berasal dari keluarga berada termasuk orang yang sulit mendapatkan teman. Kebanyakan teman-temannya tidak tulus dan hanya memanfaatkan pertemanan mereka. Sering Sopia menangis karena kecewa oleh teman-temannya sehingga dia lebih memilih sering sendirian."


"Di saat yang sama Ibu yang juga hanya anak kost dan berkuliah karena mendapat beasiswa pun lebih sering sendiri ketika di kelas. Teman-teman sesama pejuang beasiswa berada di jurusan yang berbeda-beda sehingga kami sulit bertemu jika saat jam kuliah",


"Kedekatan kami berawal saat Ibu berada di perpustakaan dan dia pun ternyata sedang berada di sana. Kami bertemu dan saling mengobrol, bertukar informasi dan bahan-bahan tugas. Hingga kedekatan kami semakin intens. Ibu senang memiliki sahabat seperti Sopia, meskipun dia berasal dari keluarga berada tapi tidak menonjolkan dirinya dalam hal kekayaan."


"Selesai kuliah hubungan kami masih terjalin dengan baik, dia bahkan datang ke Garut saat pernikahan Ibu. Ibu dan Ayah hanya guru honor yang berpenghasilan tidak seberapa di kampung. Hingga suatu hari dia menawari kami untuk mengajar di yayasan miliknya. Ibu senang dan Ayah pun sangat antusias menerima tawaran itu."


"Setahun pernikahan dan tinggal di Garut, kami masih belum memiliki keturunan. Sehingga ketika tawaran Sopia datang, kami sepakat untuk menerimanya."


"Dua tahun mengabdi di yayasan dengan penghasilan yang sangat cukup, tinggal di rumah dinas dengan segala fasilitasnya. Ayahmu lebih sering terlibat manajemen yayasan, sehingga dia diangkat menjadi kepala pada lembaga pendidikan tempat kami mengajar.",


"Tiga tahun menjalani rumah tangga dan belum juga memiliki keturunan, sedikit menjadi masalah untuk keluarga Ayahmu tapi Ibu sangat memaklumi karena Ayahmu adalah anak pertama, wajar jika Kakek dan Nenekmu menginginkan segera memiliki cucu."


"Allah Maha Baik, disaat semuanya sudah siap Dia mengabulkan do'a -do'a Ibu dan Ayah. Menginjak tahun keempat pernikahan kami, kamu hadir di rahim Ibu. Ibu dan Ayah sepakat untuk lebih fokus dengan kehamilan Ibu, Ibu memutuskan untuk resign dari yayasan. Kami membeli rumah sederhana dengan tabungan yang sudah kami kumpulkan beberapa tahun itu."


"Beberapa bulan keluar dari rumah dinas, Ayahmu menjalani hari-harinya dengan semangat. Kehadiran kamu sungguh anugerah terindah dalam pernikahan kami. Setiap hari Ayah pergi bekerja ba'da shalat subuh dan pulang menjelang maghrib. Saat Ayah berada di rumah, dia tidak pernah membiarkan Ibu melakukan pekerjaan apapun. Sampai ketika kamu sudah lahir, Ayahmu mulai menunjukkan perubahan dia lebih sering pulang terlambat bahkan tidak pulang dan bilang tinggal di rumah dinas karena harus lembur, Ibu tidak curiga apapun karena dia tetap memperlakukan ibu dan kamu dengan sangat baik."


"Bertahun-tahun berlalu, selama itu pula di saat hari libur Ibu sambungmu selalu mengunjungi rumah kita, banyak yang sering kami lakukan termasuk memasak bersama. Saat kamu masuk SMP Ayah semakin menunjukkan perubahannya, sampai dia meminta izin untuk kembali tinggal di rumah dinas yayasan dan pulang saat libur sekolah."

__ADS_1


"Dengan berat hati Ibu pun menerima permintaan Ayah, Ibu berpikir mungkin Ayah memang sudah lelah jika harus pulang pergi bekerja. Apalagi jabatan Ayah yang semakin tinggi otomatis kesibukannya semakin banyak. Saat pulang biasanya Ibu dan kamu adalah prioritas Ayah, tapi beberapa bulan terakhir Ayah selalu pulang bersama tante Sopia, kamu masih ingat kan saat tante Sopia sering ke rumah kita?", tanya Ibu pada Akhtar di sela-sela ceritanya. Akhtar tampak berpikir, dia pun mengangguk, kecurigaannya semakin menjadi nyata.


"Sampai hari itu tiba, Ibu melihat Ayahmu memeluk tante Sopia yang sedang memasak di dapur kita...", ucap Ibu lirih seiring dengan nadanya yang semakin menurun. Beliau menundukan kepalanya, menarik nafasnya panjang dan menghempaskannya perlahan.


__ADS_2