
H-4 Idul Fitri....
Masih ada waktu dua hari lagi untuk membuka warung ibu sebelum ditutup sementara karena akan menjelang idul fitri dan akan kembali buka seminggu pasca idul fitri.
Shanum menyusun kotak-kotak yang berisi pesanan hari ini. Mendekati idul fitri warung ibu sudah tidak menerima delivery order, pesanan akan diterima jika si pemesan bersedia mengambil langsung pesanannya ke warung ibu.
Shanum sengaja membuat ketentuan baru, mengingat keterbatasan waktu dan tenaga yang mereka miliki ditambah lalu lintas yang mulai padat karena arus mudik membuat delivery order diclose lebih awal.
"Semuanya sudah selesai ya, jam berapa katanya mau diambil, In?" tanya Shanum pada Indri yang masih sibuk menyiapkan nota dan kuitansi lunas dibayar. Pembayaran sudah dilakukan via transfer ke rekening sang owner yaitu Shanum.
"Jam empat, Teh. Katanya mereka sekarang baru keluar dari tol Cileunyi. Jadi kemungkinan nyampe ke sini sekitar dua jaman lagi" jelas Indri yang menerima kabar dari si pemesan asal Pameungpeuk itu bahwa mereka akan sedikit terlambat mengambil pesanannya.
"Hah, kenapa dari Bandung? bukannya orang Pameungpeuk?" tanya Shanum heran, dia masih anteung mengecek pesanan satu persatu, memastikan semua yang sudah disiapkan sesuai dengan pesanan. Kemasan pun tidak lepas dari perhatian Shanum. Dia tidak ingin pelanggan kecewa, karena tampilan kemasan tentu menjadi penentu kesan pertama yang akan dirasakan oleh pelanggan.
"Iya Teh mereka dari Bandung dan mau ke Pameungpeuk makanya sekalian diambil pesanannya" Indri kembali menjawab pertanyaan sesuai informasi yang dia terima dari si pelanggan.
"Teteh, udah aku masukan ke grup peserta reuni akbar ya" Indri mengalihkan pembicaraan mereka setelah selesai membubuhkan stempel Warung Nasi Ibu By SNA di kuitansi untuk diserahkan ke pemesan.
"Oya, kapan?" tanya Shanum acuh.
"Barusan, tuuh..." Indri menunjukkan layar gawainya ke arah Shanum.
Hari ini Shanum dan Indri terlihat lebih santai, mereka duduk di babancong sambil menunggu kumandang adzan ashar. Warung belum dibuka, sesuai jadwal yang sudah ditentukan bahwa warung ibu akan dibuka tepat pukul empat sore.
Ibu dibantu ceu imas dan bi isah masih sibuk memasak di dapur. Tiga puluh porsi makanan sesuai pesanan mereka yang akan berbuka di warung ibu hari ini setelah sebelumnya melakukan reservasi sudah mulai disiapkan.
"Bu, Neng Zahra teh sudah menikah gening (ternyata)?" Bi Isah memulai obrolan tentang Shanum. Orang-orang di kampung memanggil Bu Hana dengan sebutan Ibu karena mereka mengetahui jika Bu Hana adalah seorang Guru, bahkan sebelum membuka warung nasi ini Bu Hana juga sering membantu mengajar di madrasah diniyah yang dikelola oleh adiknya Pak Imran.
Bu Hana yang sedang mengaduk sambel goreng kentang mustopa di atas kuali dengan api sedang sejenak menghentikan aktivitasnya. Dia menengok ke arah Bi Isah yang juga anteng membungkus tahu yang sudah dihancurkan dan dicampur dengan beberapa bahan lainnya untuk dipepes menggunakan pembungkus daun pisang.
"Bi Isah tahu dari siapa?" tanya Bu Hana yang merasa selama ini tidak pernah membahas tentang putri sulungnya itu dengan siapapun. Di kampung pun hanya keluarga dekat yang mengetahui jika Shanum sudah menikah dan suaminya sudah meninggal.
"Dari Neng Zahra, waktu itu ada yang nitip salam buat neng zahra ke bibi. Bibi sampaikan dan kayaknya orang itu suka sama neng zahra, tapi neng zahra bilang dia sudah menikah. Katanya dengan orang Jakarta ya? mertuanya katanya bakalan datang nanti lebaran" jelas Bi Isah menyampaikan kembali informasi yang dia terimanya dari Shanum kepada Bu Hana.
Bu Hana hanya tersenyum, putri sulungnya itu masih saja menutupi identitasnya. Sudah pernah Bu Hana berbicara dari hati ke hati dengan putri sulungnya agar dia mencoba mulai kembali membuka hati. Namun Shanum masih terlihat enggan untuk memulai hubungan lebih dengan lawan jenis. Bu Hana pun tidak mau memaksakan putrinya, dia faham bagaimana karakter Shanum. Bu Hana hanya berdo'a semoga suatu hari nanti datang lelaki yang menyayangi putrinya dan menerima dia apa adanya.
"Memangnya siapa Bi yang nitip salam sama putri saya?" tanya Bu Hana penasaran.
"Itu Bu, adiknya Pa Kades Desa sebelah. Dia sering jajan di sini ko yang pake motor besar itu. Dia kan jadi pemuda idaman di kampung, selain ganteng dia juga pemuda kaya yang sudah punya banyak usaha di usianya yang masih muda.
"Ouh, tuh atuh bi ka neng imaskeun, geura nikah deui neng da anom keneh (tuh bi ke neng Imasin, cepat nikah lagi neng kan masih muda)" Bu Hana mengalihkan pembahasan tentang putri sulungnya. Dia menghindari kisah tentang Shanum menjadi bahan obrolan mereka.
"Ah ibu mah, abdi mah teu wararantun teuing Bu (Ah Ibu mah, saya mah ga berani, Bu)" jawab Ceu Imas sambil bergidik menggerakan bahunya.
"Kenapa?" tanya Bu Hana diakhiri kekehan karena melihat aksi Ceu Imas.
"Dia masih bujangan (pemuda lajang) Bu, ganteng, kaya lagi mana mau menikah sama saya janda, sudah punya anak dua, miskin, gak cantik lagi. Dari mananya coba dia bisa melirik saya?" ungkap ceu imas menguraikan semua kekurangannya sambil diselingi canda tawa.
"Ah kamu mah suka merendah gitu. Kamu tuh cantik, masih muda juga, justru beruntung laki-laki yang menikahi kamu karena dapat bonus dua anak. Kalau jodoh mah pasti tidak akan ketukar" balas Bu Hana santai.
"Hahaha....di aminin deh Bu, amin paling serius kalau kata anak-anak jaman sekarang mah" jawab ceu imas dengan tawa yang menggelegar memenuhi dapur ibu karena merasa tersanjung dengan pujian Bu Hana.
Mengingat kembali pernyataan Bu Hana yang mengatakan kalau lelaki yang menikahinya beruntung karena dapat bonus dua anak dia jadi tertawa sendiri.
"Kenapa nyi?" tanya bi isah heran yang mendengar Hana tertawa sendiri selepas kepergian Bu Hana yang pamit karena akan mengikuti buka bersama sekaligus reuni teman-teman PGA nya.
"Itu bi, Bu Hana bilang kalau laki-laki yang akan menikahi saya beruntung karena akan dapat bonus dua anak. Jadi hoyong seuri teras (jadi pingin ketawa terus), hahaha...." jawabnya sambil kembali tertawa lepas.
__ADS_1
Bi Isah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan janda muda dua anak itu. Ceu Imas memang masih muda, bahkan lebih muda dari Shanum karena dia menikah di usia yang relatif masih sangat muda untuk menikah. Di usianya yang ke dua puluh lima sekarang dia sudah mempunyai dua anak yang masih kecil-kecil.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, semua sudah bersiap di posisinya masing-masing. Shanum duduk di balik meja tinggi sedada sebagai kasir. Indri bersiap menyambut kedatangan para pengunjung warung ibu yang sudah reservasi kemarin. Ceu Imas terlihat sedang menyiapkan pesanan yang akan diambil oleh para pembeli online yang sudah terlebih dahulu mentransfer uangnya. Sementara Bi Isah masih beres-beres di dapur sendiri karena Bu Hana sudah pergi ke tempat reuninya diantar Pak Imran.
Saat warung dibuka oleh Indri, tampak beberapa orang sudah datang dan memarkirkan kendaraan bermotornya di sisa halaman yang berbatasan dengan jalan. Mereka langsung memasuki warung dan yang disambut oleh Indri dan diarahkan terlebih dahulu untuk konfirmasi dan membayar ke meja kasir.
Shanum melayani setiap pengunjung yang datang dengan ramah, seulas senyum selalu Shanum tampilkan saat pelanggan menghampirinya. Begitu pun dengan Indri dia menyambut para pengunjung warung tidak hanya dengan senyuman namun dengan kata-kata sambutan yang membuat para pengunjung merasa nyaman dan sangat dihormati.
"Assalamu'alaikum, selamat datang di warung Ibu. Silahkan akang atau teteh ke meja kasir untuk mengkonfirmasi pesanan dan melakukan proses pembayaran ya" ucap Indri dengan ramah dan penuh keceriaan yang disambut pula dengan senyuman dan anggukan oleh para pengunjung. Mereka pun menuju meja kasir sesuai arahan Indri dengan tertib karena mulai terlihat antrian.
Shanum pun melayani mereka satu persatu, dia bahkan tidak fokus dengan siapa saja dia berhadapan. Kendatipun tatapannya tertuju pada layar laptop yang ada dihadapannya namun Shanum tetap mengukir senyum di bibirnya. Tanpa Shanum sadari sepasang mata di antara antrian itu menatapnya dengan penuh selidik.
"Hey, kamu Shanum kan?" tanya orang itu saat sudah berhadapan dengan Shanum.
Shanum yang mendengar seseorang memanggil namanya mendongak ke arah sumber suara. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan tegap menggunakan kemeja berbahan batik tengah menatapnya penuh selidik.
"I...iya, saya Shanum. Maaf Akang siapa ya?" tanya Shanum yang juga terus memandangi wajah orang itu, dia benar-benar lupa siapa orang yang ada di hadapannya.
"Euleuh.....kamu lupa, saya Andi, Andiana Hakim. Kita satu sekolah dulu di SMP Al-Kausar, ingat?" tanya Andi dengan menunjukkan jari telunjuk tepat di depan wajah Shanum.
Shanum memutar bola matanya tampak berpikir, mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh laki-laki yang dihadapannya.
"Aku Andi, si kurir surat cinta Akhtar buat kamu" imbuh Andi kembali mengingatkan Shanum.
Deg...mendengar nama itu Shanum merasa ada sesuatu yang menghentak hatinya.
"Ouuh.....Andi, Ya Allah Andi pangling sekali maaf-maaf otakku loadingnya lama" ucap Shanum sabil terkekeh karena dia baru ingat jika orang itu adalah sahabat dekat Akhtar yang dulu jadi pengantar surat dari Akhtar untuk dirinya.
"Kamu mah giliran nama Akhtar disebut mah langsung ingat" sentak Andi sambil memberenggut, dia tidak terima Shanum melupakannya dan perlu diingatkan untuk kembali mengingatnya.
"Hehe...maaf-maaf. Sudah reservasi ya? silahkan duduk, di meja berapa?" tanya Shanum mengalihkan pembicaraan.
"Sekeluarga?" tanya Shanum dengan ramah.
"Iya, itu istri dan anak-anak aku juga ada orang tuaku" jawab Andi dengan masih menunjuk ke arah meja. Shanum pun mengangguk ke arah mereka karena mereka pun tengah melihat interaksi Shanum dan Andi.
"Oke, nanti aku temui ke sana ya" ucap Shanum sambil menyerahkan nota yang harus dibayar Andi.
Andi pun menyerahkan uang ratusan sebanyak lima lembar kepada Shanum dan menerima kembaliannya.
"Aku tunggu ya di sana ya" Andi mengingatkan Shanum yang akan berkenalan dengan keluarganya, dia pun melangkah menuju meja yang sudah ditempati semua anggota keluarganya sebanyak sepuluh orang sesuai kapasitas meja.
Shanum kembali melanjutkan pelayanannya, dia mempersilahkan semua pengunjung yang sudah mengonfirmasi pesanan dan membayar untuk duduk dimeja yang sudah ditentukan dan diberitahukan pada saat reservasi diterima.
"Teh, pesanan yang dari Pameungpeuk mau diambil" Indri memberi tahu Shanum setengah berteriak karena keadaan warung yang mulai rame. Shanum pun menghentikan kegiatannya. Tamu yang reservasi sudah memenuhi meja sesuai pesanannya tinggal satu meja yamg masih kosong karena orang yang memesan belum datang.
"Siap" Shanum mengacungkan jempol dan beranjak dari kursi di balik meja tinggi itu menuju ke dapur setelah terlebih dahulu merapihkan uang dan menaruhnya dalam laci lalu menguncinya.
"Ceu, ceu imas.... punten (maaf) pesanan orang Pameungpeuk di bawa ke depan ya, orang yang mau ngambil sudah datang" titahnya pada ceu imas yang memang bertugas menyiapkan pesanan yang akan diambil setiap pembelinya.
"Iya Teh, mangga" jawabnya singkat.
Pesanan pun diantarkan ke depan warung menuju mobil si pemesan oleh Ceu Imas dibantu Indri karena Shanum melayani dulu pengunjung yang baru datang. Saat Indri keluar dari warung Ibu bersama Ceu Imas, tiba-tiba seorang wanita dengan penampilan serba serba tertutup bahkan memakai cadar keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Assalamu'alaikum" ucap wanita itu menyapa Indri.
"Wa'alaikumsalam. Ibu yang dari Pameungpeuk ya?" Indri memastikan pelanggannya setelah memastikan nomor flat mobil yang diinformasikan pemesan.
__ADS_1
"Iya, saya dari Pameungpeuk" jawab wanita itu.
"Maaf Ibu, bukti pemesanannya bisa ditunjukkan?" Indri memastikan kembali bahwa orang tersebut adalah pemesan yang dimaksudnya. Ibu itu pun mengambil gawainya dan menunjukkan bukti chat pesanan dan bukti transfernya.
"Adek ini pemilik warungnya?" tanya ibu tersebut.
"Bukan Bu, saya Indri saya mah hanya membantu di sini. Pemiliknya mah Teh Zahra sepupu saya Bu" jawab Indri jujur. Dia mengulurkan box yang dibawanya kepada seorang laki-laki yang sudah membukakan pintu belakang mobil tersebut.
Sejenak Indri menatap laki-laki yang terlihat sangat tampan di matanya.
"Ibu, pesanannya atas nama Akhtar Farzan, dia siapanya Ibu?" Indri yang mudah akrab dengan siapapun memberanikan diri bertanya tanpa ragu. Dia tidak canggung saat menanyakan itu, karena sudah dua kali pesanan atas nama Akhtar dia layani, dia bahkan berbalas pesan dengan nomor yang dinamainya Akhtar Pameungpeuk untuk kembali memastikan pesanan dan mengonfirmasi pembayaran.
"Dia anak saya" jawab Ibu itu dengan senyuman yang tersembunyi di balik cadarnya namun terlihat oleh Indri melalui binar matanya.
"Itu ya Bu? ganteng amat, hehe..." tunjuk Indri dengan dagunya pada lelaki yang sedang menata box-box ke dalam dalam mobilnya.
Ibu itu yang tak lain adalah Bu Fatimah terkekeh dalam diam, dia menengok ke arah lelaki yang mengantarnya dari Bandung.
"Bukan, dia keponakan saya. Masih gantengan anak saya dengan dia mah" canda Bu Fatimah dengan sedikit tergelak saat mengatakannya.
"Ouh...hhehe..kirain, maaf ya Bu saya lancang" Ucap Indri menetralkan suasana yang membuatnya merasa tak enak karena menanyakan hal yang pribadi menurutnya.
"Gak apa-apa, saya senang bisa bertemu langsung dengan pegawai warung ibu ini. Jujur saya ketagihan dengan pepes ayamnya. Uuwwhh...maknyos banget pokoknya, bumbunya berasa sampai ke tulang-tulangnya, ayamnya juga empuk sekali. Apalagi kentang mustopanya juga rasanya lain dari yang lain" Bu Fatimah bercerita panjang lebar tentang kesannya dengan masakan ibunya Shanum. Indri yang menyimak penuturan Bu Fatimah jadi senyum-senyum sendiri, senang dengan kepuasan yang dirasakan konsumennya.
"Alhamdulillah kalau ibu suka, saya senang sekali mendengarnya. Semoga selanjutnya ibu menjadi pelanggan tetap kami" Indri berkata penuh harapan, dia senang warung ibu semakin maju dan mendapat kesan luar biasa dari para pelanggannya.
"Ceu Imas sudah selesai?" tanya Indri yang melihat Ceu Imas membawa box yang berukuran kecil menuju mobil dan diserahkannya box itu pada laki-laki yang dari tadi menerima dan membereskan semua pesanannya ke dalam mobil.
"Belum Neng, ada satu lagi mau dianter sama neng Zahra katanya" sahut ceu imas sambil berlalu kembali ke dalam warung setelah menganggukan kepalanya ke arah Ibu Fatimah.
Setelah beberapa menit menunggu, Shanum pun keluar membawa box kecil di tangan kirinya dan paper bag di tangan kanannya.
"Assalamu'alaikum" sapa Shanum pada Bu Fatimah. Dia mengangguk dan tersenyum ramah menyapa pelanggannya itu.
"Wa'alaikumsalam" Indri dan Bu Fatimah menjawab dengan kompak
"Nah ini dia Bu owner warung ibu sekaligus sepupu saya Teh Zahra" Indri menunjuk dengan tangan terbuka dan wajah sumringah ke arah Shanum yang baru datang. Shanum mengernyit dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Indri sepupunya
"Maaf ya Bu, lama menunggu" ucap Shanum berbasa-basi dia menyerahkan paper bag yang ada ditangan kanannya kemudian menyalami Bu Fatimah dengan takzim.
Bu Fatimah tersenyum lebar mendapat penyambutan luar biasa dari pemilik warung nasi idamannya itu.
"Enggak ko, saya senang bertemu dan mengobrol dengan dek siapa tadi?" tanya Bu Fatimah melirik Indri yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Indri Bu, saya Indri" jawab Indri dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Iya, Dek Indri. Oya ini apa?" sambung Bu Fatimah, dia mengangkat paper bag yang tadi diserahkan oleh Shanum.
"Iya Ibu maaf sekali lagi. Itu ada sedikit oleh-oleh buat takjil di jalan, Ibu pasti kemaghriban di jalan kalau sekarang mau ke Pameungpeuk" Shanum menyiapkan aneka kue dan puding untuk takjil khusus untuk pelanggan jauhnya itu.
"Ouh enggak ko, tenang saja. Kebetulan Ibu mau ke acara reuni dulu di daerah sini, sudah dekat tinggal beberapa menit lagi sampai. Masih banyak waktu sebelum maghrib" jelas Bu Fatimah mengurai ketidaknyamanan Shanum, dia sengaja datang dari Bandung untuk mengikuti reuni yang diadakan teman-teman sewaktu sekolah di PGA Garut.
"Oh Alhamdulillah kalau begitu. Ini satu box lagi pesanan Ibu disimpan dimana ya?" Shanum melongok ke arah depan mobil, dia terlonjak saat dua tangan kekar terulur di samping kirinya.
Shanum menatap dua tangan itu kemudian mendongak, ditatapnya wajah pemilik tangan kekar itu dengan lekat. Mereka saling memandang dan sesaat pandangan mereka terkunci.
"Kak Ahsan?" Shanum memanggil nama laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan pelan dan disambut dengan senyuman manis yang menjadi khas laki-laki itu.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi" ucap Ahsan santai.