Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 21: Pejuang Cinta


__ADS_3

tuutt...tuutt....tuutt....


Suara monitor yang memantau keadaan pasien terdengar menusuk hingga ke relung hati. Akhtar tak beranjak sedikit pun dari tempatnya berada sejak sang istri Shanum dinyatakan koma. Ya, terjadi pendarahan akut saat proses operasi berlangsung. Di detik-detik terakhir sebelum baby twins berhasil dikeluarkan Shanum tidak mampu bertahan, dia akhirnya tergolek lemah tak sadarkan diri.


Berbagai kabel yang terhubung ke tubuh wanita cantik yang baru saja melahirkan itu menjadi alat yang membantunya untuk bertahan. Wajah piasnya masih menampakan kecantikan alami yang dimilikinya, begitu putih berseri.


Akhtar terus memantau keadaan sang istri dari ruang yang tersekat dinding kaca yang tebal itu. Dia belum diperbolehkan untuk menemui sang istri karena kondisi Shanum yang belum stabil. Diperlukan waktu sekitar enam jam untuk dokter melakukan observasi, keadaan setelah enam jam ke depan akan menentukan apakah Shanum bisa ditemui atau tidak.


"Bertahanlah sayang untuk aku dan anak-anak kita dan segera bangunlah kami sangat merindukanmu" ucap Akhtar di balik dinding kaca itu.


"Nak, sebaiknya kamu adzani dulu anak-anakmu" Pak Furqan menepuk bahu Akhtar yang masih berdiri menatap Shanum dari dinding kaca itu, mendengar apa yang diucapkan sang putra membuat hatinya pilu,


Sampai saat ini dia belum mengadzani kedua anaknya, Akhtar hanya melihat sekilas bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu saat mereka dibawa keluar dari ruang persalinan menuju ruang khusus bayi.


Tak ada kata yang terucap dari mulut laki-laki yang baru saja menyandang status ayah itu, dia hanya menatap nanar pada kedua bayi itu. Pikirannya masih tentang Shanum, bayangan kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu terus menghantui dirinya. Dunianya serasa runtuh saat mendengar penjelasan dokter jika istrinya tak sadarkan diri dan mengalami koma.


Akhtar menarik nafasnya dalam, berusaha mengeluarkan sedikit rasa sesak yang menyergap dadanya. Menundukkan kepala, dan mengusap air mata yang sejak tadi tak mau berhenti membasahi pipinya,


"Ayah, aku pernah merelakan Shanum untuk menjadi milik orang lain rasanya sakit, tapi tidak sesakit hari ini" Akhtar semakin menundukkan kepalanya, air mata yang dia hapus tak kunjung kering masih terus membasahi pipinya.


Pak Furqan merengkuh bahu sang putra dalam pelukannya, sungguh melihat putra semata wayangnya dalam keadaan terpuruk seperti ini adalah hal yang juga sangat menyakitkan untuknya.


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah" perasaan bersalah semakin bersemayam kuat di hati Pak Furqan, semua yang dialami menantunya adalah karena ulah putri dari mantan istrinya,


Saat ini Pak Furqan sudah berstatus sebagai duda, pengadilan memutuskan untuk menerima gugatan cerai yang diajukan Pak Furqan. Dengan bukti akta kelahiran Yasmin, surat hasil pemeriksaan DNA dan bukti-bukti lainnya tentang perselingkuhan Bu Sopia dengan pria yang menjadi kekasihnya sudah cukup untuk memberatkan Bu Sopia dan berhasil membuat pengadilan mengabulkan gugatan Pak Furqan.


Hak asuh Naura yang terbukti adalah darah dagingnya jatuh ke tangan Pak Furqan. Kendati pun demikian, Pak Furqan tidak mengekang dia memberikan keleluasaan kepada putrinya itu untuk tinggal dimana dan bersama siapa, walaupun Naura memilih untuk bersama Sopia sekalipun Pak Furqan tidak keberatan. Dia tetap akan melakukan kewajibannya untuk memberi nafkah memenuhi kebutuhan Naura dan juga Yasmin tentunya.


Sayangnya Yasmin yang sejak dulu memang sangat dekat dengan Pak Furqan tidak mampu menerima kenyataan jika dirinya bukan darah daging dari laki-laki yang selalu membuatnya bangga itu. Yasmin sangat kecewa pada ibunya, dia bahkan memilih pergi dari rumah sang ibu setelah mengetahui tentang kelakuan ibu kandungnya itu.


Kekecewaan Yasmin berujung pada perilakunya yang semakin tidak tentu arah, dia tidak pernah pulang ke rumah dan cenderung menghabiskan uang dengan jumlah yang tidak sedikit, hingga hal yang terjadi pada Shanum pun adalah akibat dari perbuatannya yang semata-mata hanya untuk mencari perhatian dari orang-orang yang dulu dekat dan sangat menyayanginya, Akhtar dan Pak Furqan.


"Nak, putra putrimu menunggumu. Di sini biar ibu yang menjaga Neng Zahra" suara Bu Fatimah mengurai keheningan yang tercipta di ruangan itu. Ayah dan anak yang larut dalam perasaan mereka masing-masing itu pun mengurai pelukannya dan menolah pada sumber suara.

__ADS_1


"Bu..." Akhtar menyapa sang ibu yang baru saja datang menghampirinya,


"Pergilah Nak, kasihan anak-anakmu. Ibu akan menunggui istrimu di sini, tidak akan pernah meninggalkannya" ujar Bu Fatimah lagi.


"Aku titip istriku ya Bu" suaranya parau, sisa-sisa tangis terlihat jelas di wajah Akhtar. Dia beranjak keluar dari ruangan itu menuju ruang bayi tempat anak kembarnya berada.


"Sayang, aku akan menemui anak-anak kita dulu. Kamu sama Ibu dulu ya" Akhtar kembali berbicara menghadap dinding kaca dan mengusapnya sambil menatap wanita yang sedang terbaring lemah tak berdaya, dia pun berlalu setelah mengatakan itu.


"Kamu sudah makan?" Bu Fatimah sedikit terlonjak, dia baru menyadari jika di ruangan itu dirinya tidak sendiri, Pak Furqan masih berada di sana. Awalnya dia mengira mantan suaminya itu mengikuti Akhtar, tapi ternyata tidak dia terlalu fokus memandangi sang menantu hingga tak menghiraukan keadaan sekitarnya


"Sudah. Akang masih di sini? kirain menemani Akhtar" Bu Fatimah kembali memfokuskan pandangannya pada Shanum yang terbaring lemah di ruangan khusus itu setelah sejenak menoleh ke arah Pak Furqan.


"Heumm" jawab Pak Furqan tak bergeming dari tempatnya. Pak Furqan yang sudah lama ingin berbicara berdua dengan Bu Fatimah merasa ini adalah kesempatannya untuk berbicara dengan mantan istrinya itu. Dia ingin minta maaf atas kesalahannya di masa lalu, tidak seharusnya Pak Furqan memperlakukan Bu Fatimah seperti waktu itu.


Harusnya dia menjadi pria yang banyak-banyak bersyukur karena memiliki istri sebaik bu Fatimah. Dan menghindari kejadian masa lalunya, harusnya malam itu dia pulang selarut apapun dan selelah apapun, hingga kejadian naas itu mungkin tidak akan terjadi.


Tetapi nasi sudah menjadi bubur, penyesalan dan rasa bersalah semakin besar bersemayam di dada Pak Furqan, inilah konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu. Dia menyadari itu, dan saat ini dia hanya ingin meminta maaf atas nama dirinya dan juga mantan istrinya Sopia yang saat ini pun sedang terbaring lemah melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya, kanker payudara stadium empat.


Naura pernah meneleponnya, memberitahukan Pak Furqan tentang keadaan mantan istrinya yang harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itulah Pak Furqan mengetahui keadaan sebenarnya tentang Bu Sopia dari dokter yang menanganinya. Selama ini pun Bu Sopia ternyata menyembunyikan penyakitnya.


"Ya?'' jawabnya singkat,


"Maafkan aku" suara Pak Furqan seperti tercekat, membuat Bu Fatimah kembali menoleh. Melihat Pak Furqan yang mengatakan maaf dengan wajah tertunduk lesu membuatnya menatap heran.


"Maaf untuk apa Kang?" Bu Fatimah masih belum bisa menebak arah pembicaraan suaminya,


" Untuk semuanya, semua yang telah aku lakukan di masa lalu padamu. Aku juga meminta maaf atas nama Sopia. Saat ini dia..."


ucapan Pak Furqan kembali terjeda karena tiba-tiba seseorang datang menyapa mereka berdua.


" Assalamu'alaikum..." seorang laki-laki paruh baya namun masih terlihat gagah datang menghampiri mereka.


"Wa'alaikumsalam" serempak keduanya menjawab dan menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Mas Rahmat?" Bu Fatimah sedikit terlonjak kaget melihat siapa yang datang, sementara Pak Furqan tampak menautkan kedua alisnya karena merasa tidak mengenali siapa laki-laki yang usianya tidak terlalu jauh dengan dirinya itu, apalagi Bu Fatimah memanggilnya dengan sebutan Mas.


"Iya Dek Fatimah, saya datang untuk menjenguk menantumu. Saya tadi ke rumahmu untuk mengantarkan bibit tanaman, tapi kata keponakanmu katanya kamu sedang berada di rumah sakit ini. Jadi sekalian pulang saya mampir"


"Oh, terima kasih Mas, maaf jadi merepotkan" Bu Fatimah berkata sambil melangkah mendekat ke arah Pak Rahmat,


"Enggaklah, saya senang bisa menengok menantu Dek Fatimah. Saya turut berduka atas apa yang menimpa menantu Dek Fatimah"


Melihat interaksi yang cukup akrab antara Bu Fatimah dengan laki-laki itu membuat raut wajah Pak Furqan berubah. Dia sedang menerka-nerka siapakah gerangan laki-laki yang berada di hadapannya itu.


"Haisss....sepertinya sang pejuang cinta akan bertambah pasukan" gumam Ghifar pelan namun masih terdengar oleh Liani yang datang bersamaan untuk menemani Bu Fatimah menunggui Shanum atas perintah Akhtar yang baru saja mereka temui di dekat ruang bayi.


"Hah? maksudnya?" Liani yang tidak memahami situasi tidak mengerti maksud ucapan Ghifar yang juga datang untuk menemui Pak Furqan.


Ghifar tidak menghiraukan pertanyaan Liani, dia terus melangkah mendekati Bu Fatimah yang tampak sedang berbincang dengan tamunya, sementara tidak jauh dari mereka Pak Furqan masih menatap tajam ke arah laki-laki yang sedang asik mengobrol dengan mantan istrinya itu.


"Bu" Ghifar menundukkan sedikit kepalanya menyapa Ibu dari atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Ada apa?" tanya Bu Fatimah menghentikan perbincangannya dengan Pak Rahmat,


"Saya mau menemui Bapak, tunjuknya ke arah Pak Furqan, " Ibu di sini akan ditemani Bu Liani" Ghifar melirik Liani yang berdiri di sampingnya,


"Silahkan, Nak Ghifar" ucap Bu Fatimah, Ghifar pun berlalu sambil kembali menundukkan sedikit kepalanya pada Bu Fatimah dan ke arah laki-laki yang sedang mengobrol dengan Bu Fatimah,


"Maaf Pak, ada telepon dari salah satu klien Bapak. Sejak tadi beliau menghubungi Bapak namun tidak terhubung katanya dan akhirnya beliau menghubungi saya" Ghifar menjelaskan kedatangannya


Pak Furqan yang sejak tadi tidak memegang gawainya pun merogohnya di saku celananya,


"Gawaiku mati, Ghif" jawab Pak Furqan lesu, kentara sekali perubahan moodnya setelah kedatangan tamu laki-laki kenalan Bu Fatimah,


"Kalau begitu mari saya bantu charge gawai Bapak" tawar Ghifar,


"Tidak perlu, biar aku sendiri yang melakukannya" jawab Pak Furqan yang tatapannya kembali tertuju pada Bu Fatimah dan tamunya. Ghifar pun mengikuti arah pandang Pak Furqan, seulas senyum tipis menghiasi bibirnya merasa lucu dengan kelakuan orang tua itu.

__ADS_1


"Ckkk, dia pasti cemburu" gumamnya dalam hati.


Pak Furqan dan Ghifar pun berlalu dari ruangan itu setelah sebelumnya pamit pada Bu Fatimah. Ya, Pak Furqan hanya pamit pada Bu Fatimah. Dia sendiri bingung dengan sikapnya, tidak tahu mau apa. Sabar menyakitkan, diam menyiksa namun bicara pun percuma.


__ADS_2