
Tiga bulan sudah Shanum dan Akhtar menjalani rumah tangganya. Setelah berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga Shanum mantap untuk mengikuti suaminya. Saat ini mereka tengah membangun rumah impian mereka yang tidak jauh dari lokasi mebel FDF milik Akhtar, daerah Garut Kota. Untuk sementara Shanum dan Akhtar tinggal di lantai dua mebel yang sebelumnya memang tempat tinggal Akhtar dan Ghifar jika sesekali dia ke Garut.
Semenjak Akhtar menikah dan tinggal di sana Ghifar lebih sering menginap di hotel jika ke Garut, dia sungkan jika harus tetap berada di sana setelah Akhtar dan Shanum menikah dan tinggal di sana, tidak mau jadi obat nyamuk dan harus melihat keromantisan mereka. Semakin hari Akhtar semakin posesif, dia sebisa mungkin membawa Shanum setiap bepergian, tapi tidak untuk hari ini.
Hari ini Shanum sudah membuat janji dengan seseorang yang akan bekerja sama dengannya untuk menjadi penyedia makan siang untuk karyawan di perusahaannya. Awalnya Akhtar siap untuk menemani sang istri bertemu dengan orang itu, tetapi hal lain menyangkut pekerjaan mengharuskan Akhtar untuk datang. Saat ini Akhtar tengah membangun cabang mebel FDF di Bandung.
Ghifar sudah mengatur segalanya. Tapi ternyata ada hal lain yang mengharuskan Akhtar sebagai owner hadir di sana. Dengan berat hati Akhtar pun harus pergi sendiri ke Bandung karena Shanum tidak bisa menemaninya.
Seperti biasa Shanum sudah menyiapkan pakaian formal untuk sang suami jika akan melakukan pertemuan dengan klien atau bepergian. Semua keperluan Akhtar sudah dia siapkan, tak ada yang terlewat. List kebutuhan sang suami selama jauh darinya sudah tercentang semua.
"Hati-hati di jalan ya, A. Jangan ngebut bawa mobilnya. Pertemuannya jam sepuluh kan?" Shanum kembali memastikan jadwal sang suami, dia merapihkan dasi yang sudah melilit di kerah baju Akhtar, mengusap bahunya dan memindai dari atas hingga bawah tubuh Akhtar. Memastikan jika penampilan suaminya sempurna seperti biasanya.
"Iya sayang, tapi aku gak mau jauh dari kamu" Akhtar malah mendekap erat tubuh Shanum, dia masih enggan keluar dari kamarnya.
"Enggak nginep kan? jam berapa kira-kira Aa selesai pertemuannya?" Shanum membalas pelukan sang suami tak kalah erat. Selama menikah ini adalah kali pertama mereka berpisah. Selama ini Shanum selalu menemani jika Akhtar ada pertemuan dengan siapapun di luar kantornya. Sejak menikah Shanum lebih sering menyerahkan urusan warung nasi ibu pada Fauzan dan Indri. Dia hanya sesekali datang mengontrol keadaan warung.
"Kata Ghifar pertemuannya sekitar dua sampai tiga jam. Mudah-mudahan dzuhur sudah selesai. Jadi aku bisa pulang lebih cepat" Akhtar sedikit melonggarkan pelukannya, tangannya beralih mengusap lembut pipi sang istri, tatapannya tak lepas menatap lekat wajah Shanum yang selalu membuatnya enggan berjauhan, memindainya dengan cermat dan menyimpan di memorinya untuk ditayangkan ulang di ingatan saat merindukannya karena jarak dan ruang yang memisahkan mereka.
"Nanti aku usahakan sudah ada di rumah sebelum Aa pulang. Pokoknya Aa kabari aku kalau sudah di perjalanan ya" Shanum berusaha menenangkan suaminya yang terlihat masih gusar.
Akhtar menangkup wajah Shanum, mengabaikan perkataan istrinya tanpa aba-aba dia kembali menyerang sang istri mengulang sebagian adegan semalam. Bibir yang sudah diolesi lipstik itu pun menjadi tujuannya. Shanum meladeni apa yang diinginkan suaminya, dia membiarkan Akhtar melakukan apa yang diinginkannya. Akhir-akhir ini Akhtar terasa lebih manja, selalu tidak ingin jauh darinya dan semakin sering meminta haknya.
Akhtar melepas pagutannya, sejenak dia memberi jeda pada sang istri untuk menambah pasokan oksigennya,
"Aku butuh moodbooster, sayang" dalih Akhtar, tak lama dia pun kembali melakukan aksinya.
Shanum melirik jam dinding yang tepat berada di belakang sang suami, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Perjalanan Garut Bandung memang bisa ditempuh dalam waktu dua jam kalau lancar, jika sang suami berangkat jam delapan kemungkinan dia bisa sampai tepat saat pertemuan dimulai sesuai jadwal walau tidak sempat beristirahat. Tetapi jika perjalanan macet semua akan beda cerita.
Shanum menahan dada Akhtar yang tak kunjung melepas pagutannya. Berusaha memberi kode agar sang suami menghentikan aksinya. Tangannya menepuk-nepuk dada Akhtar agar berhenti namun diabaikan. Akhtar masih anteng dengan kegiatan pagi yang menurutnya bisa menjadi moodbooster.
"Ishh...lama amat sih" Shanum merajuk, dia merasakan bibir bawahnya kebas karena ulah sang suami yang melahapnya dengan rakus dan sedikit kasar.
"Habis aku gemes banget" Akhtar kembali memajukan wajahnya hendak mencium sang istri tapi dengan sigap Shanum menghindar, dia memundurkan wajahnya. Berniat mundur selangkah namun pinggangnya dikunci oleh dua lengan kekar sang suami yang melilit di pinggangnya, membuat tubuh mereka tak berjarak.
__ADS_1
"Aa sudah setengah delapan, lihatlah!" Shanum menunjuk jam yang menempel di dinding kamar tepat di belakang sang suami dengan dagunya.
Akhtar menghela napas dalam, waktu sudah mepet terpaksa dia harus menghentikan aktivitas kesukaannya itu karena harus segera berangkat ke Bandung. Gawainya bergetar membuat Akhtar akhirnya benar-benar mengurai pelukannya. Dia pun berjalan menuju tempat tidur mengambil gawai yang di simpan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, Ghifar Calling.
"Assalamu'alaikum". sapa Akhtar di ujung gawai saat sambungan teleponnya terhubung. Dia berdiri di samping tempat tidur, Shanum hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri sudah siap menenteng tas milik suaminya.
"Wa'alaikumsalam, boss. Boss, posisi sudah dimana? menurut informasi saat audiensi nanti beberapa pengusaha Bandung akan turut hadir, kita dijadikan percontohan sebagai perusahaan yang menjadikan pemerintah sebagai mitra kerja langsung dalam pengembangan perusahaan yang melibatkan pemerintah dalam pengembangan usaha . Aku harap boss enggak telat datangnya" Ghifar, sahabat sekaligus sang asisten menyampaikan informasi terbaru perihal progres kegiatan yang akan diikuti Akhtar.
Sebagai pengusaha muda yang merintis usaha barunya dari nol, Akhtar telah berhasil mengembangkan usahanya yang tidak hanya meraup keuntungan finansial untuk pribadinya, tetapi juga berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan menjadikan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang terlibat dalam perusahaannya murni berasal dari daerah setempat. Sehingga kehadiran perusahaannya benar-benar membantu pemerintah dalam memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Di Garut, saat ini Akhtar sedang mengembangkan usahanya dengan mendirikan beberapa cabang mebel. Langkah pertama yang ditempuhnya adalah dengan mengadakan pelatihan keterampilan kepada masyarakat setempat dimana dia akan mendirikan cabang mebelnya, bekerja sama dengan dinas terkait sebagai fasilitator pelatihan. Narasumber pelatihan itu sendiri salah satunya merupakan karyawannya yang telah menghasilkan karya-karya yang telah terjual hingga ke luar negeri, tentunya Akhtar pun turun tangan langsung sebagai salah satu narasumber dari pelatihan tersebut.
Selanjutnya setelah keterampilan mereka mumpuni Akhtar memfasilitasi mereka untuk menghasilkan produk yang akan dijual di mebel FDF yang didirikan di daerah itu. Strategi pemasaran produk pun tidak kalah menjadi perhatian, Akhtar membentuk tim khusus yang menangani bidang itu. Tim yang terdiri dari pemuda pemudi daerah yang ahli di bidang IT. Mereka melakukan pemasaran secara online sehingga produk furniture mebel Akhtar dapat menembus pasar nasional dan internasional.
Selama tiga bulan ini Akhtar semakin terbantu oleh Shanum dalam urusan manajemen perusahaannya. Tidak jarang Shanum lebih sering menyerahkan urusan warung nasinya kepada Fauzan dan Indri ketika dia harus terlibat langsung dengan urusan perusahaan suaminya. Kolaborasi yang baik tidak hanya dalam rumah tangga namun juga dalam urusan bisnis yang mereka bangun.
"Aku baru mau berangkat, mudah-mudahan perjalanan lancar dan bisa sampai tepat waktu, kamu shareloc aja tempat acara berlangsung, sekarang aku langsung meluncur ke sana" jelas Akhtar di ujung telepon, dia berjalan ke arah Shanum yang sudah siap membuka pintu kamar. Dia pun merangkul bahu sang istri melangkah menuju ke luar kamar sambil terus menerima telepon Ghifar.
"Sayang, aku pergi ya" Akhtar menyimpan gawai di saku celananya. Berbalik menghadap sang istri yang siap mengantarnya.
Sebelumnya para pekerja sudah diberitahu jika hari ini Akhtar akan pergi ke Bandung, dan urusan pekerjaan sudah dia serahkan pada orang kepercayaannya. Mereka pun mendo'akan agar perjalanan Akhtar lancar dan selamat.
"Sayang aku pergi ya, kamu jangan terlalu capek di warung. Nanti aku hubungi kamu kalau sudah sampai" Akhtar kembali berpesan pada sang istri, Shanum mengulurkan tangannya untuk salam dan mencium punggung tangan Akhtar dan di balas oleh Akhtar dengan kecupan hangat di keningnya. Pemandangan yang membuat jiwa para jomblo meronta-ronta.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab Shanum mengiringi kepergian suaminya dengan do'a dan lambaian tangan. Dia pun bergegas kembali ke lantai dua untuk bersiap menuju warung nasi sekaligus mengunjungi keluarganya yang sudah tiga hari ini tidak dia kunjungi karena kesibukannya di mebel.
Ting...
Saat mobil yang Shanum kendarai akan melaju, gawainya berbunyi dengan nada khusus yang menandakan bahwa pengirim adalah suaminya. Shanum pun menghentikan aktivitasnya dia mematikan kembali mesin mobilnya. Beralih pada gawai yang disimpan di tasnya,
'Sayang, kalau klien kamu laki-laki gak boleh ngobrol semeja berdua ya, minta Fauzan atau Indri yang menemani. Nanti kamu kirim foto siapa klien kamu'
__ADS_1
Pesan yang cukup panjang dan mengandung ultimatum Shanum terima. Padahal sang suami baru sekitar satu jam yang lalu pergi. Shanum memilih pergi setelah briefing dengan karyawan-karyawan mebel, motivasi pagi dan pesan-pesan lainnya selalu disampaikan saat briefing pagi. Dia menggeleng-gelengkan kepala, mengingat keposesifan suaminya yang semakin meningkat akhir-akhir ini.
'Iya Aa sayang, aku faham. Hati-hati, jangan sambil main gawai nyetirnya. Fokus ya, fii amanillah❤️' balas Shanum agar sang suami tenang dan konsentrasi menyetir diakhiri emot hati.
'Siap baginda ratu. Aku lagi di lampu merah ko. Miss you, sayang😘' tak berselang lama pesan balasan pun Shanum terima. Dia pun kembali membalas cepat pesan sang suami,
'Miss you too, Aa sayang😘' kali ini tak ada lagi balasan, pesan terakhirnya pun masih bercentang dua berwarna abu-abu sepertinya suaminya sudah kembali melajukan mobilnya. Shanum pun menyimpan kembali gawainya di kursi samping kemudi.
"Bismillah" Shanum melajukan mobilnya perlahan menuju arah selatan, rumah kedua orang tuanya menjadi tujuannya.
Beberapa jam berlalu, Akhtar masih mengikuti pertemuan pentingnya. Setelah melakukan presentasi tentang profil perusahaannya Akhtar saat ini tengah mendengarkan tanggapan dan beberapa pertanyaan terkait apa yang dipresentasikannya.
Dengan jelas dan lugas Akhtar menjawab semua pertanyaan itu, membuat orang-orang mantap untuk menjalin kerja sama dengan Akhtar. Menjelang grand opening cabang mebel FDFnya Akhtar berharap sudah bisa bekerja sama dengan pemerintah dan beberapa pengusaha lokal sehingga saat pembukaan nanti mereka bisa menyampaikan testimoninya.
Sesekali dia melirik gawainya, berharap sang istri mengabari. Dia penasaran dengan klien baru Shanum, pasalnya perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan warung shanum adalah perusahaan baru di Garut. Pesan terakhir yang dikirimnya adalah mengabari jika dirinya sudah sampai dengan selamat dan tepat waktu di Bandung dan dibalas sang istri dengan ucapan syukur dan do'a yang mengiringi aktivitasnya agar berjalan lancar dan sukses.
Di luar prediksi, pertemuan yang diagendakan hanya sampai makan siang itu ternyata melar. Para pengusaha yang mengikuti pertemuan menginginkan langsung meninjau lokasi mebel dan tempat produksi. Akhtar tidak bisa menolak, dengan wajah ramah dia mengiyakan permintaan para tamunya walau sebenarnya hatinya tidak bersemangat karena ingin segera pulang dan menemui istrinya.
Waktu menunjukkan pukul lima sore, Akhtar dan Ghifar baru selesai mengantar para tamu yang datang langsung meninjau tempat produksi furniture mebel FDF. Dia terlihat resah, sampai jam segini tidak ada satu pun pesan dari Shanum yang mengabarkan pertemuan dengan klien barunya. Beberapa kali Akhtar mencoba menghubungi Shanum namun juga tidak terhubung. Pesan yang dia kirim setelah shalat ashar pun masih ceklis satu.
"Kenapa Boss?" Akhtar yang melihat wajah galau Akhtar akhirnya bertanya, penasaran.
"Shanum gak bisa dihubungi, Bro"
"Habis baterai kali gawainya" sela Akhtar menenangkan bossnya itu.
"Gak biasanya dia gini, semalam gawainya udah gue charge penuh cukuplah buat seharian" semalam Akhtar memang mencharge gawainya bersamaan dengan gawai sang istri. Kebiasaan baru Akhtar setelah menikah adalah memastikan gawainya dan gawai Shanum terisi penuh baterainya saat mereka akan berjauhan. Bukan tanpa alasan Akhtar melakukan itu, dia hanya ingin selalu memastikan keadaan sang istri baik-baik saja saat dirinya tidak berada di samping Shanum. So sweet...😍
"Coba hubungi yang lainnya, Fauzan atau Indri mungkin" Ghifar memberi solusi.
Baru saja Akhtar akan menghubungi adik iparnya, tiba-tiba satu pesan masuk ke gawainya dari nomor yang tidak dia kenal.
08xxx.....
__ADS_1
'A, teteh pingsan. Sekarang mau dibawa ke puskesmas terdekat'
Sebuah pesan yang berhasil membuat jantung Akhtar sejenak berhenti berdetak. Wajahnya langsung berubah pucat, khawatir dan panik.