Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Resepsi


__ADS_3

PoV Shanum


Mungkin hidup kita tidak berjalan seperti yang yang direncanakan. Tapi yakinlah berjalan seperti yang Allah rencanakan. Aku hanya berusaha menjalankan peranku sebaik mungkin dengan skenario yang telah ditetapkan olehNya.


Begitu pun perihal jodoh. Jodoh itu unik, sering kali yang di kejar malah menjauh. Yang tidak sengaja berjumpa malah mendekat. Yang seakan sudah pasti malah menjadi ragu. Yang awalnya diragukan menjadi pasti. Yang selalu diimpikan tak berujung pernikahan. Yang tidak pernah dipikirkan, bersanding di pelaminan.


Sehari setelah kedatangan Bang Haqi ke rumah aku menerima pesan melalui surat yang diantar oleh seorang kurir. Surat yang ditujukan untukku tanpa ada nama pengirim. Setelah ku buka dan ku baca barulah aku tahu bahwa pengirim surat itu tidak lain adalah Raina.


Raina memintaku untuk menemuinya di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku pun menyanggupinya. Dengan diantar Fauzan aku datang ke tempat yang dimaksud.


Pertemuan kami cukup singkat. Fauzan yang tadinya khawatir takut terjadi apa-apa denganku pun heran, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit aku sudah kembali menemuinya di parkiran dan kami kembali pulang ke rumah.


Inti dari pembicaraan aku dan Raina tidak lain adalah tentang Akhtar. Raina memintaku untuk benar-benar menghilang dari kehidupan Akhtar. Raina ingin memiliki Akhtar seutuhnya namun selalu saja ada dinding yang membatasinya, bahkan di saat bersama pun hati dan pikiran Akhtar masih saja tidak bersamanya.


Raina ingin segera menikah tapi Akhtar selalu punya alasan untuk menunda dan Raina tahu bahwa alasan utamanya karena aku. Dia meminta agar aku benar-benar menghilang dari hidup Akhtar. Jika tidak maka dia mengancam kembali akan terus menggangguku dengan caranya sendiri. Bahkan dia pun mengatakan akan menghancurkan Akhtar. Aku tidak tahu itu kekuasaan seperti apa yang dimiliki Raina dan keluarganya, tetapi dari semua ucapannya dia terlihat sungguh-sungguh.


Jika dia tidak bisa memiliki Akhtar maka tidak akan dia biarkan Akhtar dimiliki siapapun. Aku bergidik ngeri mendengar ancaman Raina. Aku melihat di matanya sudah bukan lagi cinta yang dia miliki untuk Akhtar. Dia benar-benar sudah termakan obsesi yang sangat berlebihan.


Aku tidak bisa membiarkan semua ancaman Raina terjadi. Liani benar, aku harus mengambil keputusan segera. Aku memutuskan untuk menyegerakan prosesi pernikahanku dengan Bang Haqi yang rencananya akan dilaksanakan dua bulan lagi namun demi kemaslahatan bersama aku meminta Bang Haqi untuk segera menikahiku secepatnya.


Permintaanku pada Bang Haqi yang terkesan buru-buru awalnya membuat Bang Haqi heran tetapi dia tampak lebih antusias dan memilih mengabaikan menanyakan alasan kenapa aku mempercepat pernikahan kami. Dia lebih fokus pada persiapan yang harus kami lakukan untuk menikah minggu depan.


Waktu satu minggu untuk mempersiapkan sebuah pernikahan memang sangatlah terlalu singkat tetapi semua akhirnya bisa selesai pada waktunya. Aku tidak muluk-muluk dengan pesta pernikahan ini tetapi ternyata Bang Haqi ternyata sudah mempersiapkan segalanya. Dari mulai undangan, WO, catering termasuk urusan souvenir pernikahan dia pun sudah menyiapkannya. Aku hanya tinggal fitting baju pengantin yang juga merupakan pilihan Bang Haqi.


Saat aku menyampaikan keinginanku agar pernikahan ini dipercepat, ternyata Bang Haqi dan keluarganya sudah menyiapkan semuanya. Terlihat sekali mereka semua bahagia dengan pernikahan ini. Aku diperlakukan layaknya ratu oleh keluarganya. Walaupun baru bertemu satu kali dan kali kedua saat fitting baju pengantin tapi aku merasakan mereka begitu baik padaku dan sangat mengistimewakan diriku.


Sungguh beruntung aku dipertemukan dengan orang-orang baik untuk menjadi keluarga baruku. Semoga aku bisa menjaga semua ini dan tidak mengecewakan mereka karena sejujurnya di hati ini masih ada satu nama yang terpatri rapi di relung hatiku, Astaghfirullah.


Setelah ijab qabul selesai aku diminta untuk keluar dan berada di samping Bang Haqi. Dia menatapku dengan penuh cinta dan kekaguman. Aku tidak tahu entah aku yang terlalu baper atau memang seperti itu kenyataannya.


Untuk pertama kalinya kami bersentuhan, aku mencium tangannya takzim dan diapun mengusap kepalaku yang berbalut hijab dengan penuh kelembutan. Tidak ada cium kening seperti pasangan-pasangan lainnya.


Aku yang terus menunduk setelah mencium tangannya rupanya difahami oleh Bang Haqi jika aku belum siap untuk disentuh lebih jauh olehnya. Penghulu dan keluarga lainnya berteriak agar Bang Haqi mencium keningku, tapi dia hanya membalasnya dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


Acara selanjutnya yaitu resepsi. Kami sengaja melaksanakan akad dan resepsi sekaligus mengingat untuk mengefektifkan waktu.


Setelah menikah Bang Haqi sudah meminta izin pada Bapak dan Ibu untuk membawaku ke Jakarta. Dia sudah berjanji pada Ibu dan adiknya bahwa dia akan kembali ke Jakarta dan meneruskan usaha keluarga peninggalan Almarhum ayahnya setelah menikah.


Adzan dzuhur berkumandang, tamu undangan yang datang semakin banyak. Antrian menuju pelaminan untuk bersalaman sudah mengular. Aku berbisik di telinga Bang Haqi menanyakan berapa undangan yang dibuatnya. Dia bilang hanya keluarga dan teman-teman dekatnya.


Saat Bang Haqi sedang asik mengobrol dengan temannya di pelaminan. Aku pamit untuk melaksanakan shalat dzuhur, dia pun mengangguk dan berkata akan menyusulku sebentar lagi.


Selesai berwudhu dan melaksanakan shalat. Aku kembali ke pelaminan. Bang Haqi pun tampaknya sudah selesai melaksanakan shalat. Kami shalat di tempat yang berbeda, aku shalat di kamarku dan Bang Haqi shalat di mushala samping rumah kami yang saat ini tertutup background dekorasi pesta. Dia sudah kembali stand bye di pelaminan menerima ucapan selamat dari tamu-tamu yang datang.


Undangan yang datang semakin banyak, aku bahkan tidak memperhatikan siapa saja yang datang, namun suara seseorang yang sangat ku kenal dari atas pentas hiburan membuatku menoleh ke sumber suara itu.


Dia berdiri dengan gagahnya, melambaikan tangan ke arahku saat pandanganku tertuju padanya. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Sebuah lagu spesial kupersembahkan untuk kedua mempelai di hari berbahagianya ini. Dan untuk Shanum, kamu keren sudah memenuhi permintaanku. Good luck!"


Kata-kata yang dia lontarkan sebagai prolog dari penampilannya membuat aku berpikir keras. Permintaan apa yang dia maksud? aku sama sekali tidak ingat lagi. Aku pun menjadi canggung saat dia menyebut namaku, aku takut membuat Bang Haqi tersinggung.


Dan sebuah lagu yang berjudul Bukan Jodohku yang dipopulerkan oleh Tri Suaka pun dia nyanyikan dengan penuh penghayatan membuat semua orang turut merasakan ketulusan yang bercampur dengan kepedihan yang dia rasakan.


Ini salahku


Terlalu memikirkan egoku


Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku


Hingga kau pergi tinggalkan aku


Terlambat sudah


Kini kau t'lah menemukan dia


Seseorang yang mampu membuatmu bahagia


Ku ikhlas kau bersanding dengannya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


'Kan kuikhlaskan dia


'Kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


Dan 'kan kuikhlaskan dia


'Kan kuterima dengan lapang dada

__ADS_1


Aku bukan jodohnya, oh-wo-wo


Oh, aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


'Kan kuikhlaskan dia


Dan 'kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


Petikan gitar yang terasa menyayat jati dipadukan dengan kata-kata romantis penuh arti, alunan suara merdu yang berhasil menghipnotis semua pendengar membuat sang penyanyi menjadi idola para wanita yang hadir sebagai undangan saat itu. Mereka berteriak histeris meneriakkan kata lagi, lagi, lagi saat Kak Ahsan mengakhiri lagunya.


***


"Ahsan, Ahsan....dia memang paling bisa kalau bikin kaum hawa histeris, hehe..." ucap Haqi, dia melambaikan tangannya pada Ahsan yang sedang bernyanyi di atas panggung.


Shanum menautkan kedua alis heran.


"Bang Haqi mengenal Kak Ahsan?'', batinnya.


Shanum hendak menanyakannya langsung pada Haqi, namun tamu yang datang sepertinya belum juga berhenti. Mereka berdua pun sibuk menerima ucapan selamat dari para undangan yang kebanyakan adalah undangan Haqi.


Deretan para tamu undangan yang sedang mengantri sebagian besar adalah tamu undangan Haqi. Shanum melihat ada beberapa orang yang dia kenal menjadi bagian dari antrian itu. Hingga tiba giliran orang-orang itu menyalami Bang Haqi, dia tersenyum dengan ramah bahkan sempat melirik Shanum sekilas.


"Selamat Bro, finally, you are the winner!" ucap seseorang yang kuyakini kalau aku mengenal wajahnya tapi tidak tahu siapa namanya.


"Thanks, Bro udah datang dan turut mendo'akan kami" jawab Haqi tulus.


"Selamat ya Bu Shanum, semoga segera mempunyai momongan yabg saleh dan salehah" ucapnya saat menyalami Shanum.


Shanum hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil sedikit menganggukkan kepalanya.


"Bapak..." ucap Shanum ragu.


"Iya, kita bertemu lagi. Dulu kita kan bekerja di yayasan yang sama. Sayang Bu Shanum sudah mengundurkan diri jadi kita semakin sulit bertemu. Saya Yusup temannya Ahsan dan Akhtar. Selamat ya, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan rahmah", Yusup kembali memperkenalkan nama dan pengalaman pertemuan mereka yang disusul Rahman yang juga merupakan teman Ahsan dan Akhtar.


"Saya Rahman, Bu. Selamat atas pernikahannya" timpal Rahman.


Setelah mereka memperkenalkan diri Shanum baru ingat jika aku pernah bertemu mereka saat kegiatan di yayasan daan benar saja mereka adalah teman Kak Ahsan dan Akhtar.


"Jadi benar, Bang Haqi mengenal Kak Ahsan dan Akhtar. Siapa sebenarnya Bang Haqi?" gumam Shanum dalam hatinya.

__ADS_1


Pikiran Shanum dipenuhi berbagai pertanyaan tentang laki-laki yang kini telah sah menjadi imamnya.


__ADS_2