
Tidak terasa sekarang sudah hari Sabtu. Jadwal Kang Furqan pulang dari yayasan. Aktivitas Fatimah yang menyibukkan diri dengan mengantarkan Akhtar sekolah, les mengaji dan juga bela diri membuat seminggu bukanlah waktu yang lama untuknya.
Waktu sudah menunjukkan hampir Maghrib, tapi orang yang ditunggu Fatimah belum juga datang. Setelah mengantar Akhtar mengaji ke tempat guru ngajinya, Fatimah segera melaksanakan shalat maghrib sendirian. Biasanya Sabtu, Minggu dia melaksanakan shalat maghrib dengan diimami suaminya, tapi tidak hari ini.
Fatimah dengan setia menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu, hingga terdengar kumandang Adzan Isya suaminya masih belum datang. Kekhawatiran tiba-tiba menyelinap dalam hatinya, takut terjadi apa-apa pada suaminya di perjalanan.
Dia mengambil gawainya di kamar, dengan segera dia mencari kontak yang bertuliskan suamiku. Tetapi belum juga dia mendial nomor suaminya, tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk.
*Assalamu'alaikum Fatimah, maaf malam ini Akang tidak bisa pulang ada pekerjaan yang harus selesai malam ini juga. Insyaa Alloh besok Akang pulang*
Fatimah bernapas lega kekhawatirannya tidak terjadi. Suaminya baik-baik saja dan sedang menyelesaikan pekerjaannya walaupun tiba-tiba ada rasa kecewa yang menyelinap di dadanya namun Fatimah segera menepisnya.
*Iya Kang, enggak apa-apa. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup.*
Dia segera melaksanakan shalat Isya setelahembalas pesan dari suaminya, kemudian bersiap untuk pergi menjemput Akhtar dari rumah guru ngajinya.
***
Pagi yang cerah di hari minggu, Fatimah sudah bersiap. Dia memasak makanan kesukaan suaminya, dia pun sedikit memoles wajahnya untuk menyambut sang suami. Atasan tunik berwarna peach senada dengan hijabnya dipadu dengan celana kulot kopi susu sudah sempurna membalut tubuh Fatimah.
Akhtar pun sudah dia antar ke tempatnya kursus bela diri, setiap hari minggu adalah jadwal putranya mengikuti kursus bela diri. Fatimah mendidik Akhtar dengan sangat baik, dia membekali Akhtar dengan berbagai keterampilan kecakapan hidup yang kelak akan Akhtar butuhkan, tentunya dengan persetujuan sang suami.
Hatinya tiba-tiba berdebar saat mendengar suara mobil tiba di halaman rumahnya. Dengan semangat dan hati yang berbunga-bunga Fatimah menuju pintu depan dan membuka pintu rumahnya.
Senyuman yang merekah di bibirnya tiba-tiba menghilang saat melihat suaminya datang dengan Sopia temannya, berbagai prasangka tiba-tiba muncul . Sopia begitu sering mengunjunginya akhir-akhir ini dan hari ini dia datang bersama suaminya.
Fatimah segera menepis pikiran buruknya tentang Sopia. Dia pun sadar kalau yayasan tempat suaminya bekerja adalah milik keluarga Sopia. Sopia pun tinggal di lingkungan yayasan. Wajar saja jika Sopia yang ingin berkunjung ke rumahnya berbarengan dengan kedatangan sang suami karena tujuan mereka sama.
Fatimah kembali tersenyum menyambut kedatangan suami dan sahabatnya. Mereka menghabiskan waktu bertiga sebelum Akhtar datang.
Waktunya menjemput Akhtar, suaminya dengan penuh perhatian menanyakan tentang jadwal kepulangan sang putra.
"De, kapan Akhtar pulang? biar Akang yang jemput Akhtar", tanyanya di sela-sela obrolan Fatimah dan Sopia. Fatimah melirik jam dinding.
"Sekarang sudah selesai, Akang bisa menjemputnya sekarang. Enggak apa-apa Akang jemput Akhtar sendirian?" tanyanya lembut, dia merasa tidak enak jika harus meninggalkan tamunya sendirian di rumah.
"Enggak apa-apa, kalian silahkan lanjutkan mengobrolnya", jawab Ayah Akhtar sekilas mengusap pucuk kepala Fatimah yang terbalut hijab, sekilas dia menoleh ke arah Sopia yang tersenyum kecut.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya!", seru Fatimah.
Dia mengantarkan suaminya sampai ke depan, dan setelah mobil suaminya tak terlihat dia kembali ke ruang tamu tempat Sopia berada dan melanjutkan obrolan mereka.
"Fatim, aku sudah menikah", ucap Sopia tiba-tiba.
__ADS_1
Fatimah yang mendengarnya kaget campur bahagia akhirnya sahabatnya itu menemukan jodohnya.
"Benarkah? kapan? kenapa kamu tidak mengundangku? siapa laki-laki beruntung yang menjadi imammu?" Fatimah memberondong Sopia dengan banyak pertanyaan.
Sopia yang mendengar sahabatnya itu melontarkan banyak pertanyaan jadi gemas sendiri.
"Satu-satu dong Fatim nanyanya, aku kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu " ujarnya.
"Hehe....maaf, aku terlalu excited mendengar berita gembira ini, aku turut berbahagia dengan pernikahanmu. Baiklah kalau begitu sekarang satu-satu aku bertanya dan kamu langsung jawab ya? kapan kamu menikah?" Fatimah terkekeh dan mengulangi pertanyaannya.
"Aku menikah sudah hampir satu tahun", jawab Sopia. Sontak jawaban itu membuat Fatimah kaget, bisa-bisanya sahabatnya itu menyembunyikan hal penting darinya.
"Apa...? kenapa kamu baru ngasih tahu akan sekarang?" tanyanya penasaran.
"Maaf, pernikahanku tidak dirayakan tidak ada undangan apalagi resepsi. Kami hanya menikah siri dan dihadiri keluarga dekat saja", jawab Sopia jujur, dia menundukkan kepalanya tampak berusaha menahan tangis.
Fatimah yang melihatnya merasa iba, dia tahu sahabatnya itu punya mimpi yang besar tentang pesta pernikahan. Obrolan yang mengisi kebersamaan mereka saat kuliah adalah impian tentang pesta pernikahan yang mewah dengan orang sangat dicintai begitu pun sebaliknya.
Fatimah mendekatkan dirinya pada Sopia, dia memeluk sahabatnya itu, meyakinkannya kalau itu bukanlah hal yang buruk. Sopia pun membalas pelukan sahabatnya itu.
Tangis Sopia pun mereda dia kembali tersenyum saat Fatimah berhasil menghiburnya. Fatimah pun lega melihat sahabatnya sudah bisa tersenyum lagi walaupun di hatinya ada sesuatu yang mengganjal terkait pernikahan sahabatnya itu tapi Fatimah tidak mau membuat sahabatnya itu tersinggung dengan pertanyaannya. Biarlah nanti Sopia sendiri yang bercerita.
Hari-hari pun berlalu, setiap minggu Furqan suami Fatimah lebih sering pulang minggu pagi, itu pun bersama Sopia. Dengan dalih ingin belajar masak dan membuat kue dia selalu datang bersama dengan Furqan.
Hingga hari itu tiba, hari dimana Fatimah dikejutkan dengan kenyataan yang membuatnya seakan kakinya tak menapaki bumi lagi.
Waktu itu.....
Minggu sore Sopia masih berada di rumahnya, dia meminta izin untuk memasak dan turut makan malam di rumah Fatimah. Fatimah tidak bisa menolak, dengan ramah dia mengiyakan permintaan Sopia. Dia pun meminta izin pada suaminya agar Sopia bisa makan malam bersama mereka, sang suami pun mengizinkannya.
Menjelang Maghrib dia masih sibuk dengan Sopia menyiapkan makan malam. Akhtar sedang duduk dengan Ayahnya di teras depan. Fatimah melirik jam, dan waktu sudah menunjukkan kalau Akhtar harus segera mengaji.
Dia pamit kepada suaminya dan juga Sopia untuk mengantar Akhtar. Suaminya sempat menawarkan diri untuk mengantar Akhtar tapi Fatimah menolak karena melihat sang suami sedang bergelut dengan laptopnya.
"De, Akang saja yang mengantarkan Akhtar", tawar Furqan pada Fatimah, dia hendak membereskan laptopnya.
"Tidak apa-apa Kang, Aku aja yang antar Akhtar lagian tempatnya dekat kok. Akang silahkan lanjutkan saja pekerjaan Akang", jawab Fatimah dengan melemparkan senyum manisnya pada sang suami.
"Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan", balas Furqan. Fatimah pun mengangguk setelah pamit pada suaminya.
Tidak butuh waktu lama untuk Fatimah mengantar Akhtar ke tempatnya mengaji, kurang dari dua puluh menit dia sudah kembali memarkirkan motor maticnya di halaman rumah.
"Assalamu'alaikum", ucap Fatimah saat memasuki rumahnya.
__ADS_1
Fatimah membuka pintu yang tidak terkunci dan kembali mengucapkan salam namun masih belum ada jawaban. Dia menutup kembali pintu pelan dan melihat lampu ruang tengah masih gelap. Perlahan dia langkahkan kakinya ke arah dapur yang tampak lebih terang karena lampu yang sudah dinyalakan.
Saat semakin dekat menuju pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia mendengar suara dua orang yang tak asing di telinganya sedang berbincang.
"Akang, aku cemburu tahu...." ucap seorang wanita dengan nada menggoda.
"Cemburu kenapa, sayang?" , jawab sang pria dengan suara paraunya.
"eummhhhh...akang nakal", sang wanita kembali bersuara dan setelah itu Fatimah tidak mendengar apa-apa lagi selain suara napas yang saling memburu.
Dia mendekat ke arah pintu yang tidak tertutup sempurna itu. Dia buka dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.
Dan seketika Fatimah mematung, tubuhnya seakan membeku tak mampu merespon. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami tercintanya sedang bercumbu mesra dengan sahabatnya sendiri.
Fatimah tak mampu menggerakkan tubuhnya, kakinya seakan tak menapak lagi ke bumi. Laki-laki yang ada di hadapannya adalah suaminya, laki-laki yang menikahinya lima belas tahun yang lalu, laki-laki yang dengan lantang meminang dirinya di hadapan kedua orang tuanya, berjanji akan membahagiakannya dan membawanya ke surga melalui pernikahan Laki-laki yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali karena perlakuan manisnya. Laki-laki yang selalu mengatakan betapa beruntungnya dia menjadi imam dari seorang Fatimah. Kembang desa dengan sejuta pesona, sholehah dan cerdas.
Fatimah semakin linglung, dia berharap apa yang dilihatnya adalah mimpi. Mimpi melihat suaminya sedang bercumbu mesra dengan sahabatnya sendiri. Sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.
Suara nyaring dari teko yang digunakan untuk memasak air mengagetkan mereka bertiga tanda air yang dimasak sudah mendidih.
Furqan dan Sopia mengakhiri aktivitas panas mereka. Sementara Fatimah, dia mundur beberapa langkah dan bersembunyi di balik pintu.
Jantungnya berdegup kencang tubuhnya terasa panas, napasnya tersengal, sesak! Dadanya kian bergemuruh. Air matanya pun kian berlinang, mengalir dengan derasnya tanpa suara.
Tak ada tisu atau sapu tangan yang bisa dia gunakan untuk menghapus air matanya, yang ada hanya tangannya yang terus bergetar dengan setia menghapus air matanya.
Tidak ada kata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Fatimah berulang kali beristighfar, mengingat Allah Maha Mengetahui segalanya dia sedikit lebih tenang dan berusaha menetralkan perasaannya.
Menarik oksigen sebanyak mungkin Fatimah lakukan agar setiap celah paru-parunya terisi sempurna untuk menghilangkan sesak yang menerjang dada.
Dengan mantap, dia langkahkan kaki ke arah dapur tempat suami dan sahabatnya berada, berusaha tenang dia membuka pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur itu.
Sontak yang orang-orang yang berada di dapur kaget, mereka berdua menoleh ke arah pintu dimana Fatimah berdiri. Furqan yang sedang memeluk Sopia dari belakang dengan mesranya segera melepaskan pelukannya. Wajah mereka berdua tampak pucat mendapati Fatimah tengah berdiri di hadapan mereka.
Suasana hening seketika, Fatimah menatap Furqan dan Sopia bergantian dengan tatapan yang tajam. Dia berusaha menahan tangis, tak ingin terlihat lemah dihadapan suami dan sahabat yang telah tega mengkhianatinya.
"Dek, ini tidak seperti yang kamu lihat", Furqan memecah keheningan, dia beranjak menghampiri Fatimah dan hendak memegang tangannya, tapi Fatimah menepisnya.
"Kalian berdua, hutang penjelasan padaku, setelah maghrib mari kita bicara", ucap Fatimah dengan tegas dan suara yang bergetar menahan tangis, dia membalikkan badan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat maghrib.
Furqan tampak berusaha mengejar Fatimah, dia mengetuk pintu kamar berkali-kali dan memanggil nama Fatimah dengan panggilan kesayangannya. Fatimah tak kunjung merespon, akhirnya Furqan menyerah dan berlalu ke mesjid untuk shalat maghrib, sementara Sopia memilih shalat di kamar Akhtar.
Selepas shalat maghrib Fatimah duduk di sopa ruang tamunya, dia menunggu dua orang yang akan memberinya penjelasan. Dia sudah lebih tenang setelah melaksanakan shalat, berusaha tegar dengan kenyataan yang akan dihadapinya.
__ADS_1
Sopia dan Furqan duduk berdampingan di kursi yang berbeda, mereka berhadapan langsung dengan Fatimah. Ketiganya masih terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Fatimah menatap tajam mereka berdua bergantian, suasana rumah seketika mencekam.