
Akhtar melempar tas kerja yang dibawanya begitu saja, dia segera meraih map yang berada di atas meja kerjanya di kantor yayasan.
Kepulangannya dari pertemuan dengan rekan bisnisnya yang ternyata memakan waktu hampir satu minggu membuat dia ketinggalan banyak hal tentang Shanum.
Kabar yang dia terima dari Ahsan tentang pengunduran diri Shanum dari yayasan tidak lantas membuatnya percaya begitu saja. Dia memerintahkan Ghifar asisten pribadinya untuk menyelidiki semuanya.
Sepulangnya dari bandara mengantarkan rekan bisnisnya kembali ke negaranya, Akhtar langsung menuju ke kantor yayasan. Dia mendapat pesan dari Ghifar tentang informasi pengunduran diri Shanum.
Tidak peduli dengan hal lainnya, fokus Akhtar tertuju pada map yang berada di atas meja kerjanya. Dia meyakini itu adalah map yang dimaksud Ghifar asistennya.
Dia meraih map itu dan membuka isinya. Diamati setiap kertas yang berisi informasi tentang Shanum. Akhtar membacanya dengan teliti tak ada satupun kata yang terlewat dia baca. Semua berkas sudah dia baca sampai lembar terakhir...
Brakkk.....Akhtar menyimpan kembali map yang digenggamnya ke atas meja dengan keras. Suasana ruang semakin hening, tatapan mata Akhtar kosong. Dia memandangi kertas terakhir yang dibacanya dengan fokus yang entah kemana.
Biyuurrrrrrr...Akhtar melempar map yang sejak tadi digenggamnya ke sembarang arah. Kertas-kertas yang ada di dalam map itu pun berhamburan begitu saja.
"Arrggghhh......" teriak Akhtar. Dia menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Teriakan Akhtar ternyata terdengar sampai ke luar ruangannya. Ghifar yang berada di luar kaget mendengar teriakan boss sekaligus sahabatnya. Dia segera membuka pintu ruang pimpinannya. Ghifar panik melihat ruangan Akhtar terlihat berantakan, kertas-kertas bertebaran dimana-mana. Perlahan Ghifar memasuki ruangan itu, dengan ragu-ragu dia memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai.
"Boss....." panggil Ghifar ragu. Dia melihat Akhtar tak bergerak dari posisinya sejak tadi.
Mendengar seseorang memanggilnya, Akhtar mendongak. Dia menatap orang yang kini berada di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ghifar yang melihatnya benar-benar khawatir, untuk kesekian kalinya dia melihat boss sekaligus sahabatnya itu seperti ini. Akhtar yang Ghifar kenal adalah orang yang tegar, gagah dan penuh percaya diri. Aura kepemimpinan yang dimilikinya benar-benar dapat menghipnotis orang yang berhadapan dengannya. Bukan hanya kawan dan bawahannya, tetapi rekan-rekan bisnisnya selalu memiliki kesan baik dan takjub setelah berhadapan dengannya. Tapi saat ini keadaannya jauh berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Apa?" tanya Akhtar lirih.
"Boss, baik-baik saja kan?" tanya Ghifar khawatir.
Akhtar memandang Ghifar dengan tatapan yang tajam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Hikkss......." tiba-tiba Akhtar menutup wajahnya dan menangis tersedu. Suara tangisannya yang tertahan terdengar begitu pilu. Ghifar yang melihat bossnya begitu rapuh merasa iba, dia kini bisa menyimpulkan bahwa kenyataan yang baru diketahui oleh bossnya yang membuat dia seperti ini.
Ghifar membiarkan bossnya meluapkan semua perasaannya melalui tangisan. Dia menuju pintu untuk mengunci pintu ruang pimpinan, menjaga agar tidak ada orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Ini adalah kali ketiga Ghifar melihat boss sekaligus sahabatnya itu seperti ini.
Pertama kali dia melihat Akhtar seperti ini adalah saat dia merindukan ibunya, dia begitu menderita ketika mengetahui kalau sang ayah menutup akses sang ibu untuk berkomunikasi dengannya.
Kedua kalinya Ghifar menjadi saksi keterpurukan Akhtar saat mengetahui kekasih hatinya telah menjadi milik orang lain. Keadaannya begitu mengkhawatirkan, moodboosternya telah hilang. Sang pujaan hati yang menjadi tujuannya tak lagi ada.
Ghifar sangat mengkhawatirkan keadaan Akhtar saat itu. Dia benar-benar kehilangan semangat dan harapan hidupnya. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk Akhtar bisa bangkit dan kembali menjalani aktivitasnya dengan normal hingga kehadiran seseorang yang sempat memutuskan harapannya kembali membuat dia bersemangat, namun sayang keadaan saat itu justru terbalik.
Akhtar yang tak lagi bebas mendekati Shanum karena dia sudah terlanjur terikat dengan perjodohan. Tapi dia tidak menyerah, selama janur kuning belum melengkung dia akan berusaha memperjuangkan cintanya, dengan harap dan do'a dia menggantungkan semuanya kepada Sang Pemilik Hati agar dijodohkan dengan Shanum, kekasih hatinya.
Walaupun pada akhirnya dia harus mengikhlaskan pujaan hatinya bersanding dengan sepupunya sendiri, namun dia sedikit lega setidaknya Shanum bersama orang yang tepat. Orang yang Akhtar yakini akan bisa membahagiakan Shanum dan dia sendiri akan menyaksikan kebahagian mantan kekasihnya itu.
Dia ikhlas, karena mencintai tidak harus selalu memiliki, melihat orang terkasih bahagia dengan pilihannya adalah tingkatan mencintai yang paling tulus bagi Akhtar.
Namun lagi-lagi realita tidak sesuai dengan ekspektasi. Hari ini Akhtar kembali harus menelan pil pahit dari kenyataan yang dihadapinya. Kekasih hati yang telah dia relakan bersama sahabatnya harus benar-benar pergi jauh dari hidupnya, dan yang paling menyakitkan bagi Akhtar adalah ketika mengetahui kepergian Shanum adalah karena ulah Raina tunangannya dan Suraya perempuan dari masa lalu Ahsan yang tiba-tiba kembali hadir di antara Ahsan dan Shanum.
Hatinya semakin sakit tatkala mengetahui bahwa mengajar ditempat ini adalah salah satu impian Shanum dan kini sang mantan kekasih hatinya itu harus kehilangan cinta sekaligus impiannya.
Akhtar merasa sangat tidak berguna, dengan segala yang dia miliki dia tidak mampu mencegah semua yang terjadi pada Shanum. Semua terjadi di luar kuasanya. Dan mirisnya yang menjadi dalang semua kejadian yang menimpa Shanum adalah wanita yang kini telah menjadi tunangannya, tak ada yang bisa dia lakukan, dia hanya bisa menangisinya saat ini, lelaki seperti apakah dia. Sungguh Akhtar merasa semakin bersalah, lemah dan tidak berguna.
"Shanum, hiks..." Akhtar menyebut nama Shanum berulang kali disela-sela isakan tangisnya yang tak mampu lagi dia tahan.
__ADS_1
Hanya Ghifar, Ghifar sang asisten sekaligus sahabatnya itu yang mengetahui sisi lain dari Akhtar dan selama ini Ghifar sangat menjaga agar tak ada seorang pun yang mengetahui titik lemah dari bossnya itu.
"Atur keberangkatanku ke Bogor!" ucap Akhtar tiba-tiba memberi perintah, dia menghentikan tangisnya dan beranjak menuju kamar mandi.
"Bagaimana dengan Nona Raina, Boss?"
Setelah mencuci muka dan menetralkan perasaannya, dia kembali tampil menjadi Akhtar yang gagah dan penuh kharisma. Wibawa kepemimpinannya kembali hadir namun Ghifar melihat ada kemarahan yang begitu besar yang berusaha Akhtar tahan saat mendengar nama Raina disebutnya.
***
Sementara di Bogor....
Sudah dua hari Ahsan berada di kota hujan itu. Dia sengaja menginap di hotel karena rencananya dia akan berada di sana cukup lama. Setelah berbincang dan mendapat informasi tentang kronologis pengunduran diri Shanum dari Malik sahabatnya yang menjadi kepala sekolah tempat Shanum mengajar, Ahsan langsung menuju ke Bogor.
Sesampainya di Bogor, dia tidak langsung menemui Shanum tetapi Ahsan hanya memantau dari kejauhan. Fakta tentang alasan Shanum yang mengundurkan diri karena akan menikah membuat Ahsan harus berhati-hati dalam bertindak. Dia mengamati keseharian Shanum selama dua hari ini.
Setiap pagi sekitar pukul enam Shanum akan keluar dari area rumahnya untuk pergi ke pasar yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, Shanum bahkan berjalan kaki pergi dan pulang dari sana. Kadang Shanum pergi berdua dengan sang ibu kadang juga dia sendiri.
Sekitar pukul tujuh tiga puluh dia akan pergi bersama sang ibu ke sebuah taman kanak-kanak tempat ibunya mengajar, dan dia turut mengajar di sana. Menjelang dzuhur Shanum dan ibunya sudah kembali berada di rumah.
Shanum akan keluar rumah lagi sekitar pukul tiga belas, dia pergi ke madrasah diniyah tempat ayahnya mengajar dan membantu sang ayah mengajar di sana. Sekitar jam empat sore Shanum sudah kembali berada di rumah dan biasanya menghabiskan waktu dengan menata kebun kecil di samping rumahnya atau sekedar membaca buku di teras rumah hingga senja menjelang.
Setelah mengetahui keseharian Shanum, Akhtar pun mulai mencari peluang untuk dapat menemui Shanum sendiri. Dia ingin berbicara dengan leluasa dengan Shanum.
Seperti hari ini yang merupakan hari ketiga Ahsan memantau aktivitas Shanum. Dia melihat Shanum keluar dari pekarangan rumahnya sendiri. Keadaan yang masih belum terlalu terang karena waktu masih pagi. Jarum jam menunjukkan pukul lima lebih sedikit, membuat Ahsan leluasa dalam mengikuti Shanum.
Setelah melihat Shanum berjalan sudah cukup jauh dari pekarangan rumahnya, dia pun melajukan mobilnya pelan mengikuti Shanum. Shanum tidak menyadari jika ada yang mengikutinya.
Dia berjalan menyusuri jalanan yang masih belum terlalu ramai karena memang masih sangat pagi. Sesekali beberapa kendaraan melintas, ada juga satu dua orang yang berjalan dengan tujuan yang sama seperti dirinya.
Shanum kaget, dia tidak menduga saat melihat seseorang yang begitu dia kenal keluar dari mobil itu. Shanum salah tingkah, dia bingung mau bagaimana. Menghindar sudah tidak dapat lagi dia lakukan karena Ahsan sudah tepat berada di hadapannya.
"Bisa kita bicara?" Ahsan berbicara dengan nada tegas pada Shanum.
Shanum yang mendengar nada bicara Ahsan tidak seperti biasanya menatap Ahsan lekat. Dia seolah mencari tahu keadaan hati Ahsan saat ini dari ekspresi wajah yang ditunjukkannya.
"Assalamu'alaikum" , Shanum menyapa Ahsan dengan ucapan salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ahsan kikuk, dia lupa mengucapkan salam di awal pertemuan mereka.
"Kakak apa kabar? aku mau ke pasar sekarang jadi....." ucapan Shanum terpotong.
"Aku tahu, sekarang ikutlah denganku" Ahsan menarik tangan Shanum dan membawanya mendekati pintu mobil.
Karena tidak mau menimbulkan keributan di tempat umum di pagi yang masih buta, Shanum akhirnya mengikuti kemauan Ahsan. Dia masuk ke dalam mobil Ahsan dan duduk di samping kemudi. Ahsan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobilnya pelan, membawa Shanum pergi menjauh dari area itu.
" Kakak, kita mau kemana?" setelah cukup lama mereka berkendara dan saling diam Shanum akhirnya membuka suara.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul enam, Ahsan terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan Shanum.
"Kakak?" Shanum memanggil Ahsan dengan intonasi sedikit meninggi karena tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Ahsan menoleh sebentar ke arah Shanum dan kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
"Kabari dulu orang rumah, bilang kamu akan terlambat pulang hari ini" jawab Ahsan menjawab pertanyaan Shanum.
__ADS_1
"Tapi Kak....." Shanum kembali menghentikan ucapannya karena melihat sorot mata Ahsan yang berarti tidak mau menerima penolakan.
Shanum pun akhirnya mengirimi sang ibu pesan, bahwa dirinya akan pulang terlambat karena bertemu teman lama.
Sampailah mereka di sebuah villa dekat daerah perkebunan yang entah milik siapa. Shanum terdiam di dalam mobil mengamati lingkungan sekitar. Dia sepertinya kurang mengenali daerah ini.
Melihat Shanum yang belum juga keluar dari dalam mobil. Ahsan pun berinisiatif membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Shanum untuk keluar mengikutinya.
Kini mereka tengah duduk di bangku taman yang berada di halaman villa itu.
"Ini.....villa siapa, Kak?" tanya Shanum ragu. Dia tidak tahu jika Ahsan memiliki villa di Bogor.
"Ini villa kita, tempat tinggal kita setelah menikah jika berkunjung ke Bogor." jawab Ahsan santai.
Jlebb.....ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam hatinya. Hati Shanum tidak siap menerima jawaban Ahsan seperti itu.
"Kakak, aku...."
"Kamu mengundurkan diri dari yayasan karena akan menikah dan ikut suami, benarkan?" sindir Ahsan.
"I....i...iya..." jawab Shanum terbata.
"Bagus, dan aku adalah calon suamimu" ujar Ahsan
"Kita akan segera menikah dan akan tinggal di sini" jawabnya tegas.
"Kakak...." panggil Shanum lirih.
"Aku tidak menerima penolakan. Besok aku akan menemui orang tuamu. Aku sudah menyampaikan niatku pada Mama dan Papa, mereka senang mendengar aku akan menikah. Lusa kita akan menikah, kedua orang tuaku akan diusahakan datang, jika tidak pun pernikahan kita akan tetap berlangsung" , Ahsan kembali menjelaskan tujuan kedatangannya ke Bogor.
"Kakak...."
"Shanum aku mohon, biarkan aku menjadi mahrammu. Aku ingin melindungimu dengan leluasa, aku tidak ingin kejadian seperti kemarin kembali terulang. Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku. Percayalah, aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu. Aku bisa gila jika membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian." Ahsan berkata dengan penuh pengharapan. Ada harapan dan frustasi yang menyatu di setiap kalimat yang dia lontarkan.
"Kakak.....maaf, aku tidak bisa" sela Shanum.
"Kenapa, Num? kamu tidak percaya padaku? tidak percaya pada kesungguhanku? kamu meragukanku?" cecar Ahsan dengan emosi yang menggebu, napasnya terlihat naik turun.
Shanum menggelengkan kepalanya. Dia menarik napasnya dalam-dalam, sudah tidak ada pilihan lain untuknya selain menceritakan perjanjiannya dengan Suraya dan kompensasi yang harus dibayar jika dia melanggarnya.
"Kakak, Kah Ahsan...kali ini tolong dengarkan aku baik-baik" Shanum berbicara dengan penuh kelembutan, dia meminta Ahsan menatapnya. Memastikan laki-laki itu benar-benar tenang agar bisa menerima penjelasannya dengan pikiran yang terbuka dan hati yang lapang.
Ahsan luluh, dia mengangguk dan bersiap mendengarkan penjelasan Shanum. Shanum pun menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu. Tidak ada yang terlewat sedikit pun, sesekali dia terhenti karena sesak di dadanya saat kembali mengingat peristiwa malam itu.
Ketakutan kembali melanda hati Shanum, terbayang wajah laki-laki yang akan merudapaksanya jika ancaman Suraya benar-benar terjadi.
Suaranya semakin menghilang, tubuhnya bergetar, air mata tak lagi bisa dibendungnya, kejadian malam itu telah meninggalkan trauma yang mendalam untuk Shanum.
Ahsan mendengarkan dengan seksama cerita Shanum. Dia geram, rahangnya mengeras, tangannya terkepal menahan kemarahan yang besar pada Suraya, dia ingin sekali membalas perlakuannya pada Shanum.
Brukk....tiba-tiba tubuh Shanum ambruk, kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ahsan yang melihat Shanum terduduk dilantai kaget, dia segera menghampiri Shanum yang masih belum bisa menguasai dirinya.
Air matanya terus mengalir, dia menangis tanpa suara. Tubuhnya pun bergetar semakin hebat dan kian melemah, hingga akhirnya Shanum pingsan di pangkuan Ahsan.
"Astaghfirullah, Shanum...!"
__ADS_1