Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Shanum, Percayalah!


__ADS_3

"Tidak", Ahsan tiba-tiba mengeluarkan suara cukup keras. Semua orang pun menatapnya, menunggu kelanjutan ucapannya.


"Tidak seperti itu Num", Ahsan melepas paksa tangan Suraya yang menggandeng lengannya. Dia maju selangkah ke hadapan Shanum.


"Shanum, aku akan menjelaskan. Dia bukan calon istriku. Kami memang pernah dekat, tapi itu dulu. Tolong kamu percaya padaku", Ahsan berusaha menjelaskan, dia tidak peduli dengan banyak mata yang terus menatap ke arah mereka.


Shanum gugup, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Suraya, kita sudah selesai. Kepergian kamu lima tahun yang lalu adalah akhir jawaban hubungan kita. Sekarang kita sudah tidak ada hubungan lebih dari sekedar teman itu pun jika kau mau, jika tidak aku pun tidak akan keberatan. Dan kenalkan dia adalah Shanum, calon istriku", ucap Ahsan tegas dengan tangan menunjuk ke arah Shanum.


Semua orang yang berada di meja itu menegang, mereka seperti sedang menonton drama live tentang kisah cinta segitiga. Luar biasa, seorang Ahsan yang terkenal tegas dan berwibawa ternyata memiliki kisah cinta serumit ini. Shanum diam tidak menanggapi perkataan Ahsan, dia masih berusaha menetralkan keadaan hatinya untuk bisa bersikap biasa-biasa saja.


"Apa maksud kamu, By? sudahlah jangan bercanda, aku tahu kamu masih marah padaku karena kejadian masa lalu. Aku mengerti dan aku minta maaf, tapi sekarang aku sudah kembali By. Aku kembali untukmu dan lihatlah aku sekarang sudah sukses dengan semua pencapaianku, aku sudah menjadi dokter spesialis dengan predikat cumlaude, By. Tidakkah kamu bangga padaku?",


Suraya berusaha menjelaskan keadaannya pada Ahsan dengan senyum penuh kebanggaan. Dia tampak tidak kaget dengan apa yang Ahsan katakan karena menganggapnya hanya candaan untuk membalasnya yang telah meninggalkannya tiba-tiba, Ahsan memang paling suka bercanda. Semua orang hanya diam mendengarkan, tidak ada yang berani berkomentar.


"Oke, sekali lagi aku minta maaf Hubby", ucap Suraya dengan kembali meraih lengan Ahsan.


"Sekarang ayo kita ke sana, Mama, Papaku dan juga Mami Papimu sudah menunggu kita, sayang. Aku sengaja ingin memberimu surprise, sebentar lagi kita akan menyusul Akhtar dan Raina", Suraya menjelaskan rencananya dan kembali menunjukkan kemesraannya dengan Ahsan di hadapan Shanum dan teman-temannya.


Deg....Shanum semakin menundukkan pandangannya untuk menghindari perubahan ekspresi wajahnya yang tiba-tiba memanas tak terelakkan. Dia memainkan gawainya untuk mengalihkan perhatian Ahsan yang terus menatapnya.


Sejujurnya rasa sakit yang menyelinap di dadanya begitu akut saat mendengar Suraya memanggil Ahsan dengan panggilan mesra seperti itu. Apalagi mendengar jika orang tua mereka berdua sudah menunggu, sepertinya mereka sudah sangat dekat satu sama lain. Ditambah rencana mereka yang akan segera menyusul Akhtar dan Raina. Lengkaplah sudah semuanya, kenyataan yang Shanum hadapi saat ini bagaikan anak panah yang berkali-kali menghujam tubuhnya.


Saat ini jiwanya sudah sangat terkoyak tapi dia masih berusaha terlihat tegar. Liani yang menyaksikan semuanya pun terlihat geram menahan amarah dan sangat mengkhawatirkan Shanum, dia tahu sahabatnya itu tidak baik-baik saja. Dia meraih tangan kiri Shanum dan menggenggamnya erat seolah memberi Shanum kekuatan. Shanum pun melirik Liani dan melemparkan senyumnya, memberi kode pada sahabatnya itu jika dia baik-baik saja.


"Aku tidak bercanda, Raya. Aku sangat serius, dia Shanum calon istriku. Hubungan kita sudah selesai, enggak ada yang perlu dibahas lagi. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing.", Ahsan kembali menegaskan, dia tidak sadar memanggil Suraya dengan panggilan khususnya, sejak dulu hanya Ahsan yang memanggil Suraya dengan panggilan Raya.


"Hahaha....terima kasih Hubby, kamu masih ingat dengan panggilan kesayanganmu itu. Sudahlah By, ayolah....aku lagi gak mau bercanda sekarang, aku ingin memberimu banyak hadiah malam ini. Sekarang ayo kita temui orang tua kita mereka sudah sangat merindukanmu." Suraya masih tidak percaya dengan pengakuan Ahsan, dia bersikeras menganggap kelakuan Ahsan hanya keisengan untuk membalasnya.

__ADS_1


"Dan untuk kalian", Suraya beralih menatap Shanum dan teman-temannya yang masih setia berada di sana.


"Maaf ya Pak Ahsannya aku pinjam dulu, jika ada urusan pekerjaan, besok-besok saja kalian lanjutkan. Malam ini atasan kalian adalah milikku, kami akan melepas kangen dulu. Sampai jumpa!", Suraya menarik lengan Ahsan dan melambaikan satu tangannya.


Ahsan tidak bisa menolak saat Suraya menariknya, dia tidak mau mempermalukan dirinya jika harus berbuat kasar pada Suraya. Akhirnya dia pun mengikuti kemauan Suraya dan hanya menatap Shanum sekilas yang semakin menundukkan wajahnya dengan tatapan yang sendu.


Sesaat Shanum pun mendongak dan tatapan mereka bertemu, tapi Shanum dengan cepat kembali memalingkan wajahnya.


Acara terus berlanjut, para tamu tampak tidak terganggu dengan kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu. Mereka sangat menikmati kemeriahan pesta malam ini, terkecuali untuk beberapa orang yang tampak saling menahan diri untuk meluapkan emosi mereka.


POV Ahsan


Suasana pesta malam ini sangat meriah dan penuh keakraban. Aku turut berbahagia untuk sahabat sekaligus sepupuku Akhtar. Walaupun awalnya dia bersikeras menolak perjodohannya dengan Raina tetapi akhirnya dia pun bisa menerima hingga pertunangan ini bisa terlaksana dengan lancar.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan Akhtar dua minggu ini, tetapi kehadirannya di pesta pertunangan dengan menggandeng wanita paruh baya namun masih tampak awet muda itu aku jadi tahu kemana selama dua minggu ini dia pergi.


Wanita itu adalah ibunya Akhtar, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta sebelum akhirnya mereka terpisah karena keadaan yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya.


Ibu Fatimah adalah wanita yang sangat baik, dia juga Ibu yang sangat bertanggung jawab. Dalam membesarkan kami, semua yang dia lakukan selalu penuh cinta dan kasih sayang.


Tapi sayang kebersamaan kami tidak berlangsung lama setelah dia memilih berpisah dengan Omku, Ayah Akhtar yang juga ku panggil Ayah kami pun sudah tidak berkomunikasi lagi. Dan malam ini, aku dikejutkan dengan kehadirannya di tengah-tengah kami, sungguh kejutan yang luar biasa indah. Akhirnya kerinduanku untuknya terobati.


Di sela-sela aktivitasku memantau acara yang menjadi tanggung jawabku, pandanganku tidak terlepas sari seseorang yang telah menjadi pemilik hatiku. Aku selalu memantau pergerakan Shanum di mana pun dia berada.


Sejak dimulainya acara pertunangan Akhtar pagi tadi aku lihat keadaannya tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu apa penyebabnya, yang lebih aku pedulikan adalah bagaimana caranya membuat dia kembali baik-baik saja.


Acara sesi pertama yang dikhususkan untuk tamu-tamu yayasan dan rekan-rekan bisnis pun sudah berakhir. Ada waktu beberapa jam untuk kami semua panitia dan tim WO beristirahat sebelum nanti kembali bergelut dengan tugas masing-masing di pesta sesi dua yang dikhususkan untuk teman-teman Raina. Ya teman-teman Raina.


Pesta sesi dua ini memang keinginannya, aku tahu Akhtar sebenarnya tidak setuju tetapi keinginan sang putri sultan mana bisa terbantahkan.

__ADS_1


Untunglah kehadiran teman-teman kami waktu bersekolah di Yogya dapat membuat Akhtar sedikit menikmati pesta ini. Aku tahu Akhtar sepertinya masih sangat terpaksa menerima pertunangan ini, dia pernah bilang kalau di hatinya masih ada seseorang yang menjadi cinta monyetnya dulu. Keren memang sepupuku yang satu itu, seumur hidupnya hanya menempatkan dua wanita dalam hatinya yaitu Ibu dan gadis pujaannya itu.


Aku tidak tahu siapa gadis itu, aku cukup tahu diri untuk tidak terlalu memasuki ranah pribadinya. Walaupun dia selalu menceritakan apapun yang terjadi padanya tapi aku tahu untuk yang satu itu Akhtar sangat menjaga privasinya. Yang aku tahu gadis itu katanya sudah menikah.


Saat Akhtar kembali setelah menuntaskan pendidikannya di luar negeri tujuan utamanya adalah gadis itu, tapi sayang kenyataan pahit dia dapatkan karena pujaannya sudah menjadi milik orang lain. Dia begitu sangat kehilangan, hidupnya kacau. Aku turut bersedih untuknya, hingga dia oun akhirnya dengan terpaksa menerima perjodohannya.


Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, Akhtar kembali bercerita jika dirinya keliru selama ini. Gadis pujaannya ternyata masih sendiri dan menunggunya, namun sayang kabar bahagia yang dia terima itu berbanding terbalik dengan keadaan dirinya, karena saat ini dia terlanjur sudah menerima pertunangannya dengan Raina. Kembali dia harus menghadapi realita yang seolah tidak berpihak untuk kebahagiaan cintanya.


Aku sangat mengerti keadaannya, sungguh dia terlihat sangat frustasi. Aku sangat prihatin melihat keadaannya, namun aku pun tidak bisa berbuat banyak selain menjadi pendengar setia setiap keluh kesahnya. Tapi, melihat dia malam ini aku lega sepertinya dia mulai bisa menerima kenyataan. Alhamdulillah, kejutan kedua yang aku terima malam ini.


Aku sangat bahagia malam ini, kemajuan hubunganku dengan Shanum telah menjadi moodbooster untukku. Rasanya waktu ingin cepat berlalu, setelah acara selesai besok atau lusa aku akan ke Bogor menemui orang tua Shanum. Aku akan meminta izin secara resmi kepada orang tuanya untuk segera meminang Shanum. Tapi di luar dugaanku, kejutan ketiga malam ini telah menghancurkan semua rencana indahku.


Seseorang dari masa laluku tiba-tiba datang dan dengan tidak tahu malunya dia mengaku sebagai calon istriku di hadapan Shanum. Dia seenaknya menghancurkan agenda hidupku, tidak hanya saat ini tapi juga dulu, tepatnya enam tahun yang lalu.


Dia adalah Suraya, Suraya Laila nama lengkapnya. Aku terbiasa memanggilnya Raya, dan hanya aku yang memanggilnya dengan nama itu. Kami menjalin kasih sejak memasuki sekolah putih abu-abu. Aku bangga menjadi kekasihnya, dia adalah gadis tercantik yang ada di sekolahku, selain cantik dia juga sangat cerdas.


Sebagai anak tunggal dari keluarga terpandang, sempurnalah hidupnya. Wajar jika banyak pria yang mendamba menjadi kekasihnya dan akulah pemenangnya. Apapun yang dia inginkan selalu kuusahakan untuk memenuhinya, dia adalah wanita istimewa dalam hidupku. Papanya yang memiliki profesi yang sama dengan papiku membuat keluarga kami pun mudah akrab.


Papi dan Mami sangat senang saat tahu aku dekat dengan Raya, dan aku pun berencana setelah wisuda nanti aku akan melamarnya, kami pun berkuliah di tempat yang sama. Namun rencana ternyata hanya tinggal rencana, saat menjelang tingkat tiga dia memutuskan untuk pindah kuliah ke luar negeri.


Dia mengatakan padaku kalau dia ingin mengejar pendidikan setinggi-tingginya dan mendapat karir yang cemerlang. Berkali-kali aku memohon agar dia tetap bersamaku melanjutkan sekolah di dalam negeri, toh di sini juga banyak perguruan tinggi yang berkualitas, pikirku. Aku akan membantunya untuk mewujudkan mimpinya itu dan aku yakin dengan bersamaku diapun bisa meraih cita-citanya itu.


Tapi Suraya tetaplah Suraya, setiap keinginannya adalah keputusan yang tak terbantahkan, egois memang. Dukungan orang tuanya membuat aku tidak bisa berbuat banyak. Suraya pun pergi tanpa pamit, dia tidak peduli dan seolah tidak menganggapku sebagai orang yang berarti untuknya.


Aku marah, kecewa dan benci dengan keadaan ini. Sejak itu, rasa cinta dan kagum yang ada di hatiku untuknya entah kemana menguap begitu saja. Aku pun bertekad untuk menutup pintu hatiku untuk makhluk yang namanya perempuan. Aku sadar aku terlalu tinggi meletakkan ekspektasiku. Benar kata orang, jangan mencintai seseorang terlalu dalam karena yang sejalan belum tentu searah.


Namun malam ini dia kembali, Suraya datang dan mengatakan di hadapan semua orang bahwa aku masih sangat mencintainya dan aku adalah prianya. Dan yang membuatku kekesalanku semakin memuncak adalah saat dia mengenalkan dirinya kepada Shanum dan teman-temannya sebagai calon istriku. Dia begitu percaya dirinya bahwa aku tidak berubah, dia terlalu percaya hingga lupa manusia bisa berubah kapan saja.


Aku tidak bisa membayangkan kekecewaan Shanum, baru saja dia membuka pintu hatinya untukku, memberiku ruang yang luas dalam hatinya untuk ku tempati tapi justru aku malah menaruh luka di dalamnya.

__ADS_1


'Shanum, maafkan aku....percayalah di hatiku hanya ada kamu dan cintaku sungguh hanya untukmu', batin Ahsan.


__ADS_2