
Setelah mengantar kepergian suami dan adik iparnya, Shanum kembali ke dalam rumah. Selama seminggu ini hubungan mereka sudah semakin dekat. Keterbukaan dan pengertian Haqi membuat hati Shanum luluh walaupun belum ada cinta seutuhnya untuk Haqi di hati Shanum, tetapi dia selalu berusaha menjalankan perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin.
Shanum selalu menyiapkan semua keperluan suaminya dengan baik. Ibu mertua dan adik iparnya banyak membantu Shanum untuk mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh Haqi. Tidak sulit untuk Shanum mengetahui dan memahami itu semua karena Haqi memang tidak pernah neko-neko dengan hal apapun. Dia menerima dengan senang hati setiap hal yang Shanum siapkan untuknya. Membuat Shanum merasa berharga dan begitu sangat dicintai.
Hari ini dia berencana untuk menemani ibu mertuanya berkunjung ke rumah temannya. Semalam dia sudah menyampaikan hal itu pada suaminya dan Haqi pun mengizinkannya. Dia tahu selama ini ibunya kesepian karena selalu kemana-mana sendirian hanya ditemani sopir. Hasna tidak bisa selalu menemani sang ibu karena dia harus mengurus perusahaan peninggalan ayahnya yang saat ini sudah diambil alih oleh Haqi.
"Sudah siap, Teh?" tanya Bu Ratna yang memanggil Shanum dengan sebutan teteh seperti yang dilakukan Hasna. Dia ingin memperlakukan Shanum sama seperti anak kandungnya sehingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Sudah, Mi" jawab Shanum dia berjalan ke arah ibu mertuanya.
Shanum sudah siap dengan stelan santainya, celana kulot berwarna nude dipadukan dengan tunik selutut berwarna pink dan jilbab dengan warna senada membuat penampilan Shanum terlihat elegan. Aksen bros yang dikenakan di jilbabnya yang menjuntai menutupi dada membuatnya terlihat semakin berkelas, tidak lupa Shanum membawa tas selempang warna senada dan memakai sneakers berwarna putih. Kesederhanaannya dalam berpenampilan justru membuatnya semakin terlihat cantik, feminim dan berkelas.
Shanum menggandeng tangan ibu mertuanya menuju mobil yang sudah siap dengan sopir keluarganya.
"Teh, sebelumnya kamu ngajar kan?" Bu Ratna memulai pembicaraan setelah mobil melaju beberapa menit menuju tempat yang dimaksud.
"Iya, Mi" jawab Shanum singkat.
"Terus sekarang rencananya kamu mau gimana?"
"Maksud Mami?" Shanum balik bertanya.
"Iya, mau mengajar lagi atau mau gimana? kamu kan punya keahlian, sayang kalau tidak diasah lagi" jelas Bu Ratna.
"Aku belum tahu Mi, Insya Allah nanti didiskusikan dengan Abang" jawab Shanum, dia memang belum tahu apa yang akan dilakukannya setelah menikah. Dia masih menyesuaikan diri dengan keadaannya saat ini. Tidak hanya hidupnya yang harus dia tata ulang, tapi hatinya pun masih harus dia benahi.
"Kalau kamu mau, Mami bisa memasukkan kamu ke sekolah milik teman Mami. Kebetulan dia juga punya yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Kamu bisa memilih mau jadi guru atau dosen. Kalau enggak salah di sana ada sekolah kejuruan dan sekolah tingginya. Atau kamu mau membantu Hasna dan Haqi di perusahaan? Mami akan sangat senang sekali kalau kamu mau bergabung di perusahaan"
Mami Ratna memberikan beberapa opsi masukan kepada Shanum, dia tahu menantunya ini tidak terbiasa jika harus berdiam diri di rumah tanpa kegiatan. Dia hanya ingin membuat Shanum nyaman, tetap bisa melakukan apa yang menjadi passionnya, bisa meraih impiannya dan tidak terbebani dengan ikatan pernikahan.
"Iya Mi, Insya Allah nanti Shanum pikirkan" jawab Shanum singkat.
"Mami hanya ingin teteh tetap bisa melakukan apa yang teteh inginkan, selama teteh bisa membagi waktu antara rumah dan urusan pekerjaan mami akan dukung teteh. Insya Allah mami rasa Haqi juga akan mendukung, mami pikir dia akan bersikap demokratis untuk hal ini"
"Berbeda sekali dengan Almarhum ayahnya, dulu papi memang menginginkan mami ada di rumah dan selalu siap disaat dia butuh ditemani" mami Ratna kembali menjelaskan maksud pembicaraannya, dia tidak ingin Shanum salah faham. Mami Ratna bahkan membandingkan karakter putranya dengan almarhum suaminya, membicarakan tentang almarhum suaminya membuat kerinduannya sedikit terobati.
Ada binar bahagia di mata mami Ratna saat membicarakan kenangannya dengan almarhum suaminya. Kesempatan ini dimanfaatkan Shanum untuk lebih dekat dengan mertuanya. Dia mengerti jika selama ini ibu mertuanya itu butuh untuk didengarkan, sementara anak-anaknya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Satu minggu keberadaan Shanum di rumah mertuanya membuat Bu Ratna lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Dia merasa punya teman untuk saling berbagi atau sekedar ditemani saat pergi.
Pembicaraan mereka terhenti saat mobil yang mereka kendarai berhenti di halaman sebuah rumah yang sangat megah.
"Ayo" Bu Ratna mengajak Shanum turun, dia menggandeng Shanum saat memasuki rumah itu seakan ingin memamerkan menantu kesayangannya pada teman-temannya.
Pertemuan ibu-ibu sosialita ternyata, arisan adalah agenda rutin mereka. Shanum tampak sedikit gugup saat ibu mertuanya memperkenalkan dirinya di hadapan semua teman-temannya. Dia berusaha memberikan kesan yang baik dengan orang-orang yang baru dia temui.
Derrtt....Derrrtt....Derrtt.....
Saat semua sedang asik berbincang dengan berbagai topik tiba-tiba gawai di tas selempang Shanum bergetar. Dia merogoh tasnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata suaminya yang menelepon.
Shanum mendekati ibu mertuanya dan berbisik.
"Mi, Abang menelepon. Aku izin dulu mengangkat telepon ya?" Shanum meminta izin kepada ibu mertuanya untuk menerima telepon dari suaminya dan dijawab anggukan kepala oleh Bu Ratna.
"Assalamu'alaikum, Bang" Shanum mengangkat telepon sambil menjauh dari keramaian.
"Wa'alaikumsalam, lama sekali mengangkat teleponnya lagi dimana, Yang?" Haqi sedikit merajuk saat menjawab ucapan salam dari Shanum.
Beberapa hari ini panggilannya berubah kepada Shanum, Haqi jarang memanggil Shanum dengan panggilan Adek, dia lebih sering memanggil Shanum dengan panggilan sayang. Shanum belum terbiasa dengan panggilan itu, dia kadang merasa geli sendiri saat Haqi memanggilnya seperti itu.
"Maaf Bang, tadi sedang mengobrol dengan teman-teman Mami. Aku juga pamit dulu ke Mami buat ngangkat telepon Abang takut Mami nyariin" jawab Shanum apa adanya.
__ADS_1
Senyum tersungging di bibir Haqi mendengar penjelasan sang istri yang begitu peduli dengan ibunya.
"Ouh, oke, oke ..maaf" balas Haqi.
"Sayangnya Abang sudah makan?" tanya Haqi mengalihkan pembahasan.
"Sudah Bang, di sini banyak makanan. Aku sampai kenyang begini" jawab Shanum jujur.
"Duuh enaknya ya, di sini Abang belum makan lo, Yang. Laparnya kalah sama rindu Abang ke kamu, jadi Abang menelepon dulu kamu sebelum makan" Haqi sedikit mendramatisir saat dirinya bilang belum makan, dia bubuhi juga kata-katanya dengan keromantisan yang khusus dia tujukan hanya untuk sang istri.
"Oh begitu? kalau begitu sekarang Abang makan ya. Sudah shalat kan? tanya Shanum.
"Sudah dong, ini masih belum pake sepatu habis shalat, mau lihat?" canda Haqi.
"Enggak ah" jawab Shanum singkat.
"Dek, hari ini kamu sudah shalatkan?" Haqi berbasa basi bertanya dengan sedikit memelankan suaranya. Dia tahu Shanum sudah dalam keadaan suci karena tadi subuh mereka shalat berjamaah di kamar.
"Iya, Bang" jawab Shanum malu-malu, dia mengerti arah pembicaraan suaminya.
Shanum sadar sampai saat ini dia belum memenuhi hak Haqi sebagai suami atas dirinya. Walaupun hatinya masih merasa enggan, tapi Shanum sadar jika dirinya kini sudah menjadi hak Haqi seutuhnya.
"Abang mau kamu siap-siap buat nanti malam, pakai pakaian yang kado dari Risa ya" pintanya dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Dia membayangkan bagaimana dia akan melalui malam indah ini dengan Shanum, pasangan halalnya.
Risa adalah sepupu Haqi, anak dari adik mami Ratna. Dia memberi kado berupa pakaian tidur yang jika dipakai akan memperlihatkan hampir seluruh tubuhnya. Shanum bergidik sendiri membayangkan dia harus memakai baju itu.
"Iya, Bang" jawab Shanum malu-malu. Dari intonasi suaranya Haqi bisa membayangkan kalau wajah istrinya itu saat ini pasti sudah seperti kepiting rebus.
"Dek, sayang...boleh video call ya?" tanya Haqi
"Kenapa?" Shanum balik bertanya.
"Abang mau melihat wajah kamu sekarang, pasti sudah seperti kepiting rebus ya? haha..." goda Haqi.
"Hahaha..." Haqi masih tergelak karena merasa lucu dengan tingkah istrinya.
"Abang!" Shanum merajuk, dia kesal karena Haqi terus menertawainya.
"Iya, iya sayangnya Abang. Maaf..." Haqi menghentikan tawanya.
"Pokoknya sepulang dari tempat temannya Ibu kamu siap-siap ya buat nanti malam, Insya Allah Abang sudah di rumah sebelum Maghrib" pesan Haqi.
"Iya" jawab Shanum pelan
"Aku tutup teleponnya ya. Assalamu'alaikum" Shanum lebih dulu mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Haqi dengan diiringi gelak tawa yang belum juga sirna membayangkan wajah istrinya.
Obrolan merekapun berhenti seiring terputusnya sambungan telepon. Shanum hendak kembali ke tempat ibu mertuanya berada. Tapi langkahnya terhenti saat seseorang menyapanya.
"Kamu guru di SMA Bina Insani Bandung kan?" sapanya, dan di jawab anggukan kepala oleh Shanum. Dia tersenyum ramah kepada wanita yang masih terlihat muda itu saat menjawab sapaannya.
"Ibu tahu? maaf dengan Ibu siapa? benar saya dulu pernah mengajar di SMK Bina Insani Bandung tapi itu dulu sekarang sudah tidak lagi" jelas Shanum.
"Iya, saya pernah melihat kamu waktu pertunangan Akhtar" jawabnya.
Deg... mendengar nama Akhtar disebut oleh ibu tersebut ada sesuatu yang mengganggu hati Shanum. Apalagi ibu itu menyebut Akhtar hanya dengan panggilan nama tanpa embel-embel apapun, itu artinya hubungan mereka cukup dekat.
"Teteh..." panggilan Bu Ratna yang mencari-cari keberadaan Shanum menghentikan obrolan mereka. Shanum pun pamit dan segera menemui ibu mertuanya.
Mereka kembali ke rumah tepat saat adzan ashar berkumandang. Sabtu sore menjadi hari yang sangat macet di jalanan Jakarta.
__ADS_1
Shanum segera bersiap membersihkan diri dan melaksanakan Shalat, dia menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan suaminya. Diapun membantu bi Isah yang merupakan ART di rumah itu untuk memasak menyiapkan sajian makan malam.
Tidak terasa adzan maghrib sudah berkumandang, tapi suaminya tak kunjung pulang. Shanum ingat tadi siang Haqi berjanji akan pulang sebelum maghrib tapi sampai dia selesai melaksanakan shalat maghrib suaminya belum juga pulang.
Pukul tujuh malam, pukul delapan malam...Haqi belum juga pulang. Shanum berkali-kali menghubungi nomor Haqi tapi masih tidak aktif. Dia berpikiran positif mungkin Haqi terjebak macet dan gawainya mati.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan, suara deru mobil terdengar di halaman rumah. Shanum segera membuka pintu berharap suaminya yang datang. Namun saat pintu di buka Shanum mendapati Hasna adik iparnya yang datang.
"Teteh...Abang belum pulang?" tanyanya saat melihat Shanum yang membuka pintu.
"Belum Dek, padahal tadi abang bilang akan pulang sebelum maghrib, tapi sekarang sudah jam sembilan Bang Haqi belum juga pulang" jawab Shanum penuh kekhawatiran.
"Mungkin Abang terjebak macet, Teh. Teteh tenang ya, malam minggu di Jakarta emang macetnya luar biasa. Teteh sudah menghubungi Abang?" Hasna menenangkan Shanum yang tampak sangat khawatir.
"Sudah Dek, tapi dari tadi gawainya belum aktif juga" jawab Shanum lesu.
" Ya sudah sekarang kita tunggu Abang di dalam ya Teh, mungkin sebentar lagi Abang pulang. Aku tadi melakukan kunjungan ke beberapa cabang outlet kita, jadi seharian ini aku gak berada di kantor" jelas Hasna berusaha memberi ketenangan pada Shanum.
Shanum ditemani oleh ibu mertua dan adik iparnya menunggu kedatangan suaminya di ruang keluarga sambil menonton televisi. Bu Ratna bisa melihat kegelisahan Shanum begitupun dengan Hasna.
"Teteh tenang ya, Abang biasa kok pulang malam kalau di Jakarta" Bu Ratna berusaha menenangkan Shanum.
"Iya Bu" jawab Shanum pelan.
Kring..kring...kring...
Gawai Shanum berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dia segera meraih gawai yang disimpannya di atas meja kecil di samping sofa yang dia duduki. Ternyata nomor asing yang menelepon. Shanum enggan untuk mengangkat membuat Bu Ratna dan Hasna heran.
"Kenapa Teh? siapa yang menelepon?" tanya Hasna, dia beralih duduk mendekati Shanum.
"Gak tahu Dek, nomornya gak kenal" jawab Shanum.
"Angkat aja Teh, siapa tahu penting" usul Hasna.
"Iya, Teh..angkat saja" timpal Bu Ratna.
Shanum pun dengan ragu-ragu mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Shanum saat panggilan telepon itu tersambung.
"Wa'alaikumsalam. Apakah ini benar dengan saudari Shanum, istri dari Bapak Baihaqi Abdillah?" tanya orang itu dengan nada yang tegas membuat jantung Shanum berdegup kencang.
"Iya Pak, benar. Ada apa ya?" tanya Shanum penasaran.
"Maaf Bu, kami dari kepolisian mau mengabarkan jika suami ibu mengalami kecelakaan, sekarang beliau dibawa ke rumah sakit harapan kita" jelas polisi itu.
"Apa? Abang kenapa?" tanya Shanum setengah berteriak.
"Suami ibu kecelakaan" ulang polisi itu.
Deg..deg...deg...tiba-tiba jantung Shanum berdegup semakin kencang, tangannya bergetar, lututnya tiba-tiba lemas tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Shanum ambruk dilantai dan gawainya pun terlepas begitu saja dari genggamannya.
Bu Ratna dan Hasna yang melihat itu langsung meraih Shanum,
"Teh, ada apa teh?" tanya Bu Ratna sambil mengguncang tubuh Shanum yang sudah ambruk dilantai.
"Abang kecelakaan Mi" jawab Shanum pelan, isak tangis sudah tak tertahan olehnya, air matanya terus mengalir seiring ambruk tubuhnya di lantai.
Hasna segera mengambil gawai Shanum yang masih terhubung. Dia menanyakan keberadaan kakaknya dari polisi yang menghubungi Shanum.
Shanum hanya bisa menangis, begitu pun dengan Bu Ratna. Ingatan Shanum kembali melayang pada peristiwa beberapa tahun silam, dia menerima kabar kecelakaan Arya sehari sebelum pernikahan dan hari ini sejarah seperti berulang, Shanum kembali menerima kabar duka kali ini tentang suaminya. Laki-laki yang sudah sah menjadi pendampingnya, yang berjanji akan selalu menggenggam tangannya untuk sehidup sesurga.
__ADS_1
"Abang...Abang....Bang Haqi..hikss...."