Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Gercep


__ADS_3

"Oke, Bro!" Ahsan mengakhiri teleponnya.


Dia beralih membuka pesan yang masuk ke aplikasi whattsappnya.


*Lampu hijau sudah menyala, good luck Pak!*


Ahsan membaca pesan yang ia terima dari Liani. Bibirnya tersenyum lebar, dia faham maksud pesan yang dikirim sahabat Shanum tersebut.


Semenjak kepergian Shanum ke Bogor, Ahsan kerap mengirimi Liani pesan untuk menanyakan keadaan Shanum. Sampai saat ini Liani menjadi sumber informasi yang akurat untuk Ahsan. Ahsan pun mendapat informasi dari Liani alasan Shanum selama ini selalu menolaknya karena tengah menunggu seseorang.


Kini dia tahu kalau seseorang yang Shanum tunggu telah mengecewakan dan memberi luka pada Shanum. Ahsan sempat geram, dan mencari tahu melalui Liani siapa orang itu. Namun untuk yang satu itu Liani tidak memberitahunya, dia mengatakan kalau dirinya pun tidak tahu siapa sosok seseorang yang selama ini Shanum tunggu.


Dengan mengetahui semua tentang Shanum Ahsan lebih gencar menjalankan aksinya untuk mendapat tempat di hati Shanum dan hal itu terbukti berhasil. Sungguh, dia tidak ingin Shanum terluka lebih lama, biarlah dia yang menjadi obat untuk luka Shanum.


Ahsan tidak peduli kalau dirinya dianggap jadi pelarian Shanum, yang dia fahami adalah bahwa dia pun sangat mencintai Shanum sejak lama dan Shanum adalah kriteria perempuan yang diinginkannya untuk menjadi pendamping hidupnya.


Ahsan yakin, suatu saat nanti cinta di hati Shanum untuknya akan tumbuh dengan sendirinya. Untuk sekarang biarlah dia yang terlebih dahulu mencintai Shanum, dan dia bertekad akan mengikat Shanum dengan cinta dan kasih sayangnya sehingga tidak ada alasan lagi untuk Shanum tidak mencintainya.


"Shanum, aku sungguh mencintaimu karena Allah, kebahagiaan kamu adalah prioritasku. Dulu maupun sekarang aku akan menemanimu sebisaku, tentang nanti siapa yang kau pilih itu terserah kamu", gumam Ahsan lirih. Dia memandangi Shanum dari tempatnya berdiri saat ini.


Hari ini adalah hari terakhir di Pangandaran. Semua orang sudah bersiap dengan bawaannya masing-masing untuk memasuki bis sesuai tempat duduk mereka. Shanum dan teman-teman panitia kembali menjalankan perannya. Pembubaran panitia kegiatan yayasan sudah dilakukan, tetapi untuk kegiatan ini mereka masih diberi tugas untuk menuntaskannya sampai akhir.


Akhtar memandangi Shanum dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama di Pangandaran ini dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bisa bersama Shanum, Raina selalu mengekorinya kemana pun dia pergi.


Keberadaan orang tua Akhtar dan Raina di Pangandaran membuat Akhtar tak bisa berbuat banyak. Dia begitu menghargai kedua keluarga itu. Akhtar hanya bisa melihat Shanum beberapa kali dari kejauhan itu pun saat kegiatan resmi. Dia bahkan sempat beberapa kali mendapati Shanum dan Ahsan bersama saat makan atau sekedar berjalan berdua di area hotel.


***


Hari-hari berlalu, kedekatan Shanum dan Ahsan semakin intens. Komunikasi mereka tidak pernah putus, Ahsan yang tak pernah bosan mengingatkan Shanum akan hal-hal kecil yang kadang Shanum abaikan.


Seperti pagi ini, deretan pesan sudah memenuhi ruang chat Shanum dan Ahsan.


Ahsan:


'Assalamu'alaikum'

__ADS_1


'Semangat Pagi!'


'Sampurasun'


'Jangan lupa sarapan'


'Jangan lupa sebut namaku sebelum makan, eeh...sebut nama Allah maksudnya, hhehe..',


'Selamat sarapan, Sayang. Bahagia selalu'.❤️


Shanum hanya tersenyum simpul membaca deretan pesan yang Ahsan kirim pagi ini. Dia sudah terbiasa dengan perhatian dan gombalan Ahsan.


Shanum:


'Iya, terima kasih, selamat makan juga, Kak.' 😊


Shanum hanya membalasnya singkat diakhiri dengan emot senyum.


Sekembalinya dari Pangandaran Shanum memilih menghabiskan waktu liburan semesternya di rumah dinas dan sekolah. Waktunya diisi dengan mempersiapkan administrasi pembelajaran yang dibutuhkan untuk semester yang akan datang.


Senja itu di taman samping aula yayasan. Selesai rapat evaluasi kegiatan Pangandaran Shanum dan Ahsan mereka duduk di kursi taman yang cukup berjarak.


Shanum berjanji akan memberikan jawabannya pada Ahsan tentang hubungan mereka selanjutnya. Dia menarik napas dalam, membiarkan oksigen mengisi penuh paru-parunya agar tidak tersedak saat mengatakan maksudnya.


"Kak Ahsan", Shanum memanggil nama Ahsan dengan tatapan lurus ke depan. Ahsan menoleh, dia menunggu apa yang selanjutnya akan Shanum katakan.


"Sebelum Kakak mencintaiku, ada yang ingin aku tanyakan sekali lagi", Shanum kembali menjeda ucapannya. Ahsan masih setia mendengarkan kemana arah pembicaraan Shanum.


"Sebelum Kakak mencintaiku, aku tanyakan sekali lagi, siapkah Kakak menghadapiku?" ulang Shanum dengan pertanyaan yang lengkap menurutnya, namun membuat Ahsan sedikit mengerutkan dahinya.


"Siapkah Kakak menghadapiku dengan segala kekurangan dan kelebihanku? Karena sedewasa apapun wanita, kami sama. Akan sedih ketika tidak dihargai, akan sedih ketika seseorang yang disayang berubah, akan sedih ketika dibohongi, tak peduli sekecil apapun itu. Karena wanita akan merasa dihargai mulai dari hal kecil, menginginkan orang yang hadir dalam hidupnya adalah orang yang akan selalu menghadirkan kebahagiaan untuknya."


"Maaf jika aku berlebihan, tapi semua karena aku belajar dari kenyataan sebelumnya. Aku tahu rasanya dekat, namun tak lagi erat. Aku tahu rasanya menjadi seseorang yang penting, lalu tiba-tiba menjadi asing. Dan aku tahu rasanya ditinggalkan karena tergantikan. Sampai akhirnya aku menjadi terlalu pemilih, untuk siapa yang akan diajak berjuang. Sebab, takut merasakan sakit yang berulang-ulang." Shanum menunduk saat mengatakan semua itu, ada tetesan air mata yang jatuh di pangkuannya.


Ahsan terdiam, dia meresapi setiap kata yang Shanum ucapkan. Ada kecewa dan luka yang dalam yang dirasakan Shanum. Ahsan tidak tahu siapa orang yang telah tega membuat Shanum menunggu begitu lama, hingga akhirnya hanya kecewa dan luka yang Shanum terima. Tidak tahukan orang itu, betapa Shanum setia menunggunya hingga menutup rapat pintu hatinya, tak sedikit pun ada peluang untuk laki-laki lain dapat mengaksesnya.

__ADS_1


Ahsan merasa beruntung kini dia berkesempatan mendampingi wanita istimewa itu. Wanita yang menjunjung tinggi kesetiaan dan kehormatan sebagai harga dirinya, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.


Ahsan menghela napas, dia tahu ini semua tidak mudah untuk Shanum. Tapi dia percaya seiring waktu semuanya akan membaik.


"Shanum, cinta itu bukan hanya menerima apa adanya, tapi juga melengkapi apa kekurangannya. Memperbaiki apa saja kesalahannya dan tidak membandingkan dengan yang lain",


"Shanum, melengkapimu itu tugasku. Kamu hanya perlu menjadi partner terbaik dalam segala misi hidupku. Aku tidak akan menuntut banyak padamu, karena melengkapimu adalah tugasku." Ahsan mengatakannya tegas, dia telah memantapkan hatinya.


Shanum terharu mendengarnya, tanpa diminta air matanya terus mengalir tak bisa dikondisikan. Bersyukur dipertemukan dengan lelaki baik yang ada di hadapannya.


**


Seminggu menjelang dimulainya kembali sekolah di semester baru, Shanum mendapat tugas untuk mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi guru. Dia diutus untuk mewakili SMA Bina Insani menjadi peserta pelatihan itu. Pelatihan akan dilaksanakan di Jakarta selama satu minggu.


Selama seminggu itu Shanum fokus dengan pelatihan yang dia ikuti. Komunikasinya dengan Ahsan pun berkurang karena dia selalu menonaktifkan gawainya saat mengikuti pelatihan tersebut.


Waktu mereka berkomunikasi hanya malam hari itu pun hanya beberapa menit karena Shanum terlihat sudah lelah dan mengantuk karena aktivitasnya di siang hari begitu padat dan sangat menguras energi. Bahkan sering dia terlelap ketika Ahsan masih berbicara di telepon.


Bukan hanya Ahsan yang merasa kehilangan, Akhtar pun demikian. Dia terkadang tak mampu mengendalikan dirinya, ingin sekali menyusul Shanum, menanyakan kabar dan memastikan keadaannya baik-baik saja.


Akhtar melihat Ahsan lebih bersemangat akhir-akhir ini. Dia tidak tahu jika Ahsan telah berhasil menggapai cintanya.


Siang itu Akhtar dan Ahsan ada janji temu di sebuah cafe yang tak jauh dari komplek yayasan mereka. Sudah lama Akhtar dan Ahsan tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini.


"Gimana perkembangan hubunganmu dengan Raina?" Ahsan memulai pembicaraan setelah mereka sampai di cafe.


Akhtar menarik napasnya dalam, dia rasanya enggan membicarakan hal tersebut. Tapi Akhtar pun tidak punya pilihan selama ini hanya Ahsan yang memahami keadaannya.


"Aku tidak mau melanjutkan hubungan ini", jawab Akhtar dengan wajah sendu.


"Apa?" Ahsan terlonjak kaget mendengar ucapan Akhtar.


"Aku sudah menemukan kembali cintaku dan aku ingin kembali memperjuangkannya." jelas Akhtar.


Ahsan hanya manggut-manggut, dia mengerti kegelisahan yang dialami sahabat sekaligus sepupunya itu. Dia tahu bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sama seperti dirinya yang tak pernah bisa berhenti mencintai Shanum dan harus menunggu dalam kurun waktu yang tidak sebentar sebelum akhirnya cintanya terbalas.

__ADS_1


__ADS_2