
Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Meskipun badannya tak seatletis dulu namun sakit yang berkepanjangan tidak lantas membuat hilang kerampanannya. Pandangannya tajam menatap lurus ke depan, memperhatikan dengan seksama lalu lalang orang-orang yang keluar masuk sebuah warung nasi.
Jam menunjukkan sudah pukul empat sore hari, namun warung nasi ibu masih terlihat ramai didatangi orang yang akan makan ataupun sekedar memberi lauknya saja. Pandangannya beralih ke sebuah papan yang terpasang tepat di depan atas warung itu. Warung Nasi Ibu By SNA.
"SNA" perlahan bibirnya mengeja huruf terakhir yang terpajang jelas di papan itu.
Tiba-tiba kedua sudut bibirnya terangkat sehingga membuat senyum terbit di wajahnya.
"Shanum Najua Azzahra" gumamnya lirih. Ingatannya melayang ke beberapa tahun silam, saat dia masih remaja dan baru merasakan indahnya cinta. Dia selalu mengukir tiga huruf itu di mana-mana. Hampir di semua buku pelajarannya selalu terukir huruf SNA, bahkan di meja tempatnya belajar di kelas tanpa sepengetahuan guru karena tidak boleh mencorat-coret tembok atau bangku sekolah namun diam-diam dia pun mengukir tiga huruf itu dengan di akhiri emoticon love.
Berbekal ingatan masa lalunya, Akhtar mencari alamat tempat tinggal Shanum di Garut. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menemui Shanum saat ini. Kerinduannya yang begitu besar telah mengalahkan logikanya.
Kurang dari satu jam Akhtar sudah bisa menemukan alamat tempat tinggal Shanum yang kini sudah banyak sekali perubahan. Akhtar memarkirkan mobilnya agak jauh dari warung ibu, dia pun berlindung di balik kaca mata hitam dan topi untuk menyempurnakan penampilannya. Sebenarnya dia belum siap jika harus bertemu langsung dengan Shanum, apalagi jika harus bertemu dengan suaminya. Akhtar khawatir tidak bisa mengendalikan hati dan pikirannya.
Sudah satu jam berlalu, Akhtar masih betah dengan pengintaiannya. Tiba-tiba sebuah mobilio putih melintas di hadapannya kemudian terparkir tidak jauh dari warung ibu. Akhtar tampak biasa saja, dia berpikir mungkin mereka adalah pengunjung warung nasi ibu. Namun Akhtar semakin menajamkan fokusnya ketika sosok wanita yang sangat dia kenal keluar dari pintu kemudi mobil itu.
Akhtar tersentak, tubuhnya sedikit menegang saat sosok wanita yang keluar dari mobil itu adalah wanita yang selama ini dia rindukan.
Akhtar tidak mau menyia-nyiakan kesempataan itu, dia fokus menatap Shanum seolah takut kehilangan jejaknya. Hatinya menghangat, perasaan bahagia pun tiba-tiba menyeruak di dadanya. Rindunya sedikit terobati setelah melihat wajah wanita yang sedang dia pandangi itu tengah tersenyum ramah pada seseorang yang baru keluar dari warungnya, sepertinya dia adalah salah salah satu pelanggan warung ibu.
"Bunda....." seorang gadis yang menggendong anak perempuan berteriak memanggil Bunda. Akhtar menautkan kedua alisnya, pandangannya semakin waspada kemana arah perempuan yang menggendong anak kecil itu berjalan.
"Hallo sayangnya Bunda....." Shanum membentangkan kedua tangannya bersiap meraih anak kecil yang sedang digendong menuju dirinya.
Deg....tiba-tiba ada sesuatu yang menghimpit dada Ahsan, napasnya tiba-tiba tertahan di tenggorokan. Perasaan bahagia yang sempat menyeruak di dadanya kini menguap begitu saja dan diganti dengan perasaan sesak tak tertahankan.
Kehadiran anak kecil yang digendong Shanum dengan penuh kasih sayang itu kembali menyadarkan Akhtar bahwa keberadaannyaa saat ini di tempat itu adalah salah. Mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain adalah sebuah kesalahan. Akhtar menyadari jika status Shanum saat ini adalah sebagai istri dari seorang suami bahkan ibu dari seorang anak.
Akhtar sudah tidak lagi bisa menahan sesuatu yang tiba-tiba menyelusup ke dalam dadanya, entah perasaan apa itu yang pasti hatinya terasa tercubit. Air matanya tak terbendung lagi, tangannya mencengkram kuat kemudi yang sejak tadi dia genggam. Dia menjatuhkan kepalanya di atas kemudi dan menangis tersedu menahan sesak yang menghimpit dada.
Akhtar sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah, bayangan sang ibu melintas di pikirannya. Ini harus menjadi air mata terakhir yang mengalir karena hati yang belum mampu menerima kenyataan. Masih banyak mimpi dan harapan yang belum terwujud untuk membahagiakan ibunya. Kali ini dia benar-benar harus realistis. Menerima kenyataan bahwa dirinya salah jika masih mendamba Shanum. Menginginkan sesuatu yang bukan haknya.
Akhtar menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sejak beberapa menit yang lalu Shanum yang tengah menggendong seorang anak kecil telah menghilang dari pandangannya. Akhtar kembali mendongak menatap tajam papan nama warung ibu. Dia bertekad untuk berdamai dengan masa lalunya.
"Pada akhirnya kita yang pernah melangitkan do'a yang sama, di bumi yang sama. Harus tunduk pada takdir yang berbeda, kamu bersamanya dan aku masih terjebak pada lingkaran rasa yang terlarang. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama" gumamnya lirih.
Akhtar menghidupkan mobilnya, perlahan dia melajukan mobil itu meninggalkan warung ibu yang hampir dua jam hanya dia pandangi.
Keadaan warung ibu masih tampak ramai. Warung beroperasi dari pukul sepuluh sampai pukul lima di hari-hari biasa dan sampai pukul delapan malam jika weekend.
"Teh, semua belanjaannya ada?" Indri yang sedang sibuk di meja kasir merapikan semua laporan hari ini yang akan diserahkan kepada Shanum sejenak melirik saat Shanum berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Seharian ini Shanum memang tidak ada di warung, dia bertemu dengan teman-teman SMPnya karena ajakan mereka. Husna dan Nia meminta untuk bertemu karena waktu reuni Shanum tidak datang. Dilanjutkan dengan kegiatan belanja karena ada beberapa barang yang stoknya sudah menipis di warung.
"Ada" Shanum menjawab sambil meraih toples kacang yang ada di samping komputer kasir.
"Alhamdulillah, ini semuanya sudah aku rapikan laporan hari ini tinggal teteh periksa. Aku mau main dulu sama sama si gemoy, dari tadi siang dia udah ketawa ketiwi aja godain aku...hhe..." Indri pun beranjak dari kursi kasir, dia mengambil toples kacang yang berada di atas meja samping komputer.
"Eh mau dibawa kemana itu toples" sergah Shanum.
"Ke dalam, emang teteh mau?" Indri bertanya dengan polosnya.
"Iyalah, orang itu teteh yang nyimpen di sini kemarin" sela Shanum.
"Ouh..hehe....okeh, I'm sorry sistah" Indri berlalu meninggalkan Shanum. Si gemoy Humairah menjadi tujuannya saat ini. Anak yang baru saja menginjak satu tahun seminggu yang lalu itu kini tinggal bersama Shanum dan kakek neneknya di Garut.
Setelah merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar di Garut, besoknya Rida dan Adam segera meluncur ke Bogor untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar Adam di Bogor. Seminggu yang lalu mereka kembali ke Garut karena Humairah yang sudah mulai bisa bicara selalu memanggil-manggil nda-nda yang merupakan panggilannya untuk Shanum. Rida dan Adam akhirnya memutuskan untuk merayakan milad satu tahun Humairah di Garut.
Tak disangka saat menjelang pulang Humairah enggan ikut kedua orang tuanya kembali ke Bogor, seharian itu Humairah nemplok terus pada Shanum. Sejak kedatangannya ke Garut keadaan Rida memang sedikit kurang sehat membuat Humairah pun dievakuasi untuk tidur bersama Shanum. Awalnya semua mengira jika Rida masuk angin biasa karena perjalanan Bogor-Garut yang ditempuh di malam hari, tetapi karena sampai hari kedua keadaannya belum membaik Rida pun dibawa Adam dan Ibu Hana untuk diperiksa ke dokter yang praktek dekat dengan rumah mereka. Hasil pemeriksaan menyatakan jika Rida dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan atau bidan. Dan ternyata benar dugaan dokter jika saat ini Rida sedang berbadan dua.
Kabar bahagia ini tentu disambut baik oleh Adam dan seluruh keluarga besar. Berbeda dengan Rida yang tidak terlalu menunjukkan wajah bahagianya karena mengingat Humairah masih terlalu kecil untuk mempunyai adik saat ini.
Kedua alasan itulah yang membuat mereka akhirnya merelakan Humairah untuk tinggal di Garut bersama kakek nenek dan uwanya yang lebih akrab dipanggil Bunda oleh Humairah karena Rida dan suaminya yang mengajarkannya demikian.
Pelanggan warung nasi ibu yang semakin banyak, juga pesanan catering yang hampir setiap hari tidak membuatnya mengesampingkan Humairah. Bayi gemoy yang baru menginjak usia satu tahun dan akan segera mempunyai adik itu tetap menjadi prioritas Shanum. Hal itu membuat Rida dan Adam tenang membiarkan putri sulung mereka tinggal di Garut.
Begitulah hari-hari yang dilalui Shanum hingga tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan.
*
*
*
Langit sudah menandakan jika siang mulai berganti malam. Keadaan warung nasi ibu sudah sepi dari pengunjung. Ceu Imas dibantu Bi Isah sedang membereskan warung dan dapur agar siap digunakan untuk esok hari. Sementara Ibu Hana sudah rehat dan sedang membersamai sang cucu bermain.
Shanum yang sudah selesai memeriksa laporan penjualan hari ini, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mengamati Indri yang tampak sibuk berbalas pesan.
"Sibuk amat banyak orderannya ya?" tanya Shanum membuyarkan fokus Indri yang tampak serius membalas setiap pesan yang masuk ke nomor admin warung nasi ibu. Dia sejenak melepas genggaman mouse di tangannya dan meraih minuman boba yang menjadi favoritnya.
"Iya Teh, buat besok sudah ada tiga ratus pesanan nasi box, belum lagi ini masih ada beberapa chat masuk yang belum aku buka. Gimana mau dibatasi gak? Menjelang idul adha ini kayaknya pesanan kita akan makin bertambah Teh, jadi gak nambah karyawan?" Indri menjelaskan progres pesanan untuk esok hari. Close order yang dibatasi sampai jam satu siang nyatanya membuat si pemesan berburu-buru agar pesanannya bisa di approve admin.
Shanum tampak berpikir, dia mempertimbangkan berbagai hal untuk keputusan yang akan dia ambil untuk keberlangsungan warungnya. Terlintas juga saran Hasna adik iparnya saat dia datang ke Garut agar dirinya membuka cabang di tempat lain, bahkan Hasna menawarkan diri untuk menjadi investor.
__ADS_1
"Woww....amazing" Indri setengah berteriak saat membuka pesan terakhir yang dia terima di komputer admin membuat Shanum pun terlonjak dari lamunannya.
"Ada apa sih? bikin kaget aja" sentak Shanum yang tiba-tiba mengubah posisi duduknya karena kaget dengan teriakan Indri.
"Ini teh, pesanan terakhir tiga ratus lima puluh nasi kotak paket satu plus dessert. Keren gak?" Indri menjelaskan hal yang membuat dia histeris hingga mengagetkan Shanum.
Shanum menarik napas panjang, dia pun kembali menyandarkan punggungnya.
"Jadi berapa total pesanan besok?" tanya Shanum dengan sedikit ketus, dia masih kesal karena sudah dibuat kaget oleh sepupunya itu.
"Eummmh....semuanya jadi tujuh ratus lima puluh teh. Empat ratus paket dua dan tiga ratus lima puluh paket satu plus dessert" Indri kembali melepas mouse di tangannya dan meraih minuman boba kesukaannya.
"Stok bahan buat paket dua masih ready cukup teh, cuman untuk bahan-bahan paket satu kayanya kurang teh" Indri memperlihatkan daftar stok bahan yang ada di layar komputernya, dia pun meraih tombol on printer untuk mengeprint daftar tersebut. Dia akan mencocokan data yang dimilikinya dengan stok bahan yang ada di dapur.
Stok bahan-bahan menu paket dua memang sengaja lebih banyak karena kebanyakan para pemesan memilih paket itu sebagai pesanannya. Berbeda dengan paket satu terkadang hanya kalangan tertentu yang memesan atau momen-momen tertentu karena harganya memang lebih tinggi dari paket dua, hal tersebut sesuai dengan menu yang ditawarkan juga bahan-bahan yang digunakan berkualitas premium.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam hal organisasi Shanum pun mencoba menerapkan manajemen administrasi yang rapi di warung miliknya. Meskipun skalanya kecil tapi dia menyusun administrasi warung melalui data berbasis komputer. Setiap harinya Shanum akan memeriksa perkembangan harian warungnya. Dari mulai penjualan, pesanan catering, stok bahan hingga kehadiran pegawainya. Shanum bahkan menyediakan kartu kesan dan pesan di setiap meja pengunjung untuk diisi oleh pengunjung sebelum meninggalkan warung.
Mereka menuliskan kesan dan pesan mereka selama makan di sana. Dengan sabar setiap malam Shanum membaca kesan dan pesan dari setiap pelanggannya. Walau pun tak semua pengunjung menuliskan kesan dan pesannya, tapi setiap malam Shanum sampai menghabiskan waktu tiga puluh menit sampai satu jam untuk membaca semuanya.
Tak jarang kesan dan pesan mereka membuat Shanum tertawa sendiri. Hal itu menjadi motivasi bagi Shanum dan karyawan-karyawannya untuk semakin meningkatkan pelayanan di warung nasi ibu menjadi lebih baik lagi.
"Jam berapa pesanan paket satu akan diambil?" tanya Shanum pada Indri yang sedang mengecek kembali daftar pesanan.
"Eummhh... jam lima sore teh, kayanya buat makan malam deh" jawab Indri
"Oke, berarti besok pagi ada waktu buat belanja, kamu list aja bahan-bahan yang harus dibeli besok" Shanum merapikan meja kerjanya karena sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang.
"Mantap itu pesanan paket satu" gumam Shanum pelan namun masih terdengar oleh Indri.
"Sebenarnya yang bikin uwow bukan jumlah pesanannya teh, tapi pemesannya hehe.." sela Indri sambil terkekeh.
"Siapa memangnya?" tanya Shanum penasaran, dia menyimpan berkas-berkas yang sudah diperiksanya ke dalam lemari yang ada di samping mejanya.
"Bu Fatimah, teteh masing ingatkan? itu yang waktu itu datang ke sini sama Aa ganteng tea gening Teh yang katanya teman teteh tea" jelas Indri.
"Tapi besok akan ada surprise, selama ini Bu Fatimah kan selalu memesan catering atas nama putranya Akhtar Farzan. Waktu itu kan aku pernah nanya ya, Akhtar itu siapanya Bu Fatimah beliau jawab katanya anaknya, aku kira yang datang waktu itu adalah anaknya yang namanya Akhtar itu.... habis ganteng sih mirip-mirip Bu Fatimah juga, tapi ternyata bukan kata bu Fatimah, dia bilang Akhtar mah lebih ganteng dari si Aa itu. Nah besok bu Fatimah bilang kalau pesanannya akan diambil langsung oleh anaknya, katanya dia bikin surprise buat aku yang penasaran sama ketampanan Aa Akhtar haha...." Indri berceloteh dengan riang dan wajah berseri-seri diakhiri tawanya yang cukup keras.
Deg....Shanum menghentikan aktivitasnya, dia mencerna apa yang dikatakan sepupunya itu. Pikirannya menerka-nerka, jika waktu itu Ahsan bersama Bu Fatimah apakah itu artinya Akhtar yang memesan catering selama ini adalah Akhtar yang sama dengan yang dikenalnya? benarkah dia akan datang?
"Akhtar", gumamnya dalam hati.
__ADS_1