
PoV Akhtar
Keberhasilanku membawa Ibu dan memperkenalkannya kepada semua orang adalah pencapaian yang luar biasa untukku. Kebahagiaan mulai kembali menghampiriku saat ini, kehadiran Ibu memberi energi positif yang luar biasa dalam diriku. Setidaknya aku punya tempat untuk pulang sekarang.
Pertunanganku dengan Raina tidak lebih hanya sebuah kewajiban, sebagai kompensasi yang harus aku bayar atas semua fasilitas yang aku dapatkan selama ini. Aku harus membayar mahal untuk itu yaitu dengan menggadaikan cinta dan perasaanku sendiri.
Gadis yang selama ini selalu ada di hati dan pikiranku, harus aku relakan bersama orang lain karena aku sendiri pun terbelenggu dengan perjodohan yang sudah diatur oleh Ayah dan ibu sambungku. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk memperjuangkan cintaku, pilihanku cukup sulit. Kesempatan untuk bersama ibu kandungku pun menjadi taruhannya.
Aku terpaksa menerima penawaran Ayah, bertunangan dengan Raina dan bisa bertemu Ibu kandungku atau menolak perjodohan dan tidak memiliki kesempatan untuk bersama ibu kandungku.
Ayah tahu betul ibu adalah kelemahanku, untuk ibu aku akan melakukan apa saja. Jika aku diberi pilihan antara menerima perjodohan atau meninggalkan semua fasilitas yang ayah berikan termasuk jabatan ketua yayasan dan CEO perusahaan, ayah tahu aku akan memilih meninggalkan semua fasilitas yang diberikan olehnya.
Maka betapa teganya ayah memberiku pilihan yang sangat sulit. Pilihan yang membuatku akhirnya harus menghentikan perjuangan cintaku untuk Shanum. Menerima perjodohan dengan Raina berarti aku harus melepaskan Shanum. Aku tahu ayah bisa melakukan apa saja dengan kedudukannya saat ini.
Sejujurnya melepas Shanum menjadi keputusan yang berat untukku, sampai saat ini aku belum mampu menghapus semua tentang Shanum. Perempuan berharga kedua setelah ibuku adalah dia. Selama ini aku selalu menjaga hatiku untuknya.
Namun aku lega, setidaknya melepaskan Shanum bersama orang yang tepat. Walau pun mungkin nantinya kami akan lebih sering bertemu karena Ahsan adalah sepupuku, itu artinya Shanum pun akan menjadi saudaraku. Tak apalah yang penting bisa melihat Shanum bahagia, memastikan keadaannya selalu baik-baik saja. Bukankah mencintai tak harus selalu memiliki?
Aku tidak meragukan kesetiaan dan tanggung jawab seorang Ahsan. Seseorang pernah berkata kesungguhan seorang laki-laki dilihat dari tanggung jawab dan kesetiaannya. Selama ini aku tidak pernah mendengar atau melihat sepupuku itu menjalin hubungan dengan perempuan lain setelah kepergian Suraya, dan pantas saja karena dia ternyata sedang berjuang untuk mendapatkan Shanum. Wanita sederhana dengan sejuta pesonanya. Aku dan Ahsan tertarik dengan wanita yang sama. Aku percaya Ahsan bisa membuat Shanum bahagia.
Namun kejadian malam ini sungguh membuatku sangat marah. Marah semarah marahnya, andaikan kami tidak sedang dalam acara yang di hadiri banyak orang rasanya aku ingin sekali memaki dan memukul Ahsan. Aku kesal karena ternyata dia belum selesai dengan masa lalunya dan itu tentu sangat menyakitkan untuk Shanum.
Sangat tiba-tiba, Suraya wanita dari masa lalu Ahsan datang dan menyampaikan pengakuan di hadapan semua orang jika dirinya pulang untuk Ahsan dan mengaku sebagai calon istrinya. Apalagi saat dengan tidak tahu malunya, dia memeluk Ahsan tanpa ragu. Sangat menyebalkan. Aku geram dengan kelakuannya, rasanya ingin sekali aku mematikan semua lampu yang ada di aula agar Shanum tidak mendengar dan melihat kejadian itu.
Di pikiranku seketika hanya tentang Shanum, aku bisa membayangkan perasaannya saat ini. Ku lihat dia dari tempatku berada. Pandangannya tertuju pada meja tempat kami, aku yakin Shanum melihat dengan jelas saat Suraya memeluk Ahsan. Aku hampir saja menghampiri Shanum, namun gerakan Ahsan mengagetkan kami yang duduk semeja dengannya. Dia menepis pelukan Suraya dengan kasar, kami semua terlonjak kaget dengan perlakuannya pada gadis itu.
Aku lihat kemudian Ahsan berlalu menuju meja Shanum tanpa memerdulikan Suraya yang menunjukkan wajah tidak senang menerima perlakuan Ahsan padanya. Namun tak lama dia pun menyusul Ahsan.
Aku hanya bisa melihat mereka dari tempat ku berada, sebenarnya ingin sekali aku menghampiri Shanum dan membawanya pergi dari tempat ini. Tapi pergerakanku terhalang oleh kehadiran Raina dan teman-temannya yang mengajak kami berfoto bersama. Para tamu tampaknya tidak terpengaruh dengan kejadian ini. Aku hanya bisa menghela napas panjang, berharap Shanum bisa melalui semua ini dengan baik, aku tahu dia wanita yang kuat.
Aku mengikuti semua keinginan Raina, berbagai gaya sesuai arahan juru foto aku turuti tetapi pandanganku tidak lepas ke tempat Shanum berada. Aku melihat dia sepertinya gugup dengan kehadiran Ahsan dan Suraya di hadapannya. Aku tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, yang jelas pasti semua perbincangan mereka membuat Shanum terluka.
Malam semakin larut, tapi pesta belum juga ada tanda-tanda akan berakhir. Tamu yang datang pun masih terlihat memenuhi aula. Rasanya aku ingin pergi saja, mencari Ahsan yang sudah tidak terlihat berada di aula dan meminta penjelasan padanya. Sejak perbincangannya dengan Shanum berakhir, aku lihat dia pergi bersama Suraya entah kemana.
Sementara Shanum aku melihat dia kembali bersama teman-temannya. Menuntaskan pekerjaan yang menjadi tugasnya, dia tampak terlihat lebih baik dari sebelumnya. Entahlah terbuat dari apa hati wanita itu dia selalu mampu menempatkan diri sesuai perannya. Padahal aku tahu hatinya sedang begitu terluka.
***
__ADS_1
Tepat jam dua belas malam acara pun berakhir. Tanpa menunggu lagi Akhtar segera menuju rumah dinas Ahsan. Sedari tadi dia berusaha menahan diri untuk tidak berreaksi melihat kejadian itu.
Tanpa peduli dengan Raina yang terus memanggilnya, Akhtar terus melangkahkan kaki untuk menemui Ahsan. Sementara orang tua mereka sudah sejak tadi meninggalkan aula.
Sesampainya di rumah dinas yang ditinggali Ahsan, keadaan terlihat sepi. Akhtar mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Akhtar memutuskan untuk menunggu Ahsan di teras rumah itu. Dia yakin Ahsan pasti pulang.
Pikirannya menerawang apa yang Ahsan sedang lakukan dengan Suraya, terakhir dia melihat Ahsan dan Suraya pergi. Pikirannya kemudian beralih kepada Shanum, membayangkan betapa terlukanya dia hari ini.
Dua puluh menit berlalu, Akhtar melihat sebuah mobil Civic hitam berhenti dan terparkir tepat di halaman rumah dinas Ahsan. Seseorang pun keluar dari mobil itu dengan wajah yang lesu, dia adalah Ahsan orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Akhtar.
Ahsan mengernyitkan dahinya saat melihat Akhtar sudah berdiri dia teras rumahnya dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Bro," sapa Ahsan, yang langsung dibalas dengan bogem mentah yang tepat mendarat di pipi kirinya.
Bugghh.....
Ahsan pun tidak bisa menghindar, semuanya begitu cepat. Ahsan tidak menyangka akan mendapat sambutan berupa bogeman dari Akhtar. Ahsan terhuyung, tubuhnya oleng menandakan bahwa pukulan itu cukup keras.
Dengan tertatih dia berupaya menyeimbangkan kembali tubuhnya.
"Apa-apaan ini, gila lu ya?", tanya Ahsan dengan intonasi yang meninggi. Panggilannya berubah menunjukkan dia benar-benar lagi marah.
"Maksud lu apa?" Ahsan kembali bertanya sambil memegangi pipinya yang terasa perih. Dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat ulah Akhtar.
"Harusnya gue yang nanya ke lu, maksud lu apa mendekati Shanum selama ini sementara lu ternyata masih punya hubungan dengan Suraya?", tanya Akhtar masih dengan intonasi yang meninggi. Dia terlihat belum bisa menguasai emosinya.
"Hah? apa urusan lu dengan masalah gue yang satu ini? kenapa harus sampe mukul gue? kenapa gak nanya baik-baik?", Ahsan memberondong Akhtar dengan banyak pertanyaan.
"Gue cuma mau ingetin lu, kalau ternyata lu gak bisa beresin masalah lu dengan Suraya secepatnya, lepaskan Shanum sekarang juga. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh lu." jelas Akhtar dengan napasnya yang naik turun, dia masih terlihat sangat marah.
"Tanpa lu suruh juga gue pasti akan mengambil keputusan. Shanum adalah pilihan gue dan gue sudah enggak ada rasa sama sekali pada Suraya, udah gue bilang berkali-kali kalau gue dan suraya sudah end sejak dia lebih memilih kuliah di luar negeri daripada sama gue", jawab Ahsan tegas.
"Tapi kenapa bisa Suraya seenaknya bertingkah seperti tadi?" tanya Akhtar dengan nada yang mulai kembali normal.
"Justru itu yang barusan gue beresin, gue baru saja bicara empat mata secara serius dengan Suraya dan menjelaskan semuanya tentang gue dan Shanum, gue juga udah bilang ke dia kalau gue udah gak ada rasa apa-apa sama dia, dan setelah acara pertunangan lu selesai selanjutnya giliran gue yang akan meminang Shanum." jawab Ahsan.
Degh... tiba-tiba ada sesuatu yang menghujam ke jantungnya saat mendengar Ahsan berkata bahwa dia akan segera meminang Shanum, Akhtar masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Akhtar hanya melengos saat mendengarnya.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Akhtar ambigu.
"Lalu apa?" Ahsan kembali bertanya pada Akhtar. Kini mereka sudah duduk berdampingan pada kursi yang ada di teras terhalang meja bundar. Ahsan masih memegangi sudut bibirnya yang terasa perih karena pukulan Akhtar tadi.
"Lalu bagaimana respon Suraya?" Akhtar sanksi jika Suraya akan menerima keputusan Ahsan begitu saja. Dia tahu betul Suraya akan melakukan apa saja supaya keinginannya terwujud. Akhtar khawatir Suraya tidak bisa menerima keputusan Ahsan dan berbuat nekad.
"Yaah....begitulah", jawab Ahsan ragu, "yang pasti gue akan memperjuangkan Shanum, apapun yang terjadi", jawab Ahsan tegas.
Akhtar sudah menduga, menghadapi Suraya bukanlah hal yang mudah. Sejak dulu gadis itu selalu memaksakan kehendaknya, Akhtar sering melihat Ahsan yang kerepotan untuk memenuhi setiap keinginan gadis itu. Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Suraya selalu mendapatkan apa yang dia mau.
"Aku hanya tidak mau Shanum kembali terluka", gumam Akhtar pelan, namun masih terdengar oleh Ahsan.
"Apa?" tanya Ahsan heran, dari mana sepupunya itu tahu kalau Shanum pernah terluka. Ahsan memiringkan badannya menghadap Akhtar menunggu jawabannya.
Akhtar menghela napasnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini dia pendam sendiri.
"Selama ini aku sudah membuat Shanum menunggu, bahkan sampai aku kembali dia masih menunggu dan tanpa mencari kebenaran tentang keadaannya aku malah memutuskan menerima perjodohan ini hingga aku pun terjebak dengan pilihan yang sulit." Akhtar kembali menghela napas menjeda ucapannya.
Ahsan masih setia mendengar penjelasan Akhtar, dia menatap tajam sepupunya itu dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"Aku sudah menyia-nyiakan Shanum", ucap Akhtar lirih.
"Ja...di...., laki-laki yang selama ini Shanum tunggu adalah lu?" Ahsan bertanya dengan terbata, dia masih tak percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah orang yang selama ini Shanum tunggu dan kembali dengan memberinya kecewa dan luka.
Akhtar hanya mengangguk tanda mengiyakan, dia menunduk menyembunyikan wajahnya menahan sesak yang menerjang dada.
Tiba-tiba Ahsan berdiri, dengan sigap dia meraih kerah kemaja Akhtar dan....
Bugghhhh.....satu pukulan keras mendarat tepat di pipi Akhtar. Saking kerasnya pukulan itu tubuh Ahsan pun ikut terhuyung munyusul Akhtar yang sudah lebih dulu mendaratkan bokongnya di lantai.
"Jadi lu pria bodoh yang sudah menyia-nyiakan gadis sebaik Shanum, hah?" teriak Ahsan, dia kembali menarik kerah baju Akhtar dengan kedua tangannya dan melontarkan pertanyaan itu dengan nada marah.
Bugghh....Ahsan kembali meninju pipi Akhtar.
Akhtar tak melawan, dia diam saja saat Ahsan kembali melayangkan pukulannya.
"Bodoh lu, bodoh....bodoh ..bodoh..." Ahsan terus meneriaki Akhtar bodoh sambil tak lepas memegangi kerah baju Akhtar dan mengguncangkan tubuhnya.
__ADS_1
Pertengkaran dua sahabat sekaligus sepupu itu pun tak terelakkan lagi. Ahsan kehilangan kontrol dirinya saat mengetahui kebenaran bahwa sepupunya adalah laki-laki yang selama ini ditunggu Shanum. Sementara Akhtar dia masih diam, tidak bicara maupun melawan perlakuan Ahsan.
l