Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 11: Kepergian Menjelang Persalinan


__ADS_3

Kedatangan Liani ke Garut menjadi pengobat Rindu tersendiri untuk Shanum. Mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Bu Fatimah beberapa hari ini. Akhtar rela bolak balik dari rumah sang ibu ke mebel yang membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit perjalanan demi orang-orang tercintanya.


Shanum meminta izin pada sang suami untuk lebih lama tinggal di sana, tentu saja disambut gembira oleh Bu Fatimah dan Akhtar.


"Semuanya sudah berakhir Num, berakhir tanpa ada yang mengakhiri dan telah usai tanpa ada kata selesai" Liani mengawali sesi curhatnya pagi itu, setelah semalam datang dengan wajah lelah dia memutuskan untuk bercerita semua yang dialaminya akhir-akhir ini pada Shanum setelah Akhtar berangkat ke mebel. Bu Fatimah sedang disibukan dengan persiapan panennya, salah satu aktivitas yang dijalani bu Fatimah saat ini adalah mengelola sawah dan kebun pemberian orang tuanya.


"Kamu yakin Kak Ahsan sudah memberi keputusan final?" Shanum bertanya dengan nada iba, sahabat yang selalu ada untuknya itu saat ini tengah berada dalam dilema. Laki-laki yang diharapkan dapat menjadi pelabuhan hatinya nyatanya tak kunjung memberi kepastian.


"Sebagai perempuan, aku tak cukup berani untuk menanyakan hal itu, Num. Tapi dari sikapnya aku menyimpulkan jika dia mampir di hidupku untuk mengobati sayapnya yang patah tanpa berniat untuk mengajakku terbang bersama" Liani menyeruput teh hangat yang terhidang di hadapannya.


"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Shanum bertanya dengan sorot mata yang masih mengiba.


"Selama ini aku sudah ingin menyerah, tapi setiap kali pikiran itu datang aku selalu menyugesti hati dan pikiranku jika aku hanya sedang lelah. Perlu istirahat untuk itu, bukankah istirahat juga bagian dari perjuangan?" Liani terkekeh di akhir ucapannya, Shanum faham dia seolah sedang menertawakan dirinya sendiri yang harus mendapat kesia-siaan dalam perjuangannya.


"Semenjak dia didaulat menjadi ketua yayasan, dia semakin sibuk. Aku seakan tidak terlihat olehnya, bahkan aku lebih sering melihatnya bersama Suraya. Apalagi sekarang Suraya juga dipercaya kembali untuk memegang klinik yayasan. Intensitas pertemuan mereka semakin tak terhitung oleh jari, aku malu jika harus bilang kalau aku cemburu karena sejak awal memang tidak ada komitmen apapun diantara aku dan Kak Ahsan. Dia hanya datang saat butuh untuk didengarkan, dan bodohnya aku selalu menjadi pendengar setianya selama ini dengan menyimpan setitik harapan jika kami tertakdir untuk bersama" Liani mengusap air mata yang tiba-tiba lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Intinya sekarang aku tidak mau berharap lagi, Num. Biarkan perasaan ini terkikis oleh waktu yang tidak bisa ditentukan sampai kapan itu. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan patah hati. Sakit Num, ternyata sesakit ini mencintai sendirian" sesak, itulah yang dirasakan Liani saat ini. Dia berbicara dengan isak tangis yang tertahan. Selama ini Liani begitu menjaga hatinya untuk tidak mudah jatuh cinta pada laki-laki sembarangan, tapi ternyata ketika cinta itu tumbuh di hatinya dia pun harus merasakan patah di saat bersamaan karena jatuh cinta pada orang yang tidak tepat menurutnya.


"Menangislah Li, jika itu bisa membuat rasa sesak di dadamu berkurang" Shanum mendekati sahabatnya, dia merangkul bahu Liani yang semakin hebat bergetar.


"Kadang manusia lupa cara menghargai dan berterima kasih. Aku yakin suatu saat Kak Ahsan akan menyadarinya, saat ini mungkin dia belum menyadari arti hadirmu dalam hidupnya"


"Aku tahu kamu adalah wanita yang baik, percayalah jika sesuatu itu baik untukmu Allah pasti akan mendekatkannya. Tetapi jika itu tidak baik untukmu Allah pasti akan menjauhkannya. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, sebagai sahabat aku akan mendukungmu, Li"


"Yakinlah, air mata yang hari ini terbuang akan berganti dengan tawa riang, barangkali luka adalah bagian dari liku-liku yang harus dilalui untuk mencapai bahagia" Shanum berusaha memberi motivasi pada sahabatnya itu, dia tak ingin jika sahabatnya terus terpuruk dalam keadaan seperti ini.


Suasana hening, kedua sahabat itu asik dengan pikirannya masing-masing. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Ahsan, Shanum pun tidak habis pikir dengan pria itu. Sebenarnya apa yang dicarinya, menurutnya Liani adalah wanita yang sangat baik tidak sepantasnya Ahsan memperlakukan sahabatnya itu seperti ini. Tapi begitulah hati, kita memang tidak bisa memaksakan sebuah perasaan untuk hadir di hati seseorang. Namun entah kenapa dalam hati Shanum tak bisa memungkiri jika Ahsan akan menyesal dengan keputusannya saat ini dengan mengabaikan Liani.


"Ada dua pilihan yang ada di hadapanku saat ini, Num" Liani menjeda ucapannya, dia mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Begitulah Liani, dia adalah gadis yang ceria, tidak sulit untuknya mengubah mood. Terbukti saat ini setelah menangis tersedu-sedu dia sudah mulai kembali ceria.


"Apa, apa aja itu?" tanya Shanum tak kalah antusias.


"Ibu memberiku pilihan untuk menikah dengan laki-laki pilihan keluarga kami. Dia seorang dosen di salah satu universitas negeri di Surabaya, katanya dia sudah mengenalku tapi aku sepertinya tidak"


"Lalu, pilihan kedua?" Shanum kembali bertanya.


"Aku akan melanjutkan pendidikan S3 ku, beberapa bulan ini aku iseng-iseng ikut seleksi beasiswa dan Alhamdulillah keterima"


"Lalu pilihanmu?"


"Sepertinya aku akan melanjutkan dulu studi S3 Num, aku ingin menempa diri dengan ilmu. Biar lebih siap menjalani kehidupan dengan segala dinamikanya, hehe...." lagi-lagi Liani mengakhiri ucapannya dengan kekehan, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu di yayasan?"


"Selama mengikuti program beasiswa aku memang tidak boleh terikat pada lembaga mana pun, oleh karenanya aku akan mengundurkan diri dari yayasan" jawab Liani mantap.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Shanum kembali memastikan.


"Iya, mungkin ini juga cara agar aku bisa melupakan Kak Ahsan" wajah sendu kembali ditunjukkan Liani saat menyebut nama Ahsan.


"Sepulang dari sini aku akan memasukkan surat pengunduran diriku, aku harap semuanya berjalan sesuai rencana"


"Kemana kamu akan melanjutkan studimu, Li?


"New York" jawab Liani singkat.


"Benarkah? sejauh itukah? nanti bagaimana kalau aku kangen?" Shanum mengerucutkan. bibirnya, cukup kaget dengan pilihan sahabatnya itu.


"Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, Num" jawab Liani jujur, dia ingin keluar dari zona nyamannya saat ini. Mencoba sesuatu yang baru tidak ada yang salah menurutnya.


"Baiklah, apapun keputusanmu aku akan mendukung. Satu pesanku, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Jangan sampai keadaan mengubah dirimu, kamu adalah sahabatku orang yang selalu ada untukmu. Jika suatu hari nanti kamu membutuhkan aku semoga aku bisa menjadi seseorang yang dapat kamu andalkan" Shanum kembali memberi dukungan pada sahabatnya itu.


"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Shanum


"Kalau semua persyaratannya selesai sesuai waktu yang ditentukan, satu bulan lagi aku berangkat. Mungkin kamu sudah melahirkan, jadi aku bisa bertemu dulu dengan keponakanku" Liani mengusap perut Shanum penuh kasih, dia termasuk orang yang antusias menyambut kelahiran bayi Shanum.


Perbincangan mereka pun berlanjut, banyak hal yang mereka bicarakan. Shanum bahkan mengajak Liani berjalan-jalan mengitari area pesawahan yang ada di sekitar rumah ibu mertuanya.


Derrrt.....derrtttt......derrttt....


Getar gawai di saku baju Shanum menghentikan langkah mereka.


"Apa yang sedang kamu lakukan sayang? aku kangen" Akhtar mencecar Shanum dengan pertanyaan sesaat setelah menjawab ucapan salam dari sang istri.


"Aku lagi jalan-jalan A bareng Liani, sekalian healing orang yang baru patah hati nih, hehe..." Shanum terkekeh di akhir ucapannya yang langsung mendapat tepukan di bahu dari Liani.


Obrolan mereka pun tak lama berakhir, Akhtar menelepon hanya memastikan keadaan sang istri baik-baik saja. Mendekati hari persalinan, Akhtar menjelma manjadi suami yang semakin siaga. Semua hal akan dia tinggalkan untuk kepentingan istri dan calon buah hati mereka yang sebentar lagi akan segera hadir.


Tidak terasa seminggu sudah Liani menghabiskan liburannya di Garut. Sejenak dapat mengalihkan pikirannya tentang cintanya yang tak kunjung ada kejelasan. Selama itu pula Liani tidak pernah berhubungan dengan Ahsan, menurut informasi yang Shanum dapat dari asisten suaminya saat ini Ahsan memang sedang berada di luar negeri. Beberapa kontrak kerja sama dengan perusahaan asing mengharuskannya untuk meninggalkan yayasan dalam jangka waktu yang cukup lama.


"A, sepertinya Liani sudah bulat dengan rencananya untuk resign dari yayasan dan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Aku kira kali ini Kak Ahsan akan menjadikan Liani pelabuhan hatinya tapi ternyata tidak" Shanum bersandar di dada Akhtar, saat ini mereka tengah menikmati malam di kursi yang diletakan di dekat jendela kamar mereka. Pemandangan Garut di malam hari sangat indah untuk dinikmati.


"Aku pun mengira begitu sayang, tapi hati manusia siapa yang tahu" jawab Akhtar sambil mengusap rambut Shanum yang tergerai indah malam itu.


"Kamu makin cantik sayang" Akhtar menghujani wajah Shanum dengan ciuman, aura wanita yang akan melahirkan memang terlihat berbeda dari biasanya.


"Aku hanya tidak mau Kak Ahsan suatu saat menyesal karena sudah mengabaikan gadis sebaik Liani" Shanum berusaha menahan wajah sang suami yang terus menghujaninya dengan ciuman.


"A, aku dengar dari Ghifar katanya ada salah satu perusahaan asing yang mengajukan kerja sama dengan mebel kita, benarkah?" Shanum mengalihkan pembicaraan, berdasarkan informasi yang dia dapat dari Ghifar ada beberapa perusahaan asing yang tertarik dengan produk mebel Akhtar.


"Iya sayang" jawab Akhtar tidak terlalu bersemangat.

__ADS_1


"Lho kenapa Aa gak semangat gitu? bukankah go internasional salah satu target yang ingin Aa capai dalam bisnis ini?" Shanum merubah posisinya, dia heran dengan suaminya yang tampak tidak bersemangat menanggapi proyek ini.


"Kalau aku menerima ajuan kerja sama mereka aku harus menghadiri pertemuan dengan mereka di luar negeri dan itu artinya aku harus meninggalkan kamu dan anak kita, aku tidak mau itu apalagi taksiran hari melahirkan sebentar lagi" Akhtar mencium perut Shanum penuh kasih, diapun mengecup kening sang istri dan memeluknya erat.


"Aa, kalau menurut aku kesempatan itu belum tentu datang dua kali. Aku gak apa-apa ko kalau harus ditinggalkan. Lagian kan perkiraan melahirkan masih dua minggu lagi. Memangnya berapa lama Aa di sana?"


"Tiga hari" jawab Akhtar masih memeluk erat Shanum.


"Tuh kan cuman tiga hari, gak apa-apa ko kalau Aa mau pergi. Nanti aku tinggal di rumah Ibu kalau Aa pergi, di sana kan ada Fauzan juga Bapak kalau ada apa-apa. Tapi aku pastikan Insya Allah kami akan baik-baik saja, dede bayi akan menunggu Yandanya pulang" Shanum masih berusaha meyakinkan sang suami agar mau menerima penawaran ini, bagaimanapun ini adalah salah satu impian Akhtar, Shanum ingin mendukung apapun yang menjadi keinginan suaminya itu.


"Tapi sayang aku...." ucapan Akhtar terjeda seiring dengan bunyi gawai yang terletak di atas nakas.


"Ada telepon A, siapa tahu penting" ujar Shanum. Akhtar pun beranjak dari kursi yang diduduki mereka, tak lupa dia mengecup kening Shanum sebelum beranjak.


"Sebentar ya" ucapnya


"Ya, kapan?" Akhtar tampak menunjukkan wajah bingung setelah mendengar penuturan orang yang meneleponnya.


"...."


"Apa, besok? gak salah? jam berapa?" tanya Akhtar cukup mengagetkan Shanum.


"Oke, aku belum bisa ngasih keputusan. Besok jam sembilan aku kasih keputusannya"


"...."


"Ya, wa'alaikumsalam" pungkas Akhtar di akhir perbincangannya di telepon.


"Siapa, A?" tanya Shanum setelah Akhtar kembali duduk di sampingnya.


"Ghifar, dia bilang keputusan finalnya besok jam sebelas. Kalau kita menerima ajuan kerja sama mereka sorenya harus berangkat ke Malaysia. Pertemuannya akan diadakan di Malaysia" jelas Akhtar dengan wajah datarnya.


"Tapi aku gak mau pergi, aku sudah putuskan" Akhtar kembali berkata setelah beberapa saat dia tampak berpikir.


"Aa, pergilah gak apa-apa ko aku ditinggal. Lagian hanya tiga hari kan? dan selama Aa di sana aku izin buat tinggal di rumah Ibu biar aku ada temen Aa juga tenang di sana" Akhtar hanya menatap Shanum dengan tatapan yang begitu dalam, tanpa bermaksud menjawab penuturan sang istri.


"Sudahlah, sebaiknya sekarang kita tidur ya. Kasihan dede bayi kangen sama Yanda katanya. Bukankan kata Bu Dokter di usia kehamilan kamu sekarang semakin sering ditengok semakin baik?" Akhtar menaik turunkan alisnya, dia memapah Shanum untuk pindah ke atas tempat tidur, tirai jendela pun sudah tertutup sempurna. Malam panjang mereka pun dimulai, selanjutnya terserah mereka sajalah.....


*


*


Akhirnya setelah diskusi panjang dan alot antara Akhtar, Shanum dan kedua keluarga. Semua mendukung Akhtar untuk pergi ke Malaysia untuk urusan bisnis. Bu Fatimah menjamin jika menantunya akan baik-baik saja, begitu pun Bu Hana, Pak Imran dan anggota keluarga yang lainnya mereka meyakinkan Akhtar akan menjaga Shanum sebaik mungkin.


Dan dengan berat hati akhirnya Akhtar memutuskan untuk pergi, dengan serangkaian syarat yang harus dipenuhi oleh Shanum. Salah satunya gawai harus selalu On.

__ADS_1


Akhtar pergi bersama Ghifar menuju bandara diantar oleh Fauzan, sempat terjadi drama dalam mobil sebelum kepergiannya. Dia meminta Shanum untuk turut masuk ke dalam mobil dan memeluknya erat.


"Yanda pergi, debay baik-baik sama Bunda di sini ya, I love you more!" berkali-kali ungkapan cinta itu di sampaikan pada buah hati dan istrinya. Ghifar bahkan sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan bucin sahabat sekaligus atasannya itu.


__ADS_2