Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Warung Ibu By SNA


__ADS_3

Garut dengan segala pesonanya selalu memberikan energi positif untuk Shanum.


Sejak keberadaannya di Garut keceriaannya mulai kembali. Komunikasi dengan ibu mertua dan adik iparnya masih rutin dia lakukan setiap malam. Mereka terlihat semakin akrab, Hasna bahkan merencanakan akan mengajukan cuti untuk mengunjungi Shanum di Garut.


"Alhamdulillah Teh, Ibu senang kalau teteh masih menjalin silaturahmi dengan mereka. Mereka orang-orang baik Teh, sangat menyayangi teteh juga. Pondok jodo panjang baraya jadina teh (pendek jodoh, panjang kekeluargaan jadinya)" ucap Bu Hana kala mendapati Shanum sudah mengakhiri video call bersama adik ipar dan ibu mertuanya.


"Iya Bu. Alhamdulillah" jawab Shanum.


"Hari ini Ibu mau ke pasar, teteh mau nganter? Udah berani kan bawa mobil sendiri?"


Sudah dua minggu Shanum berada di Garut, selama itu Fauzan sang adik dia tahan agar tidak dulu pulang karena harus mengajari Shanum belajar mobil. Mobilio putih pemberian Almarhum suaminya kini terparkir di halaman rumahnya.


"Insya Allah, Bu" Shanum menganggukkan kepala saat menjawab pertanyaan sang ibu.


Selain belajar mobil Shanum dan Fauzi juga mengunjungi semua sanak saudara yang ada di Garut selama dua minggu ini. Sejak pindah ke Bogor komunikasi antar keluarga dari pihak Bapak yang merupakan asli Garut menjadi kurang terjalin. Mereka hanya bisa bertemu saat lebaran atau momen-momen tertentu seperti hajatan keluarga.


Pak Imran adalah anak tertua dari lima bersaudara. Asli lahir dan besar di Garut. Beliau satu-satunya anak laki-laki di keluarga tersebut. Sesudah menamatkan sekolahnya di jenjang SMA mencoba peruntungan dengan pergi ke kota. Dengan tekad yang kuat Pak Imran bekerja di kota untuk membantu biaya sekolah adik-adik perempuannya. Hampir sepuluh tahun bekerja di Bogor sebagai karyawan di salah satu perusahaan, hingga akhirnya bertemu ibu Hana yang juga sesama karyawan di sana.


Memutuskan menikah setelah dua tahun bersama sebagai sepasang kekasih, setelah semua adik-adiknya menyelesaikan sekolahnya sampai bisa lulus SMA kecuali adik bungsunya yang masih SMP waktu itu. Pak imran sangat menyayangi dan melindungi keempat adik perempuannya, sehingga wajar jika keempat adiknya sangat menghormati dan menyayangi kakak laki-laki mereka satu-satunya itu. Pak Imran memilih kembali dan menetap di Garut setelah Bu Hana hamil Shanum. Mereka sepakat resign dari perusahaan tempat mereka bekerja.


Dengan modal pesangon dan tabungan, Pak Imran membangun rumah dibatas tanah pemberian orang tuanya. Sisa uang yang ada digunakan untuk membangun usaha peternakan ayam petelur. Dengan bantuan adik-adiknya Pak Imran menjalankan usaha ayam petelur.


Usahanya lancar selama selama bertahun-tahun, namun karena sesuatu hal ayam-ayam milik mereka mendadak mati dalam waktu semalam. Hal tersebut membuat Pak Imran mengalami kerugian yang tidak sedikit sehingga akhirnya usaha peternakan ayam petelur pun bangkrut. Karena berbagai keterbatasan dia tidak melanjutkan mencari tahu apa penyebab ayam-ayamnya mati dalam waktu semalam.


Kebangkrutan usahanya bertepatan dengan ketika Shanum harus melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP, karena keadaan ekonomi yang sedang menurun Shanum memutuskan untuk tinggal di asrama sekolah karena harus menghemat biaya, terutama biaya harian ongkos dan uang jajan.


Pak Imran pun beralih menjadi petani. Memanfaatkan kebun dan sawah yang juga pemberian orang tuanya yang sudah tiada untuk dijadikan sebagai sumber mata pencahariannya agar bisa tetap bisa memenuhi kebutuhan nafkah keluarga.


Adik-adik Pak Imran sangat senang saat mengetahui sekarang sang kakak kembali akan tinggal di Garut. Shanum sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga besar dari pihak bapak. Sepupu-sepupu yang tinggal di Garut benar-benar menjadi teman untuknya, sehingga di sana menjadi lebih betah.


Aktivitas Shanum selama di Garut adalah membantu ibunya yang membuka usaha warung nasi. Pak Imran yang memutuskan untuk bertani selama beberapa bulan ini terlihat sibuk dengan urusan sawahnya yang mulai panen sehingga kehadiran Shanum sangat membantu.


Usaha penggilingan padi yang merupakan warisan peninggalan orang tua Pak Imran kini diurus oleh adik kedua dan ketiga Pak Imran pun semakin berkembang setelah Pak Imran kembali ke Garut dan turut membantu. Sementara adik ketiga dan keempat Pak Imran mereka tinggal di kampung lain karena ikut bersama suami-suaminya. Hasil sawah sengaja tidak dijual, Pak Imran menggiling semua padi hasil panennya dan dijual dalam bentuk beras.

__ADS_1


Kesibukan Shanum perlahan membuatnya bisa melupakan semua kesedihannya. Di Garut keceriaan Shanum benar-benar sudah kembali.


Tiga bulan berlalu....


Shanum semakin sibuk dengan aktivitasnya saat ini. Warung nasi sang ibu semakin maju, Shanum mempromosikan warung nasi secara online. Akun khusus beberapa media sosial Shanum buat untuk mempromosikan masakan ibunya, dari proses pemilihan bahan yang masih segar, proses memasak hingga siap dihidangkan dan dinikmati shanum buat dalam bentuk video dan diupload setiap harinya di semua media sosial dengan nama akun Warung Ibu sehingga pembeli tidak hanya yang langsung datang dan makan di sana tetapi juga pembeli online yang semakin banyak.


Pagi hari dia mengantar ibunya ke pasar kalau bapaknya berhalangan, dilanjutkan dengan membantunya memasak dan melayani pembeli yang datang langsung ke warung mereka atau mengantarkan pesanan yang memesan melalui online. Mobilio putih peninggalan Almarhum Haqi menjadi teman setia kemanapun dia pergi. Sekarang Shanum sudah sangat lancar mengendari mobil.


Shanum menikmati aktivitas sehari-harinya saat ini. Walaupun dia masih mendapat tunjangan dari keluarga Almarhum Haqi setiap bulannya tetapi dia tidak pernah menggunakannya. Berkali-kali Shanum menolak pemberian itu karena merasa tidak enak, namun ibu mertua dan adik iparnya tidak menggubris penolakan Shanum mereka secara rutin mengirimkan uang ke rekening Shanum karena sudah menjadi haknya.


Omset warung nasi Bu Hana semakin meningkat, tidak hanya nasi dan lauk pauk yang dipasarkan. Di media sosial dengan nama akun Warung Ibu itu pun Shanum mempromosikan beras yang merupakan asli produksi dari sawah yang digarap langsung Pak Imran. Kesibukan semakin terasa di alami Shanum dan kedua orang tuanya. Shanum berinisiatif menambah pekerja di warung nasi ibunya.


"Teh, kalau butuh tambahan pekerja ada Ceu Imas yang siap membantu, dia mah baik dan jujur orangnya Insya Alloh bisa diandalkan" ucap Indri sepupu Shanum, anak dari adik kedua Pak Imran yang sudah sejak awal membantu di warung ibu.


"Orang mana, In?" tanya Shanum, dia berencana akan menambah pekerja satu atau dua orang karena sebentar lagi Ramadhan tiba. Shanum memprediksi jika pesanan online akan bertambah. Apalagi di bulan Ramadhan sering diadakan acara-acara buka bersama, Shanum optimis omsetnya akan semakin meningkat.


"Orang kampung sebelah teh, tapi deket kok dari sini. Jalan kaki juga paling dua puluh menitan. Kasian teh dia janda anak dua, suaminya baru meninggal sebulan yang lalu" jawab Indri menjelaskan.


"Kalau dia berminat, kamu coba aja suruh datang ke sini ya" balas Shanum tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatan. Saat ini dia sedang merekap pesanan online yang harus dikirim besok.


"Iya Teh, nanti pulang aku minta mamah menelepon ceu imas" jawab Indri, mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka.


Ramadhan tiba, selama seminggu pertama Shanum dan ibunya sepakat untuk tutup terlebih dahulu, mereka berkonsentrasi melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Shanum menyusun strategi agar aktivitas warung bisa tetap dilaksanakan tanpa mengganggu kegiatan ibadah di bulan Ramadhan.


Dengan pembagian waktu dan batasan pesanan Shanum mulai merancang strategi penjualannya selama bulan Ramadhan. Ibu Hana juga diminta menyusun menu yang bisa dipesan di bulan Ramadhan ini, tentunya dengan bahan yang mudah didapat dan proses memasak yang tidak terlalu menyita waktu.


Aneka pepes menjadi andalan menu di warung ibu. Mulai dari pepes ikan, ayam, tahu, tempe dan pepes ikan asin peda yang selalu menjadi pesanan paling laris di warung ibu. Shanum sampai harus mencari stok ikan asin yang masih segar agar bisa disimpan beberapa hari di lemari pendingin di rumahnya.


Ibu Hana awalnya berjualan dengan menggunakan roda di depan rumahnya yang cukup strategis karena langsung berhadapan dengan jalan utama yang terlewati orang-orang yang berasal dari beberapa kampung di daerah itu, hal itu membuat warung ibu Hana semakin tersohor dan banyak pengendara yang tiba-tiba berhenti untuk makan di sana. Jadilah teras rumah kini menjadi lesehan tempat makan para pengunjung.


Selama seminggu libur jualan Shanum pun berinisiatif merenovasi rumahnya sekaligus membangun garasi. Dengan tabungan yang dimilikinya Shanum merenovasi halaman rumah untuk di jadikan warung. Bagian depan dijadikan sebagai warung nasi lengkap dengan lesehan tempat makan yang jika ditata cukup untuk menyimpan dua buah meja panjang yamg muat untuk delapan sampai sepuluh orang dan dua buah meja yang bisa digunakan untuk empat orang.


Alas duduk pun Shanum buat dari bantalan busa yang tidak terlalu tebal namun nyaman saat digunakan untuk duduk lesehan. Desain yang minimalis dan sederhana namun tampak bersih dan efik menjadi ciri khas warung ibu. Walpaper dan berbagai hiasan dinding menjadi pelengkap nyamannya ruang makan itu.

__ADS_1


Adanya lampu gantung unik dan beberapa hiasan barang lama peninggalan kakek dan neneknya di jendela membuatnya tampak bersahabat. Apalagi dinding kaca besar membuat pengunjung betah menikmati waktu santai di dalam.


Didominasi warna coklat dari furniture dan lampu pijar, serta tanaman-tanaman hijau yang disimpan di setiap sudut ruangan dapat menyeimbangkan suasana dan memberi warna lain. Langit-langit kayu dengan aksen kotak-kotak timbul membuat tampilan warung ibu semakin terlihat cantik, tampil beda dan elegan.


Tidak hanya orang-orang dewasa yang tertarik makan di sana, tetapi juga para remaja yang tidak kalah antusias karena suasana warung yang cozy dan juga terlihat bagus di layar kamera.


Bagian samping rumah yang masih menghadap ke jalan utama dijadikan sebagai teras rumah dan pintu utama mobilitas keluarga jika masuk dan keluar rumah.


Minggu kedua bulan Ramadhan warung ibu sudah siap dibuka. Dengan jadwal reservasi dan menu juga pekerja yang ditambah satu orang yaitu ceu imas, Shanum siap membuka warung ibu dengan tampilan barunya.


"Bismillah" ucap Shanum sambil membuka papan yang bertuliskan Warung Ibu By SNA.


Warung ibu dibuka dari pukul empat sore sampai pukul delapan malam selama Ramadhan ini. Orang-orang yang mau makan di sana harus reservasi sehari sebelumnya. Shanum sengaja membatasi pengunjung karena tidak ingin waktu ibadah di bulan Ramadhan banyak terganggu.


Untuk yang take a way atau delivery order Shanum pun melayani pesanan sehari sebelumnya dan diantar mulai pukul satu siang sampai pukul tiga sore di hari esoknya.


Menjelang minggu terakhir Ramadhan warung Shanum disibukkan dengan pesanan catering untuk buka bersama, dia pun harus menambah pegawai karena mereka kewalahan dengan banyaknya pesanan catering. Ibu dibantu Ceu Imas dan Bi Isah pegawai baru untuk memasak dan Shanum bersama Indri bertugas mengemas makanan ke dalam kotak yang yang sudah berlogo koki kartun berhijab dengan tulisan Warung Ibu by SNA yang merupakan inisial dari nama Shanum Najua Azzahra.


"Teh, ada yang pesan catering tapi jauh, mau diterima gak? buat lusa sama beras juga" tanya Indri yang bertugas sebagai admin.


"Kemana gitu?" tanya Shanum penasaran, dia membenarkan kerudungnya terlebih dahulu. Pagi ini mereka sedang memeriksa ulang pesanan kemarin yang akan dieksekusi hari ini. Ibu sedang ke pasar di antar bapak dan bi isah selepas tadarus subuh tadi. Ibu sengaja mengajak bi isah karena rumahnya lebih dekat.


"Pameungpeuk, Teh. Sekitar Tiga jaman lah dari sini" jawab Indri.


"Wow, jauh juga ya. Pesanannya apa?" tanya Shanum lagi,


"Nasi kotak paket satu Teh" Indri menunjukkan chat yang berisi pesanan dari orang Pameungpeuk. Ada lima pilihan paket menu nasi kotak di bulan Ramadhan ini dengan menu yang berbeda-beda. Paket satu adalah paket yang paling komplit dan harga yang paling mahal di antara paket-paket yang lainnya.


"Atas nama siapa itu?" tanya Shanum yang kurang jelas melihat isi chat di gawai Indri dia memicingkan matanya mengamati layar gawai Indri.


"Pesanan atas nama........Akhtar Farzan, Teh" jawab Indri.


Deg.....tiba-tiba jantung Shanum berdegup kencang. Mendengar nama pemesan membuatnya gugup dan bertanya-tanya mungkinkah dia orang yang sama dengan yang ada di pikirannya atau hanya kebetulan nama mereka yang sama, pikir Shanum.

__ADS_1


__ADS_2