
Sesampainya di komplek rumah dinas, Shanum dan Liani segera menuju rumah dinas masing-masing.
Liani mendadak menghentikan langkah, menengok ke arah Shanum yang tampak sedang membuka kunci pintu rumahnya.
Secepat kilat ia merubah haluan menuju rumah Shanum. Saat pintu terbuka, Liani masuk mendahului sang penghuni rumah dinas itu.
“Assalamu’alaikum”, Liani mengucap salam saat memasuki rumah kosong itu tanpa sungkan.
Shanum hanya geleng-geleng kepala sudah tak aneh dengan kelakuan rekan sekaligus sahabat baiknya itu.
Meskipun keadaan rumah tanpa penghuni, tetapi hendaknya kita tetap mengucapkan salam ketika memasukinya.
Salah satu adab seorang muslim masuk rumah yakni membaca do’a dan mengucap salam. Termasuk saat masuk rumah kosong atau tak berpenghuni.
Anjuran membaca do’a dan mengucapkan salam saat masuk rumah baik berpenghuni maupun rumah kosong termaktub dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman, “Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, sebenar-benarnya salam yang dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS An-Nur: 61)
Rasulullah SAW pun mengajarkan umatnya untuk membaca do’a dan salam saat masuk rumah.
Imam As Sauri telah meriwayatkan dari Abdul Karim Al Jazari, dari Mujahid bahwa Nabi SAW telah bersabda: “ Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah yang tidak ada orang di dalamnya, maka ucapkanlah salam berikut: Dengan menyebut nama Allah dan segala puji bagi Allah. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kita dan juga kepada hamba-hamba Allah yang saleh”.
(iNews.id)
“Wa’alaikum salam”, jawab Shanum memasuki rumah mengikuti Liani.
Liani menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada di ruang tamu minimalis rumah dinas itu, sejenak menghilangkan lelah karena aktivitas seharian ini.
Namun tiba-tiba ingatannya kembali sadar, mengingat tujuan dia mengikuti Shanum sampai ke rumahnya.
Segera ia beranjak, mencari Shanum yang hendak memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Eitss….tunggu-tunggu, jangan masuk dulu”, Liani mencekal pergelangan tangan Shanum.
“Ada apa? Kenapa kamu masih di sini?”, tanya Shanum.
“Ayo buruan sana pulang, siap-siap sebentar lagi Maghrib dan kita harus segera kembali ke Aula”, ucapnya lagi.
“Sebentar, aku penasaran banget dengan yang tadi. Aku gak mau kepikiran terus. Sebenarnya aku masih syok mendengar penuturan Pak Ahsan. Ayo jelasin!”, perintah Liani.
Shanum mengulum senyum, menahan tawanya yang merasa lucu melihat ekspresi Liani.
Dia tahu, sahabatnya itu tak akan berhenti bertanya sebelum penasarannya terjawab.
Shanum menuntun Liani untuk kembali ke sofa di ruang tamu minimalis rumah dinasnya.
Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum mereka harus segera kembali ke aula tempat acara akbar yayasan berlangsung.
Dengan tenang Shanum menceritakan kisahnya dengan Ahsan kepada Liani.
“Bagian mana yang ingin kamu ketahui?”, tanya Shanum mengawali ceritanya.
“Semuanya, semua yang berhubungan dengan kamu dan Kak Ahsan. Apalagi part saat Kak Ahsan yang ternyata sudah tiga kali menembakmu dan kamu selalu menolaknya’, jelas Liani.
“Baiklah….”, Shanum menarik nafasnya dalam.
Selama ini Shanum memang tidak terlalu suka membicarakan masalah pribadinya pada orang lain, dia cukup menjawab seperlunya jika memang ada yang bertanya, seperti Liani saat ini.
“Aku dan Kak Ahsan satu kampus, dia adalah seniorku. Dua tingkat di atasku.”
“Aku mulai sering bersama dengannya saat aku mulai aktif di organisasi kemahasiswaan di kampus kami. Berbagai kegiatan mempertemukan kami. Aku hanya menghormati Kak Ahsan sebagai seniorku, apalagi dia juga ketua BEM saat itu.”
“Aku tidak terlalu dekat dengannya, pertemanan kami sebatas rekan saat berkegiatan. Aku selalu berusaha bersikap profesional saat berhadapan dengannya.”
“Emang saat itu kamu enggak tertarik sama kak Ahsan?”, sela Liani di tengah-tengah cerita Shanum.
“Bohong jika aku tidak tertarik. Kak Ahsan adalah mahasiswa yang sangat populer di kampus, most wanted gitu loh….”, ungkap Shanum sambil terkikik.
“Banyak mahasiswa cantik di sekitarnya, mencari perhatian dengan berbagai usaha. Bahkan ada yang terang-terangan mengungkapkan cintanya.”
“Ganteng, saleh, pinter, dewasa, berkharisma, beroda empat lagi. Paket kompitlah pokoknya. Siapa coba yang gak tertarik?”
“Pembawaannya yang hangat, santai dan ramah membuat para cewek klepek-klepek."
"Pernah ya satu waktu ada kakak tingkat aku yang terang-terangan mengungkapkan cintanya pada Kak Ahsan, di kantin lagi, saat makan siang, kantin lagi rame-ramenya.”
“Virallah, tapi Kak Ahsan tidak pernah menanggapinya serius.”
“Satu tahun itu, kami terlibat banyak kegiatan bersama. Intensitas pertemuan kami semakin meningkat.”
“Sampai suatu hari, ada kegiatan kemahasiswaan di luar kampus. Kak Ahsan terluka karena menolong salah satu mahasiswa yang tersesat saat jelajah alam. Aku yang kebetulan kebagian piket saat itu, memburu kedatangan Kak Ahsan yang dibopong dua temannya masuk ke tenda pleton yang dijadikan markas panitia.”
“Bersama teman yang lain aku membantu Kak Ahsan membersihkan luka-lukanya, memberinya obat dan menutupnya dengan perban.”
“Sudah selesai, Kak Ahsan meminta teman-teman keluar dan tinggallah kami berdua. Jujur aku gugup, kenapa tiba-tiba Kak Ahsan menyuruh mereka keluar.”
“Merasa tak enak hati aku pun beranjak hendak keluar dari tenda itu, tapi Kak Ahsan melarangku, dia meminta waktu sebentar untuk berbicara serius denganku”.
“Dan saat itulah, Kak Ahsan mengungkapkan isi hatinya. Ingin menjadikanku kekasihnya.”
__ADS_1
“Singkat cerita, aku menolaknya dengan halus. Aku cukup tahu diri untuk tidak berani membalas perasaan Kak Ahsan, bukankah tahu diri adalah salah satu cara untuk menghindari sakit hati?...hhe.” Shanum menjeda ceritanya.
“Saat itu yang aku dengar kalau Kak Ahsan punya kekasih, walaupun aku belum pernah melihat langsung dia dengan kekasihnya. Dan aku pun tidak tahu siapa kekasihnya.”
“Katanya sih primadona kampus yang saat itu sedang melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri, jadinya mereka LDRan gitu, tapi aku tidak pernah mau tahu.”
“Aku juga heran kenapa tiba-tiba Kak Ahsan nembak aku, tapi aku tidak cukup keberanian untuk menanyakan alasannya, dan menurutku juga merasa enggak penting untuk menanyakan tentang kebenaran cerita yang aku dengar tentangnya.”
“Aku Cuma bilang ke Kak Ahsan, kalau saat itu mengejar cita-cita lebih penting bagiku dari pada jagain jodoh orang..haha….:” Shanum mengakhiri ceritanya.
Liani manggut-manggut mengerti. Dia tahu sahabatnya itu sangat berhati-hati dalam bersikap, Logikanya selalu mendominasi, apalagi kalau urusan yang menyangkut hati dan orang lain.
“ Sudah ah, udah mau maghrib, kapan-kapan kita lanjutin lagi ceritanya.”
Shanum berdiri dan menuntun Liani ke arah pintu supaya segera keluar dari rumah dinasnya dan bersiap ke Aula.
“Oke, oke, aku faham sekarang. Tapi cerita kamu belum tuntas. Awas ya kalo pura-pura lupa”, sentak Liani sebelum meninggalkan rumah dinas Shanum.
“Iya, iya…..”, sahut Shanum.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun telah tiba.
Acara akan dimulai tiga puluh menit lagi.
Shanum dan Liani sudah bersiap di barisan para panitia, bersiap menerima pengarahan sebelum menuju posisinya masing-masing.
Ahsan tampak gagah dengan balutan jas hitam, kemeja mocca yang senada dengan kostum panitia perempuan. Dasi marun menjadi pemanis penampilannya malam ini.
Dia berdiri dengan gagahnya di depan barisan panitia, siap-siap untuk memberikan pengarahan terakhir kepada seluruh crew panitia, memastikan tidak ada kekurangan apapun untuk menunjang kesuksesan acara malam ini.
“Lihat, Num. Guantengnya poolll….rugi banyak kalau kamu nolak dia lagi.”, Liani berbisik mendekat ke telinga Shanum, menunjuk dengan dagu ke arah Ahsan berdiri.
“Shuuttt…..ghuddul bashar, Li!” sentak Shanum mengingatkan Liani.
Liani hanya mencebikkan bibirnya, kesal dengan sikap sahabatnya itu. Tak habis pikir masih saja tidak tertarik dengan pesona Ahsan yang memancar luar dalam.
Pengarahan selesai, diakhiri dengan do’a bersama untuk kelancaran acara malam ini.
Shanum berjalan ke tempat dimana dia harus stand bye. Menunduk, membuka kembali kertas rundown acara yang sudah siap digelar malam ini.
Kembali matanya menghangat, ketika membaca daftar pengisi acara yang terdapat di kolom keterangan.
**Sambutan Ketua Terpilih Yayasan Bina Insani Kamil oleh Akhtar Farzan Wijaya**
Nama yang sama yang bertahta diingatannya, masih terpatri rapi di relung hatinya.
Berulang kali Shanum menarik dan membuang nafasnya, menghilangkan kegugupan dan kegundahan hatinya.
“Apakah ini kamu?”, Shanum bergumam, tapi masih terdengar di telinga orang yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
“Ya, ini aku”, jawab orang itu.
Shanum tersentak, refleks dia berbalik melihat siapa orang yang menjawab gumamannya.
“Pa….k Ahsan”, ucap Shanum terbata.
Kaget melihat kehadiran Ahsan yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
“Kakak Shanum, Kakak….!!” ralat Ahsan penuh penekanan.
Shanum hanya nyengir menanggapi kekesalan Ahsan yang selalu marah kalau sedang berdua disebut Bapak.
“Ada apa Kak Ahsan kesini?”, tanya Shanum penuh selidik. Semua kesiapan timnya sudah disampaikan saat pengarahan tadi.
“Harus aku jawab ya?”, tanya Ahsan balik.
“Yaa……maksud aku, ada keperluan apa Kak Ahsan kemari, semua kesiapan tim acara sudah aku sampaikan saat pengarahan. Apa ada yang kurang?’’
“Iya ada yang kurang”, jawab Ahsan cepat.
Shanum melihat catatannya kembali, mengecek semua yang berhubungan dengan tugasnya malam ini.
Sebelum Shanum menyanggah, Ahsan lebih dulu melanjutkan ucapannya.
“Yang kurang adalah kamu belum menyapa aku dan……”, Ahsan menjeda ucapannya.
Shanum mendongak ke arah Ahsan, Ahsan dengan cepat membidikkan kamera ponselnya ke arah mereka berdua.
Dan……cekrek..
“Kita belum berswafoto, Num.” lanjut Ahsan.
“Sudah lama kita gak ada foto bareng saat kegiatan, mumpung kostum kita lagi samaan, kan keren nih keliatan yang lagi acara tunangan gitu, otewe nikah…hhee..”, jelas Ahsan panjang lebar.
Shanum hanya memutar bola matanya malas, lagi-lagi Ahsan mencuri-curi kesempatan untuk berfoto dengannya.
Dari dulu Shanum paling tidak suka berfoto jika hanya sendiri atau berdua dengan lawan jenis.
Koleksi fotonya kebanyakan foto bersama, satu-satunya foto sendiri yang ia miliki adalah pas foto yang ia simpan di dompetnya untuk jaga-jaga jika tiba-tiba dibutuhkan.
__ADS_1
Ahsan berlalu dengan cepat, sebelum Shanum mengomel karena kelakuannya.
Dia setengah berlari sambil tergelak, mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya ke arah Shanum.
“Peace, Num. Sorry maksa,aku butuh moodbooster buat malam ini”, teriaknya.
Shanum hanya bisa menghentakan kakinya, mengacungkan kepalan tangan ke arah Ahsan. Kesal dengan kelakukan seniornya itu yang enggak pernah berubah dari dulu.
Ahsan semakin tergelak melihat kelakuan Shanum, sangat menghiburnya.
Sejenak Shanum melupakan kegalauanya memikirnya nama itu.
Tanpa sadar ia tersenyum, mengingat kelakuan Ahsan yang dari dulu selalu bisa mengalihkan kesedihannya menjadi canda dan tawa.
Kilas balik kebersamaan dengan Ahsan saat kuliah menghampirinya.
Semenjak mengutarakan isi hatinya perhatian Ahsan semakin terasa nyata oleh Shanum, padahal jelas-jelas ia sudah menolaknya.
Kadang Shanum merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuan Ahsan.
Ahsan sering mengirimnya sarapan atau makan malam ke asrama tempat Shanum tinggal.
Sepertinya ia tahu kalau Shanum lebih sering berpuasa selain sebagai sunnah juga untuk menghemat biaya makannya kala itu.
Ahsan juga pernah membayarkan biaya kegiatan perkuliahan yang tidak tercover beasiswa tanpa sepengetahuan Shanum.
Dan Shanum tahu itu setelah mendesak bagian administrasi kampus agar memberi tahu siapa yang membayar semua biaya kuliahnya.
Saat mengetahui itu Ahsan, Shanum merasa marah ia mendatangi Ahsan dan meminta agar tidak melakukannya lagi.
Shanum menyerahkan semua uang tabungannya untuk mengganti uang Ahsan.
Tapi Ahsan menolaknya dengan tenang. Dia bilang anggap saja itu pemberian seorang kakak kepada adiknya.
Shanum tidak bisa menerima alasan Ahsan dan masih menunjukkan kemarahan dengan diamnya. Ahsan tahu ketidakpuasan Shanum dengan jawabannya.
Shanum adalah orang yang tidak pernah mau menunjukkan kesulitannya pada orang lain, ia menutupi kerapuhannya dengan selalu tampil ceria dan percaya diri.
Bukannya bermaksud sombong, tapi Shanum yakin jauh sebelum masalah datang, Allah sudah menyiapkan jalan keluarnya. Dan bukan dengan cara mengeluh atau berbagi duka dengan orang lain.
Karena pada dasarnya yang akan bertanggung jawab atas rasa bahagia dan rasa sedihnya adalah dirinya sendiri. Berhenti berekpektasi pada manusia adalah langkah terbaik.
Saat itu Ahsan berkata dengan lantangnya,
“Anggap saja aku berdonasi, kamu kan penerima beasiswa. Jadi anggap itu juga bagian dari beasiswa yang kamu terima. Kamu jangan Ge Er, aku membantumu karena kamu laiak menerima bantuan, bukan karena aku pernah menyatakan cintaku untukmu. Jika ada mahasiswa lain yang membutuhkan aku juga akan membantu semampuku”, telak Ahsan.
Shanum bergeming mendengar apa yang Ahsan katakan hingga lisannya hanya mampu berucap,
“Sebagian orang beruntung karena terlahir dari keluarga yang cukup materi. Sebagian lainnya juga beruntung karena diberi pundak yang kuat dan hati yang tabah untuk berusaha sendiri.”
“Dan aku adalah bagian dari sebagian lainnya itu. Terima kasih Kak Ahsan, hanya Allah yang mampu membalas kebaikanmu.”
Semenjak saat itu Shanum benar-benar menjaga jarak dari Ahsan. Ia selalu menghindar dengan cantik saat keadaan mempertemukan mereka. Tidak ingin terlalu kentara menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.
Tapi itu tidak membuat Ahsan menyerah, jarak tak mampu mengikis rasa cinta dan kasih sayang yang sudah terlanjur tumbuh di hatinya untuk Shanum.
Lagi-lagi Ahsan membantu Shanum diam-diam, hingga Shanum dapat menyelesaikan kuliah S1 nya tepat waktu.
Saat kembali ke Bogor, Shanum sudah tidak lagi memikirkan tentang Ahsan. Sampai dia menerima pinangan Arya Shakti, dan siap menjadi makmumnya.
Tanpa Shanum tahu, kalau saat itu Ahsan pun mengetahui semuanya. Ahsan tak pernah sedikit pun melewatkan kabar tentang Shanum.
Ahsan lebih memilih mengikhlaskan, dan mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain adalah level tertinggi dari mencintai itu sendiri.
Ahsan lebih memilih berdamai dengan dirinya sendiri. Berdo’a menikmati real life.
Walaupun sejujurnya ingin sekali Ahsan sampaikan pada Shanum,
“Sendiri itu tenang, tetapi bersamamu jauh lebih senang.”
Hati Shanum terasa menghangat saat mengingat semua memori itu. Terlintas di pikirannya untuk mencoba memberi kesempatan Ahsan memperjuangkan cintanya.
Ahsan yang tak kunjung lelah meminta sedikit ruang di hati Shanum untuk ia huni.
Teringat kembali perkataan sahabatnya, jangan sampai ia menyesal karena kembali kehilangan, Shanum membuka hati saat Ahsan sudah lelah dan memilih menyerah.
Ia pun ingat pesan yang disampaikan Ibunya melalui chat WA beberapa hari yang lalu, kalau ada seorang pemuda yang ingin melamar adik perempuannya.
Shanum bergidik, kekhawatiran mulai menerpa hatinya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjalani hari-hari selanjutnya.
Haruskah kini ia yang menyerah?
Shanum menyadari, penantian cintanya yang tiada pasti hingga saat ini masih hanya sebatas asa.
Haruskah pertahanannya runtuh?
dan perlahan berusaha mengalihkan hati, mencoba memberi kesempatan sosok lain mengisi hatinya?
Berharap akan mampu mengikis cinta lamanya.
__ADS_1
“Muhammad Ahsanu Amala, terima kasih masih tetap tinggal meski aku sering membuatmu kesal. Terima kasih selalu ada, walaupun aku tak pandai ciptakan tawa untukmu.” Lirih Shanum.