Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Duka Shanum


__ADS_3

Malam itu juga mereka bertiga berangkat ke rumah sakit Harapan Kita sesuai petunjuk polisi yang menelepon Shanum tadi. Perjalanan mereka lebih cepat karena Hasna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Jalanan yang mereka tempuh tidak terlalu padat karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas malam.


Tiga puluh menit perjalanan mereka sudah sampai halaman IGD rumah sakit, menurut informasi Haqi masih ditangani di IGD. Shanum segera turun dari mobil dan menuntun ibu mertuanya, mereka berjalan beriringan menuju IGD.


Di pintu masuk menuju IGD mereka di hadang oleh petugas kepolisian dan seorang perawat.


"Maaf, ini dengan keluarga Bapak Baihaqi Abdillah?" tanya perawat itu.


Shanum, Hasna dan Bu Ratna menghentikan langkah mereka.


"Iya, saya adiknya dan ini istri Bang Haqi, ini Ibu kami. Dimana dia sekarang? bagaimana keadaannya? bisakah kami menemuinya?" Hasna memberondong petugas kepolisian yang mencegatnya dengan banyak pertanyaan.


"Ibu tenang ya, sekarang silahkan Ibu menghubungi bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran, selesaikan semua adminitrasi tentang pasien. Dan untuk Ibu... " perawat itu menunjuk ke arah Shanum dan Bu Ratna. " silahkan ikut saya menemui dokter" terang perawat tersebut.


"Baiklah, terima kasih" balas Hasna.


Hasna pamit kepada ibu dan kakak iparnya, dia berjalan menuju bagian pendaftaran untuk mengurus administrasi kakaknya.


Sementara Shanum dan Bu Ratna mengikuti perawat itu menuju ruang dokter yang menangani Haqi diikuti oleh petugas kepolisian yang menangani kecelakaan Haqi.


"Maaf, Sus....." suara Shanum menghentikan langkah mereka berempat.


"Bolehkah saya bertemu dengan suami saya terlebih dahulu?" tanya Shanum dengan lesu. Hatinya belum benar-benar tenang karena belum mengetahui keadaan suaminya yang sebenarnya.


"Pak Baihaqi saat ini masih ditangani Bu, tadi dokter sudah memeriksanya dan sekarang perawat sedang membersihkan luka-lukanya" jelas perawat itu.


"Tapi...bolehkah saya melihatnya sebentar saja?" Shanum tetap memohon untuk bisa melihat suaminya


"Baiklah Bu, tapi kami harap ibu bisa tenang di sana, supaya tidak mengganggu proses penanganan yang sedang berlangsung" tegas perawat itu dan diangguki oleh Shanum dengan cepat.


Mereka pun berbalik arah, perawat membawa Shanum dan Bu Ratna memasuki ruangan instalasi gawat darurat yang khusus menangani korban kecelakaan.

__ADS_1


Dari jendela kaca yang membatasi ruangan itu Shanum dan Bu Ratna bisa melihat jika saat ini Haqi sedang ditangani oleh dua orang perawat. Kemeja biru langit yang tadi pagi Shanum pilihkan untuk dipakai Haqi ke kantor kini sudah berubah warna, darah sudah memenuhi kemeja itu. Bu Ratna bahkan memalingkan wajahnya ketika perawat menenteng baju kemeja yang berlumuran darah itu untuk dimasukkan ke dalam kantong kresek yang sudah disediakan.


Shanum tidak bisa melihat wajah suaminya karena terhalang oleh tubuh perawat yang sedang membersihkan luka-lukanya.


Jantung Shanum berdegup semakin kencang, tangannya bergetar. Dia tidak tahu kecelakaan seperti apa yang dialami oleh suaminya hingga bajunya berlumuran darah seperti itu.


"Sus, bagaimana keadaan suami saya sekarang?" tanya Shanum dengan suara bergetar.


"Suami ibu masih belum sadarkan diri, dokter akan menjelaskan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bapak Polisi juga akan menjelaskan kronologis kecelakaannya, jadi sekarang silahkan ibu ikut kami menemui dokter yang menangani suami Ibu" jelas perawat itu.


Shanum pun menganggukkan kepalanya, dia kembali menuntun ibu mertuanya yang sejak tadi hanya bisa menangis tanpa sepatah kata pun.


Shanum dan Bu Ratna mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, kesimpulan akhir suaminya harus di operasi karena ada pendarahan di otak. Darah yang berlumuran hingga membasahi kemejanya berasal dari muntahan saat kepalanya terbentur keras karena mobil yang berkecepatan tinggi dari arah berlawanan ke luar jalur dan langsung menghantam mobil yang dikendarai Haqi. Haqi tidak bisa.menghindar karena semuanya terjadi tiba-tiba dan begitu cepat. Menurut keterangan saksi yang melihat langsung kejadian itu mobil Haqi terpental jauh dari lokasi dan dalam keadaan terbalik.


Air mata semakin deras mengalir di pipi Shanum, dia tidak bisa bagaimana suaminya berada di dalam mobil itu. Shanum hanya bisa pasrah, dia menyerahkan semuanya kepada dokter yang akan menangani suaminya, tindakan terbaik apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan suaminya.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya, Dok" pintanya pada sang dokter dengan suara berat karena isak tangis yang tertahan.


Shanum dan Bu Ratna keluar dari ruangan dokter, dia harus menunggu bagian administrasi untuk menyiapkan surat-surat yang harus ditanda tangani sebelum proses operasi dilakukan.


Kurang dari satu jam semua berkas administrasi itu sudah ditanda tangani oleh Shanum dengan disaksikan Bu Ratna dan Hasna. Mereka memeluk Shanum berusaha saling menguatkan. Air mata tak henti-hentinya keluar dari mata mereka, tak kuasa melihat laki-laki kesayangan mereka terbaring lemah tak berdaya.


"Proses operasi akan berlangsung tiga puluh menit lagi, Bu. Sebelum pasien dibawa ke ruang operasi silahkan Ibu boleh menemuinya terlebih dahulu" suara perawat menghentikan tangis mereka.


Shanum dengan segera berdiri dan berjalan menuju ruang tempat suaminya terbaring tak sadarkan diri diikuti oleh ibu mertua dan adik iparnya.


Shanum berdiri di samping ranjang yang ditiduri oleh Haqi, dia tak kuasa melihat wajah pucat suaminya yang tak sadarkan diri. Masih jelas di ingatan Shanum tadi pagi suaminya berangkat ke kantor dengan wajah berseri-seri, senyum terus mengembang di bibirnya semenjak mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah.


Shanum menggenggam erat tangan Haqi, masih terasa hangat. Dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu.


"Abang, Abang ini aku... Shanum istri Abang...hiks😭" isak tangis beberapa kali menjeda ucapan Shanum.

__ADS_1


"Aku menunggu Abang pulang, katanya Abang akan pulang sebelum maghrib, hiks...,😭"


"Abang yang kuat ya, aku menunggu Abang. Ada Mami juga Hasna di sini Bang, kami semua menunggu Abang 😭"


"Kami semua berdo'a agar Abang cepat sadar dan kembali sehat. Abang yang kuat ya 😭, Insya Allah kita akan berikhtiyar untuk kesembuhan Abang. Abangnya yang kuat ya...hiks😭....." Shanum tak kuasa lagi menahan isak tangisnya, dia menangis tersedu menciumi tangan suaminya.


Bu Ratna dan Hasna yang melihat adegan itu pun tak kuasa menahan tangis, mereka memeluk Shanum dengan isakan tangis yang sama-sama tak tertahankan.


"Haqi segera bangun ya, Nak. Ibu tahu kamu anak yang kuat, dari dulu kamu selalu menjadi andalan keluarga, kamu adalah putra kebanggaan kami. Cepat bangun ya, Nak. Kasihan istri kamu dari tadi menangis terus..😭" Bu Ratna berbicara pada Haqi seolah putranya itu mendengarkannya, dia mengusap sekilas wajah putranya yang pucat tak berdaya.


"Abang, ini Hasna. Hasna tahu Abang pasti kuat, Hasna yakin Abang bisa melalui semua ini dengan baik. Abang lekas bangun ya, kasihan Teteh dari tadi menunggu Abang pulang. Yang kuat ya Bang..😭" Hasna pun turut memberi motivasi kepada kakaknya.


"Maaf Bu, pasien akan segera dibawa ke ruang operasi. Ibu dan Mbaknya silahkan bisa menunggu di luar" seorang perawat menghentikan obrolan haru mereka.


Shanum kembali mencium tangan suaminya sebelum melepaskan genggamannya. Dia berbisik di telinga suaminya.


"Abang yang kuat ya menjalani operasi ini, aku menunggu Abang" bisik Shanum dengan suara parau sesaat sebelum dia benar-benar melepaskan genggaman tangannya.


Tanpa mereka sadari ada air mata yang keluar dari sudut mata Haqi saat tubuhnya dibawa oleh perawat untuk memasuki ruang operasi.


Tiga jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda operasi akan segera berakhir. Waktu menunjukkan puku empat tiga puluh. Shanum beranjak dari tempat duduknya dari kursi tunggu depan ruang operasi. Dia melihat ibu mertuanya tertidur beralaskan paha Hasna, Hasna pun mendongakkan kepalanya bersandar pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya.


Shanum sendiri sejak Haqi memasuki ruang operasi tak sekejap pun memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada suaminya. Hati dan lisannya terus berdzikir, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya.


Sejujurnya, bayangan peristiwa bertahun-tahun yang lalu terus menghantuinya. Bayangan Arya yang pamit untuk pergi mengikuti pelatihan di luar kota kembali menghampirinya. Kata-kata manis Arya di telepon beberapa jam sebelum kabar duka dia terima kembali terngiang di telinganya.


Shanum merasakan perasaan yang sama saat ini, bayangan Haqi yang pamit saat akan berangkat ke kantor tadi pagi, kata-kata manis yang dia ucapkan ditelepon tadi siang, bahkan permintaannya ingin mengalihkan panggilan menjadi video call karena ingin melihat wajah merona Shanum namun ditolak olehnya kembali berputar di pikiran Shanum.


Dia menangis dalam diam, meredam semua emosi yanng bergejolak di hatinya. Untaian do'a dan dzikir terus terucap dari lisannya.


"Yaa Allah......Abang....😭😭😭😭" ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2