Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Pencarian Shanum


__ADS_3

Seantero yayasan kini dihebohkan dengan hilangnya Shanum. Akhtar mengerahkan segala kuasanya untuk mencari keberadaan Shanum. Semua tim keamanan diturunkan untuk membantu pencarian Shanum.


Semua orang yang berhubungan dengan Shanum dihubungi satu persatu. Ahsan sibuk menghubungi teman-teman kuliahnya dan Shanum. Liani pun dengan hati-hati menanyakan keberadaan Shanum kepada keluarga di Bogor, tidak ingin mengundang kecurigaan keluarga Shanum di sana.


Akhtar pun tidak tinggal diam, dia mencoba menghubungi teman-temannya di Garut.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi belum ada titik terang tentang keberadaan Shanum. Polisi tidak bisa bertindak karena berita hilangnya Shanum belum sampai dua kali dua puluh empat jam.


Data terakhir yang mereka miliki hanya CCTV yang merekam saat kedatangan Shanum turun dari travel dan berjalan memasuki gerbang menuju rumah dinasnya. Setelah itu semua data hilang, seolah sudah diatur oleh pelaku penculikan Shanum. Dari fakta-fakta yang didapat, semua berasumsi bahwa Shanum memang diculik.


Ahsan masih sibuk menghubungi teman-teman kuliahnya. Berharap salah satu di antara mereka ada yang mengetahui dimana keberadaan Shanum. Tidak lupa dia pun menghubungi temannya yang bertugas di kepolisian untuk bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi.


Gawai Shanum mati, sehingga tidak bisa dilacak dimana posisinya saat ini.


Semua orang masih sibuk dengan spekulasinya masing-masing. Mereka semakin meyakini memang ada yang berniat jahat pada Shanum, pasalnya selama ini Shanum dikenal sebagai guru yang baik, tidak pernah terlibat hal-hal negatif bahkan semua rekam jejaknya sangatlah baik. Dia pun dikenal sebagai guru yang ramah dan baik hati, sehingga kecil kemungkinan jika Shanum memiliki musuh.


Akhtar sejak tadi menghubungi Raina dan mengiriminya pesan namun berjam-jam pesan yang dikirimnya hanya centang satu.


Akhtar:


'Lagi dimana?'


Akhtar meyakini jika Raina terlibat dengan hilangnya Shanum begitupun Suraya, sejak berita kehilangan Shanum menyebar gawai Suraya dan Raina secara bersamaan langsung tidak aktif.


Akhtar dan Ahsan masih setia memantau CCTV gerbang yayasan di ruang kerja Akhtar di kantor yayasan. Komputer di ruang itu memang terhubung dengan semua CCTV yang di pasang di lingkungan yayasan. Mereka berharap Shanum segera muncul dan kembali ke yayasan.


"Bro, aku curiga Suraya dan Raina ada di balik hilangnya Shanum" Akhtar memecah keheningan di antara mereka.


Ahsan menoleh, dia pun tidak bisa memungkiri sejak tadi hatinya mengatakan jika dua gadis itu yang menjadi biang keroknya. Tapi Ahsan tidak mau bertindak gegabah, dia sadar akan berhadapan dengan siapa jika tuduhannya ternyata salah.


Bukan hanya dirinya yang akan bermasalah tapi juga karir ayahnya di kemiliteran. Ayah Suraya adalah atasan sang ayah, dan dia memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja yang mengancam kedudukan ayahnya.


Ahsan menarik napasnya dalam, dia pun mengangguk tanda sepakat dengan argumen Akhtar.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Ahsan lesu. "Saat ini yang bisa kita lakukan adalah mencari bukti jika Shanum benar-benar diculik dan menyerahkan bukti-bukti itu ke kepolisian agar mereka bisa bertindak"


"Aku sudah menghubungi temanku, dia bertugas di bagian kriminal di Polda Jabar dan sudah siap membantu kita." ucap Ahsan menjelaskan strategi yang sudah disusunnya.


"Mengenai Suraya, jika benar dia yang menjadi dalang dari semua ini maka aku akan membuat perhitungan sendiri dengannya" lanjut Ahsan geram.


Akhtar hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ahsan. Dan setelah menunggu cukup lama akhirnya pesan yang dikirim Akhtar pada Raina beberapa jam yang lalu bercentang dua berwarna biru. Dia pun mendapat balasan pesan Raina.

__ADS_1


Raina:


'Aku lagi di rumah teman, maaf batere gawai aku lowbat, baru selesai dicharge. Ada apa sayang? kangen ya?'


Raina menjawab pesan Akhtar seperti biasa. Ahsan memutar bola matanya malas saat membaca pesan tersebut.


Akhtar:


Datanglah ke rumahku, ada yang mau aku sampaikan.


Setelah berbincang dengan Ahsan tentang kecurigaan mereka akan keterlibatan Suraya dan Raina. Mereka berdua sepakat akan menyelidikinya dengan cara mereka masing-masing. Tentunya tanpa melibatkan pihak yang berwenang agar tidak menimbulkan kecurigaan. Akhtar pun membalas pesan Raina dengan cepat. Dia sengaja memancing kedatangan Raina ke rumahnya untuk membuktikan kecurigaannya.


Raina sangat antusias saat menerima notifikasi pesan masuk dari Akhtar, dia senyum-senyum sendiri setelah membaca pesan itu. Dia sudah membayangkan jika Akhtar malam ini akan mengatakan kesiapannya untuk segera menikahinya.


"Ada apa?" pertanyaan Suraya membuyarkan khayalan Raina.


"Hah?" Pikiran dan raga Raina sepertinya belum terkoneksi dengan baik.


"Kamu senyum-senyum sendiri, ada apa?" Suraya mengulangi pertanyaannya.


"Akhtar memintaku menemuinya di rumah, aku rasa sekarang pikirannya sudah terbuka. Dia pasti akan menentukan hari pernikahan kami" jawab Raina dengan raut wajah yang gembira.


Mereka berdua masih berada di ruangan tempat ditahannya Shanum. Laki-laki yang menjadi utusan Suraya untuk menakuti Shanum pun masih setia berada di sana menunggu perintah. Mereka bertiga sedang menertawakan ketakutan Shanum karena ancaman mereka.


"Bagaimana?" suara sentakan Suraya membuat nyali Shanum kembali menciut. Dia benar-benar dibuat trauma oleh Suraya dan Raina.


Shanum menarik napasnya dalam-dalam mencoba menetralkan kembali perasaannya.


"Aku akan mengundurkan diri dari yayasan", ucap Shanum tegas. Dia berusaha tenang saat mengatakannya keputusannya.


Shanum terpaksa memutuskan pilihannya pada nomor satu. Walaupun bekerja di yayasan itu adalah salah satu impiannya, namun Shanum tak kuasa jika dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Dia tidak bisa membayangkan betapa masa depannya akan hancur jika Suraya benar-benar membuktikan ancamannya.


Suraya dan Raina tertawa bahagia mendengar keputusan Shanum.


"Hahaha....good! Aku tahu kamu memang cerdas dan mampu mengambil keputusan dengan tepat. Good job!" puji Suraya.


"Aku akan memberimu waktu satu hari untuk mengurus segala sesuatu tentang pengunduran dirimu. Aku harap lusa kamu sudah angkat kaki dari yayasan dan jangan pernah kembali lagi" Raina menimpali, berbicara dengan serius dan penuh penekanan.


"Sekarang rapikan pakaian dan bersihkan wajahmu, kita akan kembali ke yayasan. Pastikan tidak ada yang tahu tentang peristiwa malam ini." Raina kembali memberi intruksi.


"Kamu..." Suraya menunjuk laki-laki yang menjadi suruhannya.

__ADS_1


"Kamu antarkan wanita ini ke yayasan, gunakan mobil kamu dan jika ada yang tanya jawab saja kalau kamu layanan taksi online" pungkas Suraya.


Shanum beranjak dari tempat duduknya dia berjalan menuju pintu keluar meminta Suraya menunjukkan dimana letak toilet.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, Shanum pun keluar dari toilet. Dia terlihat lebih segar walau pun wajahnya masih tampak sembab karena dia menangis dalam waktu yang cukup lama.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah tempat penyekapan Shanum. Suraya dan Raina memasuki mobil yang dibawa Suraya kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan diikuti oleh mobil yang mambawa Shanum. Mobil mereka keluar beriringan, keluar dari tempat yang sangat mengerikan sekali bagi Shanum. Peristiwa malam ini tampaknya menjadi peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan bagi Shanum.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Akhtar dan Ahsan terus mengamati situasi melalui CCTV, rasa kantuk mulai menyerang mereka. Ahsan menundukkan kepalanya tanda jika rasa kantuknya benar-benar tidak tertahan. Begitu pun Akhtar dia menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya yang saat ini tengah ia duduki matanya pun terpejam begitu saja.


Tanpa mereka sadari orang yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu kini sudah turun dari mobil dan hendak memasuki gerbang utama yayasan.


"Assalamu'alaikum" Shanum menyapa Pak Satpam yang malam ini bertugas menjaga.


"Wa'alaikumussalam, Bu Shanum?" jawab Pak Satpam dengan ekspresi wajah kaget saat melihat bahwa yang datang dan menyapanya adalah Shanum. Orang yang sejak beberapa jam lalu menghebohkan seantero yayasan karena kehilangannya.


"Ini Ibu Shanum kan, Bu Shanum benar ini Ibu kan?" Pak Satpam bertanya kembali untuk memastikan bahwa orang yang saat ini berdiri di hadapannya adalah benar-benar Shanum.


"Iya Pak, saya Shanum. Maaf jika datang tengah malam begini jadi merepotkan." jawab Shanum seraya meminta maaf karena baru kali ini dia pulang selarut ini kecuali jika ada kegiatan sekolah.


"Ouh...gak apa-apa kok Bu, barusan juga Bu Raina dan temannya baru datang" jawab Pak Satpam kembali santai.


"Ibu, baik-baik saja?" tanyanya lagi pada Shanum.


"Semalam semua orang sibuk mencari Ibu. Katanya Ibu hilang. Ketidakberadaan Ibu bahkan sempat dilaporkan kepada polisi Bu, namun polisi tidak bisa bertindak karena hilangnya Ibu masih kurang dari dua kali dua puluh empat jam"


"Pak Akhtar dan Pak Ahsan meminta semua tim keamanan yayasan diturunkan lho Bu untuk mencari keberadaan Ibu." ucap Pak Satpam menyampaikan informasi tentang kehebohan yayasan gara-gara hilangnya Shanum.


Shanum menghela napasnya. Dia tidak menyangka jika kejadiannya akan menjadi seheboh ini. Dia bukannya tidak senang dengan kepedulian semua orang padanya, tentu saja semua itu pasti dipelopori Liani, Ahsan dan Akhtar. Tetapi untuk saat ini keterlibatan Ahsan maupun Akhtar benar-benar hanya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Bu Shanum tidak apa-apa?" pertanyaan Pak Satpam menyadarkan Shanum dari lamunannya.


"Tidak Pak, saya tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Maaf ya Pak jadi merepotkan. Kalau begitu saya pamit, terima kasih atas kepeduliannya" pungkas Shanum mengakhiri perbincangannya dengan Pak Satpam.


Shanum pun pamit kepada Pak Satpam untuk segera menuju rumah dinasnya. Dia berjalan setengah berlari menuju rumah dinasnya. Keadaan komplek sudah sangat sepi, benar-benar sepi seolah tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di setiap rumah dinas yang dia lewati sepanjang menuju rumah dinasnya.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, tidak hanya Shanum tetapi juga orang-orang yang berada di yayasan karena semalam mereka semua terlibat dalam pencarian Shanum.


Perjalanan Bogor-Bandung sudah membuat Shanum capek, tapi itu tidak seberapa dibanding ketakutan dan kelelahan batin yang baru saja dialaminya. Dia kembali bergidik ngeri mengingat apa yang baru saja dialaminya. Bayangan-bayangan Suraya dan Raina saat mengancamnya kembali melintas si pikrannya.

__ADS_1


***


__ADS_2