
Aktivitas Liani mengalami perubahan cukup drastis sepeninggal sahabatnya Shanum. Biasanya jam enam tiga puluh dia sudah berada di sekolah tempatnya mengajar. Kebersamaannya dengan Shanum memberinya efek positif, selalu datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Sarapan pagi pun menjadi kebiasaan mereka sebelum mengawali aktivitas hari baru jika tidak sedang berpuasa sunnah.
Tetapi semenjak Shanum tidak berada lagi di yayasan, Liani kembali mengabaikan kebiasaan baiknya itu. Dia jarang sarapan, datang ke sekolah paling cepat sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Dan berada di sekolah sesuai jam kerja saja. Tidak ada lagi kegiatan-kegiatan sekolah yang dia ikuti. Liani mengundurkan diri dari tugasnya sebagai pembina kesiswaan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dinas dengan menulis atau sekedar menonton drama kesukaannya.
Berbeda dengan pagi ini, karena semalam dia tidak makan malam Liani merasakan perutnya keroncongan lebih lama. Dia segera berangkat menuju sekolah dengan tujuan utamanya adalah kantin yayasan. Jam seperti ini biasanya di kantin sudah disediakan aneka menu untuk sarapan.
Jam masih menunjukkan pukul enam, Liani tampak santai menikmati sarapannya. Sepiring nasi kuning dengan taburan abon dan tambahan telur semur dengan mentimun sebagai sayurnya sudah termakan hampir setengahnya.
"Assalamu'alaikum" suara seseorang yang tiba-tiba duduk di hadapannya mengagetkan Liani dan menghentikan aktivitas sarapannya.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya dengan mulut yang masih penuh dengan suapan nasi kuning lengkap dengan telur semur dan sayurnya.
"Sendiri?" tanya orang itu, dia menyeruput teh tawar hangat milik Liani.
"Eh eh....itu punya saya Pak, sudah saya minum tadi" jelasnya cepat setelah dengan segera dia mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Memangnya kenapa? kamu sehat kan? gak punya penyakit menular kan?" tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Ahsan.
"Mang, menu yang sama dengan Ibu Guru ini ya!" teriak Ahsan pada salah satu pelayan kantin yang sudah sangat dikenalnya.
"Baik, Pak" jawab pelayan itu.
"Ck...bener ya, patah hati bisa bikin orang jadi gak waras. Untungnya aku memilih tidak punya pacar, buatku menjaga imun tubuh itu lebih penting daripada jagain jodoh orang" Liani berdecak dan menyindir Ahsan, dia berani mengatakan itu karena saat ini mereka sedang berdua di kantin.
"Kamu gak pernah punya pacar?" tanya Ahsan heran, dia pun menghentikan aktivitasnya mencomoti kerupuk dari mangkuk Liani.
"Emangnya kenapa? salah? enggak kan?" jawab Liani tak kalah ketus, dia masih kesal karena Ahsan meminum minumannya.
"Hahaha....." tawa Ahsan akhirnya pecah, suaranya memenuhi kantin yang masih tampak sepi.
"Idih, Pak Ahsan kenapa ketawa begitu? emang salah kalau saya enggak pernah punya pacar?" sentak Liani, dia tahu Ahsan menertawakan dirinya yang belum pernah punya kekasih.
"Enggak, lucu aja seumuran kamu belum pernah pacaran" jawab Ahsan yang masih dibubuhi tawa karena merasa lucu.
"Saya itu sebenarnya bukan gak punya pacar Pak, tapi saya itu tipe orang yang gak mau ribet sama urusan yang kurang berfaedah. Jagain jodoh orang itu gak enak. Saya mah maunya langsung jadi aja, jelas-jelas nikah mah ibadah"
"Nanti kalau ada laki-laki yang melamar saya sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya, beriman, berpengetahuan, mapan dan bonus tampan saya mah bakalan langsung tancap gas"
"Enggak kayak Shanum yang masih aja susah move on dengan cinta monyetnya, padahal udah datang pria beriman, berpengetahuan, mapan, tampan dermawan, mudah memaafkan seperti Bapak masih aja dipertimbangkan"
__ADS_1
"Bapak juga sih coba kalau dulu pas Bapak nembak Shanum langsung datang ke orang tuanya dan meminta izin untuk menikahi Shanum mungkin ceritanya enggak kaya gini"
"Kan dulu dokter itu belum datang kan. Kalau dia datang melihat Pak Ahsan sudah menikah mungkin dia bakalan mikir lagi kalau mau merebut Bapak, Iya kan? lagian ya Pak kemarin suaminya Shanum itu gak neko-neko, dia mah langsung gaspol datang ke rumah dan bilang mau jadi calon suami Shanum, langsung iyeslah Shanum"
"Bulshit dengan cinta pertamanya yang udah bersama orang lain. Bapak juga tahunya masih belum kelar sama masa lalu Shanum mah gak mau alias anti jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain" cerocos Liani tanpa rem, dia tidak sadar jika apa yang dikatakannya membuat dada Ahsan bergemuruh, penyesalannya semakin menggunung.
Ahsan benar-benar merasa kalah start, padahal jelas-jelas dulu Akhtar sudah merelakan Shanum untuk bersanding dengannya. Harusnya waktu itu dia langsung datang ke orang tua Shanum dan langsung menikahinya. Dia tak berpikir jika Suraya akan datang secepat itu dan mengacaukan semuanya.
Penyesalannya semakin menggebu tatkala mengingat laki-laki yang kini menikahi Shanum adalah teman baiknya. Ahsan cukup mengenalnya, dan dia pun baru tahu akhir-akhir ini jika Haqi ternyata sudah mengagumi Shanum sejak masih kuliah.
Dia penasaran saat Haqi berbisik di telinganya, meminta maaf jika dia menikungnya di sepertiga malam. Jujur hal itu membuat Ahsan kepikiran, dan dia pun menanyakan hal tersebut pada Rahman dan Yusuf yang juga bersahabat dengan Haqi. Dan ternyata dia dibuat kaget dengan kenyataan jika Haqi ternyata sudah mencintai Shanum sejak dulu dan memilih diam karena tahu dirinya tengah memperjuangkan Shanum.
Namun apa yang terjadi? dirinya malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Sungguh Ahsan sangat merutuki kebodohan dirinya sendiri yang tidak tegas.
Liani hanya melongo, melihat ekspresi wajah Ahsan yang berubah seketika. Dia sadar bahwa dia sudah kebablasan berbicara, Liani yakin apa yang dikatakannya barusan menyinggung perasaan Ahsan.
"Pak, Pak Ahsan...maafkan saya" ucap Liani memohon dengan wajah penuh penyesalan.
"Saya tidak bermaksud membuka luka Bapak, saya...." ucapannya terhenti karena Ahsan mengangkat tangannya meminta agar Liani berhenti berbicara.
"Kamu benar, saya memang bodoh" ucap Ahsan lirih, dia memalingkan wajahnya menghindar dari tatapan Liani karena matanya mulai berembun.
"Pak, sudahlah....ikhlaskan. Ini adalah takdir terbaik untuk semua, sebaiknya sekarang Bapak fokus pada apa yang ada di hadapan Bapak. Bukankah Bapak juga akan segera menyusul Pak Akhtar, menikah dengan dokter itu? Saya rasa dia gadis yang baik. Insya Allah Pak Ahsan akan mampu membimbingnya menjadi lebih baik"
"Apa? Shanum sekarang di Jakarta?" tanya Ahsan memastikan.
"Hah?" Liani menyadari lagi-lagi dirinya keceplosan, padahal dia di wanti-wanti oleh Shanum untuk tidak pernah membahas tentang dirinya jika bertemu Ahsan atau Akhtar.
Pembicaraan mereka terhenti ketika makanan pesanan Ahsan datang, Liani mendorong piring yang berisi nasi kuning itu lebih dekat pada Ahsan. Dia benar-benar merasa bersalah dan berusaha mengalihkan pembahasan.
"Baiklah sekarang kita makan" Ahsan akhirnya bersuara, dan Liani kembali tersenyum lega melihat Ahsan sudah lebih baik, namun entahlah dengan hatinya.
Berbeda dengan Ahsan yang sedang menikmati sarapan bersama Liani. Pagi ini Akhtar masih berada di rumah dinasnya. Dia masih enggan keluar dari kamarnya. Setelah shalat subuh dia kembali ke kamar dan memilih kembali bergelut dengan selimut.
Semalam dia baru saja datang dari Garut, tepatnya Pameungpeuk menjemput sang Ibu karena acara pernikahannya dengan Raina akan dilaksanakan besok.
Tok...tok...tok...
"Nak, bangun. Sudah siang ini, waktunya sarapan" Ibu Fatimah mengetuk pintu kamar Akhtar berkali-kali.
__ADS_1
Ternyata pintu kamar Akhtar tidak terkunci, dengan ragu-ragu Bu Fatimah membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar Akhtar yang tampak berantakan.
Beberapa undangan pernikahan Akhtar berserakan di lantai kamarnya. Foto-foto Akhtar saat berseragam putih biru dengan seorang gadis yang sebaya dengannya tergeletak di atas tempat tidur king size itu, ada juga foto-foto Akhtar dengan seorang gadis di perkebunan teh yang sepertinya diambil secara diam-diam karena gaya mereka dalam foto itu tampak natural, tapi yang pasti gadis yang ada di foto itu bukanlah Raina.
Tubuh Akhtar bergulung selimut hingga tak terlihat sedikit pun. Ibu Fatimah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra satu-satunya itu yang jauh dari kebiasaannya. Bu Fatimah tahu putranya itu sangat menjunjung tinggi kebersihan dan kerapihan, tidak hanya dirinya tapi juga lingkungan sekitarnya. Tetapi melihat keadaan kamar sang putra kali ini sepertinya sang putra benar-benar mengalami hal berat hingga membuatnya berubah.
"Nak, bangun ini sudah siang" ucapnya lembut, dia menggoyang-goyangkan tubuh Akhtar pelan.
Akhtar menggeliat mendengar seseorang memanggil namanya dan menggoyangkan tubuhnya. Dia membuka selimut yang membungkus kepalanya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
"Ibu" ucap Akhtar dengan suara serak khas bangun tidur.
Dia menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Di atas dadanya Ibu Fatimah bisa melihat sebuah pigura foto yang sepertinya terus dia peluk sepanjang tidur.
Akhtar menyadari arah pandangan sang Ibu, dia mengambil foto itu dan menyimpannya di atas nakas di samping tempat tidurnya.
"Maafkan Akhtar, Bu..Akhtar kesiangan" ucapnya pelan.
"Enggak apa-apa, kamu pasti lelah" jawab Bu Fatimah, dia meraih beberapa undangan yang berserakan di lantai.
Akhtar mengedarkan pandangannya, dia melihat betapa berantakannya keadaan kamarnya saat ini. Akhtar mengambil foto-foto yang berserakan di atas tempat tidurnya kemudian menyimpannya ke dalam laci nakas di samping tempat tidurnya.
Bu Fatimah menyodorkan sebuah foto yang terlewat untuk Akhtar bereskan. Foto dirinya dengan Shanum yang diambil diam-diam dia dengan berswafoto saat mereka bersama di perkebunan teh. Tampak Shanum dari arah samping sedang tersenyum memandang hamparan tanaman teh di depan mereka.
Akhtar meraih foto itu, dia menunduk tak berani memandang wajah Ibunya saat mengambil foto itu dari tangan sang Ibu. Foto itu dia genggam erat dengan tangan sedikit bergetar.
"Menikah adalah nasib, sementara mencintai adalah takdir. Kita bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tidak bisa merencanakan cinta kita untuk siapa" ucap Bu Fatimah berusaha membesarkan hati Akhtar.
Bu Fatimah tahu akhir-akhir ini menjadi saat-saat yang sulit untuk putranya. Akhtar sudah menceritakan semua yang dialaminya. Ibu Fatimah hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, dia tahu posisi putranya yang bak makan buah simalakama. Dia harus memilih antara bakti dan cinta.
"Akhtar mendongak, menatap lekat wajah sang ibu yang selalu meneduhkan hatinya. Matanya yang tiba-tiba berembun tak mampu lagi menahan desakan air mata yang akhirnya keluar begitu saja.
"Hiks....." Akhtar tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya, dia menangis tersedu di pangkuan sang Ibu.
"Tidak selalu musuh datang dari arah berlawanan. Kadang dari sini" Bu Fatimah menepuk bahu Akhtar.
"Ruang terdekat, berjarak antara logika dan hati. Namanya ego, ekspektasi dan emosi. Kamu harus mampu mengendalikan tiga hal itu, Nak. Jangan sampai mereka yang mengendalikan dirimu" lanjut Bu Fatimah.
"Ikhlaskan, Nak. Kalau selama ini kamu bisa mencintainya dengan tulus, maka kamu pasti bisa melepasnya dengan ikhlas. Biarkan takdir berjalan sesuai kehendak-Nya. Tetaplah berprasangka baik pada apa pun yang terjadi, pada siapa pun yang datang dan pergi. Jangan menyimpan dendam dan marah pada keadaan, percayalah bahwa setiap ujian yang datang hadir untuk menguatkan. Mulai hari ini, bersiaplah untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kita tidak tahu jika pada apa yang tidak kita sukai mungkin Allah menyimpan kebaikan yang begitu besar." pungkas Bu Fatimah.
__ADS_1
Akhtar mendengar nasehat ibunya dengan baik, semuanya tidak mudah. Tapi ibunya benar, dia tidak boleh larut pada keadaan ini.
"Ya Allah, mulai hari ini izinkan aku melambaikan tangan pada perasaan yang tak mungkin lagi terbalas. Hari ini perkenankan aku merawat hati atas luka yang baru saja tergores. Biarkan aku berbalik arah dari perjalanan rindu yang tak juga berujung temu. Aku tahu ini tidak mudah, namun ku mohon Yaa Rabb, izinkan aku pamit dari drama melelahkan ini", Akhtar bermonolog dalam hatinya.