Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Kabar Bahagia


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.....


Shanum sudah lebih nyaman menjalani hari-harinya di Bogor. Rutinitasnya kini sudah kembali normal, seperti sebelumnya dia selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan.


Sekarang, selain mengajar di taman kanak-kanak bersama sang ibu Shanum pun mengajar mengaji anak-anak di madrasah menggantikan bapaknya. Sejak Shanum kembali ke Bogor bapaknya memilih menyibukkan dirinya dengan hal lain dan membiarkan sang putri sulung yang bertugas menggantikannya.


Shanum juga aktif membersamai remaja-remaja mesjid di lingkungannya. Dia menjadi motivator sekaligus tutor mereka dalam melakukan berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.


Keberadaan Shanum di sana memberikan efek positif yang disambut baik oleh tokoh masyarakat dan pemerintahan setempat. Tak jarang dia pun sering di undang oleh pemerintah desa untuk memberikan kajian-kajian tentang pendidikan dan perempuan bagi masyarakat di desanya.


Bapak dan Ibunya lega, meskipun kini Shanum sudah tidak bekerja lagi di kota dengan gaji yang besar, tetapi dia tetap bisa produktif menebar kebermanfaatan dirinya bagi orang lain dan lingkungannya.


Sore itu Shanum baru saja pulang dari madrasah. Dia mendengar suara gaduh di ruang tengah rumahnya. Shanum pun segera masuk ke dalam rumah karena penasaran dengan keributan itu.


"Assalamu'alaikum" ucapnya saat memasuki rumah.


"Teteeehhh..." kedatangan Shanum di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah disambut dengan teriakan Farida yang juga baru saja tiba di sana.


Shanum pun tersenyum bahagia, dia merentangkan kedua tangannya menyambut sang adik yang berhambur ke pelukannya.


"Dek....hati-hati!" Adam suami Farida memperingatkan istrinya karena melihat Farida berlari, kini ada sesuatu yang harus dijaga oleh dirinya.


Istrinya itu sepertinya lupa tujuan utama kedatangan mereka ke rumah ini yaitu untuk menyampaikan berita bahagia.


"Teteh, Rida kangen" Farida memeluk erat Shanum, sudah tiga bulan lebih mereka memang tidak bertatap muka. Komunikasi mereka selama ini hanya melalui telepon dan video call.


"Eummhh....Teteh juga" Shanum pun memeluk erat sang adik.


"Dek..." Adam memanggil istrinya.


"Ehh....iya Abang" Rida hanya nyengir mengurai pelukannya dengan Shanum.


"Kenapa?" tanya Shanum heran.


"Tetehnya ajak duduk dulu Dek, kasihan cape baru pulang" Adam kembali mengingatkan.


Dia tahu jika istrinya itu sangat menyayangi dan selalu membanggakan Kakaknya. Sering Rida bercerita bahwa dirinya sangat beruntung memiliki kakak perempuan seperti Shanum. Dia selalu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya dan selalu menjadi anak yang bisa diandalkan dan membanggakan seluruh keluarga.


"Iya..iya.." Rida menggandeng tangan Shanum dan mengajaknya duduk lesehan bersama Bapak, Ibu, adik dan suaminya.


"Kapan kalian datang?" Shanum bertanya saat Adam menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


Tidak berubah sejak pertama bertemu dengan kakak iparnya hingga saat ini, Shanum hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada ketika bersalaman. Adam pun mengerti.


"Baru saja, Teh. Kita sengaja datang sore, besok pagi Rida mau jalan-jalan ke perkebunan katanya." jawab Adam.


Rumah peninggalan Kakek dan Nenek Shanum yang kini ditempati keluarga mereka memang dekat area perkebunan teh di Bogor. Sangat pas jika pagi-pagi berjalan-jalan ke area perkebunan, selain udaranya yang sejuk di sana juga kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.


"Iya Teh, aku ngidam pingin jalan-jalan ke perkebunan bareng Teteh", Rida menimpali penjelasan suaminya.


Sejenak suasana hening, namun sedetik kemudian suasana berubah riuh.


"Hah.......ngidam? Shanum dan anggota keluarga yang lain pun memastikan kembali pernyataan Rida yang mengaku ngidam ingin jalan-jalan pagi ke perkebunan.


"Iya Bu, Alhamdulillah kami akhirnya dipercaya untuk memiliki momongan. Dek Rida sekarang sedang mengandung, usia kandungannya sekarang baru dua bulan." Adam menjawab keterkejutan mereka dengan kabar kehamilan Rida.


Shanum yang mendengar berita bahagia itu pun berteriak senang.


"Aaaaaaa......Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah mau jadi ibu, Dek" Shanum kembali memeluk adik tercintanya. Dia turut merasakan kebahagiaan sepasang pengantin yang masih baru itu. Shanum melepas pelukannya dan mengusap perut sang adik sambil mendo'akannya.


"Semoga Allah mudahkan semua proses kehamilan dan melahirkan nanti ya..., jadi anak shaleh, berilmu dan penuh bakti ya Nak.." do'a Shanum tulus untuk adik dan calon keponakannya.


Bapak dan Ibu pun tak kalah bahagia mendengar mereka akan mendapatkan anggota keluarga baru. Mendapatkan cucu akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kedua orang tua. Menjadi calon kakek dan nenek membuat mereka sangat bahagia dan bersyukur mendapatkan kesempatan itu.


Namun, senyum bahagia ibu tiba-tiba terhenti. Dia menatap Shanum dalam, merasa iba dengan nasib anak sulungnya yang hingga saat ini belum juga bertemu jodohnya. Bapak yang melihat dengan jelas perubahan ekspresi wajah ibu pun mencolek lengan istrinya itu. Dia menggelengkan kepala saat sang istri menoleh, memberi kode agar jangan menunjukkan raut wajah seperti itu di hadapan anak-anaknya.


"Mulai sekarang Adek dan Abang harus semakin rajin belajar, banyak menuntut ilmu untuk bekal dalam mendidik anak. Seorang ibu harus memiliki pengetahuan yang memadai dan luas untuk memintarkan keluarganya. Dengan demikian proses pembelajaran anak-anaknya bisa berjalan dengan baik begitu pun dengan seorang ayah",


"Kewajiban mendidik anak itu bukan saat dirinya sudah memasuki usia sekolah. Tetapi pendidikan terhadap anak harus dimulai sejak dalam buaian. Bahkan sebagian keterangan menyarankan untuk dapat memiliki anak yang shaleh, shalehah harus dimulai dari tahapan pencarian pasangan."


"Seorang istri atau ibu memiliki peranan yang sangat strategis dalam keluarganya, karena perempuan atau ibu adalah madrasatul ula yaitu sekolah pertama untuk anak-anaknya. Maka dia harus memiliki ilmu yang mumpuni untuk dapat mendidik anak-anaknya dengan baik."


"Adek sudah bapak dan ibu sekolahkan, sudah dibekali dengan ilmu agama Insyaa Allah, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Adek mengamalkan ilmu yang Adek miliki di rumah dalam rumah tangga Adek sendiri. Bukan hanya untuk bekerja dan mendapat gaji yang besar. Tetapi dahulukan keluarga sebagai pihak yang paling pertama menerima kebermanfaatan kita. Karena karya terbaik dari seorang wanita adalah adab dan akhlak mulia anak-anaknya."


"Pada saatnya kelak kita akan ditanya tentang apa yang sudah kita wariskan kepada anak-anak kita? namun bukan tentang apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu melainkan apa yang kita tinggalnya dalam diri anak-anak kita."


"Anak itu adalah cerminan kita, cerminan dari cara mendidik kita. Sehingga kalau kelak perilaku anak banyak yang bermasalah, ya...berarti ada yang salah dengan cara mendidik kita."


"Orang tua yang shaleh, ketaatannya ditiru oleh anak karena seorang anak belajar dari apa yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakan. Anak adalah si peniru ulung. Mereka melihat dan merekam semua kejadian yang ada di sekitarnya."


"Jika ingin mempunyai anak yang baik dan penuh kasih, mulailah dengan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik dan penuh kasih. Semoga Allah membimbing Adek dan Abang dalam menjalankan amanah mulia ini"


Pak Imran memberikan nasehat panjang lebar untuk putri kedua dan suaminya. Semua orang pun tampak mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


Kebersamaan mereka sore itu terhenti saat adzan maghrib berkumandang. Semua anggota keluarga bersiap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib. Pak Imran, Adam dan juga Fauzan bersiap untuk pergi ke mesjid. Sementara Shanum dengan ibu dan adiknya memilih melaksanakan shalat berjamaah di rumah.


***


Pagi pun menjelang, sang raja siang masih tampak malu-malu menunjukkan dirinya. Setelah shalat subuh dan tadarus Shanum segera menyiapkan dirinya untuk mengantar sang adik jalan-jalan pagi ke perkebunan.


Shanum keluar dari kamarnya dengan pakaian olah raga lengkap. Melewati dapur untuk mengambil sepatu, Shanum melihat sang Ibu sudah sibuk dengan urusan dapurnya. Dia pun menghentikan langkah dan mendekati ibunya.


"Ibu lagi masak apa?" tanya Shanum penasaran.


"Ibu bikin pisang goreng. Semalam Adekmu ngigau mau makan pisang goreng buatan ibu pas bangun tidur katanya...hhe..." Ibu terkekeh saat mengatakannya, merasa lucu dengan kelakuan putri keduanya yang tengah hamil muda itu.


"Ngigau?" tanya Shanum merasa lucu.


"Iya", jawab ibu, mereka kembali tertawa dengan kelakuan aneh Rida.


"Sekarang Adeknya mana Bu?" tanya Shanum sambil mengambil satu pisang goreng dari atas piring yang disajikan ibunya.


"Dia masih di kamarnya" jawab ibu tanpa menoleh, dia fokus dengan masakan pisang gorengnya. Shanum pun asik menikmati goreng pisang spesial buatan sang ibu yang tiada duanya menurut Shanum.


"Ayo, Teh" Rida tiba-tiba datang dengan penampilan yang sudah siap untuk jalan-jalan pagi.


Melihat Shanum yang masih asik dengan sarapan pisang gorengnya, dia pun duduk di samping Shanum dan ikut menikmati pisang goreng buatan sang ibu dengan lahapnya karena sejak semalam berasa sudah seperti ada di tenggorokannya. Shanum pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan ibu hamil yang ada di hadapannya.


***


Hamparan kebun teh yang tampak berwarna hijau menjadi pemandangan indah yang memanjakan mata mereka pagi ini. Udara sejuk nan bersih memenuhi setiap rongga paru-paru mereka.


Shanum dan adik-adiknya ditambah kehadiran adik ipar berjalan menyusuri jalanan di area perkebunan yang tampak masih sepi. Mereka menuju dataran yang lebih tinggi agar dapat menikmati matahari terbit.


Fauzan sudah siaga dengan kamera gawainya mengabadikan setiap momen jalan-jalan pagi mereka. Sudah lama hal seperti ini tidak mereka lakukan. Semenjak Shanum sibuk dengan pekerjaannya di Bandung menyebabkan dia jarang pulang, seiring itu pula kebersamaan mereka menjadi berkurang.


Termasuk agenda jalan-jalan pagi yang biasa mereka bertiga lakukan di kala akhir pekan sudah lama tidak terrealisasi sejak beberapa bulan yang lalu. Dan setelah sekian purnama, hari ini mereka kembali merasakan kebahagiaan dengan kebersamaan mereka saat ini.


Fauzan tampak sibuk mengabadikan Kakak kedua dan suaminya yang berfoto dengan berbagai gaya. Setelah puas berjalan-jalan mereka memutuskan berfoto sebelum pulang.


Shanum yang berdiri sedikit jauh dari mereka hanya memandangi mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Sungguh hatinya menghangat, merasa tenang melihat kebahagiaan Farida adiknya. Adam suami Farida terlihat begitu sangat mencintai dan menyayangi adiknya. Dia lega bisa melihat sang adik sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Harusnya kitalah yang sedang berfoto seperti itu"


Suara seseorang yang tak asing di telinga Shanum tiba-tiba mengagetkannya. Shanum pun menoleh ke arah sumber suara itu.

__ADS_1


Deg.......seseorang yang sejujurnya dia rindukan sedang berdiri tepat di hadapannya. Setelah pertemuan terakhir mereka sekitar tiga bulan yang lalu, mereka tidak pernah lagi terlibat komunikasi apapun.


__ADS_2