
Perjalanan Bandung Pangandaran dimulai tepat pukul 10 malam. Bis melaju menuju jalan tol. Sepanjang perjalanan dilalui dengan keadaan ramai lancar karena waktu memang belum terlalu malam.
Jalur Cileunyi-Rancaekek-Nagrek dilalui dengan sangat lancar dan juga didukung oleh kondisi cuaca yang sangat dingin. Sebagian penumpang tampak sudah mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Tapi tidak dengan Akhtar dia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya traveling memikirkan Shanum yang berada satu bis dengan Ahsan. Disampingnya tampak Rania pun sudah berada di alam mimpi.
Pandangan Akhtar menyapu keberadaan semua penumpang, ketika kondisi dirasa sudah kondusif Akhtar diam-diam berdiri dari tempat duduknya, dia menyusuri lorong bis untuk mencari keberadaan Andi. Panitia yang bertanggung jawab di Bis 1.
"Pak..Pak Andi", panggil Akhtar berbisik membangunkan Andi yang baru saja hendak memejamkan mata.
"Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?" jawab Andi agak keras karena kaget Akhtar membangunkannya.
"Ssstttt....", Akhtar menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi kode kepada Andi agar tidak terlalu keras berbicara.
"Tolong kamu cek di bis 2 masih ada kursi kosong tidak?", tanyanya pada Andi.
"Kenapa Pak? " tanya Andi heran.
"Saya mau pindah ke bis 2, tolong kamu kondisikan", bisiknya mendekat ke telinga Andi.
Andi pun segera menelepon panitia yang bertugas di bis 2 untuk memastikannya.
"Ada Pak katanya di Bis 2 masih ada beberapa kursi yang kosong", jelasnya pada Akhtar dengan berbisik juga.
"Baguslah kalau begitu, tolong kamu atur kepindahan saya ke bis 2 tapi jangan sampai ada yang tahu bisa kan?" tanya Akhtar memastikan.
"Iya Pak", Andi hanya mengangguk heran tanpa berani bertanya apa alasan ketua yayasannya itu mau pindah.
"Pak, kalau sekarang sepertinya belum bisa pindah, paling nanti pas kita berhenti di rest area baru Bapak bisa pindah", Andi kembali berbisik di telinga Akhtar.
"Oke, tolong kamu atur ya!", jawab Akhtar. Dia berlalu kembali ke tempat duduknya setelah menepuk bahu Andi.
Lepas dari Nagrek, perjalanan selanjutnya disambut dengan kelak-kelok khas jalur selatan di daerah Limbangan sampai Malangbong. Kondisi jalan cukup lancar, dengan sesekali harus melambat karena truk-truk pengangkut logistik yang berjalan dengan sangat pelan.
__ADS_1
Perjalanan Bandung Pangandaran masih panjang, panitia memutuskan untuk beristirahat di SPBU Daerah Malangbong. Ini adalah kesempatan Akhtar untuk pindah bis. Sebelumnya dia menghubungi sang adik bungsunya Naura agar menempati tempat duduknya. Tanpa banyak tanya Naura pun menuruti perintah sang kakak.
Beberapa orang memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke toilet atau sekedar merokok bagi para pria. Setelah beristirahat kurang lebih 15 menit, mereka melanjutkan perjalanan.
Ruas jalan berikutnya yaitu Malangbong -Tasik kembali mereka lalui dengan sangat lancar. Kombinasi aspal yang mulus, tikungan-tikungan lembut serta trek-trek lurus yang lumayan panjang benar-benar memanjakan Pak Sopir dalam memacu kendaraannya.
Akhtar sudah berada di bis 2, posisinya kini berada di deretan jok belakang yang tampak masih kosong. Belum ada yang menyadari keberadaan Akhtar di sana. Dia duduk dengan santai, memakai penutup kepala dari jaket hoodienya tanpa ada orang yang curiga.
Setelah kendaraan melaju cukup lama, keadaan bis 2 kembali sepi. Para penumpang sudah kembali mulai terlelap. Akhtar lagi-lagi belum dapat memejamkan matanya. Dia berdiri dari tempat duduknya mencari-cari keberadaan seseorang yang sejak tadi dikhawatirkannya.
Setelah memindai semua tempat duduk dari depan sampai belakang, Akhtar belum juga menemukan yang dia cari tapi dia sedikit tenang karena dari depan terdengar suara Ahsan memberi pengumuman dan tampak duduk berdampingan dengan seorang laki-laki.
Dia bernapas lega setidaknya Shanum tidak duduk berdampingan bersama Ahsan. Pandangan Akhtar kembali menyapu semua tempat duduk, dia menoleh ke samping. Dua jok di sebrang tempat duduknya yang tadinya kosong kini sudah diduduki seseorang. Akhtar tidak menyadari sedari tadi seseorang itu memperhatikannya dengan curiga.
Saat Akhtar menoleh pandangan mereka bertemu.
Deg....kedua orang itu pun saling pandang dan sejenak mengunci pandangan mereka. Akhtar membuka topi hoodienya untuk memastikan bahwa yang di depannya adalah Shanum.
Shanum kaget saat tahu bahwa kecurigaannya benar. Orang yang sejak tadi dia awasi dan curigai ternyata memang Akhtar.
Shanum mendelik, walaupun pencahayaan di bis hanya temaram tapi Shanum melihat apa yang dilakukan Akhtar. Dia kembali ke posisinya semula, berusaha tidak menghiraukan Akhtar yang kembali duduk di kursinya.
Akhtar bernapas lega karena orang yang sejak tadi dia cari duduk sendiri dan ada di sampingnya walaupun berjarak. Akhtar tersenyum senang, semua kekhawatirannya tidak terjadi.
Jalur berikutnya yang akan dilalui yaitu Tasikmalaya-Ciamis. Bis melaju dengan kecepatan meningkat dari sebelumnya. Kondisi jalanan yang lenggang memacu Pak Sopir melajukan kendaraannya lebih cepat.
Suasana di dalam bis semakin hening, semua penumpang tampaknya sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing. Akhtar melirik ke samping, Shanum duduk di kursi dekat jendela.
Melihat kursi di sebelah Shanum kosong Akhtar berpikir mungkin ini kesempatannya untuk bisa berbicara berdua dengan Shanum. Tanpa berpikir lagi, Akhtar melangkahkan kakinya menghampiri Shanum dan duduk di sampingnya.
Shanum yang sedari tadi memejamkan matanya terusik saat tahu seseorang duduk di sampingnya. Dia membuka mata dan menoleh ke samping, terlihat Akhtar sudah duduk di sampingnya.
"Pak Akhtar?" ucap Shanum gugup.
__ADS_1
"Bisakah aku mendengar kembali kamu. memanggilku seperti dulu?" tanya Akhtar pelan tapi masih terdengar oleh Shanum.
"Tidak", jawab Shanum tegas.
"Kenapa?"
"Karena ternyata saat kita dipertemukan kembali semua sudah tidak sama", Shanum menjawab dengan suara yang sedikit bergetar. Sungguh dia tidak menyangka akan berada di situasi seperti ini.
"Siapa bilang tidak sama, Num?" Akhtar berbicara dengan pandangan lurus ke depan.
"Semuanya masih sama, di hati dan pikiranku selalu ada kamu. Duniaku masih tentang kamu, Num", ucap Akhtar yang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaannya selama ini.
"Semua tentangmu tidak pernah hilang, aku tidak pernah mengalihkan duniaku darimu. Selama ini semua yang kulakukan adalah tertuju padamu. Sampai suatu hari aku mengetahui sebuah kenyataan yang kebenarannya tidak aku pastikan terlebih dahulu dan ternyata aku salah."
"Saat aku kembali, tujuan utamaku adalah kamu Num, aku kembali ke Garut untuk memastikan keadaanmu. Aku mendapat informasi dari Andi sahabatku waktu di asrama kalau kamu sudah menikah dengan seorang pegawai pemerintah di Bogor. Kamu tahu Num, seketika duniaku seperti runtuh. Semua yang aku rencanakan pupus, ekspektasiku tidak sesuai dengan realita. Aku tidak bisa berpikir jernih hingga mengabaikan kebenaran informasi itu dan akhirnya aku menyesal", Tutur Akhtar dengan suara bergetar. Ada tangis yang berusaha dia tahan, walaupun pada akhirnya tetesan air mata tak mampu lagi dia bendung.
"Kenyataan yang kuterima telah mengubah hari-hariku. Aku seperti tidak punya tujuan menjalani hidup ini. Ayah khawatir melihat keadaanku, dia dan keluarganya memutuskan untuk menjodohkanku dengan Raina" Akhtar menjeda ucapannya.
"Maafkan aku, Shanum. Maaf jika aku tetap tidak bisa menghilangkan semua tentangmu dan maaf jika aku kembali egois, tidak bisa menghapus rasa kepemilikanku akan dirimu".
Shanum menghela napasnya mendengar penuturan Akhtar, dia pun akhirnya membuka suara.
"Ya, semua perasaan itu memang tidak hilang, masih ada hanya saja tidak lagi bersama", ujar Shanum lirih, dia menundukkan kepala saat mengatakannya.
Akhtar pun menghela napasnya, saat ini ingin sekali dia memeluk Shanum, membawanya ke dalam dekapannya dan meyakinkan Shanum bahwa semua akan baik-baik saja, dia akan memperjuangkan cintanya.
"Sudahlah A, Aa jangan begini. Ini salah, kita tidak boleh larut dalam masa lalu yang tak mungkin kembali. Aku sudah ikhlas, mari kita menjalani hidup kita masing-masing. Berjalan di jalan yang sama dengan tujuan yang berbeda dan tidak akan pernah ada persimpangan yang akan mempertemukan kita lagi", ada isak kecil yang Shanum tahan saat mengatakan semua itu.
Akhtar yang mendengar Shanum menyebutnya dengan panggilan seperti dulu tersenyum tipis, hatinya menghangat, dia sangat merindukan panggilan itu.
"Ikhlas itu bohong, rela juga terpaksa. Hanya saja kamu tidak ingin terlihat lemah, lantas berpura-pura kuat, padahal hatimu sangat terluka",
"Membumikan ikhtiyar dan melangitkan do'a adalah tugas kita. Selanjutnya biarlah Kun Fayakun-Nya yang bekerja. Jika memang takdirnya, jika memang waktunya Allah akan memberikan dan menjadikan kamu untukku, Num".
__ADS_1
"Kamu perbaiki dirimu di sana, dan aku perbaiki diriku di sini. Kita akan bertemu pada titik terbaik menurut takdir dan aku percaya selama Allah yang menjadi pengharapan tidak akan ada do'a yang sia-sia. Sampai jumpa di titik terbaik itu ya." Akhtar mengakhiri ucapannya, tangan kanannya terulur mengusap pucuk kepala Shanum yang tertutup hijab seakan sedang mengalirkan cinta dan kasih sayangnya untuk Shanum. Dia berdiri dan kembali ke tempat duduknya semula.
Shanum mematung menerima perlakuan Akhtar, dia meresapi setiap kata-kata yang Akhtar ucapkan, sungguh terdengar ambigu untuknya.