Senja Di Ujung Harap

Senja Di Ujung Harap
Ekstra Part 25 : Di Bawah Langit Jingga


__ADS_3

Hari yang dinanti Liani pun akhirnya tiba, esok dia akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.


"Assalamu'alaikum" sapa Liani saat menerima panggilan di layar pipihnya dari kontak yang dia namai Neng Zahra alias Shanum. Sejak Shanum tinggal di Garut Liani lebih nyaman memanggilnya Neng mengikuti bibi dan paman Shanum di sana yang memanggilnya begitu.


"Apa? benarkah?" tanya Liani kaget namun senyum mengembang di bibirnya saat mendengar jika sahabatnya akan mengantarnya sampai ke bandara esok hari.


"Tapi kamu sehatkan? jangan memaksakan, aku gak mau kamu sakit lagi" ucap Liani lagi di ujung gawai, mengungkapkan kekhawatiranya pada Shanum.


"Apa? serius sudah di Bandung?" ucapnya dengan binar bahagia di matanya,


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok pagi bestie....I love you segurun sahara deh pokoknya" pungkas Liani mengakhiri sambungan teleponnya dengan Shanum. Liani senang akhirnya dia akan diantar oleh sahabatnya itu ke bandara.


Liani melipat mukena yang baru saja digunakannya untuk shalat ashar, di rumah dinas yayasan tempatnya mengabdi, mengamalkan ilmu dan bekerja, dirinya kini berdiri. Menatap setiap sudut rumah yang baginya penuh kenangan.


Dia pun beralih membuka pintu belakang rumah dinas itu yang langsung berhadapan dengan pesawahan yang terlihat luas walaupun sedikit terhalang oleh tembok kawat yang mengitari komplek yayasan itu. Liani duduk seorang diri, menatap langit yang sudah terlihat berubah warna menjadi jingga pertanda senja akan segera menyapa.


Tess......tiba-tiba air matanya menetes begitu saja saat teringat sosok yang selama ini berhasil menempati hatinya. Bukan hanya pelajaran dan pengalaman yang didapatkan di rumah dan yayasan ini. Di tempat ini pula dirinya mengenal cinta, merasakan indahnya jatuh hati dan merasa istimewa, walau akhirnya cintanya harus selesai tanpa ada kata mulai dan usai.


Liani membuka galeri di gawainya, dia menatap sebuah foto lelaki berperawakan tinggi dengan bahu yang lebar dan dada yang bidang. Foto yang hanya terlihat lelaki itu dari belakang, Liani memotretnya secara diam-diam.


Muhammad Ahsanu Amala, laki-laki yang telah berhasil membuat hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya hingga saat ini dia pun merasakan hatinya hancur sehancur-hancurnya.


Sejak beberapa bulan yang lalu Liani mengajukan surat pengunduran dirinya ke pihak yayasan melalui Pak Arif, kepala sekolah tempatnya mengajar. Liani memang mengatakan supaya Ahsan yang saat ini menjabat sebagai ketua yayasan jangan dulu mengetahui perihal pengunduran dirinya, karena takut melarangnya yang mengundurkan diri di tengah tahun ajaran.


Sayangnya ketakutan itu berbanding terbalik dengan keinginan hatinya yang sejujurnya berharap Ahsan mengetahui rencana kepergiannya dan mencegahnya.


Namun sayang rupanya permintaan Liani pada Pak Arif terkabul, hingga setelah berbulan-bulan berlalu dan saat ini tinggal menunggu hitungan jam untuk kepergiannya laki-laki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya untuk datang mencegah kepergiannya. Bahkan beberapa kali momen pertemuan mereka terjadi, Ahsan tidak pernah membahas tentang surat pengunduran dirinya.


Liani menarik nafas dalam, menghilangkan semua sesak yang ada di dadanya. Berharap dengan cara itu semua hal yang menyesakkan itu hilang tanpa jejak. Dia membuka sebuah buku kecil yang selalu menemaninya di kala sendiri, buku tempat Liani mencurahkan semua hal yang dialaminya sebagai refleksi diri.


Dear Kak Ahsan.....


"Kak Ahsan, bagaimana aku bisa mengatakan telah kehilanganmu, sementara aku tidak pernah memiliki dirimu" Liani mengawali coretannya dengan kalimat itu, menatap buku diary yang biasa digunakan untuknya menumpahkan segala rasa di hati.


"Kak Ahsan, kamu tahu siapa orang yang paling jahat padaku? dia adalah orang yang datang dalam hidupku, menawarkan kebahagiaan dan seolah akan mewujudkan semua mimpi tidak terucap yang ku punya, namun kemudian dia pergi begitu saja"


"Dan kamu tahu seberapa terlukanya aku? ya...aku yang paling terluka, karena telah menggantungkan harapan kepada manusia, yaitu pada dirimu. Padahal aku tahu betul hanya kecewa yang akan didapat tatkala berharap pada manusia, astaghfirullah..."

__ADS_1


"Hingga akhirnya aku pun menyerah dan memilih pergi, Kak" ada isak tangis saat dirinya menuliskan setiap kalimat itu pada buku diary nya.


"Namun aku pergi bukan berarti aku tidak peduli lagi, aku hanya sekedar sadar diri, jika kepergianku sedikit menyadarkanmu bahwa aku tidak selamanya ada untukmu jikalau kamu tidak bisa menghargai keberadaanku"


"Dalam keindahan senja, aku menaruh harapan, semoga semua tentangmu akan gugur dan terlupakan. Selamat tinggal Muhammad Ahsanu Amala"


Liani menutup buku diarinya, dia mendongakkan kepalanya menatap langit senja berwarna jingga itu.


"Yaa Rabb, ridhoilah langkahku. Semoga Engkau bahagiakan setiap hati yang di dalamnya ada perasaan yang tak mampu dipikulnya dan tidak bisa dijelaskan pada siapapun " ucapnya lirih,


☘️☘️☘️


Sementara di sebuah kamar hotel yang cukup mewah, sepasang suami istri tengah berdiri di balkon kamarnya yang berada di lantai sepuluh. Dari sana terlihat jelas pemandangan kota Bandung di sore hari, hari yang cerah membuat langit yang biru itu kini mulai berubah warna menjadi jingga.


Akhtar mengeratkan pelukannya di perut sang istri, posisinya kini sedang memeluk Shanum dari belakang.


"Masih sakit sayang?" Akhtar mengusap pelan perut Shanum bekas operasi caesar baby twins, dia menempelkan dagunya di bahu sang istri yang terhalang hijabnya yang lebar.


Shanum tersenyum mendengar pertanyaan suaminya. Dia menahan tangan Akhtar yang masih mengelus perutnya.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, sepertinya penyembuh jitu untukku adalah pelukan dan usapan Aa" kelakar Shanum diakhiri dengan gelak tanpa suara, membuat Akhtar gemas dan mencubit ujung hidung Shanum.


Semenjak pulang dari rumah sakit dan Shanum dinyatakan benar-benar sudah sehat Akhtar tidak pernah membiarkan istrinya itu melakukan pekerjaan apapun. Dia tidak pernah beranjak jauh dari sisi istrinya itu, memastikan semua keperluannya terpenuhi. Pengalaman beberapa waktu lalu membuatnya bertekad untuk tidak akan meninggalkan sang istri di saat-saat pentingnya.


Masa menyusui adalah masa yang tidak kalah penting untuk seorang ibu. Pada masa ini harus dipastikan si ibu benar-benar sehat dan terjaga kebutuhan lahir dan batinnya karena setiap air susu yang diberikan pada sang bayi akan memberikan pengaruh besar pada tumbuh kembang sang anak.


Di fase ini Akhtar ingin memastikan agar Shanum selalu bahagia menjalani hari-harinya sebagai ibu muda, apalagi dirinya tahu betul kerepotan sang istri di kala menyusui baby twins.


Beberapa buku dan artikel terkait hal yang bisa dilakukan seorang suami untuk mendukung istrinya di masa menyusui ini sudah banyak Akhtar baca, dia ingin menjadi suami dan ayah siaga. Lelaki yang selalu bisa diandalkan untuk keluarga kecilnya. Akhtar ingin memberi kenangan pada anak-anaknya kelak bahwa dirinya turut berperan dalam setiap tumbuh kembang anak-anaknya.


Awalnya Akhtar tidak mengizinkan Shanum untuk pergi mengantarkan sahabatnya itu ke bandara, tapi Shanum meyakinkannya jika keadaannya baik-baik saja. Ini akan menjadi kebersamaan terakhir Shanum dengan Liani sebelum kepergiannya melanjutkan studi ke luar negeri.


Shanum tahu kepergian Liani sebenarnya adalah untuk menghindar, mencintai namun tak dicintai itu sakitnya luar biasa, Shanum tahu keadaan sahabatnya itu tidak baik-baik saja. Makanya dia ingin hadir dan ada untuk sahabatnya di saat kepergiannya.


Dan di sinilah mereka berada, hotel yang sudah disiapkan Ghifar dengan segala fasilitasnya membuat Shanum berdecak kagum, sementara dua bayinya saat ini sedang bersama Bu Fatimah dan Bu Hana yang sengaja ikut untuk mengantar kepergian sahabat anaknya yang sudah dianggap seperti anak sendiri.


"Aa, menyiapkan semuanya?" tanya Shanum melanjutkan pembicaraan,

__ADS_1


"Tidak, Ghifar yang menyiapkan semuanya" jawab Akhtar jujur, setelah mengetahui keinginan sang istri untuk mengantar sahabatnya, Akhtar berinisiatif untuk sekalian refreshing membawa Shanum dan anak-anaknya dengan menikmati Bandung beberapa hari untuk pertama kalinya,


Keikutsertaan Bu Fatimah dan Bu Hana disambut baik oleh Akhtar dan Shanum. Mereka yang awalnya hanya akan pergi berempat kini lebih ramai dan kedua nenek itu pun sengaja memboikot kedua cucunya memberi waktu untuk pasangan orang tua baru itu untuk berduaan setelah banyak hal yang mereka lewati, sesuai tujuan awal ikutnya mereka.


Stok ASI yang sudah disiapkan Shanum cukup banyak, hal itu membuat kedua nenek itu anteng membawa kedua cucunya.


"Aa, anak-anak bagaimana? kenapa mereka belum ke sini" tanya Shanum yang tidak tahu rencana kedua nenek muda itu yang sengaja ikut untuk menjaga cucu-cucunya agar Shanum dan Akhtar bisa menikmati waktu berdua selama di Bandung. Shanum berbalik menghadap suaminya yang masih melingkarkan tangan di pinggangnya dengan posesif.


"Biarkan mereka bersama nenek-neneknya. Kata ibu, beliau kangen dengan baby twins" jawab Akhtar menatap Shanum lekat penuh damba, selama ini Bu Fatimah memang tidak selalu bisa membersamai baby twins karena jarak dan kesibukan.


"Tapi...." ucapan Shanum terjeda, karena Akhtar dengan cepat membungkam bibir ranum itu dengan bibirnya.


Tak ada perlawanan, Shanum pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu, dia pun terbawa suasana, mengalungkan tangannya di leher Akhtar yang kemudian mengalihkan tangan kanannya ke tengkuk Shanum, di bawah langit jingga dua insan larut dalam kontak fisik yang halal wujud gairah cinta yang menggebu di hati masing-masing.


Keduanya begitu menikmati, terasa tenang dan nyaman karena berada dalam ikatan suci pernikahan. Ikatan yang mampu menjauhkan yang dekat dan menghalalkan yang haram.


"Terima kasih sayang, sudah bertahan di sisiku sampai saat ini. Untuk ke depannya, teruslah hanya melihatku dan mencintaiku. Karena aku akan melakukan hal yang sama, mencintaimu dengan seluruh hidupku. Aku ingin bersamamu menuju jannah-Nya" ucap Akhtar sesaat setelah melepas pagutannya,


Kening keduanya saling beradu dengan nafas yang masih saling memburu karena ciuman panjang yang baru saja usai.


Akhtar mengusap bibir Shanum dengan ibu jarinya, kembali mengecupnya kemudian mendekap wanita yang selalu ada di hatinya itu. Wanita yang menjadi cinta pertamanya, cinta monyet yang bermetamorfosa menjadi cinta sejati yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan, berharap ridho illahi di setiap rasa yang hakiki menuju keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, sehidup, sesurga.


"Terima kasih Aa atas limpahan cinta dan kasihmu untukku. Syukur dan do'a terbaik untukmu tak lelah kulangitkan. Mari selalu bersama, kita saling mencintai di kala dekat, saling menjaga kehormatan di kala jauh, saling menghibur di kala duka, saling mengingatkan di kala bahagia, saling mengingatkan di kala lupa, saling mendukung dalam kemajuan dan kebaikan, saling mendo'akan dalam kebaikan dan ketakwaan dan saling menyempurnakan dalam beribadah"


"Aa, aku mencintaimu karena Allah. Tetaplah menjadi putra terbaik untuk orang tua kita, menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kita dan menjadi suami terbaik untukku"


"Semoga setiap kekuranganku menjadi ladang pahala untukmu, dan kelebihanku menjadi sumber kebahagiaanmu, begitupun sebaliknya. Aa aku bangga dimilikimu"


Shanum menatap penuh cinta pada suaminya, berjinjit lalu mengecup bibir Akhtar yang tak mampu berucap mendengar semua kalimat yang diucapkan Shanum. Hanya air mata yang mewakili betapa dirinya bahagia dan bersyukur memiliki wanita di hadapannya saat ini.


"Sayang....." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Akhtar, dia memeluk erat tubuh sang istri dan dibalas tak kalah erat oleh Shanum.


Di ujung senja, di bawah langit jingga yang menjadi saksi ketulusan dua hati anak manusia yang saling mencintai karena Allah, mereka berjanji menjaga kekokohan ikatan suci, bersama meraih sesuatu yang akan mengangkat derajat di dunia dan menyelamatkan di akhirat.


Shanum Najua Azzahra


Akhtar Farzan Wijaya

__ADS_1


Selamat berbahagia selalu....


__ADS_2