
Perlahan Shanum beranjak meninggalkan adik ipar dan ibu mertuanya yang sedang terlelap. Dia sungkan untuk membangunkan kedua orang itu mengingat mereka baru saja terlelap. Shanum melangkah mencari mushala, masih ada waktu untuknya melaksanakan shalat tahajud.
Dia ingin menumpahkan semua kesedihannya pada Sang Khaliq di setiap sujudnya. Shanum menyadari tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa ketentuan yang sudah diatur olehNya.
"Ya Allah, saat aku harus memilih sesuatu, jadikanlah pilihanku itu adalah pilihan yang membawa kebaikan untukku. Satu minggu yang lalu, aku memantapkan diri memilihnya untuk menjadi imamku, Ya Rabb"
"Dia laki-laki yang baik, dia suami yang bertanggung jawab. Dia memperlakukanku dengan baik, dan membimbingku menjadi pribadi yang lebih baik. Dia anak yang berbakti pada orang tuanya, dia kakak yang baik, menjaga dan melindungi adiknya. Aku menjadi saksi atas segala kebaikan Baihaqi Abdillah suamiku, Ya Rabb. Kumohon kembalikanlah dia ke tengah-tengah kami, hiks ðŸ˜"
"Aku tahu Ya Rabb, tidak ada musibah yang tidak tertulis dalam takdirmu, semua sudah tercatat sesuai skenario-Mu. Berikan kami kekuatan hati untuk sabar dan ikhlas menerima setiap ketentuan-Mu. Kuatkan suamiku melewati semua ini, Ya Rabb"
"Ampuni kami Ya Allah, kami yakin bersama kesulitan akan ada kemudahan. Hidup ini bisa saja tertatih-tatih dan berliku-liku, tapi dia tidak akan berhenti. Cita dan asa bisa saja menjadi kabur, tapi dia tidak akan mati. Kesempatan bisa saja hilang tapi dia tidak akan habis. Dan betapapun terasa berat dan sempitnya keadaan kami saat ini, kami yakin pertolongan-Mu sangatlah dekat. Mudahkan suamiku melewati semua ini, Ya Rabb"
"Ya Allah, sepanjang apapun kelamnya malam, pasti akan disusul oleh kemunculan fajar sebagai permulaan terangnya kehidupan. Tidak ada yang sulit untuk-Mu Ya Rabb, Kun Fayakun-Mu yang selalu kami andalkan. Berilah kesembuhan untuk suamiku, Ya Rabb"
"Lancarkanlah ikhtiyar yang sedang kami bumikan Ya Rabb, dan kabulkanlah do'a-do'a yang kami langitkan. Hanya pada-Mu kami berserah, karena Engkaulah sebaik-baiknya tempat kembali"
"Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir. Cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami, Dia sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami. Aamiin"
Shanum mengakhiri rintihannya di penghujung malam seiring dengan terdengarnya kumandang adzan subuh. Dia pun segera melaksanakan shalat sunah qabla subuh dan dilanjutkan dengan shalat subuh.
Selesai berdzikir, Shanum segera kembali ke tempatnya semula. Di kursi tunggu depan ruang operasi itu masih duduk dua orang kesayangannya yang masih setia menunggu hasil operasi suaminya.
Perlahan Shanum membangunkan Hasna,
"Dek, bangun sudah subuh" Shanum menepuk bahu Hasna yang langsung terbangun dan mulai mengumpulkan kesadarannya.
"Jam berapa sekarang, Teh?" tanyanya pada Shanum. Dia meraba pangkuannya, sang ibu masih terlelap begitu damai di pangkuannya.
"Sudah hampir jam lima, shalat subuh dulu ya, biar teteh yang menunggu di sini" ucap Shanum pelan, namun ternyata perbincangan mereka membangunkan ibu mertuanya.
"Kalian sudah bangun? bagaimana keadaan Haqi?" Bu Ratna bangkit dan langsung menanyakan keadaan putranya.
"Belum ada kabar, Mi. Operasinya belum selesai" jawab Shanum lesu.
Di saat bersamaan pintu ruang operasi pun terbuka. Dokter yang menangani Haqi diikuti beberapa dokter lainnya keluar dari ruang operasi.
Serempak Shanum, Hasna dan Bu Ratna berdiri dan langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana dokter?" tanya Shanum tidak sabar.
"Operasinya sudah selesai, tapi suami ibu masih belum sadarkan diri. Saat ini kami akan memindahkannya ke ruang perawatan" jawab dokter itu.
"Maksudnya? jadi bagaimana keadaan suami saya sekarang, Dok?" Shanum merasa jawaban dokter itu tidak memuaskan, dia kembali menanyakan kejelasan tentang keadaan suaminya.
"Kami masih akan mengobservasinya. Operasi sudah dilakukan sesuai prosedur dan kita akan mengetahui hasilnya enam jam ke depan" jelas dokter yang masih membuat Shanum tidak puas namun dia pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan terus berdo'a.
Tidak menunggu waktu lama, Haqi pun di bawa keluar dari ruangan operasi. Berbagai macam alat menempel di tubuhnya. Beberapa perawat mendorong ranjang yang membawa tubuh Haqi menuju ruang perawatan.
"Boleh kami menemaninya?" tanya Shanum lirih, dia berjalan mengikuti kemana arah perawat-perawat itu membawa suaminya.
"Boleh, Bu. Setelah di ruang perawatan ibu dan keluarga bisa bergiliran menungguinya. Mudah-mudahan kehadiran ibu dan keluarga di dekatnya bisa mempercepat kesadaran pasien" ujar dokter yang membersamai perawat yang membawa Haqi ke ruang perawatan.
Shanum bernapas lega, setidaknya saat ini dia sudah bisa membersamai dan dekat dengan suaminya walaupun masih dalam keadaan belum sadarkan diri.
***
Sementara di Bandung...
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh para pemburu berita. Pernikahan Akbar yang akan menyatukan dua keluarga terpandang di Bandung akan segera dilangsungkan. Acara akad akan dilaksanakan pukul sembilan tepat di sebuah hotel mewah di Bandung. Semua adalah keinginan Raina, Akhtar tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu tentang konsep pernikahan seperti apa yang akan dilaksanakannya.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh, Akhtar masih berada di rumah dinasnya dengan memakai pakaian tidurnya. Dia berdiri menghadap jendela yang mengarah pada mentari yang sedang memancarkan sinarnya, memasuki kamarnya yang tampak masih berantakan.
Pikirannya melayang ke masa yang telah berlalu, bayangan-bayangan kebersamaannya dengan Shanum kembali berputar di ingatannya. Demi apapun, sangat sulit untuk Akhtar lepas dari bayangan-bayangan itu. Semakin dia berusaha sekuat hati ingin melupakannya, justru penyesalan semakin menyelimuti hatinya.
"Shanum...jika aku memilih melepaskanmu, percayalah aku sudah mematahkan seluruh hatiku. Aku sudah berdebat hebat dengan diriku sendiri. Aku sudah melangitkan jutaan do'a agar Allah menunjukkan jalan lain untuk kita selain perpisahan. Sebelum akhirnya aku terima takdir-Nya, bahwa memang satu-satunya cara adalah rela" Akhtar berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Shanum....aku akan menikah hari ini" ucapnya lirih, ada air mata yang menetes dari sudut matanya.
"Shanum...Shanum...Shanum Najua Azzahra..." bibirnya terus menyebut nama Shanum lirih, nada suaranya semakin merendah seiring dengan suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya.
Ceklek....
Suara pintu terbuka, tampak Bu Fatimah berdiri di ambang pintu. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Akhtar. Dia menggeleng-gelengkan kepala saat mendapati sang putra masih berpakaian yang sama saat menjelang tidur. Rambutnya bahkan acak-acakan menandakan bahwa dia baru saja bangun dari tidurnya.
Selepas shalat subuh tadi, Bu Fatimah memang melihat Akhtar bergegas kembali memasuki kamarnya.
"Bersiaplah, Nak. Sebentar lagi kita akan pergi ke hotel" ucap Bu Fatimah dengan penuh kelembutan.
"Ibu sudah bertemu Ayah?" Akhtar mengabaikan titah Bu Fatimah dan mengalihkan pembicaraan.
"Belum, kenapa?" tanya Bu Fatimah penasaran.
"Sebelum aku menjemput Ibu ke Garut, ayah bilang kalau dia ingin berbicara empat mata dengan ibu" jelas Akhtar pada Bu Fatimah
"Tentang apa?"
"Aku tidak tahu Bu, hanya yang pasti sepertinya ayah mau menjelaskan sesuatu pada ibu tentang sesuatu di masa lalu kalian mungkin" ujar Akhtar.
"Sudahlah, Nak. Perihal masa lalu Ibu dan Ayah, ibu rasa itu sudah tidak penting lagi saat ini. Semuanya sudah berlalu, Ibu tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik sekarang kamu bersiap, di luar sudah ada Ghifar menunggu kamu" terang Bu Fatimah memotong pembicaraan mereka tentang mantan suaminya.
"Ghifar?" tanya Akhtar heran, "dia bilang akan menjemputku pukul delapan tiga puluh, sekarang masih jam setengah delapan kurang. Ada apa dengannya?" Ahsan heran dengan kedatangan sahabat sekaligus asistennya itu.
"Sekarang dimana dia, Bu?"
"Dia sedang menikmati secangkir teh di twras belakang" jelas Bu Fatimah.
Akhtar pun segera keluar dari kamarnya dia tidak peduli dengan penampilannya. Bu Fatimah kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya itu.
"Bro..." sapa Akhtar saat mendapati Ghifar tengah duduk di teras sambil menikmati secangkir teh dan pisang goreng yang sudah disediakan Bu Fatimah.
"Kenapa Boss, semalam begadang ya? gak kuat nunggu hari ini ya?" goda Ghifar saat melihat Akhtar datang dengan penampilan dan ekspresi yang masih dalam mode bangun tidur.
"Isshhh....sialan Lo" semprot Akhtar, dia meninju bahu Ghifar yang tampak santai berbicara sambil terus menikmati pisang goreng buatan ibunya.
"Idih...marah, gak apa-apa kali Boss, kali-kali jujur. BTW, kawin kan emang dambaan setiap orang, eh kawin...nikah maksudnya, hehe..." Ghifar masih mengoceh menggoda Akhtar yang semakin kesal dibuatnya.
"Ada apa Lo tumben datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan?" tanya Akhtar mengalihkan pembicaraan mereka yang tidak berfaedah menurut Akhtar.
Ghifar menelan sisa pisang goreng yang ada di mulutnya, dia kemudian menyeruput teh hangat yang tepat berada di depannya.
Ghifar merogoh saku jas yang dikenakannya.
"Sorry Boss, bukan maksud gue buat menghalangi kebahagiaan Lo. Gue hanya gak mau Lo menyesal disaat semuanya sudah terlanjur" Ghifar mulai berbicara serius, dia menyerahkan amplof coklat yang ada di tangannya kepada Akhtar.
Akhtar menerima amplof itu dengan wajah yang datar. Perlahan dia membuka isi amplof itu dan melihatnya satu persatu.
"Darimana lo dapetin ini semua" tanyanya pada Ghifar.
"Orang kepercayaan kita yang semalam mengirimnya. Ada bukti yang lebih bisa dipercaya Boss, semua video-video sudah ada di memory card ini" Ghifar kembali menyerahkan bungkusan kecil yang berisi memory card.
"Ikut aku ke kamar!" titahnya pada Ghifar.
Akhtar berlalu dengan membawa amplof yang diserahkan Ghifar menuju ke kamarnya.
"Bu, aku ada sedikit pekerjaan yang harus segera selesai dengan Ghifar" Akhtar memberi tahu sang ibu pertanda jika dia tidak ingin diganggu.
"Baiklah, mudah-mudahan cepat selesai ya, sebentar lagi kita harus segera ke hotel" jawab Bu Fatimah mengingatkan Akhtar dan hanya dijawab anggukkan kepala olehnya.
Sesampainya di kamar, Akhtar menyuruh Ghifar untuk membuka memory card itu di laptopnya. Dia kembali mengeluarkan foto-foto itu dari amplof coklat, dia meremas amplof coklat yang masih berada di genggamannya. Wajahnya memerah, tangannya mengepal menahan amarah. Dia kembali melihat foto-foto itu kemudian dihempaskannya foto-foto itu ke lantai dengan keras.
"Boss..." Ghifar mengarahkan layar laptop menghadap Akhtar.
__ADS_1
Akhtar memutar video itu satu persatu. Banyak sekali video yang ada di memory card itu, namun saat video ketiga mulai diputer Akhtar segera memalingkan wajahnya.
"Sudah kamu amankan bukti-bukti ini?" tanyanya pada Ghifar.
"Sudah Boss"
"Aku titip ibu" Akhtar beranjak dari tempat duduknya, dia raih jaket hoodie yang menggantung di dekat pintu ke luar, dia mengambil kunci mobil dan berjalan menuju garasi tempat mobilnya terparkir.
"Boss, boss..." Ghifar berteriak memanggil Akhtar, namun diabaikan oleh Akhtar.
Dia menancap gas dan menjalankan mobilnya keluar dari garasi dengan kecepatan yang tinggi. Ghifar khawatir melihat cara Akhtar mengemudikan mobilnya.
"Bu, aku nyusul dulu Akhtar ya" pamit Ghifar pada Bu Fatimah.
"Memangnya dia kemana?" tanya Bu Fatimah khawatir.
"Aku enggak tahu Bu, tadi dia buru-buru. Sekarang aku akan menyusulnya. Ibu tenang ya" jelas Ghifar berusaha menenangkan Bu Fatimah yang tampak khawatir.
Bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Harusnya saat ini mereka sudah di perjalanan menuju hotel tempat berlangsungnya ijab qabul dan resepsi pernikahan Akhtar dan Raina.
Akhtar memarkirkan mobilnya sembarang di depan rumah utama keluarga ayahnya. Sudah beberapa bulan ini keluarga ayahnya tidak tinggal di rumah yang berada di yayasan. Mereka memilih tinggal di rumah utama yang dulu merupakan kediaman orang tua dari ibu tirinya Akhtar.
Akhtar keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar. Tanpa salam dia memasuki rumah itu membuat Yasmin dan Naura adik tiri Akhtar heran melihat kakaknya yang datang tiba-tiba dengan penampilan yang belum siap.
"Kak Akhtar?" Yasmin dan Naura memanggil Akhtar heran.
"Dimana ayah?" tanya Akhtar ketus.
"Hah? ayah?" Naura yang kaget mendengar pertanyaan jadi gugup saat Akhtar bertanya keberadaan ayah mereka.
"Kakak kenapa belum siap?" Yasmin yang sejak tadi diam karena heran melihat kedatangan Akhtar yang tiba-tiba akhirnya bersuara.
"Dimana ayah?" Akhtar mengulangi pertanyaannya dan mengabaikan pertanyaan Yasmin untuknya.
"A..ayah ada di kamarnya, Kak" jawab Naura terbata.
"Tolong panggilkan ayah, ada yang ingin aku sampaikan" Akhtar berkata masih dengan ekspresi datar membuat Yasmin diam tak bersuara dan Naura segera beranjak memanggil ayahnya.
"Akhtar? kenapa kamu ada di sini? belum siap? bukankah seharusnya sudah berada di hotel?" Sopia, ibu tiri Akhtar keluar bersamaan dengan ayahnya yang sudah siap dengan stelan jas siap menuju hotel tempat ijab qabul putranya berlangsung.
"Ayah ada yang mau aku sampaikan" Akhtar mengabaikan pertanyaan ibu tirinya, dia fokus pada ayah yang menjadi tujuan utamanya.
"Ikutlah!" ucap sang ayah, dia faham ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh putranya.
Akhtar mengikuti kemana ayahnya melangkah, ruang kerja sang ayah adalah tujuannya. Sesampainya di sana Akhtar langsung menyerahkan amplof coklat yang berisi foto-foto Raina dengan kekasihnya ketika dia berada di Australia, foto-foto pergaulan bebas Raina ketika dia berada di luar negeri bahkan di foto-foto itu Raina tidak menggunakan jilbab dan berpakaian yang memperlihatkan auratnya.
"Bisa saja ini editan" ucap ayah Akhtar santai sesaat setelah melihat foto-foto itu.
Akhtar kemudian mengirimkan beberapa video dari gawainya ke nomor sang ayah. Ayahnya hanya melongo menyaksikan setiap adegan asusila dalam video yang jelas-jelas pelakunya adalah Raina dengan laki-laki yang berbeda.
"Video terakhir yang aku kirim itu terjadi beberapa hari yang lalu di Bandung, Yah. Aku pikir ayah cukup cerdas untuk mengambil keputusan langkah apa yang selanjutnya harus ayah tempuh. Tolong jangan gadaikan masa depanku dengan menjerumuskanku pada rumah tangga yang jauh dari kata sakinah. Aku harap ayah mengerti kali ini. Aku pamit"
Akhtar berlalu pergi meninggalkan ayahnya yang masih enggan untuk bersuara. Ayahnya benar-benar syok menerima kabar ini. Gadis yang selalu dibanggakannya ternyata tidak lebih dari perempuan murahan yang bersembunyi di balik jilbabnya.
Akhtar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari komplek rumah mewah itu. Jalanan yang dia lalui cukup padat karena hari ini adalah hari libur. Emosinya kembali memuncak saat mobilnya terjebak macet, dia kesal sehingga saat ada kesempatan Akhtar segera memutar balik arah mobilnya, dia melaju memasuki gerbang tol yang tampak lenggang. Entah kemana tujuannya, yang pasti saat itu pikiran Akhtar sedang kalut.
Mengingat foto-foto dan video Raina membuat penyesalan semakin menggunung di hatinya, dia telah melepaskan berlian demi sebuah batu kerikil.
Akhtar menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata, dia tidak peduli dengan beberapa mobil yang membunyikan klakson saat didahului olehnya dan....
"Arrrggghhhhhhh...." teriak Akhtar,
Brughhh.....brughh.....brughh.....
Mobil yang dikendarai Akhtar menabrak pembatas jalan tol dan terguling beberapa kali hingga berakhir terbalik dan mengeluarkan asap...
__ADS_1