
Di dalam istana kerajaan, Pangeran Ketiga, yang memiliki wajah gelisah, berjalan di lorong-lorong yang indah. Hatinya bergejolak dengan perang batin yang sulit dipahami. Dia mencurigai bahwa ada musuh yang merencanakan jahat terhadapnya, tetapi belum bisa memastikan siapa.
Pangeran Ketiga merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Pangeran Keempat adalah saudaranya sendiri, dan sebelumnya, mereka pernah berada di posisi yang tegang karena Pangeran Ke-4 pernah dia racuni.Namun, gejala racun itu tidak terlalu kentara.
"Tapi apa mungkin dia sudah sembuh dan sekarang berbalik menjebak ku? Ataukah ini hanya akal-akalan dari Pangeran Ke-4 untuk menipuku?" gumam Pangeran Ke-3 dengan wajah penuh ketidakpastian.
Tapi dia sudah menyelidiki jika pengeran keempat ini, memang memiliki ambisi tapi kekuatan yang berada di belakangnya. Hanya kekuatan kecil yang bahkan tidak bisa diseimbangkan dengan ujung kukunya.
Dengan kekuatan seperti itu tidak mungkin dia bisa berani mempertaruhkan nyawanya dengan perebutan tahta seperti ini.
Kecuali.....
Kecuali jika dirinya memiliki pendukung yang kuat.Tapi kecuali Kaisar tidak ada pendukung yang bisa membantu pangeran keempat untuk menaiki tahta.
Dengan begitu pangeran ke-4 bisa dikatakan bersih.
Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan Pangeran Ke-2. Pangeran ini terkenal sombong dan terkesan acuh tak acuh tentang tahta kerajaan. Dia sering kali mengeluarkan kata-kata menyindir dan tampaknya tidak tertarik untuk mengambil alih takhta. Tetapi, dalam keheningan hati, ada keraguan apakah Pangeran Ke-2 sedang berbohong dan diam-diam berkomplot dengan Pangeran Ke-4 untuk merebut takhta kerajaan.
"Sialan, aku harus berhati-hati. Dalam permainan ini, tidak ada yang bisa dipercaya," gumam Pangeran Ke-3 dalam hati.
Sementara dia berjalan sendirian di istana, berbagai skenario berputar di benaknya. Dia tahu bahwa dia harus tetap waspada dan tidak boleh lengah, karena salah langkah dapat mengancam takhta dan bahkan nyawa nya.
Pangeran Ke-3 merasa bahwa dia berada dalam perang batin yang rumit dan berbahaya. Dia harus mencari tahu siapa yang sebenarnya ada di belakang ancaman ini, dan juga harus melindungi dirinya dari musuh yang tidak terlihat. Ketidakpastian dan kecemasan memenuhi dirinya saat dia melangkah menuju masa depan yang penuh teka-teki dan intrik.
Tidak lama kemudian pangeran ketiga tiba di tempat Kaisar saat ini. Kaisar yang sedang berkata berada di ruang singgasananya sedang berpikir masalah politik.
Segera saja kedatangan pangeran ketiga diberitahukan oleh penjaga pintu. Butuh beberapa waktu kemudian, barulah pangeran ketiga dipersilakan masuk menghadap.
Di ruangan istana yang megah, Pangeran Ketiga, dengan pakaian kerajaan yang anggun, melangkah dengan langkah yang tegap dan berhenti di depan pintu masuk.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah singgasana yang dihiasi dengan hiasan emas dan permata, tempat Kaisar duduk dengan pakaian kebesarannya. Di sebelah kanan Kaisar, terdapat Kasim tua yang setia berada di sisinya.
Pangeran Ketiga memasuki ruangan dengan penuh hormat. Dia melakukan langkah-langkah yang diwariskan secara turun-temurun, sesuai dengan adat-istiadat kerajaan yang kuno. Langkahnya berirama dan teratur, mencerminkan martabat dan kebesaran keluarga kerajaan.
Kaisar, duduk dengan anggun di singgasananya, mengenakan jubah sutra yang berkilauan dengan warna-warna cerah dan lambang kerajaan yang dihiasi dengan emas. Mahkota kebesaran ditempatkan di kepalanya, memancarkan keagungan dan kebijaksanaan.
Kasim tua, berdiri dengan tenang di samping Kaisar, dia melirik pangeran ketiga sebentar tapi kemudian menundukkan matanya lagi ke arah lantai.
Pangeran Ketiga, setelah mencapai jarak yang ditentukan, menghormati Kaisar dengan membungkuk rendah. Ia menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan yang mendalam kepada pemimpinnya.
Kaisar menganggukkan kepala dengan lembut sebagai tanda persetujuan dan penghargaan. Sorot matanya yang tajam mencerminkan kebijaksanaan dan keadilan yang melekat padanya. Dia adalah figur yang dihormati dan dihormati oleh semua orang di kerajaan.
"Pangeran Ketiga, hadirkan dirimu di hadapan Ayah Kaisar dengan rasa hormat ," ucap Kaisar dengan suara yang dalam dan tegas.
Di ruang istana yang terang benderang, Pangeran Ke-3, dengan langkah yang mantap, melangkah menuju Kaisar yang duduk di singgasananya. Kasim tua, setia berdiri di samping Kaisar, mengawasi dengan cermat setiap gerakan yang ada di sekitar mereka.
Pangeran Ke-3, dengan pakaian kerajaan yang elegan, berhenti di hadapan Kaisar dan membungkuk rendah sebagai tanda penghormatan. Dia mengangkat kepalanya dengan tegak dan berbicara dengan suara yang tegas namun hormat.
"Ayah kaisar,dengan hormat pangeran ini melaporkan ,sebuah masalah yang mengancam kedamaian dan kestabilan negara," ujar Pangeran Ke-3, memandang lurus ke arah Kaisar.
__ADS_1
Kaisar dengan ekspresi serius menatap Pangeran Ke-3 dengan penuh perhatian. Dia memberikan isyarat agar pangeran melanjutkan laporannya.
"Pada bulan lalu, Menteri Fu menjadi korban fitnah yang kejam melalui buku-buku yang disebar secara massal di seluruh negeri. Namun, bukan hanya Menteri Fu yang menjadi target, baru-baru ini seorang menteri lain juga mengalami kejadian serupa," lanjut Pangeran Ke-3, menggambarkan situasi yang ada.
"Menteri yang terkena fitnah baru-baru ini menyatakan bahwa banyak menteri lainnya juga telah mengalami mimpi buruk dan ancaman serupa. Ini menunjukkan bahwa ada pihak yang mencoba mengacaukan kedamaian dan stabilitas negara kita dengan cara yang licik," tambahnya dengan nada prihatin.
Kaisar, dengan pandangan yang tajam, memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Pangeran Ke-3.
Pangeran Ke-3 melaporkan dengan penuh semangat tentang masalah yang sedang terjadi di kerajaan kepada Kaisar yang duduk di singgasananya. Meskipun Pangeran Ke-3 berbicara dengan tegas, Kaisar, yang sebenarnya sudah mengetahui masalah ini sebelumnya, memilih untuk diam dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan.
Kaisar, dengan sikap tenangnya, memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Pangeran Ke-3. Gerakan matanya tampak berfokus, dan jarinya bermain-main dengan gelang emas di pergelangan tangannya.
Pangeran Ke-3, meskipun sedikit ragu melihat reaksi Kaisar yang diam, terus melanjutkan laporannya dengan semangat yang tidak berkurang. Dia berharap Kaisar akan memberikan instruksi dan petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini.
Namun, Kaisar tetap memilih untuk tidak berkata-kata. Dia mengangkat alisnya dengan perlahan, memberikan isyarat bahwa dia sedang memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Kasim tua, yang berdiri di samping Kaisar, memperhatikan keadaan dengan waspada. Dia menarik nafas dalam-dalam, menyadari bahwa Kaisar sedang memainkan peranannya dengan mahir.
Setelah Pangeran Ke-3 selesai melaporkan masalah yang sedang terjadi di kerajaan, suasana ruangan istana menjadi hening. Pangeran Ke-3 merasa perlu untuk mengetahui pendapat dan pandangan Kaisar tentang cara menemukan orang misterius yang mencoba mengacaukan kedamaian negara tersebut. Dengan tekad yang bulat, dia mengambil langkah maju mendekati singgasana Kaisar.
",Ayah kaisar,di sini berharap pangeran ini mendapatkan arahan dari Ayah Kaisar tentang bagaimana cara menemukan orang misterius ini. Setelah melalui pertimbangan, saya percaya bahwa tindakan cepat diperlukan untuk mengungkap intrik ini dan menemukan dalang di baliknya."
Kaisar yang masih berpura-pura tidak mengetahui apa pun, menatap Pangeran Ke-3 dengan penuh perhatian. Dia memberikan isyarat agar Pangeran Ke-3 duduk di kursi di sebelahnya, menunjukkan bahwa dia bersedia untuk berbicara secara lebih rahasia.
Pangeran Ke-3 mengerti isyarat Kaisar dan duduk di kursi yang ditunjukinya. Dia duduk tegak dengan sikap hormat, siap mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Kaisar.
Kaisar dengan gerakan tangan menunjukkan kearah hati."Pangeran Ke-3, untuk menemukan orang misterius ini, Anda harus melihat ke dalam hati dan intuisi Anda. Kehadiran mereka mungkin tidak sejelas cahaya matahari, tetapi kesan dan gejala akan ada jika Anda mau melihat dengan cermat."
Pangeran Ke-3 segera memikirkan kata-kata Kaisar "Memahami... Saya akan mendengarkan hati dan intuisi saya dengan cermat untuk mengungkap keberadaan orang misterius ini."
Kaisar mengangguk puas melihat kesungguhan Pangeran Ke-3 dalam menerima nasihatnya.
Pangeran Ke-3 berkata dengan suara tegas " ayah kaisar, pengeran ini telah menyelidiki dengan segenap upaya dan sumber daya yang ada"
Kaisar merenung sejenak, mempertimbangkan permintaan Pangeran Ke-3. Dia mengerti bahwa Pangeran Ke-3 memiliki dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya, dan dia menghargai usulan yang disampaikan dengan penuh hormat.
"Pangeran Ke-3, ayah kaisar memahami keinginan Anda untuk tetap berkontribusi dalam penyelidikan ini.Jadi tunggulah kabar lain "Kata nya dengan isyarat agar pangeran ketiga pergi.
Dengan cara seperti itu tidak ada alasan lagi untuk pangeran ketiga untuk masih berada di tempat.
Sepeninggalnya pangeran ketiga Kaisar mengetuk ke ujung jarinya di kursi kebesarannya dengan serius.
Jelas dia menyukai prospek dari pangeran ketiga sebagai pewarisnya yang akan duduk di kursi putra mahkota. Namun begitu harus diakui Dia adalah seorang ayah dari semua pangeran dan tanpa terkecuali.
Dalam kurun beberapa bulan saja dia sudah kehilangan empat Putra nya sekaligus.
Pertama-tama ada pangeran kelima yang meninggal di perbatasan.
Yang kedua adalah pangeran keenam lalu menyusul pangeran ketujuh. Bahkan baru-baru ini Putra pertama juga menyusul dengan alasan sakit.
__ADS_1
" kasim, apakah menurutmu sebagai ayah aku sudah berlaku tidak adil pada putra-putra ku sendiri?"katanya dengan lembut tapi nada ini masih didengar oleh Kasim yang selalu menyertainya sejak dia masih dalam posisi seorang pangeran.
Jika di dunia ini tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya, sebagai Kaisar dia masih akan tetap mempercayai kasihmu sebagai bawahan yang paling setia.
Jadi wajar jika kasim ini mengetahui seluk beluk bahkan satu gerakan matanya saja bisa dibaca oleh secara akurat.
"yang mulia, apa yang mulia lakukan hanyalah menyaring bakat-bakat terbaik sebagai calon Kaisar di masa depan. Walaupun jalannya tidak begitu lurus tapi ini tetap untuk kepentingan negara Dayun sendiri" katanya pelan.
"tapi jika dilihat dari posisi ini sebenarnya mereka tidak benar-benar bertempur secara setara kan"kata kaisar lagi.
Ada seseorang yang menjadi pendukung lain dari dua pangeran ini meskipun tidak diketahui tapi orang misterius ini mungkin memiliki niat yang berbeda.
Bodoh jika dirinya tidak mengetahui ada sesuatu yang salah pada pangeran keduanya. Ratu saat ini adalah wanita yang keras. apa yang dilakukannya untuk duduk di posisi Ratu bukanlah hal yang kecil ada kehidupannya darah dan sekaligus di dalamnya sehingga dia mampu duduk di kursi itu.
Walaupun demikian wanita adalah seseorang yang memiliki perasaan lebih sensitif dibandingkan dengan para pria.
Meskipun Ratu saat ini memiliki kemampuan dan ambisi yang kuat tapi dia masih harus berpikir tentang kasih sayangnya terhadap Putra kandung.
Jadi kemungkinan pendukung misterius ini adalah orang-orang ratu sendiri untuk mendukung pangeran kedua.
Karena pangeran keempat bukanlah orang yang memiliki pendukung seperti itu. Selir ibunya hanyalah bangsawan biasa yang keluarga belakangnya hanyalah keluarga yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Ratu saat ini.
Jadi orang misterius itu bukanlah pangeran ke empat.
Setelah berbicara dengan Kasim tua, tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Tanpa ragu, Kaisar meminta Kasim tua segera mengambil kuas dan kertas gulung.
Kasim tua segera memberikan apa yang diinginkan oleh sang Kaisar. Kaisar tersenyum dengan aneh tapi tangannya dengan cepat menari-nari di atas kertas gulungan dekrit ini.
Tulisan tangan Kaisar terungkap dengan gemilang di atas kertas putih yang mulus. Setiap goresan kuasnya terasa sungguh-sungguh dan penuh keahlian. Karakter-karakter bahasa Cina yang terbentuk begitu indah dan teratur, mencerminkan kebijaksanaan dan otoritas seorang Kaisar.
Namun, bukan keindahan tulisan tangan Kaisar yang memukau Kasim tua. Saat Kasim tua membaca isi dekrit kerajaan yang baru ditulis, matanya membesar dan bibirnya terbuka dalam keheranan yang tak terduga. Isinya begitu luar biasa dan tak terduga, membuatnya tercengang dan sulit dipercaya.
Meskipun sejenak terlihat bingung, Kasim tua merasakan kepercayaan yang dalam pada Kaisar. Dia yakin bahwa apa pun yang telah ditulis oleh Kaisar adalah keputusan terbaik yang akan memberikan manfaat besar bagi kerajaan dan rakyatnya.
"Kasim ku, apapun yang terjadi Kaisar ini adalah seorang ayah jadi tidak boleh pilih kasih bukan. biarkan alam yang menentukan segalanya"kata nya setelah memberikan gulungan dekrit tadi kepada Kasim.
Kasim tua menundukkan kepalanya dengan hormat seperti biasanya tapi dia berkata," Kaisar memang orang yang paling bijaksana dan lebih mementingkan negara ini dibandingkan dengan dirinya sendiri. Negara Dayun memang adalah negara yang terberkati karena memiliki Kaisar yang hebat"
Hahahaha...
hanya dengan satu dekrit saja Kaisar sudah menghilangkan segala kemurungan yang dirasakannya akhir-akhir ini.
Dia berpikir segala sesuatunya berjalan di jalur yang sebenarnya. Awalnya Kaisar berpikir tidak akan ada orang yang mengetahui masalah ini sebelum dekrit ini dilemparkan keluar sana.
Tapi yang tidak diketahui oleh kaisar saat ini informasi sudah pun mencapai telinga dari zhang Fey terlebih dulu. Itu pun berkat dari sistemnya yang suka mengintip.
Zhang Fei hanya meminta sistem melaporkan masalah dari pangeran ketiga ke mana dia pergi hari ini. siapa tahu laporannya mengarah ke arah pangeran ketiga yang masuk ke dalam istana dan melaporkan masalah buku.
Dan dekrit kaisar, ini bisa dibilang sebagai efek samping dari pelaporan tersebut.
__ADS_1
Siapa yang menyangka jika...