
Di luar rumah yang sederhana dan reyot, sebuah kumpulan orang-orang berpakaian seperti petani miskin berkumpul dengan wajah-wajah yang tidak sesuai dengan wajah mereka yang sangar
Mereka sebenarnya adalah para prajurit yang menyamar sebagai petani.
Hari ini mereka diarahkan oleh pangeran ketiga untuk bergabung dengan para demonstran dan menjadi provokator. Alih-alih menyelamatkan orang ,mereka di haruskan untuk membunuh paling tidak 10 orang dalam hal tersebut.
Tapi sebelum gelap jenderal su baru saja tiba di lokasi . Dirinya tidak tahu apa yang terjadi dia bicara biasa-biasa saja dengan para prajurit dan kemudian mendapatkan informasi.
Betapa marahnya jenderal su ketika dia mengetahui prajuritnya sendiri sedang digiring oleh pangeran ketiga tanpa izin.
Seorang prajurit harus selalu mendengarkan perintah Tuannya .Dan tuan dari prajurit itu adalah dirinya sendiri.
Sejak kapan Pangeran ketiga menjadi tuan dari dirinya.
Ini tidak masuk akal.
Jadi sejak itu jendral su berbicara di dalam rumah dengan pangeran ketiga dan belum keluar sampai saat ini.
Sekarang para prajurit yang sedang menyamar menjadi penduduk desa, duduk di bawah pohon-pohon yang tertutupi salju. Saat ini mereka sedang menunggu dengan cemas keputusan dari orang-orang di dalam rumah tersebut.
Di dalam rumah, suasana pun berbeda. Pangeran Ketiga duduk dengan santai di kursi empuk sementara di hadapannya berdiri Jenderal Su dengan wajah yang merah padam karena kemarahan. Suara keras Jenderal Su memenuhi ruangan, mencerminkan frustrasinya yang mendalam atas perlakuan Pangeran Ketiga yang merasa di atas angin.
"Sudah cukup, Pangeran! Anda telah meremehkan jendral ini lebih dari cukup!" ucap Jenderal Su dengan suara yang bergema di dinding rumah. Matanya menyala dengan amarah yang tulus, mencerminkan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan.
Pangeran Ketiga hanya tersenyum sinis, seolah tidak peduli dengan kemarahan Jenderal Su. "Kamu tidak perlu berteriak-teriak seperti itu, jenderal Su. Pangeran ini lebih daripada jenderal apa yang harus dilakukan.Hah selama ini Pangeran ini menganggap jenderal adalah seseorang yang memiliki mata tapi sayangnya, Pangeran ini buta sebelumnya"
"apa maksudmu pangeran ke-3, kenapa jendral ini tidak mengerti ke mana arah tujuan perkataan pangeran? aku menikahkan Pangeran dengan adik perempuan kesayanganku sendiri. bukankah itu artinya kita menjalin kerjasama dan benar-benar berada di tali yang sama sekarang? Jadi kenapa Pangeran ketiga mengatakan hal yang tidak aku mengerti?"
Pangeran ketiga segera berdiri dan tertawa terbahak-bahak.
Dia tidak akan lupa bagaimana jenderal yang awalnya menjadi berpotensi menjadi pendukung terbaiknya sebenarnya adalah seseorang yang tidak memiliki apa-apa di tangan.
Dia sudah mengirim seseorang untuk menyelidiki kebenaran kisah di dalam buku dan hasilnya benar-benar mengecewakan sekali.
Huh jendal terbaik di negara Dayun ini sebenarnya tidak lebih kaya dari seorang pengemis.
Hah siapa yang mau bermitra dengan pengemis.
"Jendral Su, menurut kemampuanmu sekarang kau tidak akan pernah mampu memberi makan puluhan ribu pasukanmu bukan? Jadi kau bukan datang untuk mendukung tapi meminta dukungan dari pangeran ini? apa kau pikir Pangeran ini bodoh?"katanya dengan membentak.
jendral Sudi terkejut mendengarnya dan dia mundur sedikit.
Mungkin kabar mengenai dia yang pergi mengambil kembali harta bendanya di rumah mertua. Belum sampai ke telinga Pangeran ketiga. Karena itu Pangeran ketiga beranggapan dirinya sekarang miskin tanpa ada sesuatu yang bisa memberi makan puluhan ribu prajurit di bawahnya.
Apakah Pangeran menganggap dia seperti benalu yang akan meminta uang untuk memberi makan prajuritnya.
Omong kosong.
Jenderal Su menggigit bibirnya dengan keras, mencoba menahan amarahnya. "Pangeran, kamu tahu betapa pentingnya hubungan kita sebagai keluarga. pangeran seharusnya berbicara dengan jenderal ini sebelum membuat keputusan besar seperti ini.Kami bukan hanya seorang jenderal biasa, pangeran sudah menikah dengan adik perempuan ku jenderal ini'
Namun, kata-kata Jenderal Su hanya tampak seakan-akan menghantam tembok batu. Pangeran Ketiga masih terlihat cuek, seolah-olah tidak merasa adanya kesalahan apapun. Dia menggelengkan kepalanya dengan remeh, "Kita memang terikat oleh hubungan keluarga, tapi itu tidak berarti aku harus berkonsultasi denganmu dalam segala hal."
__ADS_1
Jenderal Su merasa seperti dia sedang berbicara dengan tembok. Amarahnya meledak tak tertahan, dan dia dengan berat hati menahan diri agar tidak melanggar adab.
dulu jenderal sumat berpikir jika hal ini berhasil maka adiknya akan menjadi ratu di dalam negeri ini dan dia juga akan bahagia ketika adiknya bahagia.
Tapi bagaimana mungkin Pangeran ini bisa menghormati adiknya. Sedangkan kakaknya yang masih jendral saja, dia tidak hormati.
Huh belum menjadi Kaisar saja dia sudah banyak angin.
Namun begitu jenderal su juga menyesal karena dia sudah tidak bisa berpatah balik. Apapun yang terjadi dia sudah pun menikahkan adik kesayangannya di dalam rumah Pangeran ketiga.
Jika sesuatu terjadi pada Pangeran ketiga maka adik perempuannya juga akan terkena imbas.
Jadi apa yang harus dilakukan sekarang.
Di luar rumah, para prajurit yang menyamar sebagai petani miskin yang menunggu.Tidak tahu bahwa di dalam rumah, pertengkaran ini sedang berlangsung.
Dalam ruangan yang penuh ketegangan, Pangeran Ketiga menatap Jenderal Su dengan mata yang tajam, seolah mengirimkan pesan yang jelas bahwa dia tidak akan mundur. Tatapan garang itu membuat udara semakin mencekam, dan Jenderal Su merasa seolah-olah ia sedang berhadapan dengan musuh yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan.
Saat Jenderal Su merenung, pikirannya terasa gelap dan rumit. Pangeran Ketiga yang dulunya dia dukung kini terasa lebih kuat daripadanya. Dia merasa terancam dan pikirannya mulai melahirkan pikiran-pikiran yang gelap.
Namun, ketika pikirannya hampir membawa dia ke arah yang berbahaya, ingatan nya jatuh pada adik perempuannya, yang sekarang adalah istri sah dari Pangeran Ketiga. Jenderal Su menghela nafas dalam-dalam, mengingatkan dirinya sendiri tentang tanggung jawab dan keterikatan keluarga yang ia punya.
Dengan napas yang berat, Jenderal Su berkata dengan suara tegas namun terkendali, "Pangeran, jenderal ini tidak berpikiran macam-macam. jenderal setia negara ini dan akan selalu begitu "
Namun, Pangeran Ketiga hanya tersenyum dengan sinis, seolah membaca pikiran Jenderal Su. " jendral Su, jangan berpura-pura seperti itu. Kamu tahu benar apa yang bisa kamu lakukan dan apa yang tidak bisa kamu lakukan. Ingat, pengeran ini bisa menaikkan derajat seseorang tapi juga bisa menurunkannya juga "
Jenderal Su terdiam, dia merasa terjepit oleh ancaman yang tersirat dalam kata-kata Pangeran Ketiga. Dia merasa terjebak dalam permainan kekuasaan yang lebih besar dari dirinya. Namun, dia tetap berusaha keras untuk menjaga sikap dan komposurnya.
Pangeran Ketiga tertawa singkat, tapi dalam tawanya terdapat ketenangan dan dominasi
Tapi sekarang dia dihadapkan dengan intrik politik yang begitu menjijikkan sekali. Ingin rasanya dia menghancurkan Pangeran ketiga saat ini juga tapi Adik perempuannya yang menjadi istri Pangeran Ketiga juga membatasi langkahnya, meninggalkannya dengan perasaan terjebak dalam sebuah konflik yang rumit.
Sementara itu,dalam kamar tidur istana yang berhias mewah, Kaisar terbaring di atas ranjang dengan mata yang setengah terpejam. Sejumlah tabib terampil bergerak di sekitarnya, membawa peralatan medis kuno seperti jarum akupuntur, bahan obat-obatan tradisional, serta balsem harum yang mengisi udara dengan aroma yang khas. Bau obat-obatan tersebut menyelimuti ruangan, menciptakan suasana yang campur aduk antara penyembuhan dan misteri.
ini adalah hari kedua setelah kejadian Kaisar jatuh dari singgasananya. tapi sampai saat ini Kaisar belum pernah membuka matanya sekalipun.
pada saat ini Kaisar juga tidak memiliki reaksi atau gejala yang mengkhawatirkan kondisinya lebih seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Tapi anehnya apapun dilakukan oleh para tabib dia tidak pernah membuka matanya sama sekali.
Para tabib dengan cermat menempatkan jarum-jarum akupuntur di titik-titik tertentu pada tubuh Kaisar. Berharap bisa mengalirkan energi vital dan menghilangkan blokade yang mungkin ada dalam aliran qi-nya. Mereka juga mengoleskan balsem harum ke dahi Kaisar, dengan harapan bisa membantu meredakan sakit kepala dan memberikan rasa tenang. Selama proses tersebut, Kaisar terlihat lemah dan pucat, memancarkan aura yang jauh berbeda dari biasanya.
Di sisi lain ruangan, Ratu istana yang mengenakan pakaian sutra dengan warna-warna yang mencolok duduk dengan tegang. Wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam dan matanya terus memandang ke arah Kaisar yang terbaring lemah.
Setelah beberapa saat, Ratu tidak tahan lagi dengan rasa cemasnya dan mendekati salah satu tabib yang tengah sibuk memeriksa nadi Kaisar.
"Tabib, bagaimana kondisinya?" tanya Ratu dengan suara lembut namun penuh kegelisahan.
Tabib itu menghentikan tugasnya sejenak dan menatap Ratu dengan penuh perhatian. "Permaisuri, kami masih belum bisa memberikan diagnosis yang pasti. Meskipun kami telah melakukan berbagai pemeriksaan dan pengobatan, tetapi tubuh Kaisar sebenarnya dalam kondisi yang baik dan sehat. Tidak ada kelainan yang kami temukan."
Ratu menggigit bibirnya dengan gelisah. "Tidak ada kelainan? Lalu mengapa Kaisar tiba-tiba jatuh dari singgasana? ini sudah hari kedua kaisar yang agung pingsan Jadi kenapa kau mengatakan tubuhnya baik-baik saja? apakah kau sudah tidak waras?"
__ADS_1
ratu di sini memang benar-benar tulus mengkhawatirkan sang Kaisar tapi yang dia khawatirkan adalah keberadaan putranya yang sama sekali tidak terdengar.
Kaisar sudah berada dalam titik ini tapi tidak satupun putranya yang masih hidup berada di sisinya. sementara itu kursi Pangeran mahkota juga masih kosong.
Ini adalah salah satu krusial di mana seorang anak perlu untuk hadir mendampingi hari-hari terakhir ayah kandungnya sendiri.
Tapi bagaimana Pangeran keempat kedua bisa datang jika medan terlalu jauh dan cuacanya yang begitu dingin.
Tabib itu menggelengkan kepala dengan lembut. "Sayangnya, tidak ada perubahan signifikan. Kekhawatiran kami adalah bahwa penyakit ini mungkin lebih dalam dan kompleks dari yang kami pikirkan. Tidak ada gejala fisik yang bisa kami identifikasi dan itu membuat diagnosis menjadi sulit."
Tidak tahu apa yang terjadi ,dia pikir kekhawatiran kasim tua benar-benar tidak beralasan sebelumnya. Tapi setelah seperti ini bagaimana dia bisa mengatakan jika sebenarnya Kaisar baik-baik saja?
Ratu menunduk dengan murung, merenungkan kata-kata tabib dengan penuh kekhawatiran. Kesehatan Kaisar adalah prioritas utama, dan ketidakpastian yang mengelilingi kondisinya membuatnya merasa frustrasi dan takut.
Andai saja pengeran ke empat ada di sini.
"tidak aku harus melakukan sesuatu sebelumnya. Aku harus mendesak Kaisar untuk mengirimkan tanda tangannya pada sebuah dekrit mengatakan jika dia mengangkat Pangeran keempat sebagai putra mahkota.Aku harus melakukan ini" Ratu berpikir setelah ini dia akan membuat sebuah dekrit sendiri dan akan mengklaimnya sebagai dekrit yang diinginkan oleh kaisar.
Bukankah ini hanya masalah menulis dan mengucapnya dengan stempel negara.
"Ah di mana kira-kira stempel negara itu disimpan oleh kaisar busuk ini? aku sudah mencarinya berhari-hari tapi sampai sekarang belum bisa menemukannya, sialan" pikir sang ratu.
Tabib besar, masih di sibukkan dengan pemeriksaan rutin sang Kaisar dan dia juga merasa jika Ratu terlihat linglung. namun begitu dalam pemikiran tabib besar, Ratu hanya sedang mengkhawatirkan suaminya.
Pasangan yang bagus.
Sementara itu, para tabib melanjutkan usaha mereka, berharap bisa menemukan jawaban atas penyakit yang merasuki tubuh Kaisar. Di tengah aroma obat-obatan dan suasana yang tegang, semuanya menanti dengan ketidakpastian yang terasa semakin besar.
Ketakutan menggelayuti hati para tabib istana, menciptakan rasa kegelisahan yang mendalam dalam setiap gerakan dan kata yang mereka lakukan. Mereka merasa tekanan yang luar biasa karena berada di hadapan penyakit yang tidak dapat mereka kendalikan, terutama saat Kaisar yang sedang sakit tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Mereka terhanyut dalam ketidakpastian, membayangkan kemungkinan terburuk jika upaya penyembuhan mereka tidak berhasil. Pikiran akan dampak dari kegagalan mereka mengisi benak mereka dengan kegelisahan dan kekhawatiran yang tak terelakkan.
Tabib besar bahkan tidak kembali ke rumahnya sendiri sejak Kaisar jatuh dari singgasana. dia bahkan tidak bisa menutup matanya walau sejenak sebelum Kaisar sendiri bisa sembuh.
Bukan saja tapi besar tapi tabib-tabib lainnya juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan saat ini.
Pergumulan batin mereka semakin dalam ketika mereka menyadari bahwa kehidupan Kaisar mungkin berada di tangan mereka dan hasilnya bisa membawa konsekuensi yang mengerikan.
Hukuman yang mengancam para tabib istana jika mereka tidak berhasil menyembuhkan Kaisar adalah hukuman yang penuh dengan ironi dan ketidakadilan. Di Dayun ini,hukuman bagi para tabib yang gagal dalam penyembuhan sering kali adalah hukuman mati.
Inilah kenapa di katakan, profesi sebagai seorang tabib di istana Sebenarnya sebuah profesi yang begitu menaklukkan sekali seperti anda yang sedang berdiri di bibir jurang.
Tabib mana yang bisa membuat seorang kaisar yang notabene adalah manusia berusia panjang dan tidak akan mati.
Itu tidak mungkin bukan.
Meskipun para tabib berjuang dengan tekun dan berusaha semaksimal mungkin.Jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, mereka bisa menjadi korban dari sistem yang kejam.
Hukuman mati ini mungkin dilakukan dalam berbagai cara yang mengerikan, seperti hukuman dengan cara disembelih atau dieksekusi di depan umum.
Hukuman yang paling ringan adalah hukuman gantung di tempat dan mayat mereka tidak bisa diambil sebelum satu bulan setelahnya.
__ADS_1
Ini adalah bentuk peringatan bagi para tabib lainnya untuk selalu melakukan yang terbaik dan berhasil dalam upaya penyembuhan Kaisar. Meskipun mereka berusaha dengan segenap kemampuan dan pengetahuan mereka, hukuman yang mengancam membuat beban mereka semakin berat.
Dengan kesadaran akan konsekuensi yang mengerikan jika Kaisar tidak dapat disembuhkan, para tabib terus bekerja tanpa henti.Berdoa agar usaha mereka membuahkan hasil yang diharapkan. Kehidupan Kaisar dan masa depan mereka sendiri berada dalam pertaruhan. Dan mereka terus berjuang dengan harapan bisa membawa kesembuhan dan meredakan ketakutan yang menghantui mereka.