Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
226


__ADS_3

Berita tentang wafatnya Kaisar Dayun dengan cepat merambat ke seluruh sudut ibukota, mengubah suasana menjadi muram dan penuh duka. Suara tangis dan isakan terdengar di jalan-jalan yang sepi jelas menggambarkan perasaan kehilangan yang mendalam. Bahkan langit malam terlihat lebih gelap, seolah-olah dunia ikut merasakan kehilangan yang dirasakan oleh negara.


Sebelumnya, aktivitas prajurit pemberontak sempat menghentikan ibukota dalam kekacauan. Namun, berkat intervensi partai pengemis, situasi segera berubah. Meskipun keadaan menjadi lebih terkendali, rasa takut dan cemas masih meliputi setiap langkah orang-orang. Seolah-olah bayangan ancaman prajurit pemberontak masih melayang di udara.


Meskipun kebanyakan dari mereka tidak berbicara, warga desa dan penduduk kota tahu dengan pasti bahwa prajurit pemberontak, yang sebelumnya telah menyebabkan banyak penderitaan, berada di bawah komando Pangeran ketiga. Berita tentang pergerakan mereka telah beredar dan semakin banyak yang menyadari bahwa pangeran itu adalah otak di balik semua tindakan itu.


Ketika lonceng kematian mengumumkan kabar duka yang lebih besar, kejutan dan ketidakpercayaan mengguncang hati warga. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Kaisar yang berkuasa akan berpulang begitu cepat.


"Sulit dipercaya Kaisar tiba-tiba tiada. Mungkin ada konspirasi di balik ini."


"Mungkin Kaisar terlalu banyak tekanan, tapi mengapa sekarang?"


"Prajurit pemberontak mungkin terlibat dalam kematian Kaisar."


Komentar-komentar terkejut bergema di sudut-sudut kota, seiring dengan tangisan yang semakin keras terdengar.


"Yang mulia....


"Yang mulia....


Suasana yang sebelumnya penuh tekanan dan ketegangan berubah menjadi melankolis dan menyedihkan. Meskipun pangeran ketiga telah menciptakan rasa takut yang mendalam, rasa kehilangan atas Kaisar yang telah berpulang mengatasi semua perasaan negatif.


Ibu kota terbungkus dalam aura keheningan yang menyatakan bahwa mereka telah kehilangan seorang pemimpin, meskipun kepemimpinan Kaisar tidak selalu membawa kebahagiaan.


Ibukota segera mengubah penampilannya, saat malam tiba seluruh sudut kota dipenuhi dengan warna putih sebagai lambang berkabung. Kesedihan merayap di setiap sudut, namun Pangeran ketiga melihat momen ini sebagai peluang langka.


Meskipun dadanya terbalut luka dan terasa sakit, Pangeran ketiga tidak terhalang semangatnya untuk menyambut kematian Kaisar. Baginya, ini bukanlah kesedihan atas kehilangan ayah kandung, melainkan kesempatan langka.


"Kini saatnya maju. Paman pangeran pasti takkan sibuk dengan acara kremasi ayah Kaisar. Saya ragu dia akan begitu waspada," pikir Pangeran ketiga dalam hatinya.


Tidak butuh waktu lama bagi Pangeran ketiga untuk memanggil para pendukungnya untuk mengadakan rapat darurat. Di tengah kesibukan mereka memindahkan keluarga mereka keluar dari ibukota, para pendukung utama tetap setia di sisi Pangeran ketiga untuk merencanakan langkah selanjutnya.


Ketika dipanggil untuk berkumpul, mereka semua merasakan bahwa rapat ini pasti berkaitan dengan kematian Kaisar. Satu per satu, para pendukung masuk ke dalam kamar Pangeran ketiga, menunggu dengan penuh antisipasi ketika Pangeran membuka pembicaraan.


Zhang Fei yang sedang tertidur,mengetahui ini dari sistem. Bahwa Pangeran ketiga benar-benar memanfaatkan kematian Kaisar sebagai kesempatan untuk membalikkan situasi.


"Heh, orang ini tak pernah berhenti. Sudah diberi kesempatan hidup, tapi malah mencoba untuk bunuh diri," gumam Zhang Fei dengan nada rendah, takjub akan ketekunan Pangeran ketiga.


Di dalam kamarnya yang dihiasi ranjang sutra, suasana sudah begitu gelap dan sunyi. Waktu tidur seharusnya sudah tiba, namun laporan dari sistem tiba-tiba membangunkannya, membawa berita tentang rencana baru yang dilakukan oleh Pangeran ketiga.


Sambil memandangi langit malam yang tenang melalui jendela, Zhang Fei berpikir tentang bagaimana ia harus bersikap di tengah situasi yang semakin rumit dan berubah-ubah.


"Mama ,ikuti percakapan mereka dengan detail," kata Zhang Fei pada sistemnya.


("Baik, sayang.")


Zhang Fei menggeliat di atas ranjang, merasa terganggu karena terbangun dari tidurnya. "Ini sungguh mengganggu. Padahal malam ini aku seharusnya bisa tidur nyenyak," ujarnya setengah merungut.


Dengan langkah ringan, dia melangkah ke arah pakaian luar yang tergantung di tempat rias. Setelah mengenakannya dengan cepat, dia merapikan rambutnya dan siap untuk meninggalkan kamarnya.


Ketika pintu hendak dibuka, matanya memerhatikan penjaga setia yang masih berjaga di luar kamarnya.


"Penjaga satu, panggil penjaga bayangan paman Pangeran. Putri ini ingin berbicara dengannya," ucap Zhang Fei pada penjaga setia itu.


"Baik," jawab penjaga satu dengan hormat, lalu dengan sigap pergi untuk memenuhi permintaan Zhang Fei.


Tak lama kemudian, penjaga bayangan paman Pangeran datang dengan langkah cepat.Dia membawa meja kecil, kertas, batu tinta, dan kuas, lengkap untuk menulis apa yang akan disampaikan oleh Zhang Fei.

__ADS_1


Penjaga bayangan itu segera mempersiapkan alat tulisnya. Dengan penuh konsentrasi, dia siap menuliskan pesan yang akan disampaikan oleh putri peipei.


"Hem ini adalah waktu yang paling menentukan untuk negara Dayun. kau harus menulisnya dengan cepat dan akurat.Lalu serahkan ini secepat mungkin dengan paman pangeran" kata Zhang Fei.


"baik putri "


Zhang Fei segera mengulang kembali apa yang didengarnya dari sistem. dan semua yang dia bicarakan langsung dituangkan menjadi tulisan oleh penjaga bayangan tadi.


***


Pangeran ketiga kini berada dalam situasi yang penuh antisipasi dan strategi. Kematian Kaisar telah menjadi momen yang dijadikannya sebagai kesempatan emas untuk merebut kekuasaan. Dengan ibukota dan istana utama yang mungkin akan mengalami kelemahan dalam penjagaan, Pangeran ketiga merencanakan serangannya dengan matang.


Ada beberapa titik strategis yang telah ditentukan untuk melancarkan serangan balik. Pertama, di daerah sekitar Pintu Gerbang Utara, di mana keamanan prajurit akan berkurang.


Kedua, di Taman ibukota ,tempat yang selalu menjadi pusat perhatian Pangeran ketiga, di mana dia akan mengambil inisiatif.


Terakhir, di Balai Agung, yang merupakan jantung istana, di sini dia berharap bisa menggagalkan rencana suksesi pangeran ke empat.


Pangeran ketiga tidak sendiri dalam upayanya. Rombongan keluarga bangsawan yang memberontak telah merencanakan pelarian rahasia.


Mereka menggunakan berbagai trik untuk tetap tidak terdeteksi oleh mata-mata musuh. Beberapa dari mereka mengenakan pakaian sederhana yang tidak mencolok, menyamar seperti rakyat biasa saat ini. Mereka berjalan di sepanjang Jalan Pasar Utara, tempat yang sering kali diabaikan oleh pihak istana.


Kelompok lain lebih memilih menggunakan jalur bawah tanah yang telah dipersiapkan oleh Pangeran ketiga. Terdapat tiga lorong yang strategis dan aman yang mereka gunakan.


Pertama, lorong di bawah taman ibukota yang langsung menghubungkan ibukota ke luar kota.


Kedua, lorong di bawah Pintu Gerbang Selatan, menuju hutan yang menyediakan perlindungan alami. Terakhir, lorong rahasia di bawah Balai Agung, yang memberikan pelarian menuju perbukitan terpencil.


****


Pikiran-pikiran ini bergulir dalam benak penjaga bayangan. Bagaimana mungkin Putri memiliki akses pada informasi yang begitu rahasia dan penting ini? Meskipun dia adalah seorang penjaga bayangan yang cerdas, namun hal ini tampak melewati nalar dan logikanya.


Namun, penjaga bayangan ini memutuskan untuk melanjutkan tugasnya. Dia mengambil kuasnya dan melanjutkan menulis dengan seksama. Dia tidak ingin ada satu detail pun yang terlewatkan.


"Sudah selesai, Putri," kata penjaga bayangan setelah menyelesaikan tugasnya dengan teliti.


"Baiklah, segera sampaikan ini kepada Paman Pangeran sekarang juga, dan pastikan tidak terlambat," kata Putri Zhang Fei sambil menguap.


Penjaga bayangan Paman pangeran segera meninggalkan ruangan, tetapi di dalam hatinya masih terbersit keraguan yang sulit dihilangkan. Sesuatu yang tidak wajar terjadi, dan ia merasa bahwa Putri memiliki lebih banyak pengetahuan daripada yang bisa dijelaskan secara logis.


Sementara itu Zhang Fei yang berniat untuk tidur lagi,memiliki kesulitan untuk melakukan itu.Karena usahanya untuk tidur kembali tidak berhasil, Zhang Fei akhirnya teringat akan sesuatu yang telah dia lupakan. Pikirannya terhenti pada kucing kurus yang pernah dia uji coba dengan pil penjaga stamina yang baru saja dia kembangkan.


"Oh, kucingku," gumam Zhang Fei dalam hati.


Kucing tersebut sebelumnya telah dia tempatkan dalam sebuah ruangan yang memiliki aliran waktu sepuluh kali lebih cepat daripada di luar.Dia di tempat kan di sana tanpa makanan sebagai bagian dari percobaan.


Pil penjaga stamina seharusnya mampu mendukung kehidupan makhluk tersebut selama satu minggu penuh. Namun, tanpa disadarinya, waktu telah berlalu hingga satu bulan di dalam kamar,bagi kucing itu .


"Ah, Mama, kenapa tidak mengingatkanku? Aku lupa," keluhnya pada sistem.


("Sayang, kenapa situ tidak menanyakan?")


"Yah, Mama. Pasti kucing itu sudah mati," Zhang Fei bergumam.


Dia segera bergegas menuju rumahnya kosnya dan membuka pintu kamar yang telah dia persiapkan untuk kucing tersebut. Ketika melangkah masuk, harapannya adalah menemukan kucing yang kini lebih kurus atau bahkan sudah tidak bernyawa.


Namun, apa yang ditemukannya justru berbeda dari ekspektasi. Kucing yang dulunya kurus kini telah berisi dan bulunya terlihat lebih halus serta berkilau.

__ADS_1


Melihat Zhang Fei datang, kucing itu mengeluarkan suara menggeong dan berlari mendekat, mengusapkan bulu lembutnya ke kaki Zhang Fei.


"Hei, kau ternyata masih hidup, huh?" Zhang Fei tertawa gembira.


Ternyata, pil penjaga stamina ini telah berhasil. Kucing tersebut mampu bertahan hidup selama sebulan penuh tanpa makanan, hanya dengan memanfaatkan air yang ada di ruangannya.


Dengan senyum bahagia, Zhang Fei menyadari betapa efektifnya pil tersebut. Pil ini mampu memperpanjang usia seseorang selama satu bulan tanpa perlu makan. Bagaimana mungkin dia tidak merasa bahagia dengan hasil ini?


Dengan mata berbinar, Zhang Fei duduk di tepi tempat tidurnya, memikirkan tentang potensi luar biasa dari pil penjaga stamina yang baru saja dia kembangkan. Pikirannya melayang jauh, mempertimbangkan berbagai kemungkinan penggunaan pil ini bagi berbagai orang.


Gumam Zhang Fei mengisi ruangan, "Pil ini bisa menjadi penyelamat bagi para pengemis yang sering melakukan perjalanan jauh. Mereka tak perlu khawatir akan kehabisan makanan di tengah perjalanan. Dan bagaimana dengan mereka yang berada dalam kondisi darurat atau terjebak di tempat terpencil? Pil ini bisa memberi mereka waktu yang lebih lama untuk bertahan."


Terkadang, dalam bisik-bisik pikirannya, Zhang Fei bahkan membayangkan penggunaan pil ini oleh para prajurit atau penyelam dalam situasi yang kritis. Pil tersebut bisa menjadi kunci untuk bertahan hidup lebih lama dan tetap bugar meskipun di lingkungan yang penuh tantangan.


Senyum mengembang di wajah Zhang Fei saat dia melihat sekeliling kamarnya. Keberhasilannya meramu pil ini begitu memuaskan.


Tak dapat tidur lagi di tambah dengan hatinya yang terangkat oleh gembira akibat hasil penemuannya. Zhang Fei memutuskan untuk memanggil Gadis Persik. Gadis itu tiba dengan mata setengah terpejam, menggosok-gosokkan matanya dengan patuh dan duduk di depan Zhang Fei.


"Putri," sapanya dengan hormat.


"Gadis Persik, bagaimana dengan kitab pembersih yang kita tulis kemarin? Apakah masih ada padamu?" tanyanya pada Gadis Persik dengan mata berbinar.


Gadis Persik mengangguk pelan, "Ya, Putri. Belum ada perintah untuk mengirimkannya ke Pavilion Anggrek."


"Bagus. Kalau begitu, kirimkan ke sana besok pagi bersama dengan sekotak pil ini," kata Zhang Fei, sambil menunjuk pada kotak besar yang dijaganya, berisi ribuan pil penjaga stamina.


Namun, Gadis Persik tampak bingung. "Tapi, Putri, apakah pil ini sudah selesai diuji coba?"


Zhang Fei tersenyum, "Ya, Gadis Persib, pil ini telah berhasil dalam uji coba. Jadi, kirimkan dan sampaikan bahwa kedua hal ini adalah hadiah atas sumbangan mereka dalam menghentikan pemberontakan di ibukota."


Sambil menjelaskan lebih lanjut tentang pil kepada Gadis Persik, Zhang Fei menguraikan berbagai manfaat dari pil tersebut. Selain menjaga stamina dan kesehatan dalam keadaan darurat, pil ini juga memberikan kekebalan tambahan bagi penggunanya, mencegah penyakit dalam rentang waktu yang ditawarkan.


Gadis Persik mendengarkan deskripsi tentang pil penjaga stamina ini dengan mata yang terbuka lebar. Ia tak bisa menghindari rasa kagum yang muncul lagi, yang selalu muncul setiap kali Zhang Fei menciptakan sesuatu yang luar biasa.


Pandangan penuh keyakinan mengisi matanya, dan Gadis Persik tidak perlu bertanya apapun. Dia benar-benar yakin akan kemampuan Zhang Fei dalam menciptakan hal-hal yang hebat.


Tapi sekarang, tugas yang menunggu harus diselesaikan. Gadis Persik mundur dengan cepat, tidak sabar menunggu hingga besok pagi. Tidak, dia memutuskan untuk mengirimkan produk luar biasa ini sebelum matahari terbit.


Jadi dalam satu jam kemudian,gadis Persik sudah duduk di depan tiga ketiga di paviliun anggrek.


Tiga ketua Paviliun Anggrek terperanjat saat mendengar Gadis Persik menjelaskan khasiat obat dan kitab pembersihan. Mereka, sama seperti Gadis Persik, memiliki keyakinan penuh pada sang Putri. Namun, tak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk meminta hadiah atas tindakan mereka di ibukota.


Ketua pertama dengan cermat membaca kitab pembersihan, dan wajahnya langsung bersinar. Dia memberi pujian, "Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa, hanya seorang Putri yang luar biasa yang bisa melakukan ini..."


Sementara itu, ketua kedua memegang kotak pil dengan gemetar. Sebagai seseorang yang pernah merasakan kelaparan akut, dia paham betul betapa mengerikannya perasaan lapar itu. Namun, pil ini bisa menghindarkan mereka dari rasa sakit itu.


"Putri kita seperti Dewi yang turun dari surga, membawa pertolongan bagi rakyat kita. Dia bukanlah manusia biasa, melainkan Dewi yang menjaga kita semua," ujar ketua ketiga dengan penuh keyakinan.


"Bayangkan betapa banyak yang menderita akibat kelaparan dan kekeringan di Dayun. Pil ini memiliki potensi untuk mengubah kehidupan mereka..."


Ketiga ketua ini memuji Zhang Fei dengan ucapan-ucapan yang tulus, memandangnya dengan rasa hormat yang semakin mendalam.


Dia bukan manusia,dia adalah Dewi.


Tapi seorang Dewi harus duduk lebih tinggi di antara yang lain.


Duduk setara dengan wanita lain itu adalah sebuah penghinaan untuk Dewi dari paviliun anggrek.

__ADS_1


__ADS_2