Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
228


__ADS_3

Dalam suasana penuh kesedihan, berita tiba-tiba merebak seperti angin sepoi-sepoi yang memilukan: Kaisar Dayun telah mangkat. Sebuah nuansa murung melingkupi negara Dayun, tergambar dengan jelas oleh jejak-jejak kain putih yang menjuntai di setiap penjuru ibukota. Seperti cahaya yang memudar dari langit, warna-warna ceria telah digantikan oleh keputihan simbolik ini.


Namun, bukan hanya warna yang berubah.Tangisan pilu juga mewarnai udara. Suara-suaranya berkabung sebagai nyanyian kesedihan yang melankolis ,terdengar hingga ke sudut-sudut tersembunyi kota.


Terutama di istana kecil, perubahan mencolok tampak di setiap sudutnya. Elemen-elemen yang sebelumnya memancarkan keberanian dan kekuatan, kini melebur dalam warna putih yang bersih dan suci.


Para pelayan, di istana kecil juga mengenakan pakaian putih sebagai penghormatan terakhir untuk Kaisar yang telah mangkat.


Dalam suasana duka yang mendalam, Zhang Fei mengenakan pakaian serba putih yang terbuat dari sutra halus, memberikan kelembutan pada tampilannya yang tegar. Namun, bahan kain tersebut memiliki tekstur yang khas dari kain mewah di Cina kuno yang dikenal sebagai "qing" — kain ini memberikan keanggunan tanpa meninggalkan kesan glamor yang berlebihan.


Kali ini, tidak ada perhiasan yang memenuhi penampilannya. Semua atributnya bersifat polos, menunjukkan penghormatan yang tulus terhadap situasi yang menyedihkan.


Berbeda dengan kematian para pangeran, zhang Fei bertindak sebagai seorang bibi, di mana dia tidak perlu berlutut atau menunjukkan tanda-tanda kesedihan.Kali ini sebagai saudara laki-laki dari suaminya yang baru saja mangkat, Zhang Fei diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan berlutut dan menangis di istana.


"gadis Persik, apakah semuanya sudah siap?" tanyanya kepada seorang gadis persik yang setia menemaninya.


"Sudah, Putri," jawab gadis persik dengan hormat, sambil menganggukkan kepala dan membawa sebuah barang.


Barang tersebut adalah sepotong kain yang diisi dengan kapas. Nantinya, kain ini akan diletakkan di bawah lutut Zhang Fei saat dia berlutut, mencegah lututnya dari cedera akibat berlutut sepanjang hari.


Selain itu, ada juga sepotong sapu tangan yang direndam dalam air bawang, memberikan aroma bawang.Sapu tangan ini akan membantu Zhang Fei dalam menangis di istana.


Menurut adat dan tradisi, ketika seseorang tidak menangis saat kerabatnya meninggal, hal itu dianggap sebagai kurangnya kasih sayang.


 Oleh karena itu, selain dari berlutut sebagai tanda penghormatan, menangis juga menjadi sebuah tuntutan.


Zhang Fei memandang ke dalam ruangan dan dengan lembut bertanya dalam benaknya, "Mama, di mana Paman pangeran saat ini?"


( "Saat ini dia sudah kembali ke istana utama di mana dia melakukan acara berlutut dan menangis seperti biasanya.")


Zhang Fei merenung sejenak sebelum berbicara lagi, "Oh, bagaimana dengan rencananya? Apakah itu sudah dimulai?"


("Sudah tentu. Apakah Putri ingin mendengarnya sekarang atau nanti?")


 "Bagaimana kalau kita tangguhkan dulu? Nanti, ketika aku berlutut, Mama boleh menceritakannya lagi."


( "Tentu saja, tidak masalah. Mama akan menemani kamu dalam kesunyian berlutut dan menangis. Apakah perlu Mama menceritakan kisah sedih agar adegan itu menjadi lebih murni?")


Zhang Fei menggeleng "Tidak, aku bisa melakukannya sendiri."


Dengan keputusan itu, pelaporan tentang peristiwa hari itu ditunda oleh Zhang Fei. Dia segera meninggalkan istana kecil dan menuju istana utama dengan gerbong kereta kuda yang didekorasi dengan elemen-elemen putih sebagai tanda berkabung.


 Gerbong itu juga dilengkapi dengan atribut segala sesuatu yang berwarna putih. Kain putih berkibar di sekitar gerbong dan kuda-kuda yang siap membawanya ke istana utama.


Dalam perjalanan menuju istana utama, Zhang Fei melihat jalan-jalan yang dihiasi dengan bunga-bunga putih dan kain-kain putih yang menghiasi sepanjang jalan. Warna putih yang mendominasi memberikan pesan yang jelas.ibukota sedang berkabung dalam penghormatan atas kematian Kaisar.


"salju hampir mencair tapi warna putih semakin mencolok, Ckckck"gumam zhang Fei.


Saat ini zhang Fei tidak memiliki perasaan yang baik ,bukan karena kematian Kaisar tapi karena isi dari dekrit yang akan diperdengarkan nanti.


Biasanya dekrit hanya akan dibaca pada hari kedua Kaisar meninggal. Pada hari pada hari ke-14 itu adalah hari di mana Kaisar akan dimakamkan.


Tapi sebelum dimakamkan akan ada perintah untuk menaikkan kaisar yang baru.


"Mama aku hanya berharap Pangeran ke-4 tiba lebih awal di ibukota. Dia pasti akan ditabalkan menjadi Kaisar begitu tiba di sini, hanya pada hari itu aku bisa menarik nafas lega"


("Hem say, jika mau menangis nanti saja ini bukan waktunya")


Tak lama kemudian gerbong kereta kuda sampai di pintu gerbang istana negara, Zhang Fei memandangi pemandangan yang luar biasa.


Ribuan orang telah berkumpul di dalam kompleks istana, mengenakan pakaian serba putih sebagai tanda berkabung. Seolah-olah laut manusia yang menyatu dalam kesedihan, mereka terbagi menjadi dua aula yang menjulang, memisahkan pelayat laki-laki dan pelayat wanita.


Di tengah kerumunan, para kerabat dekat almarhum ditempatkan. Mereka diminta untuk berlutut sejak hari pertama hingga hari pemakaman Kaisar, yang akan berlangsung pada hari ke-14. Saat ini, para Pangeran tidak berada di ibukota, sehingga kerabat dari sisi ibu Kaisar dan Paman Pangeran sendiri yang mewakili keluarga mendiang.

__ADS_1


Melalui sistem gosip,Zhang Fei dapat dengan mudah mengetahui bahwa Paman Pangeran sedang berlutut di dalam aula khusus untuk pria. Dirinya kemudian diarahkan ke aula khusus untuk wanita, tempat dia diharuskan untuk berlutut selama 14 hari sebagai tanda penghormatan terakhirnya.


Ritual ini dimulai pada pukul 5 pagi setiap harinya dan berlangsung tanpa henti kecuali untuk istirahat makan siang, lalu dilanjutkan hingga jam 5 sore.


Bayangkan betapa beratnya tugas ini, berlutut selama berjam-jam setiap hari, bukan hanya sekedar berlutut, tetapi juga menangis.


 Zhang Fei melangkah ke dalam aula khusus wanita dengan bantuan seorang Kasim kecil. Dia disambut oleh halaman yang dihiasi dengan tirai putih yang mengejawantahkan kedamaian dan kesedihan, serta bunga-bunga putih yang menghadirkan aroma harum yang menenangkan. Di tengah-tengah aula, terdapat tempat di mana dia akan berlutut dan merasakan beban berat tradisi yang harus dijalani.


Kasim kecil yang menunjukkan jalan bambawa sepotong bantalan kapas untuk semua orang yang hadir.Dia juga membawanya bersama untuk zhang Fei.


Ada puluhan anak tangga yang besar di sini.Jadi zhang Fei harus melakukan tradisi ini sesuai dengan statusnya, tangga menjadi simbol status waktu itu.


Dia adalah ipar langsung dari kaisar yang sudah mangkat. Jadi di sini status yang sendiri cukup tinggi sehingga dia harus berlutut sendirian di area yang begitu luas.


Seandainya Kaisar memiliki banyak saudari ipar dan keponakan .Mungkin tempat di mana , zhang Fei saat ini diharuskan berlutut ,akan dipenuhi dengan orang.


Tapi karena keserakahan Kaisar sendiri jadi saudara sedarah nya hanyalah Paman pangeran dan saudari iparnya hanyalah zhang Fei.


Dia bahkan tidak memiliki satu keponakan pun.


Tapi Kaisar masih memiliki beberapa sepupu yang didapatnya dari pihak ibu. Tapi saat ini sepupu tidak dekat dengan Kaisar, meski demikian mereka juga tetap berlutut di posisi mereka masing-masing.


Segera Zhang Fei menemukan lokasinya dan Kasim kecil itu meletakkan bantalan tadi di lantai. Setelah itu dia menundukkan kepalanya sedikit dan pergi meninggalkan lokasi.


Jadi Zhang Fei segera berlutut di sana dan memulai acara menangisnya dengan menempelkan sapu tangan dengan aroma bawang.


Uhh bayangkan saja bagaimana pedihnya mata Zhang Fei saat itu. Dia bukan menangis karena sedih tapi menangis karena bawang, Oke .


"Oke mah, lanjutkan pelaporan bagaimana acara penyergapan musuh hari ini"kata zhang Fei pada sistem.


("Oke,begini....")


Pada pagi hari yang sama, Pangeran Ketiga mulai melancarkan aksinya sekitar jam 6 pagi. Di saat semua orang terlibat dalam acara berduka di istana utama untuk menghormati tradisi berlutut dan menangis. Ironisnya, pada jam yang sama sebenarnya Zhang Fei baru saja memasuki istana utama.


"Pangeran, ada asap... uhuk.. uhuk..."


"Dari mana asap ini berasal?"


"Oh, mataku terasa terbakar..."


"Pangeran..."


Perlahan-lahan, asap mulai mengisi lorong rahasia tersebut. Kondisi para prajurit yang mendampinginya terlihat kacau dan tak nyaman. Pangeran Ketiga pun tak luput dari dampaknya.


Merasa terganggu oleh asap yang menebal, Pangeran Ketiga dengan cepat merobek sepotong kain dari lengannya dan menutupi hidungnya. "Sial, apakah rencana ini sudah terbongkar? Adakah pengkhianat dalam timku?" pikirnya cemas di dalam hati.


"Pangeran!"


"Mundur! Mari kita tarik diri dan rencanakan ulang," seru Pangeran Ketiga , dia tidak tahan dengan asap yang semakin parah. Sama seperti para prajurit lainnya, ia merasa mata perih dan tenggorokannya teriritasi akibat asap yang tidak diketahui asalnya ini.


Segera ratusan prajurit berlari kencang ke arah di mana mereka datang.


Ketika Pangeran Ketiga dan kelompoknya mencoba untuk kembali ke titik awal, mereka menemukan hal yang mengejutkan. Bahkan di sana, di jalur yang semestinya aman, asap juga mulai menyusup. Ketegangan semakin terasa saat mereka menyadari bahwa rencana mereka tampaknya telah sudah di ketahui.


Pangeran Ketiga dengan cemas menyadari bahwa jalan yang dia tempuh telah mencapai titik buntu. Dalam ketidakpastian yang menyelimuti lorong rahasia tersebut, di kedua sisinya terlihat jelas bahwa seseorang telah menyalakan api yang terus membara, seolah-olah menghalau asap ke tengah lorong.


 Dalam momen yang kritis, suaranya terdengar bergetar saat ia berteriak perintah kepada para prajurit yang menemaninya, "Semua nya,ayo berlari! Melewati api!"


Mendengar perintah keras tersebut, para prajurit dengan segera mengambil tindakan.


Seseorang berteriak kepada para prajurit , "Gunakan jurus meringankan tubuh! Melompati api dengan cepat!"


Prajurit-prajurit yang mendengar, segera merespons cepat. Mereka mengumpulkan kekuatan batin mereka dan mengaktifkan jurus meringankan tubuh yang telah mereka kuasai dengan baik.

__ADS_1


Dalam suatu gerakan saja,mereka meloncat dengan ketinggian yang menakjubkan, seolah-olah menyentuh awan di atas. Langkah cepat mereka membantu mereka melewati nyala api dengan aman dan cepat.


Tidak hanya Pangeran Ketiga dan prajurit yang melompati api dengan keahlian ini, ada juga seorang prajurit yang memiliki rencana tak terduga. Sambil melompat, dia dengan cepat menendang sepotong kayu yang terbakar, merobeknya dari sumber api. Kayu yang terbakar itu melayang menjauh, memberi mereka jalan yang lebih aman.


Aksi ini terbukti mengilhami prajurit-prajurit lainnya yang melihatnya. Mereka melihat bahwa satu tindakan dapat membawa perubahan, dan begitu banyak dari mereka merasa terdorong untuk mengikuti langkah tersebut.


Sementara beberapa berhasil melewati dengan selamat, beberapa prajurit lainnya tidak seberuntung itu.


 Beberapa prajurit terjebak oleh nyala api yang tiba-tiba menjilat tinggi. Teriakan kepanikan memenuhi udara, dan aroma kayu terbakar semakin kuat. Beberapa prajurit bahkan terbakar, dan api menjilat-jilat pakaian mereka dengan ganas.


Akkhh....


Alhhkkk..


Pangeran Ketiga merasa getaran panik melanda, tetapi dia harus tetap tenang dan fokus. Dalam upaya untuk membantu prajurit yang terjebak, dia berteriak perintah lain, "Bantu mereka! Padamkan api!"


Beberapa prajurit yang berhasil melewati api dengan selamat segera berbalik untuk membantu teman-teman mereka. Mereka berjuang keras, merobek pakaian mereka sendiri untuk memadamkan api yang menyala di tubuh rekan-rekan mereka. Teriakan nyeri dan usaha keras terdengar, namun akhirnya api bisa dipadamkan.


Tapi bencana datang dari berbagai sisi. Dalam kemenangan sementara atas nyala api dan asap yang telah mereka lalui, para prajurit Pangeran Ketiga berhasil keluar dengan selamat. Mereka dengan cerdik menghindari ancaman yang tampak terlihat, namun belum mengetahui bahwa bahaya baru telah menanti di balik api itu.


Saat mereka merasa seolah-olah ancaman telah sirna, mereka tidak menyadari bahwa di balik nyala api yang membara tersebut, puluhan prajurit elit dari paman Pangeran Ketiga telah bersiap menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Karena fokus pada upaya membantu prajurit lain yang terjebak dalam kobaran api, mereka tidak menyadari bahwa musuh mereka telah mengatur jebakan yang mengancam.


Pangeran Ketiga sendiri berhasil meloloskan diri dari api, tetapi ia tidak lama mendapatkan kenyataan yang pahit.


Saat ia melihat ke arah lawan-lawannya, tatapan puluhan prajurit elit itu menatapnya dengan menghina dan meremehkan, seolah-olah menganggap mereka hanyalah lawan yang lemah.


Rasa marah dan frustrasi membuncah dalam diri Pangeran Ketiga, tetapi dia tahu bahwa pemberontakan yang sedang mereka lakukan tidak bisa diampuni begitu saja.


Jika menang jadi lah Kaisar, tapi jika kalah,mati adalah jawaban nya.


Dengan suara lantang, Pangeran Ketiga memanggil semua prajuritnya, seruan yang penuh semangat dan tekad. "Prajurit, semuanya! Hati-hatilah, kita telah di kepung! semuanya,ayo serang!"


Pedang di tangannya berkilat dalam sinar matahari, segera bergerak menembus padat asap dan api yang menjadi latar belakangnya.


Dalam gerakan yang gesit dan lincah, prajurit-prajurit elit itu mendekat, serangan mereka datang dari berbagai arah. Pangeran Ketiga bergerak dengan kecepatan dan melawan setiap serangan yang datang. Kelincahan dan ketrampilannya dalam pertempuran memungkinkan dia untuk menghindari pedang-pedang yang meluncur menuju dirinya.


Trang..


Hiyat...


Akhhhh.


Serangan tiba-tiba berhasil menemukan celah. Sebuah pedang meluncurkan sabetan mendalam di dada Pangeran Ketiga. Rasa sakit menusuknya, dan dia merasa darah yang hangat memenuhi mulutnya.


Luka dalam yang dialaminya dari Paman Pangeran masih belum sembuh, tapi sekarang dia mendapatkan luka yang baru.


"aku tidak akan kalah dengan begitu mudah"


Karena nya , Pangeran ketiga bangkit lagi dan menyerang dengan kekuatannya yang tersisa. Dia bahkan tidak sempat menghapus darah yang keluar dari mulutnya.


Slap...


Akhhhh..


Tak lama kemudian, seorang prajurit elit lainnya berhasil menyabetkan pedangnya dengan cekatan di pinggang Pangeran Ketiga. Rasa pedih menyengat dan dia merasakan pusing yang melanda. Tubuhnya terasa lemah, dan dia hampir kehilangan keseimbangan.


Meskipun tubuhnya terasa lemas dan sakit, Pangeran Ketiga tidak menyerah. Dalam sebuah gerakan yang penuh dengan kemauan keras, dia jatuh sebentar tapi kemudian bangkit kembali. Dia merasakan darah mengalir di tubuhnya, tetapi keinginannya untuk melawan tidak padam.


Dengan nafas yang terengah-engah dan darah yang mengalir di tubuhnya, Pangeran Ketiga tetap berdiri, memegang pedangnya dengan erat.


Di sekitar nya ada seruan semangat dan suara pedang yang terhunus menggelegar di udara. Dalam kerumunan ini , tidak ada jalan pulang untuk Pengeran ke tiga dan prajurit nya.


Mereka hanya punya dua pilih,menang atau mati.

__ADS_1


__ADS_2