
Fu Meimei tidak tahu apa yang salah hari ini. Setelah menghabiskan beberapa waktu lagi di toko kain pada akhirnya dia pergi ke sebuah restoran untuk minum teh.
Tapi di sepanjang jalan semua orang menunjuknya dan berbisik-bisik seolah-olah dia adalah hal yang aneh. Walaupun tidak tahu apa yang terjadi tapi Fu Meimei jelas risih ketika mendapatkan perlakuan seperti itu.
Ketika dia memandang, mereka segera memalingkan muka seolah-olah berpikir dirinya tidak tahu sedang menjadi bahan perbincangan.
Hal ini masih berlangsung bahkan ketika dirinya masuk ke restoran itu. Para pelayan budak tentu tidak mau tahu dengan urusan di luar jika pun mereka tahu, mereka bahkan tidak akan pernah ambil pusing.
Dengan begitu tidak ada perubahan layanan dari para pelayan budak di restoran ini.
Ketika masuk ke dalam kotak Fu Meimei merasa tidak nyaman jadi untuk pengalihan suasana dia mengambil buku tersebut dan membacanya sekilas.
Padahal tadi dia tidak berniat untuk benar-benar membaca buku ini tapi semakin dibaca semakin dia marah dan jadi kesal.
Bagaimana mungkin dirinya tidak kesal, tokoh utama yang disebutkan dalam buku ini mirip 90% seperti ayahnya yaitu menteri Fu.
Pelayan budak perempuannya melihat perubahan suasana hati dari majikan. tiba-tiba saja dia tidak bisa menahan dingin yang berasal dari punggungnya.
Dia adalah orang terdekat dari majikan ini dan tahu apa yang terjadi jika sang majikan memiliki suasana hati yang buruk.
Agar pemikirannya tidak semakin memburuk jadi dia buru-buru berkata,"nyonya menu hari ini adalah menu favorit nyonya. apakah pelayanan ini diizinkan untuk memesannya sekarang?"
"tidak perlu memesan apapun ayo pulang" ujar Fu Meimei yang sudah tidak bisa lagi duduk di tempat nya.
"tapi nyonya kita baru saja sampai dan teh masih belum disajikan" katanya sopan
Plak
Sebuah tamparan diberikan pada pelayan yang setia. Sebagai orang rendahan dia harus menerima tamparan ini dengan senyum walaupun itu sangat menyakitkan. Jadi pelayan mahar Fu Meimei ini tidak bergerak satu inci pun dari tempat dia berdiri.
"berani-beraninya Kau menjawab perintahku ,dasar pelayan rendahan apa kau ingin aku jual ke rumah bordir?" kata Fu meimei dengan marah.
"Nyonya maf nyonya, rendahan ini tidak akan memulainya lagi" katanya dengan pipi bengkak.
"Bagus ,ayo pergi "kata Fu meimei yang tidak lagi peduli dengan kondisi di sekitar nya.
Pelayan maharnya ini bergegas berlari secepat mungkin untuk mengikuti langkah dari majikan. Selagi berjalan dia juga membayar beberapa tael perak untuk teh pesanan yang bahkan belum sempat disajikan.
Majikan nya sendiri tidak peduli apakah pesanan ini bayar atau tidak. Dalam pikirannya sekarang hanya penuh dengan pertanyaan. Siapa orang yang sudah begitu kurang ajar menuliskan kisah ini dan menyudutkan keluarga Fu sedemikian rupa.
Dalam setengah jam, Fu Meimei sudah tiba di Fu mansion.
karena kemarahan Dia melupakan sopan santun yang biasa dipegang.Dia tidak berpikir tentang apapun kecuali ingin cepat bertemu dengan ibu, istri sah dari Fu mansion.
Kebetulan hari sudah hampir jam makan siang dan menteri fu juga sudah tiba di rumah lagi.
Kembalinya Putri yang sudah menikah ke rumah tentu harus memiliki jadwal tertentu ataupun ada janji sebelumnya.
Tapi Fu Meimei sebagai seorang putri tertua melewati protokol seperti ini bahkan begitu tiba dia langsung masuk tanpa menyapa siapapun.
Dalam fu mention ini dia bukanlah putri putri satu-satunya tapi dia adalah putri dari istri sah sehingga statusnya lebih tinggi daripada Putri yang lain.
Dengan begitu betapa arogannya dia semua orang masih memandangnya dengan tinggi dan menelan kemarahan itu ke dalam perut.
"Putri tertua"siapa kepala pengurus rumah dengan sopan ketika dia melihat putri ini kembali tergesa-gesa.
"apa Tuan ada di rumah?"
"kebetulan sekali Tuan baru saja kembali dan bersiap-siap untuk makan siang. Rendahan ini akan mengabarkan kedatangan putri tertua lebih dulu sebentar" katanya sopan.
Walaupun dirinya adalah Putri tertua di rumah ini.Tapi dia sudah menikah jadi kedatangannya di Fu mansion bisa dikatakan sebagai seorang tamu .
Karena itu sudah kewajiban dari kepala pelayan rumah tangga ini melaporkan kedatangannya terlebih dahulu kepada tuan rumah.
"Tidak perlu"kata Fu meimei yang langsung saja menyerobot masuk ke halaman dimana kedua orang tuanya itu tinggal.
"setelah menikah pun perilakunya masih tidak berubah"gumam kepala pelayan ini.
__ADS_1
Namun begitu dirinya tetap patuh mengikuti Putri tertua Fu dari belakang
"Ibu"panggil Fu Meimei dengan keras.
Tentu saja ibu dan ayahnya juga familiar dengan suaranya yang terdengar sedikit angkuh. tapi tidak biasanya Fu Meimei berteriak seperti itu.
Mereka tidak mengajarkan seorang wanita apapun urusannya untuk menjerit atau berkata tidak pantas.
"apakah Meimei ini sudah kembali ke rumah?" tanya Tuan Fu yang sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.
"Tidak ada pemberitahuan sebentar sebelumnya jadi istri ini tidak tahu" jawab istri nya menggeleng kepala.
"pergilah sambut dia dulu tanyakan apa masalahnya sampai berteriak seperti itu" kata Tuan Fu lagi.
"Baik"
Istri rumah Fu segera keluar dari kamarnya dan melihat putri yang sudah menikah duduk di sana dengan wajah yang sedikit merah. Jelas saja dia sedang marah melihat wajahmu seperti itu.
"Meimei ada apa? apa ibu mengajarimu untuk bertingkah laku seperti wanita desa?"kata nya begitu dia muncul dari pintu.
Fu Meimei tidak menganggap pembicaraan ibunya ini sebagai sesuatu yang serius .Dia berdiri dan berkata langsung pada intinya.
"Ibu ada seseorang yang menyebarkan gosip tentang Fu mension. putri ini begitu malu mendengarnya ibu. bilang saja ini adalah kabar yang murahan dan dibuat-buat tapi tetap saja ini mencoreng nama baik keluarga kita"katanya yang langsung memelankan suaranya begitu ditegur oleh sang ibu
"Gosip apa? apa yang kau dengar di luar sana sampai kau menjadi marah seperti ini?"
"Aku tidak ingin banyak bicara tapi cobalah ibu baca ini. ada sebuah toko yang jual buku ini dan sekarang laris di luaran sana" Fu Meimei menyerahkan buku itu pada ibunya dan membiarkan sang ibu membacanya untuk beberapa waktu.
Buku itu hanya sekitar puluhan helai saja tapi kisahnya padat dan juga disertai dengan gambar-gambar yang mencolok.
Membaca beberapa hal lain di depannya saja wajah nya segera berubah merah.
Meskipun tidak tahu apakah kisah dibalik kita cerita ini memiliki kebenaran atau tidak .Yang jelas beberapa bab yang menceritakan tentang dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sastrawan yang baru saja lulus.
itu memang terjadi pada dirinya.
Jadi sekarang dia mulai mendapatkan firasat buruk.
"Ibu apakah belakangan ini ayah memiliki musuh? kudengar pangeran ketiga sudah mendekati ayah jadi apakah ini resikonya?"
" ibu ayah di mana biarkan dia mengurus masalah ini lebih dulu. cari biang kerok dan musnah kan saja"katanya yang bahkan tidak sadar dengan perubahan wajah dari sang ibu.
Sementara dia berbicara Tuan Fu juga keluar dari kamar dan melihat jika ada yang aneh dengan situasi istrinya ini
Putri pertama baru saja kembali dan sedang berbicara hangat tapi dia terlihat membeku di tempat dan tidak seperti orang yang sedang mendengarkan pembicaraan lawannya.
"Istri? kenapa kau terlihat begitu tegang ada masalah apa?"tanyanya dengan wajah yang sedikit tersenyum.
Ini membuat semua orang berpikir jika dia adalah seorang kepala keluarga yang ideal ,suami yang baik dan juga seorang ayah yang baik.
Hanya melihat penampakan ayahnya yang sebegini baik .jadi Fu Meimei sama sekali tidak percaya jika hal yang dituliskan di dalam buku itu adalah sebuah kebenaran.
"Ayah kau harus maju untuk membersihkan nama baik keluarga kita ayah. siapa yang sudah ayah singgung akhir-akhir ini?"kata Fu meimei.
Sekarang Fu Meimey tidak lagi terlihat arogan di depan kedua orang tuanya bahkan dia cenderung seperti seorang gadis kecil yang mengadu jika dirinya sudah dibully oleh seseorang di luar sana.
"Hahaha Putri ku, ayahmu ini adalah seorang menteri yang jujur siapa yang bisa aku singgung Hem. tapi apa yang membuat kau jadi marah seperti ini katakan saja keluarga suamimu sedang menggertak mu lagi?"tanyanya dengan wajah serius.
Dia juga sudah mendengar jika putrinya ini diberikan seorang selir belakang. Walaupun selir ini baru saja masuk tapi diindikasikan dia memiliki perut subur dan memiliki tanda-tanda kehamilan awal.
Putri ini sudah memiliki sifat keras ketika dia di rumah. Jadi mendapati suami memiliki wanita lain dia tidak mudah menerima itu begitu saja.
Emosinya sulit ditekan jadi dia sering marah-marah seperti ini.
Tapi rumah siapa yang tidak memiliki selir saat ini.
Sekarang Putri tertua kembali untuk mengadukan beberapa hal yang membuat dia tidak senang. Dengan begitu menteri Fu ini jelas berpikir ke arah itu.
__ADS_1
"ayah aku katakan bukan keluarga suami yang menggertak tapi seseorang yang menggartak ayah dengan buku ini. Sebab itulah aku tanya Karena siapa yang sudah ayah singgung ke belakangan ini?" kata Fu meimei.
dia melihat ibunya tidak fokus dengan buku jadi buku diambil lagi dan diserahkan pada ayah untuk dibaca.
Awalnya pria setengah baya ini tersenyum dan mengambil kursi untuk duduk dengan santai seraya meminum segelas teh yang masih panas.
Tapi pada pembukaan ceritanya saja dia sudah menggigil dan berpikir buruk.
Tidak satupun orang-orang di ibukota mengetahui tentang kejadian ini. Setelah menjadi pegawai pemerintahan dia juga tidak pernah kembali dan tidak berinteraksi sama sekali dengan keluarga-keluarga cabang lainnya.
Jika kelompok ini berniat untuk menekan masa lalu dan datang ke ibukota.Maka dia akan bersikeras mengirimkan beberapa orang untuk membungkam mereka.
Tuan fu sama sekali tidak berniat untuk bernostalgia tentang hubungan darah yang dia miliki bersama keluargaku di kota itu.
Penolakan mereka di masa lalu untuk mengadopsinya membuat dia marah dan berdendam. Perasaan itu subur sampai sekarang yang tidak akan pernah dia lupakan sampai mati.
meski begitu dia tidak akan tega membunuh mereka, hanya menggertak dengan beberapa hal agar mereka diam.
Dia tidak mau keluarga Fu mencoba untuk menjadi parasit di dalam keluarga yang sudah dia bangun susah payah.
Tapi tidak ada satupun di antara keluarganya itu mengetahui kisah tentang Mia.Seorang pelacur yang sudah membiayai segala kebutuhannya untuk sekolah.
Jika tidak ada yang mengetahui kisah ini jadi dari mana buku ini berasal. Tanpa sadar tangan yang memegang buku itu bergetar dan bergetar terus menerus.
Siapa orang ini...
"Ayah, apa pendapatmu ayah? kira-kira siapa yang sedang menargetkan keluarga kita?"kata Fu meimei pada ayahnya.
Ayahnya juga membeku ketika membaca buku itu. Ini juga terjadi pada ibunya ketika dia membacanya pertama kali.
Melihat kedua orang terdekatnya ini tidak bisa berbicara apapun ketika membaca buku ini. Tiba-tiba saja Fu Meimei mendapatkan firasat yang buruk, jangan-jangan kisah yang diceritakan ini adalah kisah yang sebenarnya.
"Ayah? jangan katakan jika cerita di dalam buku itu adalah kejadian asli?ayah?"
Ayahnya masih diam saja dengan tangan yang fokus pada buku itu.Jadi Fu Meimei mengalihkan pertanyaan pada ibunya yang berperilaku sama.
"Ibu? katakan ibu apakah ini benar?"
ibunya tiba-tiba mengangkat kepala dan tidak menjawab namun begitu matanya langsung tertuju pada sang suami.
Dia memang jatuh cinta pada pandang pertama dengan pria ini dan menjanjikan beberapa hal demi untuk menikah. Namun begitu dia tidak tahu ada kisah tragis di balik ini di mana Tuan muda Fu sebenarnya menjadi pria wajah putih.
Pria berwajah putih kecil memiliki artian yang disamakan dengan pria simpanan.
Karena ada beberapa kesamaan cerita mengenai asal usul dari tokoh di dalam buku ini.Istri dari tuan Fu berpikir ini adalah sebuah kebenaran.
Jika sudah begini bukankah akan memalukan untuk dia karena mengambil posisi seorang pelacur.
Plak...
"Bajingan, apakah kau memang pria berwajah putih untuk wanita rendahan seperti itu? katakan suami ku,katakan padaku ,kenapa kau tidak jujur selama ini?" pekik nya dengan air mata yang sudah menggantung.
Dia sudah memberikan dua putra dan satu putri untuk suaminya.Dan itu masih belum dihitung dengan anak-anak yang dilahirkan oleh para selir di halaman belakang.
Tapi sekarang dia di hadapkan dengan kenyataan jika putra yang dia lahirkan bukan lah putra pertama sang suami.
Dia juga bergelar sebagai istri sah , masih lebih rendah dari wanita tunawisma.
"Istri,ini..ini tidak benar. akhir-akhir ini aku didekati oleh pangeran ketiga jadi mungkin ada pihak lain yang tidak senang dengan itu dan membuat propaganda. mana ada hal yang seperti ini percayalah" katanya beralasan.
"Hah masih bisakah aku percaya jika kisahnya jadi seperti sekarang? hah Sekarang aku ingin lihat apakah Putra pertamamu itu benar-benar akan datang untuk mengikuti ujian? tidak sulit untuk melihat apakah dia putramu atau tidak kan. menurut buku ini kalian memiliki kemiripan 90% .Aku akan lihat apakah kau berbohong atau tidak" kata istrinya yang langsung pergi meninggalkan halaman nya.
Fu Meimei hampir hilang akal ketika melihat ibunya berkata begitu. ya sudah ditertawakan oleh musuhnya tadi di toko kain. jika hal ini benar-benar bisa dibuktikan hanya dengan kemiripan wajah. Bukan saja wanita jahat itu tapi seisi ibukota juga akan menertawakannya.
Ayahnya hanyalah seorang pria berwajah putih.
Tidak sanggup tinggal di halaman yang sama dengan pria berwajah putih. Fu Meimei bergegas pergi mengikuti ibunya yang pada langsung kembali ke rumah nenek.
__ADS_1
Bagaimana caranya Fu meimei bisa kembali ke rumah suami nantinya. Dia pasti tidak bisa mengangkat kepalanya lagi di sana.
Ini benar-benar memalukan.