
Dengan bantuan para prajurit yang menelan pil kesetiaan dari Putri, Paman Pangeran berhasil merebut kembali kendali atas istana utama. Awalnya, kesepakatan di antara mereka adalah bahwa setiap orang yang menelan pil tersebut tidak akan mampu melukai Putri, dan Paman Pangeran berdiri sebagai perwakilan langsung dari Putri dalam hal ini. Melukai Paman Pangeran setara dengan melukai Putri, dan hukumannya adalah kematian yang mengerikan.
Paman Pangeran awalnya mengira keberhasilannya ini berkat bantuan prajurit yang dia sisipkan ke dalam prajurit elit Pangeran Ketiga. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa hal ini lebih berkaitan dengan kemampuan Putri yang tak terduga.
Perlahan, pemahaman ini menyusup ke dalam pikiran Paman Pangeran. Dia merasa kagum dengan putrinya yang memiliki kemampuan di luar dugaan. Selama ini, dia belum pernah berpikir sejauh itu tentang Putri, dan sekarang dia semakin terkagum-kagum dengan kekuatan yang dimilikinya.
Paman Pangeran memanggil prajurit dengan cepat, memerintahkan mereka untuk memasuki kamar Kaisar dan membantu Kaisar untuk naik kembali ke atas ranjang yang berantakan. "Cepat, bantu Kaisar naik," katanya dengan suara lantang, sementara tatapannya penuh perhatian terhadap keadaan Kaisar. Prajurit-prajurit itu segera melangkah maju, memberikan bantuan kepada Kaisar yang masih lemah.
"Kalian, periksa luka-lukanya dengan seksama," perintah Paman Pangeran kepada para tabib yang masih berdiri di sudut kamar dengan wajah cemas. "Pastikan racunnya benar-benar teratasi."
Sementara itu, Kaisar duduk dengan perlahan di atas ranjang yang agak berantakan, mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
Para tabib yang telah mendapatkan perintah segera mendekati Kaisar dengan hati-hati. Mereka memeriksa lukanya dengan cermat, mencari tanda-tanda perbaikan dari efek racun yang meracuni tubuhnya. Tatapannya penuh konsentrasi saat mereka bekerja, berusaha keras untuk memberikan pertolongan terbaik kepada Kaisar.
Sambil berusaha menjaga keseimbangan nafasnya, Kaisar berbicara dengan suara lemah, " Paman pangeran, Kaisar ini..uhuk.. Kaisar ini menghargai bantuan Paman pangeran tapi..uhuk...."
Paman Pangeran berbicara dengan suara yang lembut namun tegas, "Berhentilah berbicara, Kakak Kaisar. Kau akan terluka lebih banyak jika kau banyak bicara." Tatapan matanya penuh perhatian terhadap Kaisar yang masih merasa kesakitan akibat luka-luka yang dideritanya.
Namun, Kaisar tak bisa menyimpan kata-kata dalam hatinya. Dengan suara terbata-bata, dia menunjuk ke arah Paman Pangeran dan berkata, "Kau... kau sudah... menipu... dengan berperilaku anak-anak... selama ini." Meskipun suaranya lemah, ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan dan pengkhianatan yang dirasakannya.
Paman Pangeran mendekati Kaisar, berusaha memberikan penjelasan. "Aku tidak bermaksud begitu, Kakak. Aku melakukannya karena... aku ingin hidup."
Kaisar menutup matanya dengan pedih, merasakan patah hati yang mendalam. Dia mengerti maksud di balik kata-kata Paman Pangeran. Kaisar merasa malu jika mengingat betapa ambisiusnya dia untuk menjadi Kaisar waktu itu, sehingga dia menghabisi beberapa saudaranya yang lain.
Sekarang , apakah Paman Pangeran berniat untuk menghabisinya.
Ah jika Paman Pangeran benar-benar berpikir begitu maka ini adalah balasan untuk dia yang begitu ambisius dengan tahta di masa lalu.
Paman Pangeran tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kakak kaisarnya ini. Tapi dia yakin mentalnya sekarang begitu terpuruk ,ketika mengetahui jika racun yang dia derita sekarang. Sebenarnya dikirim oleh Putra kesayangannya sendiri.
"Kakak memang tidak pernah menjadi saudara yang baik, tetapi Kakak adalah Kaisar yang baik. Aku tidak pernah berniat untuk mengambil tahta ini." Tatapan matanya penuh harap dan penyesalan. "Tapi hari ini, aku melakukannya karena Pangeran Ketiga sudah... kelewatan batas. Dia sudah memberikanmu racun. Dia juga sudah mengikuti jejak langkahmu dalam membunuh saudara-saudaranya sendiri. Tapi kakak dulu tidak pernah berpikir untuk menghabisi ayah Kaisar bukan?"
Kaisar terdiam, merenungkan tindakannya selama ini dan pengaruh yang mendorong Paman Pangeran berpura-pura menjadi pria yang bodoh. Rasa penyesalan mulai menyergap hatinya, dan meskipun dia merasa malu untuk mengakuinya, dia menyadari bahwa kesalahannya telah membawa mereka ke situasi sulit ini.
Tabib yang tengah memeriksa Kaisar, melihat ekspresi kebingungan dan penyesalan di wajah Kaisar, dia mundur satu langkah dan berlutut di tanah.
"Racun asli sudah hilang dari tubuh Kaisar dengan penawar racun dari taman pangeran, namun sekarang Kaisar menderita akibat racun yang baru," ucapnya dengan suara tulus.
Paman Pangeran dan Kaisar, terkejut mendengar berita tersebut. Kaisar mengalihkan pandangannya dari tabib ke Paman Pangeran, mengisyaratkan bahwa situasi ini menjadi lebih rumit dan tidak dapat diprediksi.
Siapa yang pernah menyangka jika pedang yang dipegang oleh pangeran ketiga sebenarnya juga mengandung racun.
Paman Pangeran menaruh pertanyaan, "Jenis racun apa yang kini menghantui Kaisar?"
Tabib mengangguk dan menjelaskan dengan tenang, "Racun yang baru masuk dalam tubuh Kaisar adalah jenis racun yang mampu membunuh korban dalam waktu kurang dari satu jam. "Ling Mó Tiān di nama nya.Efeknya sangat cepat dan mematikan."
Paman Pangeran mendengar penjelasan itu, dan ekspresinya berubah menjadi terkejut. Dengan cepat, dia memerintahkan para tabib yang hadir, "Segera buatkan pil penawar baru untuk menghadapi racun ini. Kita tidak boleh membiarkan Kaisar terancam."
__ADS_1
Para tabib yang mendapat perintah segera bergerak, mengambil langkah cepat untuk menghadapi situasi yang mendesak.
Penawar untuk racun ini bernama "Zhìyuán Rénshēng".
Racun "Ling Mó Tiāndú" adalah racun yang sangat mematikan dan mampu membunuh korbannya dalam waktu kurang dari satu jam. Racun ini bekerja dengan cepat dan merusak sistem organ-organ vital dalam tubuh.
Penawar "Zhìyuán Rénshēng" adalah sebuah pil penawar yang dirancang khusus untuk melawan efek racun "Ling Mó Tiāndú". Penawar ini bekerja dengan menghentikan reaksi kimia dari racun dalam tubuh, sekaligus memulihkan organ-organ yang terkena dampaknya.
Para tabib bekerja dengan cepat untuk membuat penawar "Zhìyuán Rénshēng". Mereka menggabungkan berbagai bahan alami yang memiliki sifat detoksifikasi dan pemulihan. Beberapa bahan tersebut termasuk ramuan herbal langka, akar tumbuhan khusus, serta campuran minyak esensial yang memiliki efek penyembuhan.
Penawar ini harus diproduksi dengan sangat cepat dan diberikan kepada pasien dalam durasi 15 menit sejak racun pertama kali masuk ke dalam tubuh. Jika melebihi durasi tersebut, efektivitas penawar akan menurun drastis dan penawar bisa menjadi tidak efektif, sehingga nyawa pasien akan terancam.
Para tabib bekerja dengan ketekunan dan tekad tinggi, karena nyawa Kaisar bergantung pada keberhasilan pembuatan dan pemberian penawar ini. Setiap detik sangatlah berharga dalam usaha mereka untuk menyelamatkan Kaisar dari efek mematikan racun "Ling Mó Tiāndú".
"Kakak Kaisar tenanglah para habib sedang bersiap siap untuk menyelamatkan mu"Kata paman pangeran yang merasa khawatir melihat kulit Kaisar saat ini semakin pucat. Padahal tadinya itu sudah lebih baik setelah menelan penawar racun yang dianggap permen sebelumnya.
Tapi Kaisar sudah tidak lagi peduli dengan hidup atau matinya. Dia merasa seperti telah menerima takdirnya yang datang dengan segala konsekuensinya. Tiba-tiba, tawa terdengar dari bibirnya yang masih berdarah.
"hahaha Paman Pangeran Ini semua adalah karma, ini adalah balasanku karena serakah dan aku harus mati di tangan putraku sendiri dan itupun adalah putra kesayanganku hahaha"
Paman Pangeran dan tabib saling bertukar pandangan, tak yakin dengan reaksi Kaisar yang tiba-tiba berubah. Di tengah kekacauan dan ketidakpastian, Kaisar sepertinya telah mencapai titik pencerahan sendiri.
Kaisar tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres, suatu detail yang sebelumnya terlewatkan.
Saat Paman Pangeran tengah memerhatikannya, Kaisar merenung sejenak dan ingatan tentang kasim tua yang sejak awal tiba di istana, tetapi tiba-tiba menghilang dari pandangan, muncul kembali dalam pikirannya. Seolah-olah sebuah benang tak terlihat tersambung ke ingatannya, Kaisar merasa perlu untuk mencari tahu lebih lanjut tentang sosok itu.
Dengan susah payah, Kaisar mendengarkan suara para tabib yang berbicara di sekitarnya, dan kemudian dengan lemah ia menarik nafas dan mengangkat tangan gemetar. "Kasim tua," gumamnya dengan suara lemah, tetapi cukup jelas bagi para pengawal yang berada di dekatnya.
"Kasim tua," Kaisar mengulangi, matanya berusaha keras untuk tetap terbuka. "Aku ingat... Dia sejak awal tidak ada di sini, sekarang... Dia hilang."
Pengawal itu terlihat bingung sejenak, dan kemudian wajahnya menunjukkan ekspresi sedih. "Kasim tua ditemukan mati di kediamannya, beberapa saat yang lalu Kaisar yang agung. Kami baru saja mengetahuinya sebentar tadi," jawabnya dengan suara rendah.
Kaisar terdiam, matanya membulat kaget. Semua orang di ruangan itu merasakan atmosfer yang berubah.
Kaisar mengingat ekspresi Kasim tua yang selalu penuh dengan ketenangan dan kebijaksanaan. Sekarang, dia tidak akan pernah lagi mendapatkan nasihat bijak dari sosok itu.
"Mati? Kasim tua sudah mati"gumam Kaisar.
Kaisar mendengar berita kematian Kasim tua, dan dalam sekejap, rasa haru dan duka menyelimuti hatinya. Bagaimana mungkin? Dia dan Kasim tua hanya memiliki beberapa tahun bersama, tetapi begitu berharganya setiap momen yang mereka habiskan.
Kasim tua telah mengikutinya sejak Kaisar masih muda, memberikan nasihat dan kebijaksanaan yang tak ternilai. Sekarang, dia harus menghadapi kenyataan bahwa Kasim tua telah pergi selamanya.
Kaisar mencoba memvisualisasikan wajah Kasim tua dalam pikirannya, membayangkan senyuman lembut yang selalu melekat di bibirnya. Namun, dalam refleksi tersebut, pikirannya tergelincir ke dalam ketidakpastian masa depannya sendiri. Kasim tua telah menanti di lorong kematian .Apakah dia juga akan pergi seiring waktu?
Sambil berjuang melawan rasa sakit dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh racun di dalam tubuhnya, Kaisar merasa guncangan lain.
Penawar mungkin ada, tetapi apakah bisa disiapkan dalam durasi 15 menit? Bahkan jika mungkin, apakah hasilnya akan sama efektifnya? Kaisar merenung tentang realitas pahit ini, dan dalam refleksi itu, cerminan atas dirinya sendiri mempermalukan diri sendiri. Dia mulai memahami betapa egois dan terlalu terfokus pada diri sendiri selama ini.
__ADS_1
Sambil merenung, Kaisar menatap Paman Pangeran. Rasa penyesalan yang terlambat muncul, menyiksa hatinya. baru sekarang Kaisar menyadari bahwa tindakan dan pilihannya telah berdampak pada orang-orang di sekitarnya, termasuk Paman Pangeran yang telah menderita karena ketidakpastian dan intrik. Kaisar sekarang merasa arti sebuah pengorbanan dan cinta kasih yang selama ini mungkin diabaikannya.
Sebuah penyesalan mendalam dan rasa haru memenuhi hati Kaisar. Dengan Paman Pangeran, Kaisar berharap ,dia bisa mengubah masa lalu dan menghindari semua pertumpahan darah dan penderitaan yang terjadi.
Tetapi sekarang, Kaisar menyadari bahwa saat ini adalah satu-satunya momen yang dia miliki untuk menunjukkan ketulusan dan penyesalannya, bahkan jika tak ada jaminan kesembuhan.
Kaisar yang terbaring di tempat tidur, tangannya lemah menggenggam tangan Paman Pangeran dengan erat. Matanya terfokus pada wajah Paman
Dengan suara pelan dan serak, Kaisar mulai berbicara. "Paman Pangeran... Kaisar ini memohon padamu, tolong selalu bantu negara Dayun agar berkembang. Jangan biarkan tragedi seperti pertumpahan darah sesama pangeran terulang di masa depan." Kata-kata itu keluar dari bibirnya dengan susah payah, tapi setiap kata terdengar penuh dengan ketulusan .
"Kakak Kaisar aku tidak akan menyembunyikan padamu tapi sebenarnya aku mendukung Pangeran ke-4 Dia adalah seorang pangeran yang tidak memiliki ambisi besar tapi aku akan membimbingnya agar bisa menjadi kaisar yang memikirkan nasib rakyat"Kata Paman Pangeran dengan jujur.
jika dulu Jika dia mengatakan ini satu minggu yang lalu mungkin Kaisar akan memarahinya dan mengatakan dia bodoh dan sebagainya.
Tapi saat ini Kaisar sedang berpikir ke arah sebaliknya.
Dia mengatakan ,sungguh buruk memilih kaisar yang memiliki ambisi besar seperti dirinya saat itu.
Jika memang Pangeran ke-4 adalah pria yang dianggap cocok untuk paman Pangeran maka ,jadilah itu.
Paman Pangeran mendengarkan dengan hati-hati, saat dia merasakan getaran emosi dalam kata-kata Kaisar. "Aku berjanji, Kakak Kaisar. Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan untuk memastikan masa depan negara Dayun yang lebih baik," jawabnya dengan tulus.
Namun, Kaisar tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang dalam. Matanya yang basah berbicara lebih dari kata-kata yang bisa dia ungkapkan. " kaisar ini berharap... bisa melihat masa depan yang lebih cerah untuk Dayun, walaupun Kaisar ini tidak bisa menjadi bagian darinya lagi." Suaranya lemah, penuh dengan rasa menyesal.
Paman Pangeran menyentuh lembut tangan Kaisar dengan penuh pengertian. "Kakak Kaisar, kau telah mengorbankan banyak hal untuk negara ini. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu."
"Ya , Kaisar ini bahkan sudah mengorbankan banyak Pangeran untuk tahta ini.Paman pengeran,kau .. apakah kau menyalahkan Kakak Kaisar?"
"Jika aku memiliki keyakinan, kaisar akan lebih optimis jika Paman Pangeran yang akan menjadi Kaisar selanjutnya."
Paman Pangeran tersenyum tapi juga menggelengkan kepalanya dengan keras "Aku menghargai kata-katamu, Kakak Kaisar. Tapi Putri tidak ingin terlibat dalam dunia politik dan aku pun merasa hal yang sama. Kami ingin hidup tanpa intrik dunia politik "
Kaisar mengangguk perlahan, matanya tetap tertuju pada wajah Paman Pangeran.
"apa sebenarnya yang sudah aku perjuangkan untuk apa memiliki tahta ini jika harus berakhir seperti sekarang?"pikir Kaisar di dalam hatinya.
Dia melihat sekali lagi ke arah Paman pangeran dan mengerti Kenapa Paman Pangeran tidak ingin masuk ke dalam lumpur politik.
Menjadi Kaisar tidak semudah yang dipikirkan oleh orang lain.
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh kaisar saat itu tapi dia meminta penulis kerajaan untuk membuat dekrit khusus.
sebuah dekrit yang mungkin dekrit terakhir yang ditulis.
Pada saat Kaisar menulis dekrit tidak boleh ada satu orang pun yang berada di sekitar kecuali orang-orang yang berkepentingan dan Paman Pangeran bukanlah orang yang berada di dalam daftar tersebut.
Jadi ketika itu terjadi hanya ada penulis dan Kaisar saja di dalam ruangan sementara para tabib sedang bertugas di luar ruangan.
__ADS_1
Walaupun tidak melihat secara langsung tapi pada saat ini Paman Pangeran yakin ,jika dekrit itu diturunkan untuk memilih Pangeran keempat sebagai Kaisar selanjutnya alih-alih Pangeran ketiga.
Apakah Dayun akan berubah?