Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
210


__ADS_3

Pangeran ketiga duduk di ruang baca yang dihiasi dengan perabotan yang indah, buku-buku tua berjajar rapi di rak kayu. Cahaya lembut dari lentera menggantung di langit-langit menerangi setiap halaman yang dibacanya.


Saat ini Pangeran ketiga sedang membaca sebuah buku yang baru dikirimkan oleh kepala desa ,yang pada dasarnya adalah antek yang sudah ditanam .Namun seiring halaman demi halaman bergulir, wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi kegelisahan yang terpancar dari matanya yang tajam.


Dalam ketenangan ruang baca, kemarahannya mula-mula masih terkekang. Wajahnya hanya menunjukkan sedikit ketidakpuasan, mungkin merujuk pada kalimat-kalimat tertentu yang mengganggu pikirannya. Dia terus membaca, mencerna setiap kata dalam buku itu. Namun, ketika dia memasuki bab terakhir, rasa ketidakpuasannya tiba-tiba membesar menjadi kemarahan yang tak terkendali.


Pangeran ketiga meremas buku itu dengan tangan yang kuat, matanya berapi-api membaca kata demi kata yang semakin menghantamkan kenyataan pahit kepadanya. Ketika dia sampai pada kata terakhir, dia meletakkan buku itu dengan kasar di meja, nafasnya memburu dan dadanya bergerak naik turun dengan cepat.


Tanpa ragu, pandangannya menemui orang-orang terdekat yang berdiri tak jauh dari lokasi. Pelayannya dan penjaga bayangannya, yang sebelumnya sibuk dengan tugas mereka, kini merasa aura tegang yang mengelilingi Pangeran ketiga. Tatapan tajamnya menusuk-nusuk, mengisyaratkan kegelisahan dan kemarahan yang ia rasakan.


Walaupun dia belum membuka mulutnya, aura kemarahannya sudah cukup untuk memenuhi ruangan dengan ketegangan yang hampir dapat dirasakan oleh siapa pun yang berada di dekatnya. Pangeran ketiga mencoba menahan emosinya, tetapi upaya itu tampaknya sia-sia karena wajahnya semakin merah, dan bibirnya yang kuat mulai bergetar.


"ahh apa kau yakin tokoh yang dibuat dalam buku ini adalah Pangeran ini?"tanyanya yang masih tidak percaya.


Meskipun nama tokoh tidak disebut dengan benar ,namun siapapun yang pernah mengetahui sejarah hidupnya tentu mengerti jika tokoh itu adalah dirinya sendiri.


Tapi bagaimana penulis ini bisa mengetahui apa yang dia rasakan dan apa yang ingin dia lakukannya?


Bagaimana mungkin kebenaran ini bisa diketahuinya dengan begitu teliti.


Apa jangan-jangan penulis anonim ini adalah orang terdekatnya juga. Jika tidak bagaimana mungkin bisa seakurat itu.


"pangeran kami tidak tahu,tapi saat ini penduduk di ibukota semuanya sudah memikirkan ke arah itu" kata kepala desa yang mengirimkan buku tersebut kepada Pangeran ketiga.


Brakkk....


Meja kayu yang di samping Pangeran ke tiga,segera dibalik dan itu pecah seperti helaian kain yang tidak berguna. Padahal meja kayu itu baru saja diganti ketika Pangeran marah terakhir kalinya.


Yang paling ditakuti oleh setiap orang di era ini adalah reputasi yang memburuk terlebih lagi Pangeran ketiga yang berkeinginan menjadi Kaisar.


Kisah di dalam buku itu belum tentu adalah sebuah kebenaran tapi ini sudah membuat Pangeran ketiga marah besar. Walaupun belum tentu benar tapi setelah membaca itu semua orang terlanjur mempercayainya.


"panggilkan aku seorang tabib, pergi cari tabib yang tidak ada sangkut pautnya dengan istana"katanya yang untuk sementara berusaha menstabilkan emosinya.


Dia tidak mungkin bisa percaya jika dirinya adalah mandul. Terlepas dari keinginan yang menjadi Kaisar tidak bisa memiliki keturunan adalah masalah besar untuk dirinya.


"Baik pangeran"kata kepala desa itu dengan keringat yang jelas di keningnya. tidak menunggu lama dia langsung bergegas meninggalkan tempat itu .


Sekarang hanya tinggal Pangeran ketiga yang sedang berharap-harap cemas.


Semua orang di sekitar bisa merasakan betapa besar kemarahannya. Beberapa dari mereka tidak berusaha untuk mengucapkan kata-kata yang meredakan ketegangan.


 Semua upaya itu nampaknya tidak akan cukup untuk mengatasi ledakan kemarahan yang terasa semakin mendekat.Pangeran ketiga seperti gunung berapi yang siap meletus dan semua orang tahu bahwa saat itu tak lama lagi akan tiba.


Hampir satu jam kemudian,Kepala desa datang lagi dengan tangan gemetarmDia memperkenalkan seorang laki-laki tua yang berdiri di belakangnya. Dari pakaian dan peralatan yang dibawa oleh laki-laki tua itu, sudah jelas bahwa dia adalah seorang tabib desa yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan tradisional.


"Yang Mulia pengeram, izinkan rendahan ini memperkenalkan tabib desa . Dia dikenal di seluruh wilayah sebagai seorang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyembuhkan berbagai penyakit," kata Kepala desa dengan nada gugup, pandangannya yang khawatir tertuju pada wajah Pangeran ketiga.

__ADS_1


Pangeran ketiga hanya mengangguk dengan serius, tidak mengeluarkan kata-kata. Dia memandang pria tua tersebut dengan tatapan tajam yang menganalisis, mencoba untuk melihat apakah tabib ini benar-benar memiliki kemampuan yang diakui.


Yang paling penting , Tabib ini bukan tabib yang berhubungan dengan kekaisaran.


"Yang Mulia pengeran, tabib ini telah menyembuhkan banyak orang di desa kami. Dia telah mengobati penyakit yang sulit diobati oleh tabib-tabib lainnya. Kami sangat percaya pada kemampuannya," ujar Kepala desa dengan suara yang sedikit gemetar.


Tabib desa itu, meskipun berusia tua, tetapi nampak tenang dan percaya diri. Dia mengangguk hormat kepada Pangeran ketiga, menunjukkan rasa hormatnya pada pangeran ke-3.


Pangeran ketiga akhirnya mengangkat tangannya dan dengan ringan mengisyaratkan agar tabib desa mendekat. "Tabib, pangeran ini mendengar tentang kemampuanmu. Periksa tubuh pangeran ini, jika memang kamu memiliki kemampuan yang diakui."


Tabib desa segera mendekati Pangeran ketiga. Tabib itu memeriksa tubuh Pangeran dengan seksama, menyentuh dan merasakan setiap bagian tubuhnya. Pangeran ketiga tetap duduk dengan tegang, wajahnya masih menunjukkan ekspresi serius.


Dia menekan nadi dan merenungkannya sesaat.Lalu lihat warna kulit, lingkaran mata dan warna lidah pangeran ketiga. dia melakukan pemeriksaan ini hampir setengah jam lamanya dan itu belum juga selesai.


Pangeran ketiga, duduk dengan tegang, menatap tabib dengan pandangan yang mencerminkan harapannya namun juga ketidakpastian. Wajahnya yang serius dan sedikit kaku, mencoba untuk tetap tenang sementara dia menunggu hasil diagnosis dari tabib.


Matanya tidak lepas dari tangan tabib yang bergerak di atas tubuhnya, dan setiap kali tabib menyentuh bagian tubuh tertentu, wajahnya merespons dengan gerakan refleks yang kecil.


Setelah beberapa saat yang tampaknya berlalu dengan lambat, tabib akhirnya selesai memeriksa. Dia mengambil jarak beberapa langkah ke belakang, wajahnya merenung sejenak, dan kemudian dia memberikan senyuman lembut pada Pangeran ketiga, memberikan tanda bahwa semuanya baik-baik saja.


Pangeran ketiga meringis sejenak, kelegaan yang tergambar di wajahnya. Namun, seiring dengan itu, rasa penasaran masih terpancar dari pandangannya, seolah-olah dia ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang telah ditemukan oleh tabib.


"Bagaimana kondisi Pangeran ini?" tanyanya dengan suara lembut.


Tabib desa itu menghela nafas kecil, dan wajahnya memperlihatkan ekspresi menyesal. Dia memandang Paman Pangeran dengan penuh rasa hormat. "Pangeran, sayangnya kondisi tubuh Pangeran tidak dalam keadaan yang sempurna. Tubuhnya telah mengalami beberapa luka dan cedera yang tampaknya sengaja dilakukan."


Wajah Pangeran ketiga mendadak terbungkuk, dia tidak berbicara, tapi pandangannya terperangah pada tabib desa yang telah memberikan berita yang begitu tak terduga.


Jadi kisah di dalam buku itu adalah sebuah kebenaran. Tapi dia tidak akan percaya jika racun ini tidak bisa di singkirkan.


"Apakah Anda mengatakan bahwa saya tidak akan bisa sembuh? Apakah tidak ada cara untuk memulihkan kondisi saya?" Suaranya gemetar dan rasa kepanikan serta kebingungan yang merasuki pikirannya.


Tabib desa itu mengangguk dengan berat hati, matanya penuh dengan rasa penyesalan. " tabib ini khawatir begitu, Pangeran. Racun ini telah ada dalam tubuh pangeran selama lebih dari sepuluh tahun. Proses penyembuhannya sangat sulit dan bahkan mungkin tidak mungkin dicapai. Tapi mungkin saja ada Tabib lain yang bisa melakukan ini, tapi Tabib ini jelas tidak memiliki kemampuan itu"


Wajah Pangeran ketiga berubah menjadi ekspresi keputusasaan. Dia merasa seakan-akan dunianya runtuh di hadapannya. Saat pandangannya jatuh pada tumpukan barang-barang di sekitarnya,buku-buku, peralatan, dan berbagai macam benda, kemarahannya tumbuh dalam sekejap. Dengan penuh amarah, dia melemparkan semua barang itu ke segala arah, menghancurkan kenyamanan ruangan itu.


"Kenapa? kenapa bisa begini!! kenapa??"pekik nya marah.


Tabib desa itu melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya pucat dan tatapannya penuh dengan ketakutan ketika Pangeran ketiga meluapkan kemarahannya. Dia merasa terjepit dan terpojok oleh ledakan emosi yang tiba-tiba.


Melihat ketakutan di wajah tabib, Pangeran ketiga merasa pelarian untuk melepaskan kekecewaannya. Dia mengepalkan tangannya, dadanya naik turun dengan cepat akibat perasaan yang meluap. "Tidak ada yang bisa Anda lakukan? Tidak ada jalan keluar dari ini?" Suaranya nyaris merobek udara dan dia merasa seperti dunia seolah-olah berputar di sekitarnya.


Tabib desa itu mengangkat tangannya dengan lemah, seolah-olah untuk memohon agar Pangeran ketiga tenang. " tabib ini mengerti betapa beratnya berita ini bagi Anda, Pangeran. Namun, tabib ini bukan tabib dengan kemampuan seperti itu. tabib ini hanya mencoba memberikan diagnosis yang jujur berdasarkan pengetahuan saja."


Pangeran ketiga merasa amarahnya terus membakar dalam dirinya. Dalam keputusasaan dan kekecewaan yang mendalam, dia tidak lagi mampu mengendalikan diri. Dengan satu gerakan cepat, dia mengambil sebuah benda yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya ke arah tabib.


Tabib desa itu terkejut dan menghindar dengan refleks. Dengan rasa ketakutan yang besar,dia langsung berbalik dan bergegas menuju pintu, tanpa memandang ke belakang. Suara langkah-langkah cepatnya bergema di udara, menyiratkan bahwa dia ingin melarikan diri dari amarah Pangeran ketiga yang tak terkendali.

__ADS_1


Dalam keheningan yang tersisa, ruangan itu kini penuh dengan kerusakan dan benda-benda yang hancur. Pangeran ketiga sendiri duduk di tengah-tengahnya, merasa hancur oleh berita yang baru saja diterimanya, dan merenungkan masa depan yang tak lagi seperti yang dia harapkan.


Di luar kamar Pangeran ketiga, suasana hening terasa mencekam. Orang-orang yang mengetahui kebenaran ini berdiri dengan perasaan yang berat di dada masing-masing.


Mereka tidak berbicara satu sama lain, tetapi ekspresi wajah mereka mengungkapkan ketidakpastian dan kebingungan. Sentuhan gelap segera merayap di hati semua nya menciptakan suasana yang semakin tegang.


" apa yang harus di lakukan sekarang?"kata kepala desa yang juga shock berat.


Dia sudah menyamar kan diri menjadi kepala desa selama bertahun-tahun, jika semua nya sia sia, lalu untuk apa penyamaran ini di lakukan.


Ini seperti melakukan hal yang tidak berguna.


"Seperti nya perjuangan kita selama ini sudah sia sia tanpa kita sadari"kata yang lain dengan pelan.


Kejadian yang mereka alami,sama seperti Plpara pendukung Pangeran ketiga di ibukota.Mereka juga merasakan goncangan dari kebenaran yang terungkap dalam buku tersebut.


Kegugupan terasa dalam hati mereka, seolah-olah fondasi keyakinan mereka tiba-tiba dihantam badai yang tak terduga. Mereka tidak dapat lagi menutup mata dari fakta bahwa calon pewaris takhta mereka menderita kondisi yang tak mampu melanjutkan garis keturunan.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang jika kisah pada buku adalah sebuah kebenaran?"


"Tidak mungkin,hal ini belum lagi di klarifikasi dari pihak pangeran ke tiga.Ini mungkin pekerjaan orang yang ingin menarik keuntungan dari kekacauan ini"kata seseorang yang juga belum percaya dengan isz isu yang sekarang sedang hangat di perbincangkan.


" Tapi beberapa buku yang sebelumnya dengan tulisan tangan penulis anonim semuanya mengandung kebenaran. Jadi aku yakin jika kali ini juga adalah sebuah kebenaran"kata yang lainnya.


Beberapa di antara mereka merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus merespons. Pikiran mereka melayang-layang antara harapan dan realitas yang pahit. Mereka pernah memandang Pangeran ketiga sebagai pilihan yang kuat untuk memimpin, namun sekarang kebenaran tentang ketidakmampuannya menghampiri mereka dengan tiba-tiba.


Ada yang merasa terkhianati, merasa bahwa mereka telah mempertaruhkan dukungan dan harapan mereka untuk seseorang yang tidak mampu memenuhi tugas utama seorang penerus takhta.


Beberapa merenungkan nasib kerajaan di bawah kepemimpinan seorang pangeran yang tidak bisa melanjutkan garis keturunan. Keragu-raguan merayap di benak mereka, dan pertanyaan tentang masa depan kestabilan kerajaan semakin menghantuinya.


"Ayah, kita harus segera membuat keputusan. ayah katakan padaku apa keputusanmu?"kata seseorang yang sedang masuk ke dalam kamar kerja ayahnya.


isu ini benar-benar memukul beberapa keluarga yang mendukung Pangeran ketiga. mereka mendukung dari segi keuangan dan juga kepercayaan .Ada lagi hal-hal yang sudah membuat tangan mereka penuh darah.


Tapi sekarang...


"Ayah tidak tahu, nama kita sudah ada dan daftar pendukung Pangeran ketiga. Jika suatu hari buku ini muncul di permukaan maka keluarga kita akan tamat"


"Ayah harus mencari cara agar buku itu tidak jatuh ke tangan orang lain.Ayah bergegaslah mungkin ada beberapa keluarga yang berpikiran sama seperti kita"kata putra nya lagi.


Apa yang dipikirkan oleh putranya ini memang benar adanya.Saat ini para pendukung Pangeran ketiga merasa terjebak dalam dilema yang rumit. Mereka merasa tidak lagi mampu membayangkan Pangeran ketiga sebagai seorang kaisar yang kuat dan berpengaruh.


Meskipun mungkin ada yang masih ingin mendukungnya, mereka juga menyadari bahwa kebenaran ini dapat mengancam stabilitas dan kelangsungan kerajaan.


Seorang kaisar yang tidak mampu memiliki keturunan, itu sama saja menghancurkan kerajaannya secara langsung.


Dalam keheningan yang mendalam, pendukung Pangeran ketiga merenungkan pilihan-pilihan yang mereka hadapi. Beban tanggung jawab tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.

__ADS_1


Dalam hati mereka, ketidakpastian dan kekhawatiran tentang masa depan kerajaan terus tumbuh dan kebenaran yang terungkap dalam buku itu menghadirkan duka yang mendalam bagi mereka semua.


__ADS_2