
Gubernur Provinsi X, jatuh dalam pemikiran nya sendiri.Dia telah melihat Pangeran keempat, sang putra kerajaan, berdiri di tengah kerumunan rakyat yang marah, dengan penuh tekad untuk menenangkan mereka. Dalam hati ada rasa khawatir campur aduk dengan kekaguman yang mendalam.
Ketika melihat Pangeran keempat maju tanpa ragu-ragu, Gubernur merasakan detak jantungnya berdebar. Kekhawatiran melintas di benaknya, berpikir bahwa situasi ini bisa berubah menjadi kekacauan yang lebih besar.
Namun pada saat yang sama, dia juga mengagumi keberanian putra muda tersebut. Tidak banyak orang yang akan berani berbicara di depan kerumunan marah, apalagi seorang anggota keluarga kerajaan yang memiliki segala macam tanggung jawab dan risiko.
Saat Gubernur melihat Pangeran keempat berbicara dengan penuh percaya diri, dia terkesima oleh bagaimana suara Pangeran mampu memotivasi dan meredakan kerumunan yang semula hampir tak terkendali. Keberanian Pangeran dan ketulusannya untuk berdiri di tengah-tengah rakyat yang marah menarik perhatian Gubernur.
Ketika suasana akhirnya mulai mereda dan kerumunan kembali tenang, Gubernur menghela nafas lega. Dia menyadari bahwa keberanian Pangeran keempat telah memberikan dampak positif pada situasi ini.
Tapi kelegaan itu hanya beberapa saat saja, kemudian ada situasi yang lebih menghawatirkan lagi.
Kegaduhan di kerumunan tiba-tiba meletus dengan lebih dahsyat, seperti angin kencang yang tiba-tiba menerpa. Teriakan dan jeritan memenuhi udara, menciptakan suasana yang kacau dan mencekam.
Rakyat yang marah melancarkan serangan tak terduga pada para penjaga, yang mencoba keras untuk menahan gelombang kekerasan tersebut. Benturan tubuh-tubuh keras menciptakan gemuruh, sementara penjaga berjuang mempertahankan posisi mereka.
Pangeran keempat, yang sebelumnya berdiri dengan tegar di tengah kerumunan, merasakan detak jantungnya meningkat. Wajahnya yang tadi penuh keyakinan, kini menjadi penuh keragu-raguan. Ini adalah situasi yang tak pernah dia alami sebelumnya, dan dia merasa sedikit terpancing oleh kekacauan yang tiba-tiba terjadi di sekelilingnya.
Sadar akan risiko yang ada, beberapa prajurit dari sisi gubernur segera bergegas mendekatinya. Mereka membentuk lingkaran di sekitar Pangeran keempat, menciptakan pagar manusia untuk melindunginya dari rakyat yang marah. Dengan wajah yang tegang dan pandangan tajam, prajurit-prajurit ini siap untuk bertindak jika situasi semakin tidak terkendali.
Pangeran keempat merasa sedikit terkejut dengan tindakan cepat prajurit-prajurit tersebut. Dia bisa merasakan ketegangan di udara dan melihat bagaimana situasi menjadi lebih tidak terkendali dengan cepat.
Meskipun dia merasa gugup dan kurang berpengalaman dalam menghadapi kerumunan yang naik pitam, dia juga merasa dihargai atas perlindungan yang diberikan oleh prajurit-prajurit tersebut.
Sementara itu, aksi para rakyat yang semakin nekat menyebabkan penjaga yang berusaha mempertahankan posisi mereka kewalahan. Beberapa di antara mereka terjatuh dan terdesak, menciptakan kekacauan yang semakin besar. Kehadiran prajurit-prajurit yang mengitari Pangeran keempat memberi sedikit kelegaan, namun situasinya masih sangat kritikal.
Dalam keadaan yang semakin tegang dan berisiko, Pangeran keempat merasa adrenalinnya mengalir deras.
Sementara itu Gubernur X, wajahnya penuh ketegangan, berdiri di tengah kerumunan para prajuritnya yang bersiaga. Dengan suara yang menggema, dia memerintahkan dengan tegas, "Semua prajurit, siapkan diri! Pukul mundur mereka! Jangan biarkan mereka mendekat!"
Para prajurit, dengan ekspresi serius, mengangkat senjata mereka dan bersiap untuk bertindak sesuai perintah. Namun tiba-tiba, sebuah batu besar terlempar dari arah kerumunan dan melayang ke arah para penjaga. Tindakan tersebut memicu reaksi lebih agresif dari kerumunan dan beberapa orang lain ikut melemparkan batu ke arah para prajurit.
Prajurit-prajurit berusaha keras menepis lemparan-lemparan tersebut dengan pedang di tangan mereka, namun situasinya semakin tidak terkendali. Beberapa batu berhasil meluncur ke arah para penjaga.
Ada juga yang mengenai dinding rumah kediaman gubernur, menyebabkan pecahan batu-batu menyebar dan dinding retak-retak.
Gubernur X melihat keadaan semakin kacau, dia berteriak dengan suara parau, "Tangkap mereka yang berani melanggar ketertiban ini! Jangan biarkan mereka lolos!"
Namun teriakan gubernur sepertinya tidak mempan bagi rakyat yang sudah begitu marah dan terprovokasi. Mereka semakin terusik dan terus melemparkan batu.Dengan begitu semakin banyak orang yang ikut melakukannya.
Suasana semakin kacau dan gaduh, prajurit-prajurit mencoba keras mempertahankan posisi mereka, sementara rakyat semakin berani mendekat dan melakukan tindakan provokatif.
Para prajurit yang mengawal Pangeran ke-4 juga berada dalam situasi yang semakin genting. Mereka harus mati-matian menepis lemparan batu dan menjaga keamanan Pangeran ke-4 dari ancaman yang semakin mendekat. Beberapa dari mereka terpaksa mengayunkan pedang mereka untuk mengusir rakyat yang terlalu mendekat.
Kerusuhan semakin meluas, dan kekacauan di jalanan semakin tidak terkendali. Gubernur X, wajahnya merah padam, berusaha memerintahkan penangkapan para pelaku, tetapi situasinya semakin sulit diatasi. Teriakan jeritan dan suara benturan menciptakan suasana yang mencekam di provinsi x pada saat itu.
Gubernur X berbalik kepada Pangeran ke-4 yang masih berdiri di tengah kerumunan yang semakin gaduh. Dengan suara yang berusaha tetap tenang meskipun terdengar getar kecemasan, ia berkata, "Pangeran, mari kita masuk ke dalam rumah sebentar. Kita harus menjaga keselamatan Anda."
Pangeran ke-4 mengangguk dengan cemas, merasa ragu karena situasi yang semakin memanas di luar. Ia mengikuti Gubernur X menuju pintu rumah yang lebih tenang.
__ADS_1
Namun sebelum mereka berhasil masuk sepenuhnya, tiba-tiba saja terjadi gejolak di depan. Seorang rakyat yang berani, dengan mata yang berkobar amarah, berhasil melewati celah antara para penjaga. Langkah cepatnya membuatnya mendekati Pangeran ke-4 dengan cepat, sementara para penjaga berusaha menangkapnya tetapi terlambat.
Dengan pandangan yang penuh kemarahan, rakyat tersebut menyelinap lebih dekat dan tiba-tiba menusukkan sebuah pisau yang dipegangnya ke arah perut Pangeran ke-4. Semua terjadi dalam sekejap, meninggalkan Pangeran ke-4 terkejut dan tak percaya.
Pangeran ke-4 merasakan rasa sakit menusuk di perutnya, dan pandangannya terpaku pada pisau yang menusuk dagingnya. Ekspresi takjub campur ketakutan terpancar dari matanya.
Gubernur X dan para penjaga yang berada di sekitar terkejut dan bereaksi cepat. Mereka berhasil menangkap rakyat tersebut dan mencabut pisau dari perut Pangeran ke-4. Pangeran itu sendiri terguncang oleh serangan tiba-tiba ini, tangannya tergenggam erat di perutnya yang terluka.
Segera indra pendengaran pangeran ke empat terganggu.Bagi nya suasana semakin hening dan kerumunan yang tadinya ribut kini menjadi sunyi.
Semua mata tertuju pada adegan yang mengejutkan ini, di mana Pangeran ke-4 berdiri dengan wajah pucat dan nafas yang tersengal-sengal.
Gubernur X mendekati Pangeran ke-4 dengan ekspresi khawatir, "Pangeran, bagaimana keadaanmu? Kita harus segera memeriksa luka ini." Sementara itu, para penjaga tetap berjaga-jaga, siap menghadapi ancaman lain yang mungkin muncul.
Sementara itu,pelaku penusukan dengan tatapan mata yang dingin dan gerakan yang terampil, tiba-tiba menusukkan pisau ke dalam dirinya sendiri tanpa ragu. Orang-orang di sekitarnya tercengang oleh tindakan putus asa ini, tidak percaya apa yang mereka lihat. Dia tampaknya sangat terampil dalam melakukan aksi ini, seperti telah mempersiapkan diri untuk saat ini.
Namun yang tak terduga adalah apa yang terjadi selanjutnya. Setelah menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, pelaku itu tiba-tiba meloncat keluar dari lokasi, mengeluarkan teriakan keras yang menggelegar di udara. Suaranya memecah hiruk pikuk kerumunan dan menarik perhatian semua orang di sekitarnya.
"Sudah cukup! Prajurit membunuhku!" jeritnya dengan suara parau, sambil mencoba mengungkapkan bahwa dirinya adalah korban kekerasan yang telah dilakukan oleh prajurit. Dia terus berteriak, menggambarkan pengalaman traumatis yang baru saja dialaminya.
"Tolong,aku tidak mau mati, akhh tolong"
"Aku...aku hanya ingin makan,uhuk.. ahhh..
Tepat di tengah-tengah kerumunan yang marah, pelaku itu tiba-tiba ambruk ke tanah. Tubuhnya bersimbah darah dan matanya yang memucat menatap ke langit. Kehidupannya sudah berakhir dalam tragedi yang menyedihkan.
Takut terjadi lebih banyak tindakan kekerasan, para rakyat tiba-tiba bergegas kabur dari lokasi. Mereka meninggalkan tempat itu dengan cepat, meninggalkan jejak kekacauan dan kebingungan di belakang mereka.
"Pejabat yang tidak punya hati, Ayo pergi"
"Cepatlah, jika masih ingin hidup "
Halaman rumah gubernur yang sebelumnya penuh dengan kerumunan rakyat yang marah dan berteriak kini berubah menjadi sunyi dan hening. Hanya puing-puing sisa dari pergerakan dan kekacauan sebelumnya yang terlihat berserakan di tanah. Bendera-bendera yang berkibar dengan angkuh sekarang jatuh terkulai, angin sepoi-sepoi musim dingin berhembus menyapu jejak-jejak keributan yang pernah ada.
Prajurit yang sebelumnya berjaga-jaga dengan tegang di halaman itu kini berdiri bingung dan bingung. Mereka memandangi puing-puing dan kerumunan yang telah bubar dengan ekspresi kebingungan dan ketidakpastian. Keadaan yang seolah-olah berubah dalam sekejap mata meninggalkan mereka dalam keadaan tidak terlalu yakin tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Di tengah keadaan ini, gubernur yang khawatir dan cemas untuk keselamatan Pangeran keempat segera mengambil tindakan. Dia memerintahkan para prajurit untuk membawa Pangeran keempat masuk ke dalam rumah, menuju kamarnya yang aman. Wajahnya penuh kekhawatiran, dan matanya mencari-cari tanda-tanda cedera pada Pangeran.
"Cepat bawa Pangeran ke kamar nya segera!" perintah gubernur dengan suara lantang kepada para prajurit yang ada di sekitarnya. " kau segera panggil tabib! Kita perlu memastikan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja."
Para prajurit dengan sigap mengikuti perintah gubernur. Mereka dengan hati-hati membawa Pangeran keempat menuju kamarnya, berusaha untuk tidak menimbulkan lebih banyak rasa sakit atau cedera pada pangeran yang tergeletak lemah. Gubernur mengikuti di belakang mereka, wajahnya penuh kekhawatiran dan pikiran yang terus berputar.
Sementara itu, seorang prajurit yang lain diutus untuk mencari tabib dengan segera. Dia melangkah cepat meninggalkan tempat itu, tugasnya adalah memastikan bahwa bantuan medis datang secepat mungkin untuk merawat Pangeran keempat yang cedera. Keselamatan pangeran adalah prioritas utama dan semua orang bisa merasakan ketegangan dan ketidakpastian dalam udara.
Tabib tiba dengan peralatan sederhana namun cukup efektif. Dengan hati-hati, dia membersihkan luka pada perut Pangeran keempat menggunakan sepotong kain yang telah disterilkan dengan cara direbus.
Tangannya bekerja dengan cermat dan teliti, mencoba membersihkan luka dan menghentikan pendarahan sebisa mungkin. Pangeran keempat terbaring dengan mata terpejam, ekspresi wajahnya mencerminkan rasa sakit yang ia rasakan.
Setelah membersihkan luka, tabib memeriksa nadi Pangeran keempat. Wajahnya serius saat dia menempatkan jari-jarinya di pergelangan tangan pangeran, mencari tanda-tanda vital yang mungkin terpengaruh akibat tusukan pisau tadi. Matanya fokus dan berpikir, mencoba mengumpulkan informasi penting tentang kondisi pangeran.
__ADS_1
Namun, saat tabib melangkah ke belakang untuk memberikan penilaian singkat kepada gubernur, ekspresinya tidak menyenangkan. Gubernur yang merasa gelisah dan khawatir, tidak bisa menahan diri untuk bertanya tentang kondisi Pangeran keempat.
"Bagaimana dia, tabib? Apa yang kau lihat?" tanya gubernur dengan nada khawatir.
Tabib menghela nafas dan menjawab dengan suara rendah, "Pangeran keempat telah terluka cukup serius. Pisau yang menusuknya telah dilumuri dengan racun."
Gubernur menegangkan wajahnya mendengar kata-kata itu. "Racun? Apa jenis racunnya?"
Gubenur memegang lehernya sendiri.Jika sesuatu terjadi pada pangeran ke empat, bagaimana mungkin leher ini bisa di pertahankan.
Tabib tidak tua apa yang ada di pikiran gubenur.Dia memandang gubernur serius dan menjelaskan, "Ini adalah racun yang dikenal sebagai racun kematian lambat. Ini akan menyebabkan kerusakan perlahan pada organ-organ dalam tubuh.Jika tidak diobati dengan cepat, bisa berakibat fatal."
Ketika tabib mengatakan bahwa dia tidak memiliki penawar untuk jenis racun ini, suasana semakin tegang. Namun, sebelum keputusan putus asa bisa merasuki ruangan, seorang penjaga bayangan tiba-tiba muncul di depan dengan tabung penawar dalam tangannya.
"Tabib, kalian membutuhkan ini?" tanya penjaga bayangan dengan tenang, menunjukkan tabung penawar itu.
Tabib dan gubernur terkejut oleh kemunculannya yang tiba-tiba. Tabib segera mengambil tabung penawar tersebut dan memeriksanya. Dengan ekspresi kagum dan lega, dia mengangguk kepada penjaga bayangan.
"Ini adalah penawar yang tepat. Terima kasih," kata tabib dengan suara lega.
Gubernur sebenarnya ingin bertanya pada penjaga bayangan,dari tadi kemana aja.Bukan kah sudah tugas mereka untuk menjaga nya.Beraninya mereka hanya melihat pangeran keempat di tusuk orang yang tidak di kenal.
Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berkomentar,ini adalah waktu terbaik untuk mengobati pangeran ke empat.
Tabib segera bekerja dengan cermat, menggunakan penawar untuk melawan efek racun dalam tubuh Pangeran keempat. Sementara tabib merawat pangeran, rasa harap dan kelegaan mulai menyelimuti ruangan. Penjaga bayangan yang muncul dengan tabung penawar tiba-tiba menjadi pahlawan tak terduga dalam situasi yang genting ini.
Dia memang menjaga pangeran ke empat dari jarak tertentu, melihat begitu banyak prajurit yang menjaga maka,dia sedikit rileks.Tapi siapa tahu jika prajurit gubenur ini adalah orang orang yang tidak bisa di andalkan sama sekali.
Luka tusukan pada perut Pangeran keempat memiliki bentuk yang memanjang, sekitar empat inci panjangnya. Permukaan kulit di sekitarnya masih merah dari dampak tusukan.Namun warna biru kehitaman juga sudah mulai muncul, menunjukkan bahwa racun tersebut telah mempengaruhi jaringan di dalam tubuh. Luka itu terlihat sedikit membengkak, menunjukkan tanda-tanda peradangan.
Setelah tabib membersihkan luka dan Pangeran keempat meminum pil penawar segala racun, perubahan kondisi sangat terlihat dengan mata telanjang.
Pada awalnya, kulit di sekitar luka terlihat semakin memburuk, menjadi semakin biru kehitaman dan tampak semakin memerah. Pangeran keempat merasa sakit yang membara dan wajahnya mengerut dalam rasa ketidaknyamanan.
Namun tidak lama setelah meminum penawar, perubahan ajaib terjadi. Kulit di sekitar luka mulai memerah seperti biasanya.Ini mengindikasikan peningkatan sirkulasi darah dan penyembuhan yang lebih baik.
Pembengkakan yang tadinya terasa semakin parah juga mulai mereda. Pangeran keempat merasakan efek penawar yang berjalan dalam tubuhnya, mengalahkan racun yang merusaknya.
Tabib memandang dengan kagum saat dia melihat perubahan ini. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pil penawar segala racun yang telah menyelamatkan nyawa Pangeran keempat. Dengan ekspresi yang antusias, dia berpaling ke penjaga bayangan yang telah membawa penawar ini.
"Maaf, saya tidak pernah melihat penawar seperti ini sebelumnya. Dari mana Anda mendapatkannya?" tanya tabib dengan rasa ingin tahu.
Penjaga bayangan itu hanya tersenyum misterius, tidak memberikan jawaban langsung. Matanya berkilat dalam bayangan topengnya saat dia berbicara, "Tabib, penawar ini berasal dari tempat yang memiliki rahasia yang dalam. Ia adalah hasil dari ilmu yang sangat langka dan kuat. Penawar ini adalah harta yang kami simpan untuk situasi-situasi genting seperti ini."
Tabib merasa terkesima dengan penjelasan itu. Dia memahami bahwa penjaga bayangan ini memiliki sumber daya yang luar biasa dan pengetahuan yang mendalam tentang pengobatan. Sambil melanjutkan perawatan Pangeran keempat, dia tidak bisa menghilangkan rasa ingin tahunya tentang tempat misterius tempat penawar segala racun ini berasal.
Mana dia tau jika pil ini adalah pil yang di berikan oleh zhang fei untuk berjaga jaga.
Sebuah pil yang tidak di perjual belikan.
__ADS_1