
Suasana di ibukota yang telah berhasil dikuasai oleh ribuan prajurit pemberontak kini berada dalam keadaan genting. Bertahap, mereka bertemu dengan para pengemis yang maju keluar dengan tujuan menenangkan situasi.
Namun, ada satu kelompok orang yang memiliki status khusus dan telah menelan pil kesetiaan yang membuat mereka dalam dilema yang sulit.
Kelompok ini terdiri dari individu dan beberapa status sosial lainnya. Mereka tak berani bergabung dengan tim pemberontakan, karena takut melanggar kesetiaan mereka kepada kekaisaran yang sekarang digulingkan. Namun, mereka juga tidak berani bergabung dengan tim yang mempertahankan ibukota, karena takut dipandang sebagai pengkhianat oleh pemberontak.
Dalam keadaan cepat, para prajurit pemberontak tiba-tiba mendapati diri mereka dikelilingi oleh orang-orang yang berpihak kepada Zhang Fei, meskipun pergerakan ini sepenuhnya dilakukan secara sukarela tanpa perintah langsung dari Zhang Fei sendiri.
Kekuatan partai pengemis ini, bergerak atas keinginan mereka sendiri, Pasukan pemberontak, yang sebelumnya yakin akan kemenangan, sekarang terjebak dalam situasi yang menantang karena adanya kelompok individu yang tidak terikat oleh perintah langsung.
Dalam suasana yang sarat dengan ketidakpastian, bentrokan , pembunuhan antara prajurit pemberontak dan partai pengemis.
Secara bertahap ada juga orang-orang yang masuk ke arena perang untuk mendukung ibukota.Mereka rata rata telah menelan pil kesetiaan dari Zhang Fei.
contohnya seseorang penjaga bayangan yang sedang bersiap-siap untuk menindaklanjuti perlawanan dari partai pengemis tiba-tiba dikejutkan dengan pergerakan dari teman di sampingnya.
Teman yang awalnya selalu menjaga agar misi mereka emban sukses sebenarnya segera bertindak di luar nalar.
Jadi secara spontan penjaga bayangan juga bertarung dengan penjaga bayangan yang lain.
hal yang sama juga terjadi di antara prajurit pemberontak. Awalnya para prajurit yang menelan pil kesetiaan lebih memilih pergi ke posisi yang lebih selamat agar tidak bentrok dengan istana kecil.
Tapi mereka melihat jika rakyat sekecil para pengemis juga mampu bangkit untuk mempertahankan ibukota. lalu Kenapa mereka yang memiliki kemampuan tidak melakukan hal yang sama.
Karena itu prajurit yang awalnya menghindari ini langsung masuk ke area pertarungan dan lawan mereka bukanlah orang lain melalui melainkan sesama teman prajuritnya sendiri.
Hanya saja lawan tidak akan dibunuh, mereka hanya dibuat pingsan dan dikumpulkan dalam area yang sama demi menunggu waktu yang sesuai untuk memberikan penjelasan.
Dengan cara itu ibukota kembali bisa diambil alih oleh orang-orang yang tidak terkait dengan kerajaan.
Namun kejadian ini sama sekali tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di dalam istana utama.
Terutama dengan pangeran ketiga yang sebenarnya sedang berjalan masuk dan tujuannya adalah ke istana kaisar.
Sebelum ini Ratu sendiri dipanggil ke halaman Kaisar dengan beberapa alasan.
Ratu tidak tahu ada intrik di dalamnya dan hanya berpikir itu adalah permintaan Kaisar. Jadi dirinya datang dengan langkah anggun tanpa pernah berniat untuk berhati-hati.
Tentu saja kedatangan Ratu secara tiba-tiba di ruangannya membuat Kaisar sedikit heran. Begitu juga dengan paman pangeran yang masih menunggu beberapa waktu lagi untuk memberikan pil yang ketiga.
"Ratu, apa yang kau lakukan di sini?"
menghadapi pertanyaan itu tentu Ratu sedikit terkejut tapi dia berhasil menyesuaikan mimik wajahnya dengan senyuman.
"Oh kaisar yang aku rupanya kau sudah lebih baik daripada kemarin.Ah Ratu ini sudah ingin melihat Kaisar beberapa hari yang lalu tapi Ratu ditahan dan tidak bisa keluar dari halaman. Tapi hari ini bukankah Ratu dipanggil oleh kaisar sendiri untuk datang, jadi kenapa Kaisar masih bertanya?"
"Apa,kapan Kaisar ini memangil Ratu?"
Jelas dia terkejut tapi Ratu memandang Kaisar dengan pandangan yang jijik. kita tidak karena dipanggil bagaimana mungkin dia bisa datang di sini.
Yang paling membuat Ratu jijik adalah kondisi kaisar yang sebenarnya lebih baik daripada kemarin.
Kaisar yang jahat ini sebenarnya memiliki umur yang panjang.Kenapa dewa kematian tidak datang untuk membawa nya pergi lebih cepat.
Kedatangan Ratu yang tak diundang tiba-tiba merambatkan gelombang kejutan dan ketidakpastian di ruang istana. Paman Pangeran yang terbiasa mempertimbangkan setiap sudut pandang dengan hati-hati.Tiba tiba saja merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Tatapan matanya tertuju pada Ratu yang tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Pikirannya berputar dalam ketidakpastian saat ia berusaha menganalisis kemungkinan dari kedatangan Ratu ini. Apa motif di balik keputusan Ratu untuk datang tanpa undangan, dan mengapa saat ini? Apakah ini hanya kebetulan atau ada sesuatu yang lebih dalam?
__ADS_1
Namun, upayanya untuk meredakan kecemasannya hanya sebatas usaha. Ketika Ratu dan Kaisar mulai berbicara, Paman Pangeran merasa getaran aneh di dalam dirinya. Seperti sebuah peringatan tak kasat mata, firasat buruk itu semakin menguat, meninggalkan jejak ketidakpastian yang melekat di hatinya.
Di ruangan yang penuh dengan hiasan indah dan keheningan istana, tiba-tiba terdengar langkah yang tegas mendekati pintu masuk kamar Kaisar. Kehadiran prajurit yang bergerak tanpa izin atau permintaan membuat suasana tegang memenuhi udara.
Namun, keadaan cepat berubah saat terjadi keributan kecil di depan pintu masuk. Suara langkah terhenti, diikuti dengan suara yang samar-samar, dan seruan kejutan.
Kaisar meskipun terlihat sudah lebih baik tapi tenaganya belum pulih seperti sedia kala. Tapi dia juga mendapatkan firasat buruk tentang suara berisik di pintunya. "Apa yang terjadi di sana?"
**Paman Pangeran juga bertanya dengan nada kekanak-kanakan pada prajurit yang da di dalam."Eh, eh, apa yang sedang terjadi, pergi lihat, Kakak Kaisar sedang istirahat kan ?"
Segera dia orang prajurit berjalan keluar. Sementara prajurit sisa dan orang-orang di sekitar, termasuk para tabib yang ada di kamar Kaisar, saling pandang dengan wajah penuh kebingungan dan kekhawatiran.
Segera terdengar suara anehnya di luar dan ada suara teredam seperti suara berbisik.
"Kamu dengar itu? Rasanya seperti mereka berbicara tentang sesuatu yang tersembunyi."
"Ya, tapi mengapa mereka berbicara dengan suara begitu rendah?"
"Apa yang bisa terjadi di kamar kaisar?"
Dalam atmosfer yang tegang ini, ruang di sekitar pintu masuk tampak menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan. Suara bisikan dan spekulasi ringan terdengar dalam keheningan, tetapi tidak ada yang berani mengambil langkah untuk mendekati atau mengatasi apa yang tengah terjadi.
"Kenapa diam saja, pergi dan cari tahu"kata Ratu dengan marah.
Apapun itu,ini adalah tempat kaisar yang tidak bisa di perlakukan seperti itu.Ratu merasa status nya tidak di hargai di sini.
Prajurit yang tersisa bergerak setelah di perintahkan.Tapi entah apa yang terjadi, prajurit tadi mundur lagi dengan gerakan kaku.
Segera saja, sebuah pemandangan yang mengejutkan tersaji di depan mata. Bahkan Ratu yang tadinya arogan menutup mulutnya dan mundur secara bertahap ke belakang.
Ini adalah Pangeran ketiga yang datang dengan seragam lengkap dan juga pedang yang sudah berlumuran darah.
"Pangeran Ketiga, apa yang kau lakukan di sini? Dan mengapa kau datang dengan pakaian perang dan pedang yang berlumuran darah?" tanya Kaisar dengan suara keras.
Pangeran Ketiga mendengar teriakan dari Kaisar tapi dia terus maju dengan langkah mantap, tatapannya tetap terpaku pada wajah Ratu. Dia tampak tenang, hampir tak tergoyahkan oleh nada tinggi Kaisar.
Pangeran Ketiga tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun ,dengan wajah serius dia berkata " Pangeran initelah melakukan apa yang harus dilakukan, ayah kaisar."
"Apa maksudmu dengan itu ? Apakah kamu berniat memberontak?"
Pangeran Ketiga tiba-tiba berhenti berjalan dan dia mengalihkan pandangannya kepada kaisar yang masih berbaring di ranjang tapi kondisi dan raut wajahnya jelas lebih baik tidak seperti orang yang sedang keracunan.
Melihat kondisi Kaisar seperti itu tiba-tiba saja Pangeran ketiga merasa jika penawar racun sudah ada di tangan Kaisar dan tentu saja Kaisar sudah mengetahui jika dia berniat untuk memberontak.
Hah sebenarnya dia juga sudah salah karena meremehkan ayah Kaisar.
" pangeran ini tidak berpikir bahwa 'memberontak' adalah kata yang tepat, ayah Kaisar. pangeran ini hanya melihat kebenaran dan bertindak sesuai dengan keyakinan."
Wajah serius Pangeran Ketiga tidak berubah meski Kaisar menunjukkan reaksi yang tegas. Dia terus maju dengan tatapannya yang terpaku pada wajah Ratu, seolah-olah tidak peduli dengan pertanyaan ayahnya.
Ketakutan merebak di dalam hati Ratu saat tatapan serius Pangeran Ketiga menghunus kepadanya seperti mata pedang yang tajam. Dalam sekejap, bayangan ancaman berputar-putar di benaknya dan kekhawatirannya pun mulai mengendap dalam pikirannya.
Matanya melebar dengan kepanikan yang bersembunyi di balik penampilannya. Dalam keadaan seperti ini, tatapan Pangeran Ketiga terasa seperti sebuah kutukan yang mungkin berujung pada akhir hidupnya.
Ratu yang terkejut oleh intensitas tatapan Pangeran Ketiga, merasa seolah-olah ia tengah dicekik . Segera tubuhnya gemetar membuat tangannya tak sengaja menyenggol beberapa benda di sekitarnya. Gemerincing benda-benda tersebut seakan menjadi akomodasi suara perasaan ketakutan yang menderanya.
Dalam ketegangan yang memenuhi ruangan, Ratu hanya mampu mengeluarkan kata-kata pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa oleh angin. Suaranya terdengar rapuh dan penuh rasa gentar.
__ADS_1
" ratu ini tidak tahu apa-apa... ratu ini tidak bersalah..."
Meskipun ucapan tersebut mengalir dari bibirnya, rasa takut yang masih merasuk dalam dirinya mengungkapkan bahwa ia menyadari potensi bahaya yang mengancamnya.
"Ratu ini tidak bersalah... tidak tahu apa apa...
Pangeran Ketiga tidak bisa menahan tawanya saat mendengar kata-kata Ratu yang mengklaim dirinya tidak bersalah.
Hahaha.. hahaha
Tawa nya yang terbahak-bahak menghancurkan keheningan ruangan, menyiratkan ketidaksenangan dan sindiran yang bersembunyi di balik tawanya. Wajahnya yang tadi serius berubah menjadi cahaya sinis yang mencerminkan kemenangan psikologis.
"kau bilang dirimu tidak bersalah? hahaha siapa yang ingin kau tipu sekarang?"
Saat Pangeran Ketiga berbicara, tatapannya tidak pernah berpaling dari Ratu. Dia menatapnya seperti singa lapar memandang makanan di depan mata.Menunggu saat yang tepat untuk menggugah luka-luka yang dulu pernah ada.
"Tidak bersalah, Ratu? Ingatkah kau sepuluh tahun yang lalu, ketika kau bermain dengan nasib orang lain demi keuntungan pribadi ?"
Suaranya penuh dengan sentuhan kejutan dan kepuasan atas informasi yang dipegangnya.
"Ingatkah ratu betapa kejamnya kau mengatur suatu peristiwa yang mengakibatkan hilangnya masa depan orang lain? Yang memusnahkan harapan dan mengisap kebahagiaan mereka?"
Ratu, terpana oleh kejutan dan rasa bersalah yang mendalam, hanya bisa menatap Pangeran Ketiga dengan wajah yang terguncang.
**Pangeran Ketiga menatapnya dengan pandangan tajam"Ketidakberuntungan yang kau hadapi sekarang, Ratu, hanyalah bunga karma yang kau tanam sendiri sepuluh tahun lalu. Ratu mencabut hak pengeran ini dan menghancurkan generasi penerus kerajaan. Dan sekarang, ratu mengatakan 'tidak bersalah'? Tidak, Ratu. kau harus menghadapi akibat dari tindakan mu."
Pangeran Ketiga berbicara dengan penuh penekanan, dan tatapannya tetap melekat pada Ratu, seolah ingin melihat reaksi yang lebih dalam.
Di sisi lain, jika Ratu tidak melihat pedang yang masih meneteskan darah mungkin dia akan berteriak dan menampar Pangeran ketiga atas perkataannya yang benar-benar menghina.
Tapi karena pedang itu juga lah Ratu hanya bisa mundur dan tidak bisa melakukan hal yang lebih daripada itu.
"Pengeran ke tiga,kau..ah ayah Kaisar akan bertindak seolah-olah kejadian hari ini tidak ada. pergi dan bersihkan segalanya kembali. Adapun Ratu ayah Kaisar akan menghukumnya"kata kaisar yang sesekali terbatuk batuk meskipun batuknya ini tidak lagi menimbulkan darah.
Membaca kisah di dalam buku tersebut, Kaisar merasa dia mengerti pemikiran dari pangeran ketiga.
Dia jelas marah karena keturunannya dipotong secara paksa oleh Ratu. Tapi bukankah masalah ini masih bisa diperbaiki jika mereka bisa menemukan tabib yang cocok.
Karena itu Pangeran ketiga masih memiliki jalan untuk memutar. Tapi sayang sekali, kaisar tidak menyadari jika pemberontakan yang dilakukan oleh pangeran ketiga. Sebenarnya sudah begitu serius sampai-sampai ibukota juga sudah jatuh ke tangannya jika tidak ada kelompok partai pengemis.
"Hahaha hahaha, ayah Kaisar apa ayah Kaisar berpikir aku bodoh? setelah melakukan pemberontakan kali ini bisakah dosaku dimaafkan begitu saja? hahaha kenapa ayah Kaisar kenapa?"
Kenapa Pangeran ketiga tidak menyadari situasi ini lebih awal jika dia tahu dirinya sudah terluka sejak 10 tahun yang lalu. Bukankah pemikirannya hanya akan berkisar ke arah perbaikan tubuh bukan ke arah untuk memenangkan kursi kaisar.
Tapi sekarang yang sudah dia lakukan sudah tidak bisa diputar ulang lagi dan dia harus bergerak maju tanpa memikirkan konsekuensinya.
Mengenai keturunan Pangeran kedua berpikir pasti akan ada hari di mana dia bisa menemukan seorang tabib yang jenius.
"Pangeran ketiga ayah Kaisar serius ingin memaafkanmu dan pergilah"kata Kaisar lagi, sebelum dirinya kembali batuk.
Sekarang keturunannya hanya ada 3 Pangeran saja. Melihat dari situasinya Pangeran kedua tidak akan pernah masuk ke jajaran calon kandidat putra mahkota karena ratu adalah seseorang yang tidak memiliki hati dan budi yang luhur.
Tapi jika dibandingkan antara pangeran ke-3 dan pangeran ke-4 dia masih akan condong ke arah Pangeran ke tiga.
Pangeran keempat memiliki karakter lemah dan tidak memiliki pengalaman dalam melakukan safari politik.
Pangeran keempat adalah lemah dari segala sisi. Jadi favoritnya masih pangeran yang ketiga.
__ADS_1
"Haha ayah kaisar, apakah ayah kaisa serius atau ayah Kaisar ini sebenarnya naif?"
Segera suara tawa dari pangeran ke-4 bergema di seluruh ruangan. Bahkan Pangeran ketiga hampir pingsan karena merasa itu adalah sebuah hal yang lucu.