Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
185


__ADS_3

Di sebuah kota terpencil di tanah Dayun, tempat yang jauh dari gemerlap kota, ada begitu keluarga yang menganut tradisi yang kuat dan menitikberatkan pada keturunan laki-laki.


Salah satunya adalah Keluarga ini, yang dikenal sebagai Keluarga Chen, memiliki warisan panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka percaya bahwa keturunan laki-laki adalah penjaga dan pewaris nilai-nilai keluarga.


Lima tahun yang lalu,salah satu anggota keluarga Chen yang bernama Li Wei adalah seorang putri yang menikah dengan seorang jenderal yang berjasa di kerajaan.


 Meskipun telah menikah dan pergi dari rumah kelahirannya, Li Wei merasa perlu untuk menjaga ikatan dengan keluarga kelahiran nya sendiri.Sebagai seorang istri yang patuh dan hormat kepada suaminya, dia juga merasa bahwa kewajibannya kepada keluarga kelahirannya tetap penting.


Jenderal besar ini, jarang kembali ke rumahnya dia lebih sering menghabiskan waktu di medan perang sehingga hubungan mereka bisa dikatakan sedikit transparan.


Orang tua dari jendral sudah lama tidak ada dan mereka memiliki kerabat jauh tapi tidak pernah bersinggungan satu diantara yang lain jenderal ini hanya memiliki seorang adik perempuan yang sangat dimanjakan olehnya


Setelah menikah Nona Chen yang mengambil alih segala biaya pemasukan dan pengeluaran di dalam kediaman jenderal.


Sementara jenderal bahkan tidak peduli sama sekali yang dia pedulikan adalah kehidupan adiknya yang bisa mewah dan membeli apa yang disukai.


Mungkin karena ketidakpedulian itulah istri yang dinikahi oleh sang jenderal terkesan ceroboh .


Tanpa izin dari sang jenderal,setiap tahun pada saat ulang tahun saudara-saudaranya yang laki-laki, Li Wei mengirimkan berbagai hal yang sangat berarti.


Tidak hanya dalam bentuk materi seperti makanan, pakaian dan uang, tetapi juga dalam bentuk kata-kata bakti yang terpatri dalam hati dan pikiran.


Dalam lima tahun itu,istri jendral benar-benar memindahkan isi rumah dari sang jenderal ke rumah keluarga kelahirannya.


Ketika saudara laki-laki akan menikah, dia yang akan menyediakan dana dan beberapa keperluan lainnya.


bahkan mahar dari adik perempuan pun dia yang menyediakannya dengan alasan keluarga kelahiran tidak memiliki kelebihan dana.


Pernah istri jadi jenderal bertanya kepada ibunya.


"ibu, uang kas rumah tidak banyak bisakah adik-adik lain juga menanggung maharnya?"


Ibu tuanya sempat marah dan hampir pingsan dengan menuduh jika dirinya tidak pernah memikirkan keluarga kelahiran sendiri setelah menikah menjadi istri jenderal.


Khawatir dengan tuduhan itu, Chen Li Wei tercengang. Setelah begitu banyak hal yang dia lakukan, dirinya masih saja dicap sebagai putri yang tidak berbakti.


Tapi istri jenderal ini segera memaksakan diri untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai saudara perempuan.


Dia masih tidak mengerti jika dirinya saat itu menjadi sapi perah untuk keluarga sendiri.


Hingga suatu hari, Chen Li Wei memasuki gudang dengan langkah hati-hati dan pandangannya segera tertuju pada ruangan yang dulunya penuh dengan berbagai barang dan persediaan.


 Namun kali ini, dia mendapati bahwa gudang itu sudah setengah kosong. Perasaan cemas merayap perlahan ke dalam hatinya, menciptakan beban yang tak terbantahkan. Gudang yang biasanya penuh dengan bahan makanan, pakaian dan kebutuhan sehari-hari, sekarang tampak seperti tanah tandus .


"Ya dewa,apa ini? bagaimana jika suami pulang?tidak dia akan pulang setelah tahun baru.Dia tidak mungkin bertanya tentang isi gudang kan?"


Hari ini Chen Li Wei menangis sedih dan dia melaporkan hal ini pada ibu nya.Tapi ibu terkesan biasa biasa saja dan berkata jika dia tidak punya otak.


Sebagai seorang istri dari seorang jenderal yang berjuang di medan perang, Chen Li Wei memiliki begitu banyak jalan untuk mencari pemasukan.


Lalu kenapa tidak mempergunakan itu.


Saat itu Chen Li Wei merasa tanggung jawab yang luar biasa terhadap suami nya.Di satu sisi, dia ingin menyenangkan keluarganya dengan memberikan dukungan dan persediaan yang cukup.


Namun, di sisi lain, dia juga harus memastikan bahwa suaminya tidak khawatir tentang kondisi rumah dan keluarga ketika dia berada di medan perang. Dia tahu betapa pentingnya fokus suaminya pada tugasnya dan dia tidak ingin menambah beban pikirannya.


Tidak hanya itu, Li Wei juga merasa kewajiban untuk mendukung adik perempuan suaminya yang tinggal bersama mereka. Adik perempuan itu adalah seorang gadis muda yang memandang Chen Li Wei dengan penuh harapan dan ketergantungan.

__ADS_1


 Li Wei berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu ada untuknya, untuk memenuhi semua kebutuhannya dan menjadikan rumah itu tempat yang aman dan nyaman.


Dengan setengah hati, Li Wei mulai merencanakan langkah-langkah untuk mengatasi keterbatasan persediaan di gudang.


Chen Li Wei entah bagaimana mendengarkan ajaran sesat yang dibicarakan oleh beberapa anggota keluarganya, kelahirannya. Mereka berbicara tentang bagaimana menggunakan nama besar jenderal untuk memperoleh hadiah dari berbagai pihak.


Awalnya, Chen Li Wei merasa ragu dan terbebani dengan rencana semacam ini. Namun, kekurangan anggaran dan tekanan yang dia rasakan untuk menjaga reputasi keluarganya membuatnya berpikir untuk menerima hadiah-hadiah tersebut.


 Dia khawatir bahwa tindakan ini akan mencemarkan nama baik jenderal dan keluarganya. Namun, ibu dan saudara laki-lakinya tidak sepaham dengannya. Mereka menganggapnya naif dan bahkan mengatakan bahwa menolak tawaran seperti itu adalah tanda kebodohan.


"Bodoh! Kamu akan selamanya bodoh jika menolak ini," ujar saudara laki-lakinya dengan nada menghina. "Kamu harus tahu bahwa praktik ini sudah biasa di kalangan bangsawan. Semua orang melakukannya dan itu adalah hal yang wajar."


Chen Li Wei merasa dilematis. Di satu sisi, dia ingin menjaga integritas dan reputasinya sendiri, serta menjaga nama baik jenderal yang dihormati. Namun di sisi lain ,dia mendapatkan tekanan dari keluarganya sendiri.


Seiring waktu, Chen Li Wei mulai menerima hadiah-hadiah tersebut dari berbagai tempat. Setiap kali dia menerima hadiah, nama besar jenderal diucapkan dengan bangga, seolah-olah membenarkan tindakan tersebut.


 Kegiatan semacam ini pun mulai menjadi rutinitas dalam keluarganya, dengan harapan bahwa itu akan membantu mereka mengatasi kesulitan finansial.


Yang tak terduga, kabar tiba bahwa sang jenderal tidak akan pergi ke medan perang dalam waktu yang cukup lama pada tahun itu. Adik perempuan sang jenderal juga menikah dengan seseorang yang memiliki status, meningkatkan tuntutan akan dana di rumah. Meskipun jenderal tidak secara eksplisit meminta dana, terlihat bahwa ia berharap pernikahan adiknya berlangsung dalam skala besar.


Chen Li Wei merasa panik. Ia takut rahasiannya terbongkar oleh sang jenderal. Dengan hati yang berdebar, ia segera kembali ke rumah kelahirannya dan mencari solusi.


Dalam adegan percakapan dengan ibu dan saudara laki-lakinya, Chen Li Wei merasa semakin tertekan. Mereka nampak acuh tak acuh dan bersikap seolah masalah ini bukanlah urusan mereka. Saat ia meminta pertolongan, mereka menanggapinya dengan dingin.


"Kamu sudah menikah, bukan? Urusan keluarga suamimu seharusnya menjadi tanggung jawabmu sendiri. Itu tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga kelahiranmu," kata mereka, bahkan saudari ipar yang dulu memujinya kini bersikap sama.


Semua orang nampaknya bersikap negatif terhadap Chen Li Wei. Para iparnya berbicara tentang dirinya dengan tuduhan bahwa ia memiliki perilaku buruk karena meminta bantuan dari keluarga kelahirannya meskipun sudah menikah.


Namun, dalam adegan percakapan itu, Chen Li Wei tidak tinggal diam. Dia berbicara dengan tegas, menyampaikan pandangannya bahwa gudang yang kosong juga merupakan tanggung jawab keluarga kelahiran. "Bukankah kosongnya gudang juga akibat dari kebutuhan keluarga kelahiran? Ini artinya kita semua harus bertanggung jawab," ujarnya dengan suara mantap.


Chen Li Wei mencoba untuk mempertahankan kehormatannya dan juga mencoba menyadarkan keluarganya tentang tanggung jawab bersama.


"Apa yang kamu pikirkan, Chen Li Wei? Bagaimana bisa kamu berani meminta bantuan dari keluarga kelahiranmu? Kamu memalukan kami!" teriak salah satu saudari iparnya dengan nada tajam.


Ibu kandung Chen Li Wei juga ikut memarahinya dan berkata, "Kami telah memberi makan dan merawatmu selama ini dan ini bagaimana kamu membalasnya? Dengan meminta uang dariku untuk masalahmu sendiri?"


Chen Li Wei merasakan kata-kata itu seperti pukulan berat yang menghantamnya. Dia merasa hancur oleh amarah dan penolakan yang datang begitu tiba-tiba. Mata ibu kandungnya, yang dulu selalu penuh dengan cinta dan kasih sayang, kini terlihat dingin dan kecewa.


Sesaat setelah mereka selesai berbicara, Chen Li Wei menyadari sesuatu yang menyakitkan hatinya. Dia sadar bahwa selama ini, mereka mungkin hanya memandangnya sebagai sumber penghasilan tambahan.


 Mereka tidak pernah menghargai atau mencintainya sepenuh hati seperti seorang anak, melainkan sebagai seorang yang bisa memberi uang.


Rasa sakit dan pahitnya menyadari hal ini membuat air mata tak terbendungkan mengalir di mata Chen Li Wei. Dia merasakan kesepian dan kehampaan yang mendalam di tengah amarah dan penolakan ini. Tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah saat dia akhirnya diusir dari rumah kelahirannya sendiri.


"Dia tidak layak menjadi bagian dari keluarga kita! Pergilah dan jangan pernah kembali lagi!" bentak ibu kandungnya dengan tegas.


Dalam keadaan hancur dan penuh keputusasaan, Chen Li Wei harus menghadapi kenyataan bahwa dia telah diusir dari rumah kelahirannya. Hati dan pikirannya penuh dengan perasaan campur aduk, termasuk rasa marah, kesedihanndan kecewa. Namun, dia juga merasa tegar dan bertekad untuk membuktikan nilai dan kemampuannya tanpa dukungan keluarga yang sudah memperlakukannya seperti ini.


Chen Li Wei merasa terjepit dalam situasi yang sulit, dihadapkan pada tanggung jawab dan kebutuhan keluarga suaminya yang semakin berat. Meskipun dia telah diusir dari rumah kelahirannya, tekadnya untuk membantu keluarga suaminya tetap kuat. Namun, kali ini dia harus mengambil tindakan yang lebih drastis.


Dengan hati berat, Chen Li Wei memutuskan untuk menjual beberapa mas kawinnya, simbol pernikahannya yang seharusnya berharga. Bahkan lebih menyedihkan, dia harus menjual beberapa pelayan budak yang setia melayani rumah tangganya. Tindakan ini sangat sulit baginya, tetapi dia merasa tidak punya pilihan lain.


Chen Li Wei berusaha untuk menjaga semuanya tetap rahasia dari suaminya. Dia menerima hadiah-hadiah besar secara diam-diam dan melakukan perencanaan dengan cermat. Semua demi memastikan bahwa pernikahan adik ipar perempuannya dapat diadakan dengan megah dan sesuai dengan yang diharapkan oleh sang jenderal.


Pada hari pernikahan yang penuh gemerlap dan megah, jenderal terlihat bahagia dan terkesan dengan semua yang Chen Li Wei atur. Tapi di balik senyum dan kebahagiaan itu, dia tidak menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh istrinya. Kediaman mereka mungkin terlihat mewah dan megah dari luar, tetapi sebenarnya sudah menjadi cangkang kosong di dalam.


Chen Li Wei memandang ke sekeliling, melihat segala yang telah dia lakukan untuk menjaga citra yang sempurna dan memenuhi keinginan suaminya. Hati dan pikirannya tercampur aduk antara perasaan bangga dan sedih. Meskipun dia mampu menyelenggarakan pernikahan dengan sempurna, dia juga menyadari jika sebenarnya dia sudah kalah.

__ADS_1


*****


Pangeran ketiga selesai membaca buku itu,dia semakin marah saja sekarang.


Pada diskripsi akhir, dikatakan suami dari adik perempuan jenderal pergi meninggalkan kediamannya satu minggu setelah menikah.


Ditulis juga jika 3 hari setelah pernikahan dengan adik perempuan jenderal, suaminya tersebut mengambil seorang selir.


Istri sah belum hamil tapi selir muda sudah hamil duluan.


Hah, hanya orang bodoh yang tidak mengetahui sosok dibalik kisah tersebut.


Brak...


Buku itu dilemparkan ke tungku kayu . Segera buku itu terbakar di sana secara bertahap tahap.


Pangeran ketiga merasa yang terbakar bukanlah buku tapi dirinya sendiri.


Kau tahu saat ini pendukung terbesarnya adalah jendral su. Jika buku ini sudah dibaca oleh begitu banyak orang bukankah, kisah cangkang kosong itu benar-benar akan merugikan jenderal sendiri.


Pangeran ketiga selalu berpikir jika rumah jenderal bisa mendukung kebutuhan perjuangannya.Dari segi prajurit dia lebih unggul dari menteri kanan.


Jika di nilai dari segi harta, ini mungkin tidak bisa dihitung.


Ada pengaturan dari pemerintah, setengah dari rampasan perang adalah milik dari jenderal yang memimpin perang tersebut.


Dengan begitu banyak perang yang sudah dimenangkan dan rampasan perang yang dijatuhkan dalam kantongnya. Bagaimana mungkin jenderal Su bisa kalah dari menteri kanan.


Inilah sebabnya dia memilih adik perempuan jenderal Su sebagai istri sah nya


Tapi jika rumah jenderal benar-benar sebuah cangkang kosong ,bagaimana mungkin dia bisa mendukung ini.


para prajurit yang kembali dari perang biasanya tidak memiliki gaji tapi masih harus diberi makan dari kantong jenderal sendiri.


Ahh jika benar jenderal su adalah cangkang yang kosong ,bukankah tugas ini akan jatuh pada wajahnya.


Bukan untung tapi pangeran ke tiga malah buntung.


Sial, apakah pengaturannya selama ini sudah salah.


Rencana awal dia harus menarik menteri kanan agar lebih mendekat mengingat kemampuan menteri kanan juga sebenarnya tidak sedikit.


Tapi karena jumlah prajurit di tangan jendral, dia putar arah.Ini lah sebab nya posisi Zhang Mei yang terpaksa di rilis menjadi seorang selir.


Tidak tau nya,dia sedang menimba air dengan keranjang bambu.


"Ahh siapa anonim ini? kenapa dia tau banyak? bahkan hal ini luput di ketahui oleh diri nya.Tapi anonim bisa tahu bahkan menerapkan ini menjadi sebuah buku"


"Siapa dia? siapa?"


Brak...


Brak...


Brak...


Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara barang barang pecah dari gubuk kecil itu.

__ADS_1


Kemarahan pangeran ketiga benar-benar menghancurkan gubuk kecil yang malang.


__ADS_2