
Pangeran Ketiga dengan hati yang penuh dengan emosi campur aduk berjalan menuju tempat rahasia yang hanya diketahuinya.
Langkah-langkahnya seperti terbang mengarahkannya ke sebuah tempat yang tersembunyi di bawah tanah.. Tempat ini tidak diketahui oleh banyak orang, hanya para pendukung setianya yang mengetahuinya.
Setibanya di tempat itu, Pangeran Ketiga merasakan campuran antara kelegaan dan kecemasan. Kelegaan karena dia tiba di tempat yang aman dan hanya dikenal oleh beberapa orang tepercaya. Kecemasan karena dia merasa bahwa seluruh kerajaan, termasuk istana, adalah tempat yang tidak lagi bisa dia genggam.
Ruangan ini memiliki suasana yang gelap dan misterius, diterangi oleh beberapa obor yang tergantung di dinding. Di dalam ruangan ini, para pendukung setia Pangeran Ketiga telah berkumpul, menunggu kedatangannya.
Saat Pangeran Ketiga masuk,Para pendukungnya, yang telah setia mendukungnya dalam rencana pemberontakan ini menyapa nya dengan suara kecil.
Pangeran Ketiga melihat ke arah para pendukungnya yang memandangnya dengan wajah yang penuh dengan campuran perasaan. Di matanya, dia melihat kekecewaan dan kekhawatiran yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Mereka yang telah setia mendukungnya dalam perjuangannya untuk merebut kekuasaan tampaknya merasa cemas akan situasi terbarunya.
Wajah Pangeran Ketiga sendiri tidaklah baik. Cedera yang dialaminya selama pertarungan membuatnya merasa lemah dan terluka, mengakibatkan ekspresi wajahnya yang tegang.
Dalam upaya untuk meredakan sedikit ketegangan yang ada, Pangeran Ketiga mengambil kursi dan duduk. Dengan gerakan yang lambat dan sedikit kasar, dia mengambil segelas air yang telah disiapkan. Ketika air segar itu mengalir ke tenggorokannya, dia merasakan bagaimana dahaganya hilang.
Para pendukungnya masih memandangnya dengan tatapan campuran. Di antara mereka juga ada semangat dan tekad untuk tetap berdiri di sampingnya dalam perjuangan.
Pangeran Ketiga memandang semua orang dengan wajah penuh pertanyaan."Apa yang terjadi di ibukota? Bagaimana situasinya sekarang?"
" Situasi di ibukota sudah kembali kondusif, Pangeran. Prajurit kita tidak bisa merebut kendali ibukota "
Jawaban ini sudah diperkirakan oleh pangeran ketiga sebelumnya Tapi ketika dia mendengarnya selalu secara langsung jantungnya serasa ingin copot.
Kenapa hal yang sudah direncanakan ini baik-baik bisa gagal begitu saja, kenapa.
"Huh ,ada yang lebih mengejutkan lagi, apa?"tanyanya.
Dia ingin tahu bagaimana pasukan yang sudah dilatih ini tiba-tiba gagal untuk mengambil alih ibukota. Padahal mereka semua ada palsu para prajurit yang sudah berpengalaman lama di medan perang. Bagaimana mungkin bisa kalah begitu saja di tempat sendiri.
" Ya, Pangeran. Ada bantuan datang dari pihak yang tidak pernah kita duga sebelumnya"
" Bantuan dari siapa?"tanya Pangeran ketiga yang tidak sabar ketika menyadari pendukungnya ini berbicara dengan bertele-tele.
"Dari ... dari kelompok pengemis, Pangeran"Bisik nya dengan nada malu.
Pangeran Ketiga terkejut mendengarnya," Pengemis? Apa maksudmu?"
Dia menatap ke arah semua orang dan semuanya menunduk .Dari reaksi mereka , jelas apa yang dikatakan tadi adalah sebuah kebenaran.
Tapi prajurit berpengalaman bisa kalah dengan para pengemis jalanan.
Apakah ini lelucon?
" Mereka telah membentuk kelompok sendiri, Pangeran. Mereka bergerak mandiri dan membantu mencegah pemerintahan jatuh ke tangan kita. jadi kegagalan kita hari ini berdasarkan ketidaktahuan kita tentang partai pengemis"kata Pria itu dengan wajah tertunduk.
siapa yang bisa menduga jika kekalahan terbesar mereka hanya berdasarkan seorang pengemis. Kekalahan mereka hari ini benar-benar mencoreng pengalaman seumur hidup mereka dalam berpolitik dan berperang.
" Tapi, pengemis? Bagaimana mereka bisa...ini tidak mungkin. pasti ada seseorang di balik mereka, pasti ada"guman pangeran ke tiga .
" Sungguh mengejutkan. pangeran ini bahkan tidak pernah membayangkan...
"Kami juga merasa sama, Pangeran"
Pangeran Ketiga merasa frustrasi dan marah atas situasi yang baru saja dia dengar. Dia melempar gelas dan teko keramik dengan keras, membuatnya pecah berkeping-keping dan hancur di dinding.
Brak, cling....
" Mengapa?! Mengapa kita tidak bisa melawan mereka? Bagaimana mungkin kita yang memiliki prajurit berpengalaman bisa kalah dari sekumpulan pengemis yang hanya tahu meminta-minta di jalanan?!"pekik nya marah.
Wajah Pangeran Ketiga memerah dan penuh dengan kemarahan, urat-urat lengannya menonjol karena ia mencoba menahan amarahnya.
"Apakah ada di antara kalian yang tahu siapa di balik partai pengemis ini? Siapa yang memimpin mereka?"tanya Pangeran anak ketiga dengan mengalihkan pandangannya pada semua pendukung yang hadir tanpa terkecuali.
__ADS_1
Tapi sayang mereka semuanya menunduk tanpa mau berbicara sampai salah satu dari mereka menjawab pertanyaan itu m
"Maaf, Pangeran, kami sama sekali tidak mengetahui tentang partai pengemis ini sebelum pertempuran tadi Pangeran. Partai ini muncul begitu saja saat pertarungan sedang berlangsung"
" Kami hanya melihat mereka datang dan mengambil alih situasi kota.Dan mereka juga memiliki jurus aneh bahkan ada yang menggunakan kentut sebagai senjata, jadi ...
Pangeran Ketiga semakin marah mendengar berita itu.
"Hah, prajurit eliteku kalah dengan kentut? apa kalian bercanda?!"
Lagi-lagi semua orang diam karena itu juga memalukan. Bisakah kentut membunuh orang? jawabannya bisa jika anda melihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Jadi siapa dalang di balik partai pengemis ini, siapa!!Tidak ada yang tahu? Apa artinya ini? Bagaimana bisa kita kalah oleh kelompok yang tiba-tiba muncul begitu saja dan itu pun.... itupun gara gara kentut?!
Mendengar suara keras Pangeran ketiga yang tidak percaya, para pendukung ini juga malu sekali. Jika ada lubang di tanah,mereka lebih suka mengubur diri sendiri daripada berdiri menatap Pangeran ketiga yang emosi.
"Maaf pengeran, itu memang hal yang agak memalukan tapi kenyataannya sudah seperti itu.Kami juga sudah melakukan penelusuran, Pangeran, tapi kami belum bisa menemukan informasi yang jelas tentang mereka"
" Tidak ada informasi yang jelas? Ini tidak bisa diterima!" pangeran ke tiga mengambil pedang dengan tiba-tiba.Dia memandang semua orang dengan pedang di tangannya. matanya beringas seolah-olah dia bukan lagi Pangeran ketiga yang dikenal oleh semua orang.
" Pangeran, apa yang kau lakukan?!
"jika kalian semua tidak bisa mengetahui siapa di balik partai pengemis ini, tapi setidaknya ada yang bisa kuatasi rasa marahku!"
Dengan gerakan tiba-tiba, Pangeran Ketiga menyabet pedangnya ke arah pendukung terdekatnya. Pedang itu dengan cepat melintas dan mengenai pendukung dengan keras. Darah tumpah dan pendukung itu terjatuh ke tanah.
Dalam sekejap, orang yang tadinya sedang berbicara sekarang tergeletak penuh darah di tanah dan tidak lagi bernyawa.
" Pangeran?!" para pendukung terkejut melihat reaksi itu dan mereka secara serempak mundur ke belakang tidak mau menjadi korban Pangeran ketiga yang selanjutnya.
pangeran Ketiga menatap semua orang yang hadir dengan mata merah . "Pangeran ini tidak akan mentolerir kelemahan! Siapa pun yang meragukan kesetiaan, mereka akan kubuang!"
Ketegangan dan ketakutan mengisi udara saat pendukung lain terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Pangeran Ketiga, dalam kondisi marah yang mendalam, memperlihatkan ketidakampuan untuk mengatasi rasa frustasinya dan menyebabkan situasi semakin tegang di antara para pendukungnya.
Mereka yang sudah ikut dalam pemberontakan ini tidak bisa mundur lagi kecuali mati. Jadi menyesal juga sudah terlambat.
Dalam ketegangan yang melingkupi ruangan tersebut, Pangeran Ketiga mencoba meredakan emosinya yang semakin memuncak. Ia berusaha menghubungkan antara penulis anonim yang berani mengungkap rahasia-rahasia kotor dan partai pengemis yang tiba-tiba muncul dalam pertempuran melawan prajurit.
"Apakah penulis anonim ini memiliki kaitan dengan partai pengemis? Apakah semua ini adalah bagian dari rencana untuk menjatuhkanku?"pikir pangeran ketiga .
Tapi dia juga berpikir tentang Paman pangeran yang saat ini mengalami perubahan drastis.
Paman Pangeran, partai pengemis dan penulis buku anonim.
Apakah mereka semua berkaitan?
Mata Pangeran Ketiga menerawang, mencoba mengungkap rahasia yang sedang menggerogoti pikirannya. Puluhan mata memandanginya dengan penuh perhatian, dan ketegangan terasa semakin kuat. Sementara itu, Pangeran Ketiga menggenggam erat dada nya yang terluka.
Dia merasa seperti sedang berada di dalam jebakan besar yang siap untuk meledak kapan saja. Emosinya memuncak, dan dia merasa semakin terdesak oleh situasi yang semakin rumit.
Walau bagaimanapun dia tidak akan membicarakan tentang Paman pangeran pas para pendukung nya ini. saat ini begitu penting bagi Pangeran ketiga untuk menjaga kesetiaan para pendukungnya
jika mereka mendengar Paman Pangeran adalah pria normal kemungkinan besar mereka akan berpaling hati.
Ini semua orang mendukungnya karena berpikir jika dia adalah kandidat terbaik diantara para pangeran.
Tapi ketika ada kandidat lain yang lebih baik daripada dirinya tentu orang akan berpaling ke situ.
Jadi dia tidak akan membicarakan masalah Paman Pangeran pada mereka semua yang begitu bodoh.
Kenapa para pendukungnya adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu berpikir, sialan.
" Pangeran, situasinya tidaklah mudah...
__ADS_1
Pangeran Ketiga tidak peduli dengan siapa yang berbicara dia langsung memotong pembicaraannya dengan marah"Tidak mudah?! Kita memiliki pasukan yang kuat dan kami masih kalah oleh mereka yang biasanya berada di bawah garis kemiskinan?!
"Tapi pangeran,mereka memiliki jurus yang aneh dan strategi tersendiri...
"hahahaha ,jurus apa dan strategi apa? Semua alasan hanya akan membuatku semakin kesal!"pekik pengeran ke tiga.
Pangeran Ketiga merasa begitu marah dan kecewa sehingga urat-urat di lengannya terlihat menegang saat ia berusaha menahan amarahnya.
"Pangeran, kami pasti dapat menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi situasi ini"
Pangeran Ketiga berbicara dengan nada penuh kemarahan" Solusi? Solusi apa yang bisa memulihkan harga diri kita? Kita seharusnya bisa melawan mereka, bukan malah merangkak di bawah pengemis!"
Segera beberapa pendukung lagi maju dan mengungkapkan jika mereka saat ini perlu untuk mundur. Jika tidak bisa tetap ibukota mereka bisa pergi ke negara lain untuk mencari suaka.
"Tidak! Kita tidak bisa mundur. Kita sudah terlanjur memberontak, dan kita tidak boleh mundur begitu saja. Nama kita sudah tercoreng di negeri ini selamanya jika kita menyerah"
"Tapi Pangeran, risikonya sangat besar. Jika kita kalah lagi...
"Kalah artinya mati. Tapi menang artinya kita bisa mengubah nasib kita. Kita bisa menjadi pemimpin yang lebih baik untuk negara ini. Kita harus siap menghadapi konsekuensi apa pun"
Dalam suasana tegang di dalam ruang rahasia Pangeran Ketiga, para pendukungnya yang setia berdiri dengan mata tegang dan wajah frustasi. Pangeran Ketiga menatap mereka dengan pandangan tajam, sementara kata-kata mereka terdengar dalam suasana yang sunyi.
Tiba-tiba saja seorang pendukung berlutut di tanah dan menghentakkan dahinya sana dengan bunyi berdebum.
" Pangeran, tolong pertimbangkan keselamatan keluarga kami. rendahan ini bisa saja mati tapi selamatkan keturunan kami"
Mendengar permintaannya itu beberapa pendukung lain juga melakukan hal yang sama. Mereka semua sudah melakukan pemberontakan dan hukumannya adalah mati.
"Selamat kan keturunan kami yang mulia"
"Selamat kan cucu laki-laki ku, pangeran,dia adalah penerus ku di masa depan.Keluarga Lin tidak bisa berakhir di tangan ku"
Pangeran Ketiga menggigit bibirnya, tampak berjuang dengan pertimbangan yang sulit. Dia merasakan beratnya tanggung jawab yang dipikulnya, tidak hanya atas dirinya sendiri, tetapi juga atas pendukungnya.
Pendukung yang tadinya meminta secara resmi itu adalah keluarga dari para selirnya.
Mereka menikahkan Putri sendiri dengan pangeran ketiga dengan harapan yang tinggi tapi siapa tahu bukannya berhasil tapi malah akan menghancurkan keturunan mereka sekaligus.
Menyesal itu memang ada tapi sebenarnya sudah begitu terlambat.
Wajah-wajah para pendukung mulai meringankan, berharap agar Pangeran Ketiga mengambil keputusan yang bijaksana.
" Yang Mulia, kita bisa mengatur pengungsian mereka? ada tempat aman di luar ibukota,jika di izinkan,aku sendiri yang akan mengurus itu"
Pada akhirnya Pangeran ketiga mengizinkan mereka mengevakuasi keluarga terlebih dahulu keluar dari negara dayun.
Karena waktu semakin mendesak tidak ada orang yang tinggal di sisi Pangeran ketiga lagi semuanya bergegas untuk mengevakuasi keluarga sendiri ke tempat yang lebih selamat.
Sementara itu,Pangeran Ketiga yang ditinggal sendiri sekarang sedang merenung dalam keheningan.
ingatannya kembali tentang perubahan wajah Paman Pangeran tadi .Eajah kekanak-kanakan itu telah menghilang, digantikan oleh sosok pria ganas yang mampu mengalahkannya dengan mudah di pertarungan.
"Paman pangeran, tidak kusangka jika kau adalah dalang nya" gumam Pangeran ke-3 dengan marah.
Dadanya sekarang terasa begitu sakit dan itu adalah bukti jika kejadian itu bukanlah sebuah mimpi.
Kebencian dan amarah membara di dalam diri pangeran ke-3 dan dia merasa dikhianati oleh seseorang yang dulunya dia injak-injak dan diejek sesuka hati.
Tapi setelah ini barulah Pangeran ketiga menyadari jika di mata Paman Pangeran ,dirinya adalah badut yang sedang melompat-lompat di atas papan.
Perlahan, api kemarahan membara dalam diri Pangeran Ketiga. Bagaimana bisa dia begitu bodoh dan tidak pernah menduga bahwa Paman Pangeran adalah musuh yang bersembunyi di balik kedekatannya? Dia merasa ditipu dan dimanfaatkan, dan semua itu membuatnya semakin berapi-api dalam keinginannya untuk melawan dan mengalahkan Paman Pangeran.
"Sebuah kelicikan yang tertutup dengan raut wajah polos. Aku bodoh, begitu bodoh," gumam Pangeran Ketiga dengan kebencian yang dalam. "Aku tidak akan membiarkan pengkhianat ini lolos begitu saja. Dia telah membuatku tunduk di bawah bayang-bayangnya, tapi tidak lagi!"
__ADS_1
Dalam gelapnya ruangan, perasaan dendam semakin menguat di hati Pangeran Ketiga. Rasa ingin balas dendam menggerogoti hatinya, dan dia tahu bahwa pertarungan ini belum berakhir. Hanya satu tujuan yang ada di pikirannya,menghancurkan Paman Pangeran, seorang pengkhianat yang telah mengkhianatinya dengan begitu licik.