Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
217


__ADS_3

Apa yang terjadi di istana besar sebenarnya juga terjadi di ibukota saat ini.


Sejak keputusan Pangeran ketiga untuk memberontak dimajukan sebenarnya ini tidak digunakan untuk dua atau tiga hari kemudian tapi di hari yang sama.


Kabar jika ada pihak yang mencoba mendapatkan penawar untuk Kaisar. Ini membuat pendukung Pangeran ketiga ini geger dan merasa hidup mereka sedang di ujung tanduk.


Jadi mereka benar-benar memajukan waktu dan itu adalah hari ini.


Karena mereka sudah mempersiapkannya sejak lama jadi mudah untuk mereka mengambil alih kepemimpinan di ibukota.


Dalam beberapa jam saja mereka sudah berhasil menguasai ibukota dan ini berlangsung sampai saat ini.


Kejadian ini terjadi sebelum jam makan malam.


Saat ini kota ibukota terhampar dengan atmosfer yang berbeda. Dari pemandangan visual yang indah, ada ketegangan yang memenuhi udara. Kota yang seharusnya hidup dan ramai, kini tenggelam dalam ketenangan yang dipaksakan.


Tidak ada penduduk yang berkeliaran di jalanan dan rumah-rumah semuanya ditutup dan dikunci.


Beberapa mayat yang tidak bisa dikenali juga terlihat di jalanan, mereka rata-rata adalah orang-orang yang mencoba untuk melawan para prajurit pemberontak.


Setelah ibukota berhasil dikuasai,Prajurit Pangeran Ketiga sedang berpatroli dengan hati-hati, berjalan di antara bangunan dan menelusuri setiap sudut dengan kewaspadaan.


Pakaian mereka yang gelap menyatu dengan kegelapan, menciptakan presensi yang hampir tak terlihat. Mereka bergerak dengan tujuan yang tegas,menangkap siapa pun yang terindikasi sebagai penentang Pangeran Ketiga.


Di setiap tikungan, di setiap jalan kecil, mata prajurit tajam dan waspada. Mereka menahan nafas saat orang-orang yang mereka temui diperiksa. Tidak ada yang aman dari pandangan tajam mereka. Jika ada tanda-tanda ketidaksetujuan atau keberatan, tangan mereka dengan cepat meraih senjata dan habisi mereka di tempat.


Pemandangan yang paling memilukan adalah ketika mereka menghadapi keluarga selir ibu dari Pangeran Keempat.


Mereka adalah target yang dipastikan harus di bunuh sampai ke akar-akarnya.Jadi sebelum hari gelap, keluarga kelahiran dari selir ibu pangeran ke-4 sudah pun tinggal nama.


Selain mereka dibunuh mereka rumah juga dibakar sehingga tidak menyisakan satu harta pun.


Selain itu mereka juga menyimpan beberapa daftar nama bangsawan yang terindikasi menentang Pangeran ketiga.


Ini juga termasuk dengan rumah menteri kanan. sebenarnya menteri kanan bisa dikatakan orang yang diunggulkan oleh pangeran ketiga sebelum ini hanya saja kejadian dari selera benar-benar membuat Pangeran ketiga gelap mata dan langsung menganggap menteri kanan sebagai musuh terbesarnya.


Hanya saja dia tidak memerintahkan pembunuhan di tempat namun keluarga menteri kanan harus dikumpulkan dalam satu tempat sebelum mereka dijatuhi dengan hukuman mati.


"Suami ku, Ada apa ini apakah Pangeran ketiga memberontak?" Tanya Jiang moyun , mereka dikurung di rumah dan dijaga dengan ketat agar tidak bisa keluar dari rumah.


Di sini menteri kanan tidak menjawab, dia hanya berpikir tentang rencana Pangeran ketiga.


Tidak ada yang mengabari apa yang terjadi tentang putrinya di istana Pangeran hanya saja dia juga ikut membaca buku tersebut dan memiliki beberapa spekulasi di dalam hatinya.


Tapi dia tidak akan pernah percaya jika sebenarnya Putri yang diandalkan sebenarnya sebusuk itu.


Jadi ketika Jiang moyun menanyakan dia hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata.


Ada beberapa keluarga bangsawan yang ditangkap dan diikat tangan mereka dengan tali yang kuat. Mereka digiring dengan kasar oleh prajurit Pangeran Ketiga, melewati jalan-jalan yang pernah dulu mereka lalui dengan bangga. Kini, mereka hanya menjadi tawanan dari rezim yang menguasai kota ini.


"Suamiku...


"Ayah.. kakek...


suara jeritan wanita-wanita dan tangisan anak-anak bergema di ibukota. Tapi beberapa orang pintar tidak akan melakukan itu mereka lebih suka menutup mulut dan tidak memancing kemarahan para pemberontak.


seorang laki-laki tua berbisik pada istri tuanya.


"jangan berisik dan mintalah anak-anak untuk sedikit tenang, Pangeran ketiga tidak akan membunuh kita dia jelas membutuhkan menteri menteri jika dirinya berkuasa kelak"


"Suami ku, apakah argumenmu ini bisa dipercaya?"


"Tentu saja, seorang Kaisar juga memerlukan menteri untuk bisa bergerak. Jika dia membunuh semua menteri dan nak semua bangsawan, sama saja pemberontakannya ini gagal total "


Mendengar percakapan itu istri tuanya ini mengangguk dan membisikkan perkataan yang sama pada keluarganya. Sehingga mereka diam dan menunggu nasib selanjutnya.


Serangan prajurit pemberontak ini juga tidak luput dari istana kecil. paling tidak Pangeran ketiga tidak akan pernah meremehkan musuhnya. Dia tidak pernah berpikir tentang Paman Pangeran tapi malah menargetkan putri istana yang jelas-jelas sudah memberikan masukan besar bagi negara melalui garam dan penanaman anggurnya.


Wanita seperti ini mubazir jika tidak digunakan kembali .Paman pangeran yang bodoh itu bisa disingkirkan dengan mudah.

__ADS_1


Di tengah malam yang senyap, para prajurit Pangeran Ketiga menembus gerbang istana kecil dengan langkah hati-hati.


Ketika mereka mencapai halaman dalam istana, mereka segera disambut oleh penjaga yang berjaga di sana. Penjaga-penjaga ini, yang setia terhadap putri istana kecil, telah bersiap untuk menghadapi ancaman seperti ini. Mata mereka tajam, tangan memegang senjata dengan kesiapan untuk berperang.


"Berhentilah, istana kecil tidak akan membiarkan prajurit kotor seperti kalian masuk"kata prajurit penjaga pintu.


"Huh hanya penjaga pintu gerbang saja sudah berlaku"kata mereka.


Dalam sekejap, pertempuran tanpa suara meletus. Para prajurit Pangeran Ketiga berhadapan dengan penjaga istana yang pemberani. Belati-blati tajam bergerak dengan cepat dalam gerakan yang terkoordinasi.


Ting.. Ting.. Ting...


Perlawanan sengit terjadi di setiap tikungan koridor, di bawah bayang-bayang pilar-pilar mewah istana kecil.


Penjaga-penjaga istana kecil, meski dalam jumlah yang lebih sedikit, melawan dengan tekad dan semangat yang tak tergoyahkan.


Namun, semakin lama pertempuran berlangsung, semakin jelas bahwa para prajurit Pangeran Ketiga memiliki keunggulan. Meski penjaga istana kecil berusaha keras, mereka mulai kehilangan pegangan.


Pihak lawan adalah orang yang sudah bertarung di medan perang dan mereka juga ahli di bidang itu .Sementara lawannya hanyalah prajurit penjaga pintu gerbang yang tidak memiliki pengalaman dalam bertarung.


Dalam perjuangan yang sengit ini, kekuatan dan jumlah akhirnya memenangkan prajurit Pangeran Ketiga.


Segera puluhan prajurit yang istana kecil yang mempertahankan posisi segera jatuh tidak lagi bernyawa.


"hahaha, mereka lumayan tangguh sayang umur tidak panjang hahaha"


Hahahaha..


Tugas yang diberikan oleh pangeran ketiga adalah membawa pergi Putri peipei dan membunuh Pangeran Paman pangeran di tempat. Untuk itu mereka harus masuk ke dalam istana kecil.


Di halaman nya, penjaga satu dan penjaga dua tetap berjaga-jaga di halaman itu mereka adalah pertahanan terakhir yang akan menjaga sang Putri.


Ini bukan berarti tidak mengetahui jika istana kecilnya sedang diserang. Hanya saja dia sudah mendapatkan informasi terbaru dari sistemnya yang mengatakan ada situasi khusus di luar.


Sebuah situasi yang bahkan tidak dikoordinasi oleh Zhang Fei sendiri.


sejak 2 hari ini Paviliun anggrek sudah mendapati atmosfer yang tidak lagi kondusif di ibukota.


Tapi karena kesetiaan yang sudah mendarah daging, beberapa pengemis menolak untuk meninggalkan ibukota.


Siapapun bisa pergi dari ibukota dan menyelamatkan diri sendiri tapi siapa punya indin tinggal juga tidak akan ditolak.


Bisa saja ibukota jatuh ke tangan para pemberontak tapi nyawa dari sang Putri lebih berharga daripada nyawa Kaisar sekalipun.


Karena itu tidak ada yang mengetahui jika sebenarnya di setiap titik ibukota para pengemis sudah berjaga-jaga dan bersiap-siap menerima komando.


Namun mereka tidak akan bergerak seandainya sang Putri tidak disentuh oleh para pemberontak.


Siapapun orangnya bisa saja naik menjadi Kaisar, tapi premismenya Putri Peipei tidak akan dilanggar


Tapi sayangnya, hal ini sudah dilanggar oleh prajurit tersebut dengan melangkah masuk ke istana kecil.


Jadi jangan salahkan para pengemis kecil ini untuk maju.


Inilah masanya di mana partai pengemis yang sudah diremehkan selama ini kembali ke permukaan dan mendapat pamornya di Dayun.


Ketika saat berbahaya telah tiba di istana kecil, tiba-tiba sekelompok pengemis muncul di hadapan para prajurit Pangeran Ketiga. Dalam pakaian lusuh dan jubah yang kusam, mereka maju dengan langkah mantap, berdiri di antara para prajurit yang siap untuk menyerbu istana.


Dengan mata yang berapi-api dan suara yang menggema, salah satu dari mereka berbicara, "Tidak boleh ada yang mencoba masuk ke istana kecil ini. Ini adalah tempat terakhir yang masih berdiri untuk kebenaran dan keadilan."


Para prajurit Pangeran Ketiga melirik satu sama lain dengan kebingungan. Mereka mungkin telah melawan para bangsawan dan penjaga istana, tetapi menghadapi sekelompok pengemis yang terlihat begitu tak kenal takut adalah situasi yang baru baginya.


Para pengemis ini memiliki pakaian yang hampir lusuh, dihiasi oleh lapisan-lapisan debu dan kotoran yang menggambarkan perjalanan hidup mereka yang sulit.


Beberapa dari mereka mengenakan jubah berlubang dengan warna-warna yang sudah pudar, sementara yang lain hanya memiliki pakaian yang tergantung dengan lusuh di tubuh mereka.


"Hei sejak kapan pengemis busuk seperti kalian ini berani mempertaruhkan nyawa? apakah kalian sudah bosan hidup?"tanya seorang prajurit dengan arogan dan juga tertawa meremehkan.


"Huh kami adalah pengemis tapi bukan perampok seperti kalian. jelas sekalian adalah prajurit yang ditugaskan untuk mempertahankan negara ini dari pihak luar. sekarang kalian bukan lagi prajurit yang layak dihormati melainkan bandit yang lebih rendah dari pengemis seperti kami"

__ADS_1


Bukannya merasa takut dan merasa jelek kan ketika perbandingan antara mereka dan bandit.


Prajurit pemberontak angin malah tertawa terbahak-bahak seolah-olah mereka sedang menatap badut yang menari-nari di atas tembok.


" hahaha Lihatlah mereka, rekan-rekan. Apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok pengemis yang hina ini? Mereka mungkin berbicara dengan semangat keadilan, tapi apakah mereka pikir mereka bisa melawan prajurit dari Pangeran Ketiga?"


"Benar sekali! Mereka bahkan tidak layak disebut lawan. Kami tidak akan merasa terancam oleh sekumpulan pakaian lusuh dan tangan kotor."


Prajurit Pemberontak lain juga tertawa sambil menggelengkan kepala. "Mereka mungkin memiliki semangat, tapi itu tidak akan membantu mereka melawan kita."


"Kalau begitu, apa rencana kalian Hem, apakah kalian akan melempar kotoran ke arah kita?"


"Hahahaha...


Mendapatkan hinaan seperti itu, adalah sesuatu yang biasa bagi para pengemis.Tapi kemudian salah satu pengemis yang berbadan kurus maju ke depan dengan langkah hati-hati. Wajahnya yang lelah dan mata yang berkilauan oleh tekad, menunjukkan bahwa di balik penampilannya yang lusuh, ada semangat yang kuat yang menyala.


"Kamu, prajurit yang meremehkan kami, apa kalian benar-benar sehebat yang kalian klaim?"


Pertanyaan ini tidak membikin gentar tapi seorang prajurit pemberontak berbicara dengan nada mencemooh. "hei apa ini, salah satu dari mereka ingin menantang kami?"


"Hei puih, sampah ...


Pengemis tadi tidak kesel tapi menjawab dengan tegas "Kalian mengatakan kami tak berdaya, tapi apakah kalian mau mengadu tenaga dengan kami? Ataukah kalian hanya berani berkata-kata dari balik senjata kalian?"


. Seorang prajurit pemberontak yang dikenal dengan pedang berdarahnya segera maju untuk menghadapi seorang pengemis tua dengan tongkat kayunya.


"Pensiun saja kau sampah. Kamu tidak akan bertahan lama melawan saya."


" jangan banyak bicara tunjukkan saja kemampuanmu "jawab pengemis itu dengan nada pelan.


"Baiklah, siap-siaplah untuk mati tanpa kuburan, sialan"


Segera prajurit pemberontak melancarkan serangan pertama dengan pedang berdarahnya, berusaha untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat.


Pengalaman tempurnya di medan perang tidak mengizinkan dia untuk kalah dengan pengemis yang tidak tahu diri ini.


Namun dia tidak menyangka jika pengemis itu terbukti lebih lincah dari yang dia perkirakan. Dengan gerakan yang anggun, ia menghindari pedang dengan sedikit usaha.


Sebenarnya tubuh kurus itu begitu fleksibel untuk menghindari serangan yang fatal.


Pengemis tua itu tidak tinggal diam. Dengan mantap, dia mengayunkan tongkatnya dalam serangan berputar yang sulit ditebak. Keterampilan ini mirip dengan jurus yang dikenal sebagai "Jurus Tongkat Pengemis memukul anjing" dan dengan itu dia berhasil memukul pedang prajurit pemberontak dari sisi. Prajurit itu terkejut dan terdorong beberapa langkah mundur.


Prajurit Pemberontak itu melotot dengan ekspresi terkejut. "Apa ini?"


"Heh jangan pernah kan lawanmu anak muda"


Pengemis tua itu terus menyerang dengan tongkatnya, menciptakan kombinasi gerakan yang terkadang sulit diikuti oleh mata. Dia mengayunkan tongkat dengan kecepatan yang luar biasa, sementara prajurit pemberontak berjuang untuk mengatasi serangan tersebut.


Meskipun tidak memiliki senjata yang lebih mematikan, pengemis tua ini menggunakan jurus tongkatnya dengan presisi yang luar biasa, mengguncang keseimbangan prajurit.


Terdorong oleh keberhasilannya dalam melawan serangan, pengemis tua itu tiba-tiba meluncur maju, menggempur prajurit pemberontak dengan serangan-serangan yang terus-menerus.


"awas kaki mu!"katanya ketika jelek itu berusaha memukulkan kaki prajurit tadi.


Prajurit tidak siap dan..


"Ahhkkkkk..


Segera kaki nya di pukul, jelas itu adalah kayu yang bisa pecah kapan saja tapi kenapa sepertinya yang menghantam kaki tadi adalah besi baja yang tebal.


"Hei awas pinggang mu!" katanya lagi.


Akkhh..


Dia kena lagi di bagian pinggang dan pinggangnya serasa hampir patah karena pukulan tadi.


Sejak itu prajurit tadi diarahkan seperti kerbau yang sedang dicuci hidung. Pengemis itu jelas meremehkan dia dengan mengatakan bagian tubuh mana yang sedang diincar.


Prajurit tadi jadi ketar ketir,dia berusaha untuk mempertahankan diri, tetapi setiap kali dia mencoba melancarkan serangan balik, tongkat pengemis tua itu selalu hadir untuk membendung serangannya.

__ADS_1


Reaksi terkejut terbaca jelas di wajah semua prajurit pemberontak. Mereka tidak pernah menduga bahwa pengemis kurus yang tampak rapuh dan menggunakan tongkat biasa, bisa menghadapi prajurit dengan pengalaman tempur.


Tongkat kayu yang tampak sederhana telah menjadi alat yang kuat dalam tangan pengemis tua itu. Pertarungan ini telah membuktikan bahwa penampilan bisa menipu, dan bahwa bahkan dalam situasi yang tidak seimbang, kemampuan dan tekad dapat mengubah perjalanan pertempuran.


__ADS_2