Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
186


__ADS_3

Buku yang terakhir, membakar ibukota sekali lagi.


Bagaimana tidak, jenderal besar dengan kemampuan perang yang tidak tertandingi sebenarnya hanyalah harimau di luar tapi macan kertas di rumah


Sama seperti sebelumnya Ketika sebuah buku dilemparkan oleh penulis anonim itu akan menjadi buruan begitu banyak orang .Bukan didasarkan dari kelebihan cara penulisan atau aksara yang mempunyai tapi berdasarkan cerita yang memiliki tokoh yang masih hidup di dalamnya.


Ini membuat secara tidak sadar orang-orang membangun sebuah klub yang aneh.


Mereka akan berdiskusi berdebat dan mencari informasi lanjutan tentang sekuel dari buku tersebut.


belajar dari pengalaman sebelumnya ada juga beberapa orang yang mencoba mendulang emas dari kejadian tersebut mereka berhasil memperbanyak isi buku dan bahkan membuat buku baru mengenai buku tersebut.


Misalnya apakah tokoh di dalam itu layak disebut atau hanya sebuah metamorfosis.


"Ini pasti jendral su bukankah adiknya baru menikah dan ditinggal pergi oleh pangeran ketiga?"


"Yo siapa lagi yang bisa itu pasti dia"


"Ckckck sayang sekali, mengatur ribuan prajurit dia masih mampu tapi mengatur istri sendiri dia kalah hahaha "


"Ya sekuat-kuatnya pria masih jatuh di bawah deliman rok seorang wanita, hahahaha "


"Hahaha "


Pembicara ini memanas dan akhirnya sampai ke dalam telinga sang jenderal.


Kisah memang melampirkan cerita tentang istrinya yang mendominasi di rumah tapi menunduk di rumah kelahirannya.


Di dalam buku juga mengatakan kinerja dari sang jenderal suami dari wanita yang hebat ini.


Dengan melihat catatan dari kinerja suami itu jelas mengacu pada dirinya.


Bagaimana mungkin ini terjadi.


Segera sang jenderal, pulang ke rumah dengan tergesa-gesa. istrinya menyambut dengan hangat seperti biasa tapi dia terkejut ketika sang jenderal tidak berhenti melainkan terus berjalan pergi ke arah gudang.


"Suami ku?a..ada apa?"


Dia mencoba mengejarnya dan membuat alasan agar gudang tidak dibuka. Namun siapa sangka jenderal tidak menjawab dan terus saja berjalan tanpa bisa dihentikan.


Begitu sampai di pintu, gudang itu dikunci dengan rapat dan itu memang biasa terjadi ,sehingga tidak perlu dicurigai .Namun sang jenderal tidak sabar dan langsung mendobrak pintu gudang ,sehingga semuanya roboh hanya dalam satu gerakan.


Brak..


Suara pintu gudang yang pecah membuat istri nya lemah sekujur tubuh.


"Tamat lah aku"pikir nya.


Tatapan mata jenderal berubah menjadi kebingungan dan kecemasan ketika melihat bahwa gudang itu sekarang jauh lebih kosong daripada yang dia ingat. Tempat yang biasanya dipenuhi dengan harta dan harta karun sekarang tampak terlantar dan kurang berisi.


"Jadi benar, cerita itu memang benar "


Dalam kebingungan dan kejutan yang mendalam, Jenderal Su berbalik untuk melihat istrinya yang berdiri di belakangnya. Ekspresi wajahnya penuh tanda tanya dan keterkejutan. Dia memandang tajam ke arah , istrinya yang memiliki nama yang sama dengan buku itu.Di sini jenderal ingin tahu apa yang telah terjadi dengan harta mereka yang berharga.


"Chen Li Wei, kemana perginya semua ini?" tanya Jenderal Su dengan suara tajam tetapi juga terdengar campur aduk antara kebingungan dan marah.


Chen Li Wei merasa jantungnya berdetak cepat, perasaan bersalah dan takut tumpah ruah di dalam dirinya. Dia takut bahwa rahasianya akan terungkap dan dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia mencoba untuk menjawab, tetapi suaranya gemetar saat dia berkata, "Su... suamiku, aku... aku tidak tahu..."

__ADS_1


Namun, sebelum Chen Li Wei bisa melanjutkan kata-katanya.Mungkin karena kegelisahan dan kecemasannya yang terlalu kuat, dia segera terhuyung mundur dan jatuh ke tanah.


Jenderal Su melihat istrinya yang gugup dan takut, dan pertanyaannya masih tergantung di udara. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dan sesuatu yang tidak dia ketahui.


Bisakah dia percaya dengan cerita pada buku? bisakah kisah yang dihadirkan dalam cerita itu memiliki 100% kebenaran? Ini tidak mungkin.


Jenderal Su merasa semakin frustasi dan curiga, tetapi pada saat yang sama dia tidak ingin menghukum istrinya secara sembarangan. Dia melihat Chen Li Wei dengan pandangan tajam dan memutuskan untuk mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengatakan, "Kita akan bicara tentang ini nanti. Tetapi ingat, tidak ada rahasia yang dapat tersembunyi selamanya."


Di gudang, tidak nyaman bagi jenderal untuk berbicara banyak dengan istrinya ditambah ada begitu banyak pelayan di kediamannya ini .Jadi dia menarik istrinya ke kamar pribadi mereka untuk ditanyai.


Di dalam ruangan , Jenderal Su duduk di kursi sementara Chen Li Wei duduk di hadapannya. Ekspresi wajah sang jenderal serius dan penuh pertanyaan. Dia ingin tahu kebenaran di balik hilangnya harta mereka. Chen Li Wei, sambil menahan tangis, mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"Sudah cukup, Li Wei," Jenderal Su berkata dengan nada tegas. "Aku ingin tahu kebenaran. Mengapa gudang kita kosong?"


Dengan suara gemetar, Chen Li Wei mulai mengisahkan kenyataan yang sulit dihadapinya. "Suamiku, semua harta dan uang kita telah diberikan sebagai hadiah di rumah kelahiranku," ucapnya dengan suara penuh penyesalan. Air matanya mengalir deras saat dia berbicara.


Jenderal Su menatap istrinya dengan rasa campur aduk di hatinya. semua harta benda di dalam gudang itu diganti dengan darah dan dagingnya di dalam perang. tapi sekarang orang yang tidak relevan menikmatinya tanpa dia sadari.


Hah istri macam apa yang sudah dia nikahi.


Ketika Chen Li Wei melanjutkan, kebencian pada dirinya sendiri terasa semakin dalam.


"Aku tidak tahu, Suamiku. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku akan sampai mengosongkan gudang kita. Aku hanya memberi dan memberi tanpa berpikir," ucap Chen Li Wei sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dia terlihat hancur dan remuk oleh rasa bersalah yang membebani dirinya.


Sang istri masih menangis, dia berkata dengan suara yang lemah, "Aku tahu betapa bodohnya aku. Keluarga kelahiranku sudah memutuskan hubungan denganku karena aku meminta bantuan terakhir kali. Aku takut jika kamu akan membuangku juga."


Jenderal Su merasa perasaan campur aduk di dalam dirinya. Meskipun marah dan kecewa, dia masih mengingat hubungan mereka sebagai suami istri. "Li Wei, aku tidak ingin membuangmu," katanya dengan suara lembut. "Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kehilangan besar ini."


Jenderal Su menghela nafas. "Aku memutuskan untuk memberimu kesempatan. Aku masih merasa ada harapan untuk kita. Namun, kamu harus membuktikan apa yang kamu katakan."


Chen Li Wei mengangguk sambil terus menangis. "Tentu, Suami,Aku...aku akan melakukan apapun yang kamu minta."


Chen Li Wei setuju dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan yang diberikan oleh suaminya, dan dia tidak ingin menyia-nyiakannya. Dalam hatinya, dia berjanji untuk mengembalikan kepercayaan dan kehormatan yang telah hilang.


Di ruangan yang redup, cahaya lilin menerangi meja yang penuh dengan berbagai kertas dan pena. Chen Li Wei duduk dengan berat hati di hadapan meja itu. Di tangannya, selembar kertas kosong siap untuk menjadi daftar barang-barang yang pernah dia kirimkan ke rumah kelahirannya. Wajahnya penuh dengan ekspresi campur aduk, mencerminkan penyesalan dan kesedihan yang mendalam.


Dalam keheningan ruangan, suara pena yang menyentuh kertas terdengar nyaring. Chen Li Wei mulai menulis dengan gemetar, tangisnya terus mengalir tanpa henti saat dia mengingat setiap hadiah yang pernah dia berikan. Air matanya yang jatuh ke kertas membuat tulisannya kadang samar-samar.


Berpikir tentang rumah besar mereka yang dulunya dipenuhi dengan kekayaan, saat ini terasa hampa dan sepi. Namun, dia terus menulis dengan tekun, menulis setiap detail barang yang telah dia kirimkan. Setiap goresan pena di kertas itu adalah bagian dari hatinya yang terpatahkan.


Waktu berlalu dan daftar tersebut semakin panjang. Chen Li Wei menulis dengan hati yang berat, tiba-tiba menyadari betapa banyak yang telah dia berikan. Setiap tulisan adalah pengingat akan kerugian besar yang telah dia sebabkan.


Akhirnya, setelah menyelesaikan daftar dengan susah payah, Chen Li Wei menatap kertas itu dengan mata yang sembab dan bengkak. Dia merasakan beban rasa bersalah dan berharap bahwa suaminya akan melihat komitmennya untuk memperbaiki segala kesalahan.


Setelah selesai, Chen Li Wei dengan hati-hati melipat kertas itu dan menggenggamnya erat di tangannya. Dia merasa takut untuk memberikannya kepada suaminya, takut dengan reaksi dan kemarahannya. Namun, dia tahu dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Dengan langkah ragu, Chen Li Wei berjalan mendekati suaminya yang masih duduk di ruangan lain. Dia merasa kaki-kakinya gemetar saat dia menyerahkan daftar itu kepadanya, tatapannya penuh harapan dan penyesalan.


"Suamiku, ini daftar barang-barang yang pernah aku kirimkan," ucapnya dengan suara yang lemah. Air matanya kembali mengalir dan dia merasakan kerinduan untuk mendapatkan kembali kepercayaan suaminya.


Jendral Su meraih daftar itu dengan gemetar, tangannya gemetar seakan merefleksikan keadaan hatinya yang terbakar oleh amarah dan kekecewaan. Tatapannya tajam menyapu setiap baris yang tertulis di kertas itu dan semakin banyak yang dia baca, semakin panas amarahnya membakar dirinya.


Dia tidak melihat ke wajah istrinya, dia tidak ingin melihatnya. Dengan gerakan cepat, dia memandang daftar itu lalu melipatnya dengan kasar. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia meninggalkan ruangan dengan langkah berat dan hati yang penuh dengan kemarahan.


Di luar rumah, kuda-kuda prajurit telah siap menunggu. Jendral Su naik ke atas kudanya dengan ekspresi yang masih dipenuhi kemarahan. Ratusan prajurit berkuda mengikuti di belakangnya, menciptakan derap kaki kuda yang menggetarkan jalanan. Kuda-kuda itu menginjak-injak salju yang lembut, meninggalkan jejak kaki dalam salju putih yang masih bersih.


Orang-orang yang berdiri di jalanan ibukota tercengang melihat pemandangan ini. Mata mereka terbelalak saat mereka menyaksikan jendral bersama pasukannya yang begitu besar. Musim dingin masih berhembus dengan lapisan salju yang menutupi jalanan dan bangunan-bangunan di sekitarnya.

__ADS_1


Orang-orang berbisik satu sama lain, mencoba mengartikan kepergian jendral Su.


"Jadi benar kan, karakter itu adalah istri dari jenderal su, Ckckck"


"Hei kira-kira dia pergi ke mana?"


Kepergian jendral Su yang tiba tiba, membuat semua orang menduga jika kisah pada buku adalah sebuah kebenaran.Beberapa mengungkapkan rasa jijik atas perilaku jendral yang tidak mampu mengendalikan istri sendiri.


 Ada pula yang menyalahkan sang istri karena ketidakpatuhannya. Namun ada juga yang menduga kemana jendral Su akan pergi dalam kemarahannya yang membara.


Sementara itu, jendral Su terus melaju di atas kudanya, tujuannya adalah rumah mertuanya. Ratusan prajurit yang mengikuti di belakangnya menciptakan keheningan yang terengah-engah oleh suara kaki kuda dan angin dingin yang bertiup.


Keluarga Chen tinggal di luar ibu kota. jadi memakan waktu untuk kelompok besar inti ba di sana.


Jendral Chen jarang bergaul dengan keluarga istrinya ini jadi bisa dikatakan dia tidak sudah beberapa tahun tidak datang. Namun perbedaan begitu mencolok antara dulu dan sekarang.


"Huh kemegahan busuk" maki nya geram.


Keluarga Chen, dulunya adalah sebuah keluarga sederhana yang hidup di sebuah rumah yang biasa-biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu, rumah itu mengalami transformasi yang luar biasa.


Kini rumah itu berdiri megah dan indah, menjadi simbol martabat yang seakan mengalir dalam setiap bagian bangunannya. Keluarga Chen ini juga bergelar sebagai bangsawan, meskipun gelar tersebut hanya sebuah gelar kosong tanpa hak istimewa seperti akses ke istana atau rapat pagi.


Gelar itu telah diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi kini keluarga Chen sebenarnya tengah mengalami kemerosotan.


Dalam beberapa dekade terakhir, keluarga Chen tidak lagi mampu meraih kesuksesan atau prestasi yang membanggakan. Kekayaan dan keindahan rumah mereka hari ini sebagian besar berasal dari uang yang dikirim oleh istri jenderal. Namun, semua ini tidak diketahui oleh sang jenderal hingga saat ini.


"Hari ini jangan panggil aku jenderal jika tidak bisa mengajarkan buruk baik nya"kata nya dalam hati.


Segera sang jenderal turun dari kuda nya dengan wajah yang penuh amarah. Langkahnya tegas dan tanpa kata-kata, dia masuk ke rumah dengan begitu saja. Kehadirannya langsung membuat rumah itu berubah menjadi gaduh dan heboh, dikejutkan oleh kedatangan jenderal beserta pasukannya yang tiba begitu arogan.


"Hei ..ahh.


"Panggil nyonya dan tuan, cepat lah "


"nyonya.. nyonya...


Para pelayan budak segera berlari dengan ngeri, aura yang dikeluarkan oleh orang-orang yang pernah bertarung ke medan perang berbeda dengan aura rakyat biasa. Jadi mau tidak mau para pelayan ini bergidik dengan ngeri dan terus saja menghindar.


Para prajurit jenderal bahkan masuk ke dalam gudang dan mengacak-acak barang-barang di dalamnya, mencari benda-benda yang sesuai dengan daftar yang diberikan oleh istri sang jenderal. Semua ini berlangsung dalam ketegangan yang mendalam, dan atmosfir rumah itu penuh dengan ketidakpastian.


Segera beberapa Tuan dari rumah itu datang ke depan. mereka terkejut dan tiba-tiba mendapatkan firasat buruk begitu melihat sang jenderal sudah duduk di ruang tamu.


"Jangan..jangan.."


Sambil mencoba menjaga ketenangan, ibu mertua dan ayah mertua dari sang jenderal mencoba berbicara dengan lembut kepada jenderal tersebut.


"Menantu, sudah lama sekali menantu tidak datang ke rumah.Nyonya, Ayo siap kan makanan ringan "


"Baik tuan "


"Tidak perlu repot repot,kami datang bukan untuk makan " kata Jend dengan wajah serius.


mertua di depannya menatap menantu ini dengan wajah yang ngeri. Dia menghapus keringatnya dengan cepat dan tersenyum lagi meskipun itu adalah senyum terpaksa.


"Menantu, kau jarang sekali datang Jadi apa salahnya duduk untuk minum teh"


Dia juga mengatakan beberapa kata agar suasana menjadi rileks seperti bertanya berapa lama dia pulang kali ini dan apakah terluka di medan perang.

__ADS_1


Namun, sang jenderal hanya diam, duduk di ruang tamu dengan ekspresi yang sulit ditebak.


__ADS_2