
Dalam suasana yang sudah kacau, Pangeran Ketiga tiba-tiba mengangkat pedangnya, menyelinap dengan cepat ke arah Kaisar yang masih belum siap menghadapinya.
Kaisar meskipun lemah, tetap mempertahankan pengalamannya dalam bertarung. Dengan gerakan yang cekatan, Kaisar dengan cepat berputar sedikit ke samping, menghindari serangan pedang yang tiba-tiba.
Pangeran Ketiga mengeluarkan serangan yang cepat dan tiba-tiba, tetapi Kaisar berhasil menghindari dengan reflek.
Tindakan ini memicu pertarungan fisik antara Pangeran Ketiga dan Kaisar. Keduanya saling bertukar serangan, pedang beradu dengan keras dalam pertempuran yang intens.
Meskipun Kaisar mengalami kelemahan fisik, pengalaman bertarungnya membuktikan bahwa dia masih memiliki ketrampilan yang hebat.
Suara pedang tajam pangeran ketiga, segera memekakkan telinga sementara Kaisar mengelak terus-menerus tanpa sempat membalas karena dirinya tidak memiliki senjata.
Ketika pertempuran berlanjut, Paman Pangeran, yang awalnya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba menjerit. Suara jeritannya memotong kebisingan pertarungan, meminta agar pertarungan dihentikan.
Paman Pangeran dengan suara keras dan panik "Cukup! Berhentilah! Berhenti, kalian berdua, permennya akan aku bagi dua, berhenti kataku!"
"Hei penjaga.. cepat datang lah!"
Pangeran Ketiga terkesan tidak memedulikan jeritan putus asa dari Paman Pangeran.
Di luar kamar, prajurit tampak santai seolah-olah mereka memilih untuk tidak campur tangan dalam pertarungan yang sedang berlangsung. Atmosfer di dalam kamar Kaisar penuh dengan suara pedang yang beradu dan helaian napas yang terengah-engah, dari kaisar sendiri
"Uhuk..uhuk...
Dalam pertarungan yang semakin berkembang, Pangeran Ketiga menunjukkan kecepatan dan kelincahan dalam setiap serangannya. Dengan gerakan yang lincah, ia melancarkan jurus-jurus mematikan ,seakan-akan yang di lawan nya bukan ayah nya sendiri melainkan musuh yang harus di bunuh.
Kaisar yang menghadapi ancaman ini di dalam kamar pribadinya, berusaha mempertahankan diri dengan menggunakan barang-barang yang ada di sekitarnya.
Pangeran Ketiga mengejar Kaisar dengan serangan pedang yang cepat. Kaisar yang masih lemah merasakan tekanan dan terdesak. Dengan cepat, dia melihat sebelah tempat tidur dan meraih bantal guling yang ada di sana. Dengan gerakan yang lincah, Kaisar mengayunkan bantal guling itu sebagai perisai , mencoba menahan serangan-serangan Pangeran Ketiga.
Segera bantal guling terbang di udara, menghadang serangan-serangan pedang.
Saat Kaisar terus menahan serangan Pangeran Ketiga dengan bantal guling, usaha mereka menyebabkan bantal itu robek dan kapasnya terlepas. Kapas putih lembut terbang di udara seperti salju yang turun perlahan, membuat sebuah pemandangan yang aneh dalam pertarungan ini.
"Ayah kaisar,kau payah,huu"
Pangeran Ketiga merasakan keunggulannya dan menyerang Kaisar sekali lagi dengan gerakan yang lebih liar. Namun, Kaisar dengan cepat melihat vas porselen di atas meja di dekatnya. Dia meraih vas tersebut dengan tangan dan menggunakannya sebagai perisai mendadak. Serangan Pangeran Ketiga yang ganas menghantam vas porselen dengan keras.
Cling.. cling.. cling...
Suara pecahan porselen mengisi ruangan saat vas itu pecah di tangan Kaisar, menyelamatkan dirinya dari serangan berbahaya untuk sementara waktu.
Meskipun Kaisar menggunakan barang-barang tersebut dengan kecerdikan, Pangeran Ketiga terus mengejar dengan serangan-serangan yang semakin intens. Kaisar terdesak oleh kecepatan dan kemarahan Pangeran Ketiga.
Dia mencoba menahan serangan-serangan tersebut sambil memanfaatkan setiap peluang untuk membalas. Di dalam kamar yang sempit, pertarungan semakin panas dan tidak terduga.
"Anak kurang ajar" pekik Kaisar lagi.
Melihat Pangeran Ketiga menunjukkan dominasinya, Paman Pangeran, yang masih berdiri di tengah-tengah pertarungan, tiba-tiba mengangkat tangannya dan berteriak dengan putus asa.
"Berhenti! Berhentilah! Ini tak masuk akal, Kakak Kaisar ku adalah kaisar.Berhenti lah "
Suara jeritan Paman Pangeran memotong suasana pertarungan, mencoba dengan putus asa untuk menghentikan pertempuran yang semakin berbahaya.
"Paman pangeran, pergilah dari sini,kau..kau pergi"kata kaisar yang masih terbatuk batuk.
Pangeran Ketiga tidak peduli,dia segera mengayunkan pedangnya dengan ganas.Kali ini serangan berhasil menyabetkan ujungnya ke arah pinggang Kaisar. Suara pedang beradu dengan keras, dan Kaisar meringis ketika pedang itu mengenai tubuhnya, menyebabkan luka yang dalam.
Akkhh..
Pangeran Ketiga, merasa percaya diri, menunjukkan senyuman jahat . Tapi dia belum puas jika kaisar belum mati. dia langsung mengarahkan pedang tajam itu ke dada kaisar yang sedang sudah tidak bisa lagi melawan.
"Mati"
Saat mencoba menusuk dada Kaisar dengan pedangnya. Tiba-tiba saja, suara hentakan keras menghentikan pergerakan pedang tersebut. Ada pedang lain yang tiba-tiba muncul, menahan serangan mematikan itu.
Kaisar dan Pangeran Ketiga saling menatap ,terkejut dan bingung, ketika mereka melihat siapa yang sedang menahan serangan tersebut.
"Pa.. paman pangeran!"
__ADS_1
Pangeran Ketiga melihat dengan ekspresi sinis dan merendahkan ketika menyadari bahwa orang yang menahan serangannya adalah Paman Pangeran. Ia merasa percaya diri dan mencoba melecehkan Paman Pangeran dengan kata-kata beracunnya. "Oh, jadi Paman yang datang untuk menyelamatkan hari? pulang dan peluk istri mu,ini bukan permainan anak-anak " ujarnya dengan nada merendahkan.
Dia akan menghabisi Kaisar terlebih dahulu dan kemudian Paman Pangeran akan menjadi gilirannya setelah itu.
Siapa suruh dia menjadi seseorang yang memiliki darah naga di tubuh.
tapi tujuan utama adalah untuk membunuh Kaisar.
Ekspresi Pangeran Ketiga berubah tiba-tiba saat ia melihat wajah Paman Pangeran yang sebelumnya terlihat ceria dan kekanak-kanakan. Kini, wajahnya telah berubah menjadi dewasa dan penuh dengan tekad yang tidak kenal menyerah. Paman Pangeran yang dulu terlihat lemah dan naif, sekarang menjadi sosok yang memiliki keberanian dan kekuatan yang tak terduga.
Perubahan ini menciptakan kontras yang mencolok dan mengejutkan di mata Pangeran Ketiga.
"Oh benarkah itu, keponakan?"bisik Paman pangeran. tidak ada senyum yang biasa dia tampilkan di sana tapi hanya ada riak dingin yang menyebar dalam ruangan.
Kaisar juga tercengang melihat perubahan ini. Dia tidak pernah mengira bahwa Paman Pangeran memiliki sisi yang begitu kuat dan tegas.
"sebagai paman aku menasehatimu mundurlah karena kau sudah kalah. ibukota tidak lagi di tanganmu hehehehe"Kata paman pangeran yang mengejek balik Pangeran ketiga.
"Kakak, mundur lah , saat nya pemberontak di basmi"Kata paman pangeran tanpa melihat ke arah Kaisar.
Kaisar dengan perlahan-lahan mundur ke sudut ruangan, tapi pada saat itu dia masih tidak bisa mempercayai penglihatan dan pendengarannya.
Sementara itu Pangeran Ketiga tidak ingin menyia-nyiakan waktu.Dia segera menyerang Paman Pangeran dengan jurus yang mematikan. Ia bergerak dengan cepat, pedangnya berayun dengan kecepatan tinggi, menciptakan angin deras yang memekakkan telinga.
Shuuuuh...
Paman Pangeran tampak tenang dan santai menghadapi serangan tersebut. Ia bergerak dengan kelincahan yang mengagumkan, menghindari serangan Pangeran Ketiga dengan gerakan kecil yang lancar.
Saat pedang Pangeran Ketiga mendekati dengan cepat, Paman Pangeran melakukan gerakan yang tiba-tiba dan menghentikan pedang dengan tangannya yang bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti.
Trang....
Hanya gerakan mempermainkan tangan tapi itu berhasil menghentikan pedang Pangeran ketiga yang sedang terhunus.
mau tidak mau Pangeran ketiga tercengang lagi tapi dia hanya bisa pasrah dan maju lagi untuk melakukan serangan selanjutnya.
Tapi serangannya tidak berguna,Paman Pangeran kemudian membalas serangan pangeran ketiga dengan gerakan yang tak terduga.
Dalam sekejap, dia berhasil mendesak Pangeran Ketiga dan melakukan serangan balik dengan teknik yang cepat dan akurat. Pedang Paman Pangeran meluncur menuju Pangeran Ketiga dengan kecepatan yang mengejutkan, menciptakan cahaya kilat yang memotong udara.
Suara pedang yang beradu dan sinar cahaya kilat menciptakan efek visual yang dramatis dalam pertarungan.
Pangeran Ketiga dan Paman Pangeran terlibat dalam pertempuran yang cepat dan mematikan. Pangeran Ketiga menyerang dengan gerakan yang cepat dan pedang yang mematikan, sementara Paman Pangeran menghindar dengan kecerdikan dan menghalau serangan dengan gerakan tangan yang tepat.
Pada akhirnya, Paman Pangeran mampu mengubah arah pertarungan dan melancarkan serangan balik.
Huk...
pengeran ke tiga terjengkang dengan gaya yang sedikit aneh di tanah ketika Paman pangeran berhasil melesat kan serangan tangan kosong.
Paman Pangeran mengibas ujung pakaiannya dengan gerakan yang elegan, seperti seorang pangeran sejati. Ia meletakkan tangan di belakangnya dengan postur yang anggun, yang memancarkan pesona yang luar biasa.
Pesona ini berbanding terbalik dengan citra karakternya yang sebelumnya dikenal sebagai seorang anak kecil yang ceria.
Kaisar sendiri bahkan tidak dapat mengedipkan mata saat melihat perubahan tiba-tiba dalam paman Pangeran.
Di bawah tatapan keterkejutan kaisar, paman pangeran berkata. "Pangeran Ketiga, pertempuran ini tak perlu dilanjutkan. Sudah saatnya kita menghentikan ambisi yang tak beralasan ini."
Pangeran Ketiga sudah terlanjur marah , kemarahannya semakin berkobar, meluap-luap seiring kenyataan pahit.
Orang kuat yang telah mereka cari sebenarnya adalah paman pangeran sendiri .Seseorang yang sebelumnya dianggap lemah dan tidak berotak.
"Kau berani berpura-pura seolah tak punya otak di balik semua ini?! Aku akan menghancurkanmu!"
Selama ini dia merasa saingan terberatnya adalah para saudara pangeran nya siapa tahu saya ingin terbesarnya adalah orang yang selama ini dianggap remeh.
Ini benar benar musuh dalam selimut.
"Pangeran Ketiga, aku tidak menginginkan tahta kerajaan ini. Aku akan membantu siapapun yang kelak menjadi Kaisar, asalkan mereka memimpin dengan bijak dan mengayomi rakyat dengan baik."
__ADS_1
"Kau berbicara seperti kau adalah seorang pahlawan. Tapi lihatlah tindakanmu saat ini! Kau mengkhianati keluarga sendiri dengan berbohong ?"
"Apapun alasannya, kerajaan dan rakyat di atas segalanya. Kau telah terlalu jauh melangkah, Pangeran Ketiga. Membunuh Kaisar bukanlah jalan yang benar."
"Jangan coba-coba berpura-pura peduli. Tapi lihatlah, aku akan menghapus Kaisar ini dan akan mengambil tahta yang seharusnya menjadi milikku."
Pertarungan sengit terus berlanjut di dalam kamar yang semakin berantakan. Pangeran Ketiga menyerang dengan penuh amarah, tetapi setiap serangannya dihalau dengan keahlian yang luar biasa oleh Paman Pangeran. Paman Pangeran tetap santai dan penuh kontrol, seakan tidak ada masalah yang membuatnya terganggu.
Di tengah pertarungan yang semakin memanas, Paman Pangeran menyertai serangannya dengan kata-kata yang mengejek, suara itu terdengar di atas hiruk-pikuk pertempuran.
"Apakah kau sudah menyerah, Pangeran Ketiga?"
Satu kali dia berhasil menepuk bokong pangeran ketiga dengan akurat,dia mengejek lagi."Apakah kau masih ingin bokongmu ditampar? Apakah ini belum cukup untuk membuatmu jera?"
Pangeran Ketiga semakin terbakar amarahnya oleh kata-kata Paman Pangeran yang merendahkan. Kegagalan demi kegagalan semakin membuatnya frustrasi.
Setiap kali Paman Pangeran menghindari serangannya dan mengejeknya, kemarahannya semakin meningkat. Namun, semakin besar kemarahannya, semakin tidak terkoordinasinya serangannya.
Paman Pangeran,masih dengan santai mengejek.Dia melanjutkan dengan nada yang mengajukan pertanyaan, seperti mengajak Pangeran Ketiga untuk merenung atas tindakannya.
"aku sebagai pamanmu harus mengajarkanmu bagaimana berperilaku baik?"
Tak...
Lagi lagi pangeran ke tiga di tampar dengan serangan dadakan."apa guru mu tidak mengajari untuk menghormati para tetua?"
Pangeran Ketiga merasa kemarahannya memuncak saat menyadari betapa sulitnya mengenai Paman Pangeran dengan pedangnya. Gigi-giginya gemeretak dan tangannya makin erat menggenggam pegangan pedang. Ia berusaha dengan gigih, tetapi tidak satupun luka yang berhasil diberikan pada Paman Pangeran.
Wajah Pangeran Ketiga yang merah padam.Pangeran Ketiga merasa seperti anak kecil yang belajar dan tidak mampu menyelesaikan tugasnya, seperti tidak bisa menyelesaikan PR yang diberikan oleh gurunya.
Namun, ketidaksanggupannya semakin menambah api kemarahannya. Dengan ekspresi yang semakin marah dan mata yang menyala, ia menyerang Paman Pangeran dengan serangan membabi buta.
Namun, kali ini, Paman Pangeran dengan tenang dan terampil menghindari setiap serangan, seakan bermain-main dengan gerakan Pangeran Ketiga.
"Huh, masih belum belajar"
Tiba-tiba, Paman Pangeran melancarkan serangan tangan kosong yang dengan cepat mencapai dadanya.
Plak...kretak.
Hentakan keras itu membuat tulang rusuk Pangeran Ketiga patah, dan dia tak dapat menahan rasa sakit. Ia mengeluarkan suara erangan yang tertahan dan akhirnya muntah darah di tempat.
Akkhh..huek
Pangeran Ketiga merasa tak berdaya dan akhirnya menerima serangan yang datang . Kesakitan fisik dan mentalnya tercermin dalam reaksi tubuhnya yang hancur dan muntah darah.
Dia memegang dadanya dengan tangan gemetar, rasa sakitnya menyiksanya. Mulutnya masih berlumuran darah akibat dari muntahan tadi,dan dengan nafas tersengal-sengal, dia mengeluarkan kata-kata yang terdengar ancaman kepada Paman Pangeran.
"Pangeran ini akan kembali... dan membalaskan dendam hari ini, Paman Pangeran..."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Pangeran Ketiga dengan susah payah bangkit dan segera bergegas pergi. Dengan keahlian ilmu meringankan dirinya, dia melompat dengan lincah dan hampir seperti terbang keluar dari kamar Kaisar.
Sementara itu, Paman Pangeran tidak mengejar Pangeran Ketiga. Dia beralih pandang kepada Kaisar, yang masih tercengang dan tidak dapat menutup mulutnya atas apa yang baru saja mereka saksikan.
Pangeran Ketiga dengan susah payah meninggalkan kamar Kaisar, tetapi dia segera dibuat terkejut ketika melihat keadaan di luar kamar. Para prajurit yang seharusnya menjadi andalannya. Yang dulu diandalkan untuk memberontak, sekarang tergeletak di tanah dalam kondisi terikat.
Beberapa dari mereka tampak kelelahan, sedangkan yang lain bahkan terlihat pingsan. Pandangan yang mengejutkan ini membuat hati Pangeran Ketiga berdegup kencang.
"Apakah Paman Pangeran serius dengan mengatakan jika kondisi di ibukota sudah stabil lagi?"pikirnya di dalam hati.
Tiba-tiba saja Pangeran ketiga mendapatkan firasat buruk dan dia merasa tidak bisa tinggal lebih lama di istana utama.
Tampaknya situasinya sudah berubah drastis sejak dia berada di dalam kamar Kaisar. Dengan cepat, dia mundur dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara atau mencuri perhatian siapa pun.
Setelah meninggalkan kamar tersebut, Pangeran Ketiga melangkah dengan hati-hati melalui koridor-koridor istana yang tenang. Dia segera meninggalkan istana utama, memasuki kegelapan malam yang mengelilinginya.
Dalam gelap, dia melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati, berusaha menjauh dari pandangan siapa pun yang mungkin mencari-cari dia.
Rencana untuk makar sebenarnya sudah gagal total.
__ADS_1