
Pangeran Ke tiga tertawa terbahak-bahak seolah-olah semua ketegangan yang pernah ia rasakan lenyap dalam suara tawanya yang menggema di ruangan.
Namun, tawa itu tiba-tiba mereda menjadi hening yang menakutkan. Ekspresi wajahnya berubah drastis, dari tawa yang lepas menjadi senyum yang tajam dan mengerikan saat matanya menatap tajam ke arah Ratu.
Perubahan itu begitu mendalam dan tiba-tiba sehingga bahkan Kaisar terkejut. Tatapan Kaisar terpaku pada Pangeran Ketiga, mengamati perubahan drastis yang terjadi pada wajah muda yang selama ini ia kenal. Ada keterasingan dalam wajah Pangeran kesayangan nya ini, seperti sosok yang lain yang muncul dalam tubuhnya.
Pangeran Ketiga menatap Ratu yang sedang menggigil dengan tatapannya yang tajam, laksana mata burung elang yang membidik mangsanya. Suaranya keluar dari bibirnya dengan nada penuh keputusasaan dan dendam yang terpendam.
Pangeran Ketiga dengan suara dingin berkata "Kau telah menghancurkan hidupku, Ratu. Pangeran ini tidak akan membiarkanmu hidup dalam ketenangan."
Kemudian, Pangeran Ke tiga berbalik, menatap ayah Kaisar dengan wajah yang penuh dengan rasa sedih yang dalam. Namun, kesedihan itu hanya bertahan sejenak. Wajahnya berubah menjadi senyum yang mengerikan, menciptakan kontras yang mengejutkan.
"Pangeran ini mengasihi ayah kaisar dengan tulus. Namun, seseorang harus tahu kapan naik dan kapan turun. Dan sekarang, ayah Kaisar... saatnya untukmu turun dari takhta."
Wajah Pangeran Ketiga berubah menjadi penuh dengan ketegasan dan rasa kekuasaan. Tatapannya tetap pada Kaisar, seolah-olah menciptakan ikatan tak terputus yang menyiratkan ketegasan.
Ratu sudah pucat pasi, tubuhnya merasa seakan-akan ditangkap dalam cengkraman tak terlihat. Meski ketakutan merambat dalam dirinya, pada saat-saat terakhir tiba-tiba saja dia mendapatkan keberanian.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ia memberanikan diri untuk menatap tajam ke arah Pangeran Ke tiga.
Dia mencoba mengatasi ketakutan dalam dirinya, bahkan jika ada gemetar yang tak terhindarkan dalam gerakan tangannya yang gemulai. Melalui titik ini, ada semacam dorongan tiba-tiba untuk menghadapi ancaman dengan keberanian yang luar biasa.
"Kamu, Pangeran Ketiga sungguh biadab dan pemberontak yang harus dipenggal!"
"Tidaklah Cukup,maka biarkan mayat mu di pajang di alun alun untuk memberi makan burung.Kau tidak layak di panggil sebagai pangeran.Hahaha ada apa jika kau tidak memiliki keturunan,hah.Ini semua karena kau tidak layak, tidak layak sama sekali "
Saat kata-kata tersebut terucap, keberanian Ratu tampak bercampur dengan rasa gentar yang masih merasuki dirinya.
Kaisar, yang telah diam selama percakapan ini, tiba-tiba tidak dapat lagi menahan emosinya. Dengan ekspresi yang marah dan berteriak."Diam ratu"
Ratu menatap Kaisar dengan tajam dan bukannya merasa terancam, tawa terbahak-bahak yang menyeramkan keluar dari bibirnya. Seolah-olah ia tiba-tiba mengalami perubahan dari seorang ratu menjadi sosok penyihir tua .
"Inikah Putra yang kau cintai selama ini, sampai putra-putra yang lain kau tinggalkan? Semua ini adalah pembalasan karena kau selalu berat sebelah."
Kata-kata Ratu terdengar gemetar, mengandung kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.
"Diam, Ratu..."
"Semua ini adalah karma." jerit ratu dengan keras.
Di sudut ruangan, Paman Pangeran awalnya memiliki mimik wajah yang seperti wajah anak-anak. Secara perlahan wajahnya berubah menjadi seperti pria kejam yang menatap Pangeran Ketiga dengan tajam, seperti sedang menatap musuh.
Namun, perubahan wajah Paman Pangeran tidak terlihat oleh siapapun, karena semua fokus tertuju pada Pangeran Kedua dan ratu yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Hari ini, Pangeran Ketiga memberontak, yang berarti dia tidak pantas lagi menjadi calon putra mahkota."
Suara Ratu bergema dalam ruangan, Ratu tidak akan pernah percaya jika Pangeran ketiga mampu mengambil alih kerajaan ini dengan tangan yang berlumuran darah.
Dan dia sangat yakin jika kejadian ini tidak akan lama. Apalagi dengan pengaruh kaisar yang sudah membaik. tapi dia harus mengambil kesempatan ini dan membuktikan kepada kaisar sendiri jika Pangeran ketiga sebenarnya tidak layak untuk posisi putra mahkota.
"Tapi ibukota sudah berada dalam genggaman tangan ku, bahkan istana telah di kuasai. Kandidat baru untuk tahta akan menjadi hanya khayalan."
Di sini Pangeran ketiga juga mengatakan prajurit andalannya sedang mengurus Pangeran kedua dan Pangeran kedua tidak mungkin pernah bisa masuk ke ibukota lagi dalam keadaan hidup.
Mendengar itu mau tidak mau Ratu menjadi tegang dan tiba-tiba kekhawatiran melandanya.
"aku harus mencari mencari sendiri informasi ini bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat sialan ini"kata ratu di dalam hati.
Walaupun kemungkinan besar informasi ini adalah informasi yang salah tapi dia harus mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Tapi untuk itu Ratu harus bisa keluar dari ruangan ini.
Kaisar mendengarkan percakapan itu, dengan tangan gemetar dia menunjuk ke arah Pangeran kedua"Makar? Apa kau sedang melakukan makar?"
Pangeran ketiga seperti tidak mendengar apa yang disebutkan oleh kaisar tapi dia langsung maju dan mencekik ratu di tempat.
__ADS_1
Ratu tiba-tiba merasa lehernya dicekik dan dengan cepat wajahnya membiru. meskipun posisinya adalah ratu tapi pada dasarnya, dia adalah seorang wanita pertengahan 30-an .Sekarang dia dicekik oleh seorang pria muda meskipun masih di kisaran belasan tahun. Kekuatan mereka sama sekali tidak setara.
Ratu merasa panik ,dia mencoba untuk melepaskan cengkraman pada leher dengan segala cara . Ada reaksi naluriah untuk mencoba meraih tangan Pangeran ketiga yang mencengkeram leher nya.
Pengekangan yang kuat pada leher segera menghambat aliran darah dan oksigen ke kepala dan wajah. Akibatnya, kulit ratu menjadi pucat atau berubah warna menjadi kebiruankarena kekurangan oksigen.
Tapi secara tak terduga ,ini mendorong Kaisar untuk bangkit dari ranjangnya, mengatasi rasa lelah dan sakit yang dia derita . Ia merasa detakan jantungnya memanas saat melihat ancaman pangeran ketiga.
Dengan gerakan tiba-tiba yang mendalam oleh rasa kepanikan dan ketidakpercayaan, Kaisar mencoba menyentak tangan Pangeran Ketiga dengan upaya terakhirnya
"Lepaskan dia, Pangeran!"
Meskipun Kaisar berusaha menghentikan aksi tersebut, saat-saat yang berharga telah terlewatkan. Ratu sudah tak sadarkan diri, tubuhnya limbung lemas dalam genggaman Pangeran Ketiga yang tiba-tiba melepaskan dia.
Brak...
Melihat tubuh Ratu yang merosot ke lantai dengan tidak sadarkan diri pangeran ke-3 belum puas ,karena ratu belum mati. Tapi dia juga kesel dengan kaisar yang mencoba menghentikannya.
"Kenapa ayah Kaisar menghentikanku? Dia pantas mendapat hukuman!"
Wajah Pangeran Ketiga memancarkan rasa frustrasi saat dia mengarahkan pertanyaan tajamnya kepada Kaisar yang dalam kondisi sakit.
"Ayah kaisar mungkin tidak memiliki perasaan romantis, tetapi kaisar ini bukanlah laki-laki yang hanya akan berpangku tangan saat wanita nya dihadapkan pada hukuman mati."
"Egois sekali, ayah kaisar .Kamu hanya mempertahankannya karena dia adalah wanitamu."
"Perasaan kaisar ini terhadapnya tidak berarti kaisar ini akan membiarkan dia dihukum mati tanpa pertimbangan yang layak."
"jika terbukti dirinya bersalah maka dia juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal, putraku percayalah dengan ayah kaisar tapi katakan apakah kau benar-benar melakukan makar?" tanya kaisar yang benar-benar tidak peduli tentang hidup dan mati ratunya.
Masih ada begitu banyak selir di istana belakang dan dia hanya tinggal pilih, siapa saja kan tidak cocok untuk menggantikan posisi itu.
"Hahaha ayah Kaisar, apa ayah Kaisar berpikir pangeran ini bercanda?"
Kaisar tiba-tiba saja mundur satu langkah ke belakang, dia dengan suara lemah, berkata seperti berbisik. "Racun...?"
Wajah Kaisar tiba-tiba berubah menjadi buruk begitu mendengar kata-kata Pangeran Ketiga, tampaknya ada sesuatu yang mengusik perhatiannya.
Pangeran Ketiga menganggukkan kepala dengan wajah serius "Tepat, Ayah kaisar. Harus Pangeran ini akui jika Pangeran ini sudah menyembunyikan racun pada pedang kesayangan ayah Kaisar.hohoho menurut perkiraan nyawa ayah Kaisar hanya tinggal beberapa hari lagi, jadi hahaha"
Ketika Pangeran Ketiga mengakui adanya racun, wajah Kaisar seketika berubah menjadi ekspresi yang buruk. Ada campuran rasa kaget, pengkhianatan, dan rasa sakit dalam pandangannya.
"Apa maksudmu, Pangeran?"
Suara Kaisar penuh dengan kebingungan dan permintaan penjelasan. Kaisar tidak akan pernah percaya jika Pangeran ketiga-tiga melakukan itu. Kaisar sudah menyerahkan kasih sayangnya kepada Pangeran ketiga dan putra-putra lain benar-benar dianggapnya tidak ada.
Tapi sekarang...
"Pedang kesayanganmu, Ayah kaisar. Tempat di mana racun itu selama ini disembunyikan. Pangeran ini adalah pelakunya."
Kaisar, yang terlihat terkejut oleh pengakuan Pangeran Ketiga, merasakan kebingungan dan kekhawatiran merayap dalam pikirannya.
Namun, saat pikirannya berputar, ia tiba-tiba teringat akan permen yang dimakannya tadi. Permen itu, dengan cepat dan misterius, telah membuat tubuhnya membaik dengan luar biasa.
"jika ini memang keracunan, apakah permen itu adalah penawarnya?"pikir Kaisar di dalam hati.
Pandangannya melintas dari Pangeran Ketiga yang mengakui kejahatannya ke arah Paman Pangeran, yang sejak awal hanya diam tanpa sepatah kata pun.
Sebagai seorang Kaisar dia tidak akan pernah percaya jika didunia ini ada namanya kebetulan.
Bukan kebetulan jika permen itu adalah penawar untuk racun yang diberikan oleh pangeran ke-3.
Tiba-tiba perhatian Kaisar berpindah lagi, kali ini menuju Pangeran Ke tiga. Dalam ekspresi wajahnya , kaisar tiba-tiba saja rasa penyesalan menghampirinya. Kaisar ingat pada saat-saat yang telah berlalu, pilihan-pilihan yang diambil dan sebab dan akibatnya.
__ADS_1
Tatapan Kaisar penuh dengan beban berat dan rasa menyesal yang tak terduga, memperlihatkan bahwa di balik keteguhannya sebagai pemimpin, ia juga manusia dengan emosi dan penyesalan pribadi.
Mata Pangeran Ketiga secara tiba-tiba terbelalak saat ia melihat Kaisar berdiri dengan agak goyah namun berjalan dengan langkah mantap. Kekhawatiran dan kecurigaannya memenuhi pikirannya, seolah-olah sebuah benang kebenaran telah ia tuntaskan. Matanya tertuju pada wajah Kaisar yang meski lemah, tetapi tampaknya tidak dalam kondisi yang seburuk yang ia bayangkan.
Pangeran Ketiga merasakan gelombang ketidakpercayaan yang kuat saat dia menyadari bahwa Kaisar mungkin saja telah menemukan penawar racun. Sudahkah Kaisar mengetahui rahasia tersembunyi di balik rencananya?
"Kau... kau menipu pangeran ini,Ayah kaisar?"
Kata-kata Pangeran Ketiga keluar dari mulutnya dengan nada yang kacau.
"Memang benar, putra ku hahah." ada setitik air di matanya yang berkeriput.
Pangeran Ketiga berteriak dengan suara marah dan tidak percaya " ayah kaisar mengkhianati kami!"
Suara Pangeran Ketiga memancarkan perasaan kemarahan dan kekecewaan.
Namun, Kaisar hanya memandang dengan senyum ringan di bibirnya, dan kemudian, tiba-tiba tawa lemah mulai mengisi ruangan.
"kaisar ini menyayangi mu dan itu kesalahanku sebagai seorang ayah. Tapi setelah kejadian ini, kursi putra mahkota tidak akan pernah menjadi hakmu."
Kaisar mengungkapkan rasa kekecewaan dan penyesalannya dengan suara yang lembut namun tegas.
"Apa yang kau maksud? Apa artinya ini, Ayah kaisar?"
"Ketidakbijaksanaan dan tindakanmu sendiri telah membuat kaisar ini meragukan kemampuanmu untuk memimpin kerajaan ini. Kaisar ini tidak akan mengizinkan perbuatanmu menghancurkan kerajaan yang aku bina dengan susah payah."
Suara Kaisar memancarkan tekad yang kuat, mengungkapkan bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak akan berubah.
Ketika mendengar kata-kata keras Kaisar, Pangeran Ketiga merasa amarah yang meledak dalam dirinya. Tangan yang menggenggam pedang mulai mengigil tak terkendali, ada gejolak emosinya yang kuat.
Ketegangan di ruangan semakin terasa, seolah-olah udara penuh dengan konflik antara dua figur penting dalam kerajaan ini.
Dalam suasana yang tegang, Paman Pangeran, yang sebelumnya hanya duduk di ranjang Kaisar, tiba-tiba turun dan berdiri di tengah-tengah Kaisar dan Pangeran Ketiga. Wajahnya terlihat bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya. Paman Pangeran berprilaku seperti anak kecil yang terjebak dalam dunia orang dewasa yang rumit.
Wajahnya tampak berkerut, ekspresi kebingungannya begitu kentara seolah ia mencoba mencerna semua peristiwa yang berlangsung. Dalam keadaan yang tampak aneh, dia berbicara dengan suara lembut dan terdengar seperti suara anak kecil yang mencoba mengejar pembicaraan orang dewasa.
"Eh, kenapa... kenapa kalian bertengkar? Apa... apa kalian merebut permenku?"
Suara Paman Pangeran terdengar enggan dan penuh kebingungan, seperti seorang anak yang mencari tahu mengapa dua orang dewasa sedang berdebat.
Tapi sebenarnya,ini adalah waktu yang cocok untuk kaisar memakan pil terakhir . Paman Pangeran melihat situasinya tidak benar dan jangan sampai Pangeran ketiga mengambil langkah yang salah sementara Kaisar dalam kondisi terburuk nya.
Apapun terjadi tubuh Kaisar harus pulih sebelumnya.
"Bukan itu masalahnya, Paman Pangeran, duduk di sana.Kakak Kaisar perlu bicara dengan pengeran ke tiga.
Lagi pula ini urusan serius, bukan tentang permen."
"Hei apa kalian pikir aku ini bodoh, permenku ini memang enak manis tapi jangan berebut juga kali .aku akan pulang dan minta Putri membuatnya lagi untukmu Pangeran ketiga. Jadi jangan berebut dengan Kakak Kaisar karena dia sedang sakit .jadi permennya untuk kakak Kaisar dulu oke"
Pangeran ke-3 yang sedang emosi bertambah emosi mendengarnya. Kenapa dia tidak sadar sebenarnya sih bodoh ini ada di dalam ruangan yang sama.
Dan dia sedang berbicara masalah permen permen apa yang lebih baik dibandingkan dengan tahta saat ini.
Huh dasar bodoh.
"Oh kalau begitu aku akan memberikan kau terlebih dahulu nanti aku akan meminta lagi untuk kakak Kaisar.Tapi... tapi permenku..."
Dia berkata dengan enggan, wajahnya mencerminkan rasa khawatir tentang permen yang sepertinya hanya tersisa satu.
Pangeran ke tiga semakin kesal dan dia tidak datang untuk berbicara tapi untuk....
Hiyat....
__ADS_1