
Sementara itu di dalam kamar istana kecil yang mewah di ibukota. Dengan suasana yang intim dan nyaman.
Paman Pangeran dan Zhang Fei duduk di atas ranjang yang lembut dan berhias dengan kain sutra merah maroon. Mereka berdua mengenakan pakaian malam yang elegan, dengan Zhang Fei mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur yang menonjolkan keanggunan dan kecantikannya. Sementara Paman Pangeran mengenakan jubah satin berwarna hitam yang menampilkan sosok nya yang tampan.
"Paman pangeran, aku harus memberitahumu tentang pertempuran yang terjadi di hutan. Pasukan Pangeran Keempat diserang oleh sekelompok pemanah misterius."
Paman Pangeran segera mengernyitkan kening dan lantas duduk di samping Zhang Fei ."Apa? Bagaimana keadaan Pangeran Keempat? Apakah dia baik-baik saja?"
"Mereka mengalami beberapa kerugian, tetapi berhasil memenangkan pertempuran itu. Namun, ini menunjukkan bahwa ada ancaman yang harus kita hadapi dalam perjalanan mereka menuju Provinsi X."
Paman Pangeran tau perjalanan ini tidak akan pernah mulus,dia menggertakkan gigi dan memegang tangan Zhang Fei . "Terima kasih telah memberitahuku. Kita harus menjaga keamanan dan kesejahteraan Pangeran Keempat dengan segala yang kita miliki."
Zhang Fei juga menyentuh tangan Paman Pangeran dan menyandarkan kepalanya di bahu Paman pangeran. "Kami harus bersama-sama menghadapinya, Paman. Untung nya kau sudah menyisip kan prajurit andal di sisi nya. Tapi Kita masih harus mengirim bantuan dan memastikan perjalanan mereka aman." kata zhang Fei.
"Kau benar, Sayang. Bersamamu di sampingku, aku merasa kuat dan yakin menghadapi segala rintangan yang ada di depan"
"Aku bersyukur memiliki dirimu. semakin aku miliki semakin ingin aku pangeran keempat menjadi Kaisar di masa depan.Bukan untuk kita tapi untuk anak-anak kita nanti nya putri "
Percakapan mereka terhenti sejenak, dengan tatapan penuh cinta dan kepercayaan di antara mereka. Mereka merasakan kedamaian dan ketenangan di dalam kamar itu, mengetahui bahwa di saat-saat sulit, mereka memiliki satu sama lain untuk saling bergantung.
"Jadi Putri, apakah ada informasi lagi tentang penyergapan lainnya?" tanya Paman pangeran.
Jika mereka sudah tau gerakan lawan mungkin mereka bisa maju selangkah lebih dulu di bandingkan dengan pihak-pihak musuh.
Menurut sistem,penyerang kali ini berasal dari pihak pangeran ketiga. Padahal pangeran ketiga sendiri baru saja akan bergerak meninggalkan ibukota tadi siang.
Karena itu jika situasinya berhasil maka pangeran ketiga memiliki alibi yang kuat jika dia tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tersebut.
"Hem ada beberapa jalan yang bisa dilalui untuk menuju ke provinsi x. Untuk beberapa hal pihak musuh tidak bisa mendeteksi arah mana yang akan dipakai oleh kelompok pangeran keempat. Namun begitu diketahui ada beberapa pergerakan di setiap sisi di berbagai jalan tersebut"kata zhang Fei.
Mendengar itu Paman pangeran sedikit terkejut tapi dia bergegas mengingatnya di luar kepala .Apa-apa saja yang sedang direncanakan oleh pihak lawan untuk menghentikan pergerakan pangeran keempat.
Menurut informasi yang didapat dari sistem ,baik itu pangeran kedua ataupun pangeran ke-4 sama-sama meletakkan mata-mata di setiap tikungan.
Pangeran keempat adalah korban yang cocok untuk ditekan pertama kali. Selain karena dia tidak memiliki pengalaman dalam perjalanan seperti ini dia juga tidak memiliki pasukan yang berpotensi untuk menghadang lawan.
Dengan begitu pangeran keempat adalah target yang akan dipikirkan pertama kali oleh pangeran kedua ataupun pangeran ketiga.
"Baik putri, Aku akan mengirimkan pesan merpati terbang mengatakan pada, prajurit ku, agar mereka bersiap siap "
"baik lah "kata zhang Fei.
"tapi tidak perlu terburu-buru sebenarnya untuk beberapa waktu ini mereka selamat. Setelah penyerangan di dalam hutan hanya ada musuh yang menunggu di sebuah penginapan. Jika kelompok ini berjalan terus-menerus mungkin mereka akan tiba di sana dalam 2 hari. Tapi jika mereka beristirahat di jalan mungkin akan membawakan waktu sekitar 3 atau 4 hari"kata zhang Fei.
Mendengar informasi yang dikatakan oleh sang putri .Paman pangeran tidak kuasa untuk memeluk istrinya ini ke dalam pelukannya.
Apa yang harus dia lakukan jika tidak memiliki sang Putri saat ini dengan informasinya yang detail dan akurat.
" Paman pangeran, kita melakukan ini untuk anak anak kita nanti.jadi jangan pernah berterima kasih"Kata zhang Fei.
"Kalau begitu,aku harus pergi ke ruangan kerja dulu. surat merpati ini harus sampai kepada "dia"secepat mungkin" kata paman pangeran.
Zhang Fei hanya menguap sedikit dan dia membiarkan Paman pangeran meninggalkan kamar mereka. Pada waktu seperti sekarang sampai tidak memikirkan tentang masalah lain. Karena dia memang dalam kondisi mengantuk.
__ADS_1
"Mama selamat malam" Bisik zhang Fei.
("selamat malam sayang")
Sementara itu,Pangeran Keempat dan para prajuritnya yang telah mengalami pertempuran sengit di hutan. Wajah Pangeran Keempat terlihat tegang dan penuh konsentrasi, dengan ekspresi yang memperlihatkan ketegaran dan kehati-hatian.
Pangeran Keempat berbicara dengan suara rendah kepada prajurit di sekitarnya "Jaga kewaspadaan, kita belum aman meskipun kita telah keluar dari hutan. Pihak lawan mungkin masih mengikuti jejak kita. Perhatikan setiap gerakan dan suara yang mencurigakan."
Para Prajurit mengangguk dengan serius "Siap, Pangeran!"
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam kegelapan malam, hati-hati melewati medan yang sulit dan terjal. Beberapa prajurit terlihat berjalan tersendat-sendat karena luka-luka yang mereka alami dalam pertempuran sebelumnya.
Pangeran Keempat tiba tiba saja menghentikan langkah sejenak, melihat sekeliling dengan cermat "Pastikan setiap prajurit mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Kita tidak bisa menyepelekan luka-luka ini, meskipun kita harus tetap bergerak."
Tabib Militer menghampiri Pangeran Keempat " pangeran kami telah memberikan perawatan sementara kepada prajurit yang terluka. Namun, beberapa luka cukup serius dan membutuhkan perawatan yang lebih mendalam."
Pangeran Keempat mengangguk, dia juga sempat melihat para prajurit terluka ini memiliki beberapa tingkatan luka yang berbeda.
Ini jugalah dan yang membuat dia mengubah gerbong keretanya menjadi ruang perawatan sementara. Namun begitu mereka tidak bisa berhenti selagi mereka belum keluar dari hutan ini.
"Lakukan yang terbaik yang kamu bisa, tabib .Kita tidak bisa berhenti di tempat ini terlalu lama, tetapi keselamatan dan kesehatan prajurit adalah prioritas utama."
Wajah Pangeran Keempat masih mencerminkan kekhawatiran dan ketegangan. Dia menyadari bahwa meskipun mereka bisa keluar dari hutan, mereka masih rentan terhadap serangan musuh yang tak terduga.
"Kita akan bergerak dengan lebih hati-hati. Jaga jarak, perhatikan setiap gerakan, dan komunikasikan segala hal yang mencurigakan. Kita harus memastikan kita aman sampai kita kembali ke basis kita."
"Ya, Pangeran!"
Perjalanan mereka dilanjutkan dengan hati-hati dan kewaspadaan yang tinggi. Pangeran Keempat memimpin dengan teladan, mengingatkan prajuritnya untuk tetap waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Ini adalah pertarungan pertamanya yang sebenarnya dan dia merasa cemas dengan tanggung jawab yang besar yang ditanggungnya. Dia takut tidak mampu memenuhi harapan prajurit yang mengikutinya, terutama karena mereka telah memberikan dukungan dan kesetiakawanan yang luar biasa.
"Ahh sialan"gumam ya berkeringat dingin, bahkan jarinya juga sudah basah oleh keringat.
Pangeran Keempat memikirkan betapa beruntungnya dia memiliki prajurit sisipan dari Paman pangeran yang membantu mereka dalam pertempuran tersebut. Tanpa bantuan mereka, kemungkinan besar dia dan pasukannya tidak akan berhasil keluar hidup-hidup dari pertarungan di hutan itu.
Pikiran ini membuatnya merasa sangat berhutang budi dan terdorong untuk melanjutkan perjuangan mereka dengan semangat yang baru.
Sementara Pangeran Keempat berusaha mempertahankan ketegasannya di hadapan prajurit dan Paman pangeran, ada juga perbincangan batin yang terjadi di dalam hatinya.
Dia merasa takut mengecewakan semua orang yang berada di belakangnya, termasuk para prajurit yang telah memberikan segalanya untuknya. Dia merasa beban tanggung jawab yang begitu besar dan tidak ingin mengecewakan mereka.
"bagaimana jika aku mengecewakan semua orang? Aku adalah pangeran yang paling tidak berguna di Dayun ini"
"Ah aku harus kuat ,bagaimanapun ada darah naga di dalam tubuhku. pengecut tidak boleh ada di dalam kamus naga "
"tapi bagaimana jika aku tidak sampai ke provinsi x tapi mati di tengah jalan.Ahh bagaimana ini?"
Tapi pangeran ke empat harus tetap kuat dan tegar. Dia mengingat dukungan yang diberikan oleh Paman pangeran.Ininyang telah memberikan kepercayaan padanya dan membangkitkan semangatnya.
Pangeran Keempat tahu betapa pentingnya mempertahankan sikap kuat dan percaya diri, terutama ketika dia memimpin pasukan dalam situasi yang penuh tekanan seperti ini.
Di tengah ketegangan dan perbincangan batin itu, Pangeran Keempat yang berjalan di atas kudanya, Memimpin mereka menuju jalan keluar dari hutan.
__ADS_1
Dengan semangat yang baru, Pangeran Keempat melanjutkan perjalanan mereka. Dia merasa terhormat dan bertekad untuk melanjutkan perjuangan mereka, sambil mengingat betapa pentingnya kesatuan dan kerjasama di antara mereka.
"Aku adalah seekor naga dan aku bukanlah pengecut. Aku pasti bisa dan aku harus bisa"katanya di dalam hati.
Kuda putihnya berjalan tegak di antara kegelapan malam dan dia juga bisa mendengar keluhan dan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut para prajurit yang terluka.
Setelah melewati malam yang penuh ketegangan, kelompok Pangeran Keempat akhirnya berhasil keluar dari hutan yang gelap dan penuh tantangan. Sinar rembulan yang samar-samar menerangi jalan di hadapan mereka, memberikan sedikit kelegaan dalam kegelapan malam.
Keheningan malam hanya terputus oleh suara langkah kaki yang lelah dan napas berat para prajurit. Mereka berjalan dengan hati-hati, masih dalam kewaspadaan meski mereka telah melalui pertempuran yang melelahkan. Wajah Pangeran Keempat terlihat letih, namun tetap penuh dengan tekad dan semangat untuk melindungi dan memimpin pasukannya.
Saat mereka semakin mendekati batas hutan, udara yang sejuk menghembuskan kesejukan pada wajah-wajah yang berkeringat. Pangeran Keempat memandang sekeliling, merasa lega bahwa mereka berhasil keluar dari medan yang berbahaya. Dia melihat para prajuritnya, beberapa di antaranya terluka, tetapi tetap berdiri dengan tegar dan penuh keberanian.
"Kita telah melewati ujian yang sulit," ujar Pangeran Keempat dengan suara lembut, tetapi penuh penghargaan. "Kalian semua telah menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa. Kita berjalan bersama dan kita berhasil keluar dari hutan ini. Saya bangga menjadi pemimpin kalian."
Para prajurit menyimak dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan. Walaupun lelah, mereka tetap menyimak perkataan Pangeran Keempat dengan penuh perhatian.
Tidak lama setelah itu, kelompok Pangeran Keempat tiba di pinggiran hutan. Cahaya dari permukiman mulai terlihat di kejauhan, menandakan kehadiran peradaban dan kehidupan yang normal. Mereka merasa lega dan bersyukur telah melewati hutan yang penuh bahaya tersebut.
Dalam kegelapan malam, kelompok tersebut menyingsingkan lengan baju dan membersihkan diri dari kotoran dan luka yang mereka peroleh selama pertempuran. Mereka merasa terlepas dari beban yang selama ini mereka pikul.
"Kita akan istirahat sejenak di sini," ucap Pangeran Keempat sambil menunjuk ke arah tepian sebuah sungai yang mengalir dengan tenang. "Biarkan tubuh dan pikiran kita mendapatkan kesegaran. Kita perlu memulihkan tenaga untuk perjalanan selanjutnya."
Para prajurit menuruti perintah dengan patuh, menyingkirkan kelelahan mereka dan mengisi kebutuhan masing-masing. Mereka menenangkan diri dengan suara air yang mengalir dan beristirahat sejenak di tepian sungai yang tenang.
Saat mereka memandang langit malam yang cerah dengan bintang-bintang yang bersinar, Pangeran Keempat melihat harapan dan keberanian yang terpancar dari setiap wajah para prajuritnya. Dia yakin bahwa dengan semangat yang tinggi dan kerja sama yang solid, mereka akan berhasil melalui setiap rintangan yang ada di depan mereka.
"Kita akan beristirahat di sini sejenak sebelum melanjutkan perjalanan," ucap Pangeran Keempat dengan suara lantang. "Kita akan membuat kemah untuk beristirahat semalaman. Segera siapkan diri kalian!"
Para prajurit dengan sigap melaksanakan perintah Pangeran Keempat. Mereka mempersiapkan perlengkapan kemah dan dengan cepat mendirikan tenda-tenda kecil di sepanjang tepian sungai. Beberapa prajurit lainnya bertugas mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.
Sementara itu, para koki yang turut serta dalam rombongan Pangeran Keempat sibuk dengan persiapan makan malam. Meskipun sudah terlambat, mereka tetap bersemangat untuk menyajikan hidangan yang lezat dan memuaskan.
Di dekat api unggun, para koki mengatur perapian dan menyiapkan peralatan memasak. Mereka memotong-motong bahan makanan dengan cepat dan terampil. Suara kuali dan wajan yang berdenting, serta aroma rempah yang harum mulai tercium di sekitar.
Pangeran Keempat melihat kesibukan para koki dengan senang hati. Dia menghampiri mereka dan memberikan instruksi dengan ramah, "Pastikan hidangan kita sederhana tapi lezat, serta cepat disajikan. Para prajurit kita perlu makan malam yang mengembalikan energi mereka."
Para koki mengangguk patuh dan terus bekerja dengan tekun. Mereka mengolah bahan makanan yang tersedia dengan keterampilan tinggi, menciptakan hidangan yang bergizi dan mengenyangkan. Dalam waktu singkat, makanan mulai disajikan di meja makan yang sederhana.
"Pangeran, ini menu yang kami persiapkan untuk makan malam," kata salah satu koki sambil menunjukkan hidangan-hidangan yang telah disiapkan. "Kami telah menyajikan nasi goreng dengan sayuran dan daging, sup ayam yang hangat, serta buah-buahan segar sebagai penutup."
Pangeran Keempat tersenyum puas. "Terima kasih atas kerja keras kalian. Menu ini sempurna untuk menjaga kekuatan dan semangat pasukan kita," katanya dengan penuh apresiasi.
Para prajurit mulai berkumpul di sekitar meja makan, merasa tergugah nafsu makan mereka oleh aroma yang menggoda. Mereka duduk dengan lapar dan menikmati hidangan yang disajikan. Suasana di sekitar api unggun menjadi hangat dan penuh kebersamaan.
Saat mereka menikmati hidangan, Pangeran Keempat berjalan mengelilingi mereka dengan senyum di wajahnya.
"Selamat makan, para prajuritku!" ucap Pangeran Keempat dengan penuh semangat. "Hari ini kita telah melewati banyak rintangan, tetapi kita tetap kuat dan bersatu. Istirahatlah sebaik-baiknya, karena besok kita akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan kita."
Para prajurit memberikan tepuk tangan kecil sebagai tanda penghargaan dan kepuasan mereka terhadap hidangan yang disajikan. Mereka berbicara dan tertawa, menikmati momen santai setelah perjalanan yang melelahkan.
Sambil melihat kebahagiaan di wajah para prajuritnya, Pangeran Keempat merasa lega. Dia tahu bahwa istirahat dan makanan yang baik sangat penting untuk memulihkan tenaga mereka.
Namun untuk pertama kali di dalam sejarah pangeran ke-4, dia tidak bisa makan makanan yang disajikan oleh para koki ini. Bukannya karena makanannya tidak enak tapi karena dia memikirkan tentang perjalanan selanjutnya.
__ADS_1
Perjalanan ini benar-benar tidak mudah.