Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
194


__ADS_3

Di tengah musim dingin yang membeku, jalan-jalan dipenuhi dengan jeritan dan tangisan yang terasa seperti angin menusuk hati. Para demonstran, yang kebanyakan berpakaian dengan lapisan-lapisan pakaian sederhana untuk menghadapi dingin yang tajam, berteriak dengan keras dan penuh emosi, menggema di sepanjang jalan. Suara-suara mereka terdengar sebagai seruan keputusasaan dan tuntutan yang mendesak.


Permintaan mereka agar negara segera mendirikan posisi putra mahkota terdengar nyaring, seperti seruan putus asa dari mereka yang merasa tanpa arah. Di tengah keheningan musim dingin yang membeku, jeritan ini menjadi sorotan yang mengguncang hati. Dalam kata-kata yang mereka teriakan, semua orang seolah-olah merasa bahwa keberadaan putra mahkota adalah harapan terakhir mereka. Suatu ikatan yang dapat menyatukan negara dan membawa stabilitas.


Di antara kerumunan, terdengar pula jeritan yang mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam. Suara-suara ini mampu menggambarkan keyakinan bahwa negara akan hancur tanpa putra mahkota yang kuat untuk mengarahkan dan melindungi.


Padahal narasi ini sudah di hapal kan sebelumnya orang mereka atas dorongan orang yang tidak bertanggungjawab.


"Yang mulia,bantu kekaisaran ini....!"


"Dirikan kursi putra mahkota secepatnya..!"


"Kami ingin putra mahkota...!!"


"Kami ingin Putra mahkota...!!"


Tangisan dan jeritan ini mengungkapkan kecemasan akan masa depan yang tidak pasti tanpa seorang pemimpin yang tegas.


Dalam antara kerumunan yang merindukan pemimpin baru, ada juga jeritan yang terdengar penuh pengabdian dan kesetiaan. "Negaraku, negaraku!"


Ada juga yang meneriakkan "Kaisar ku!" dengan harapan bahwa pemimpin baru akan memimpin dengan bijaksana dan mengabdi kepada rakyat dengan tulus.


Semua jeritan ini menciptakan suasana yang penuh guncangan emosi dan keinginan yang mendalam. Meskipun mereka berdiri di tengah suhu dingin yang menyengat, semangat mereka tak tertandingi.


Uang memang tidak terkalahkan ,di era manapun berada.


Dalam kerumunan orang-orang yang berpakaian sederhana dan miskin. Tidak sa yang menyadari,jika beberapa di antaranya memberikan kode rahasia kepada yang lain. Mata mereka melirik dengan cepat, tanda-tanda yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sudah lama bergerak dalam kerahasiaan. Namun, sebelum siapa pun bisa merespons, tiba-tiba mereka bergerak dengan cepat dan menebas leher orang-orang yang berdiri di dekat mereka.


Slash.. Slash..


Crak.. akhh..!"


"Akhh ....!"


"Tolong....akh...!"


Teriakan tiba-tiba memenuhi udara ketika orang-orang yang sebelumnya tengah berdemonstrasi berubah menjadi situasi kekacauan. Tangisan ketakutan merebak di seantero jalan, menciptakan suasana yang mencekam dan mengerikan. Di tengah kerumunan yang tadinya begitu bersemangat, rasa takut yang mendalam seketika merasuki mereka.


"Ah pembunuh...ada pembunuhan.lari.....akhhh!"


"Tolong....!"


"Lari..lari sa yang membunuh..."


Mimik wajah para demonstran berubah drastis. Ekspresi keheranan tergambar jelas di wajah-wajah mereka yang sebelumnya penuh semangat. Matanya melebar, bibir terbuka dan wajah mereka memucat saat mereka merasakan ancaman mendekat. Mereka tercekat oleh kejadian yang tidak terduga dan seketika itu, kepanikan merebak seperti api yang menjalar.


"Lari.. putra ku pergi lah.. lari"


"Ibu... huwaaaa...ibu..ibu di mana??"


"Cepat.. Ayo pergi..!"


Terdengar suara langkah cepat dan suara lari kaki saat orang-orang berusaha menyelamatkan diri dari bahaya yang tiba-tiba muncul.


Slap...


Dok ..Dok.. Dok..


Klutang....


Beberapa demonstran berusaha melarikan diri dengan tergesa-gesa, berusaha menghindari bahaya yang masih melayang di sekitar mereka. Wajah mereka memancarkan rasa ketakutan yang mendalam, seperti bayangan kegelapan yang merayap dan mengambil alih semangat mereka.

__ADS_1


Situasi berubah menjadi kacau dan mencekam, ketakutan mengguncang setiap sudut jalan. Teror yang datang tiba-tiba telah menggantikan semangat perjuangan dan sekarang yang terasa hanyalah kebingungan dan ancaman.


Orang-orang berlari, mata penuh dengan ketakutan yang menghalangi pandangan mereka, mencari tempat perlindungan dari bahaya yang tidak terlihat.


Lokasi yang sebelumnya penuh dengan kerumunan orang yang berteriak-teriak dan memperjuangkan tujuannya, kini berubah menjadi pemandangan yang menyeramkan dan sunyi.


Seketika itu, keramaian yang tadinya mengisi jalan-jalan sekarang telah berpindah, menyisakan puing-puing yang berserakan di mana-mana. Barang-barang yang ditinggalkan tergeletak tak terurus seolah-olah , daerah itu telah mengalami perubahan dramatis.


Jejak-jejak perjuangan dan ketegangan masih dapat terasa dalam udara, tetapi semuanya hening. Mayat-mayat yang tergeletak di tanah menambahkan aura kelam pada suasana, mengingatkan pada kenyataan bahwa aksi demonstrasi yang tadinya dipenuhi semangat telah berakhir tragis. Tubuh-tubuh tak bernyawa berada di berbagai sudut, menjadi saksi bisu dari konfrontasi yang terjadi.


Bercampurnya puing-puing dan debu dengan salju putih yang jatuh dari langit sebelumnya, menciptakan kontras yang mencolok. Salju yang tadinya bersih dan murni sekarang tercemar oleh jejak-jejak warna merah yang mengesankan kehancuran.


Angin seakan berbisik lembut, membawa aroma besi dan darah yang tercampur dengan udara dingin. Sepotong kain merah yang tersisa di tanah berputar-putar akibat hembusan angin, menambah sentuhan dramatis pada pemandangan yang suram.


Suara angin yang berdesing dan heningnya suasana hanya ditemani oleh suara langkah kaki perlahan, mungkin seorang petualang yang berani melintasi tempat yang ditinggalkan oleh kerumunan itu. Di tengah sunyi dan mayat-mayat yang bergelimpangan, ada kehampaan yang tak terucapkan, menyiratkan perasaan kehilangan dan kehancuran.


Jenderal Su, berdiri di pinggir jalan dengan tatapan tajam yang menatap pemandangan yang berubah drastis di hadapannya. Wajahnya yang maskulin dan tegas mengungkapkan perasaan ketidakpuasan yang tersembunyi di dalam hatinya.


Dia berdiri dengan sikap yang tegak dan kuat, menghadapi puing-puing dan mayat-mayat yang tersebar di tanah. Meskipun tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya, ekspresi dalam matanya menceritakan keraguan dan pertimbangan yang mendalam.


Tiba-tiba, seorang prajurit berpakaian pedesaan mendekatinya dengan langkah hati-hati. Mata jenderal Su langsung tertuju pada prajurit tersebut, dan dengan hati-hati prajurit itu membisikkan sesuatu ke telinganya. Wajah jenderal berkerut, menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan prajurit itu telah memicu respons dalam pikirannya.


Percakapan singkat itu berlangsung dalam keheningan, hanya diiringi angin sepoi-sepoi yang bertiup perlahan. Setelah menerima pesan dari prajurit, jenderal Su tampak merenung sejenak, seolah-olah merancang rencana yang rumit di dalam benaknya. Kemudian, dengan mantap, dia mengambil keputusan.


Dengan langkah pasti, jenderal Su melangkah menuju kudanya dan dengan cekatan naik ke atas kuda Dalam sekejap, dia melaju menjauh dari lokasi yang telah berubah menjadi pemandangan yang menakutkan.


Jenderal Su berpacu dengan kecepatan penuh di atas kuda kesayangannya, angin sepoi-sepoi yang menusuk membelai wajahnya. Kuda itu melaju seperti kilat, tidak berhenti sedetik pun, hanya tunduk pada perintah kuat jenderal yang memegang kendali.


Tiba di gerbang istana, jenderal Su melepaskan kendali kudanya dan melompat turun dengan lincah. Dengan langkah pasti dan tatapan yang tak terbendung, dia melangkah masuk tanpa ragu, melewati penjaga-penjaga yang tercengang. Mata mereka seolah-olah membeku di tempat saat melihat jenderal yang begitu berani masuk tanpa izin.


Namun ketika dia mencoba melangkah ke halaman utama, seorang penjaga menghalanginya dengan tegas. "Berhenti! Jendral ,Anda tidak diizinkan masuk ke halaman utama!" ujar penjaga tersebut dengan suara lantang.


Jenderal Su menoleh pada penjaga itu dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan yang tak terbendung. " "lancang,apa kau ingin mati?" ucapnya dengan nada yang penuh ancaman.


"Huh jadi dia diam diam kembali ke istana nya? benar benar ingin berpaling rupa nya huh "pikir jenderal su geram.


Ketidakpuasan semakin menggelegak di dalam jenderal Su. Matanya menyala dan dalam sekejap, tangannya yang kuat telah melayangkan tamparan yang keras ke arah penjaga tersebut.


Plak...


Tamparan itu mendarat dengan cepat, menghantam pipi penjaga dengan kekuatan yang luar biasa. Penjaga terkejut, tapi masih tidak bergerak .Dia hanya penjaga dan orang di depannya adalah seorang jenderal, mereka bukan lah tandingan nya sama sekali.


Tamparan itu seolah menjadi ledakan marah jenderal Su. Dengan langkah panjang, dia melewati penjaga yang terhuyung-huyung dan melangkah ke dalam halaman utama.


Tatapannya sekarang fokus pada adik perempuan yang telah menjadi istri Pangeran Ketiga. Wajahnya terpancar dengan ketegangan dan amarah yang membara, tak terkendali lagi.


Adik perempuan Jenderal Su, yang masih terhuyung-huyung di dinding, terlihat sangat lemah dan penuh ketakutan. Wajahnya yang pucat dan mata yang sembab dari air mata dan rasa sakit tamparan membuatnya tampak rapuh. Bekas-bekas tamparan jelas terlihat di wajahnya, meninggalkan jejak-jejak merah yang menyakitkan. Dia tampak seperti burung yang terjebak dalam perangkap, tertekan di sudut ruangan.


Ketika dia melihat Jenderal Su berdiri di depan pintu, ekspresi ketakutan di wajahnya semakin memuncak. Bibirnya gemetar dan matanya terbelalak saat matanya bertemu dengan tatapan tajam sang kakak. Dia merasakan rasa takut yang amat dalam, dan hatinya berdegup kencang.


"Kakak..." bisiknya dengan suara yang lemah, namun cukup terdengar oleh Jenderal Su yang berdiri beberapa langkah darinya.


Jenderal Su menatap adik perempuannya dengan ekspresi yang terbagi antara amarah dan kekhawatiran. Dia melihat keadaan adiknya yang begitu rapuh dan terluka, dan dia merasa sesuatu yang rumit di dalam hatinya. Namun, rasa amarahnya terhadap Pangeran Ketiga masih menguasai dirinya.


"Kakak, maafkan aku..." gumam adik perempuannya sambil menahan tangis. "Aku tidak melakukan itu.. kakak.... aku tidak bisa melawan..."


Namun, sebelum kalimatnya selesai, adik perempuannya tiba-tiba pingsan di tempat. Tubuhnya lemas dan bibirnya yang pucat terbuka, tidak sadarkan diri karena tekanan fisik dan emosional yang begitu besar.


Jenderal Su merasa hatinya tercabik-cabik. Dia merasa seakan-akan dunianya hancur melihat adiknya yang begitu lemah dan terluka. Dengan hati yang penuh penyesalan dan kekhawatiran, dia berjongkok di samping adiknya yang pingsan dan memeluknya dengan lembut.


"Semua akan baik-baik saja, adikku... Aku akan melindungimu," bisiknya dengan suara penuh belas kasihan, sambil menepuk-nepuk pipi adiknya dengan lembut.

__ADS_1


Merasa kondisi adik perempuannya tidak baik-baik saja jenderal Su langsung bangkit dan menggendongnya.


Pangeran Ketiga berdiri dengan sikap yang angkuh dengan pandangannya tajam dan tegas saat ia melihat Jenderal Su meninggalkan halaman dengan adik perempuannya yang pingsan dalam pelukannya.


Wajahnya yang arogan dan sombong semakin terlihat saat dia melangkah mendekati Jenderal Su yang sedang berjalan cepat.


" berhenti!" suaranya menyela langkah Jenderal Su, memaksa jenderal itu untuk berhenti. Pangeran Ketiga menatap Jenderal Su dengan pandangan penuh keangkuhan, seolah merasa bahwa jenderal ini wajib tunduk pada kehadirannya.


Jenderal Su berhenti di tempat, meskipun dia merasa amarah dan ketidakpuasan mendalam, dia tahu bahwa situasi ini berbahaya. Dengan ekspresi tegar, dia menoleh ke arah Pangeran Ketiga, tetapi tidak berbicara.


Tapi di dalam hatinya dia berkata."inikah calon kaisar yang aku pilih?"


Mereka berdua sudah merencanakan jika Pangeran tidak perlu keluar dari banyak tempat persembunyian sampai waktunya tiba.


Tapi alih-alih bersembunyi di saat yang paling penting, dia malah pulang ke rumah dan itu hanya karena sebuah bisikan.


Saat ini jenderal Su tiba-tiba menertawakan tingkat penilaiannya terhadap karakter Pangeran ketiga.


Pangeran ketiga di bawah pendapatnya adalah pria yang baik yang cocok untuk menjadi Kaisar di masa depan.


Sampai rumor mengenai cangkang kosong milik sang jenderal keluar. Baru kemudian dia menyadari jika Pangeran ketiga yang dia kenal sebenarnya adalah topeng belaka.


Apa yang dia tampilkan sebelum ini hanyalah akting yang dilakukan demi memikat dirinya agar berada di tim yang sama.


Sebagai seorang jenderal yang sudah mengenal taktik pertempuran, dia tidak menyangka jika taktik yang digunakan oleh pangeran ketiga lebih kejam daripada yang pernah dia pikirkan.


Hahaha menggunakan wanita sebagai alasan pertukaran untuk janji kesetiaan.


Sekarang dia adalah jenderal dengan cangkang kosong dan Pangeran ketiga ingin mengubah haluan dengan mengambil putri dari menteri kanan sebagai orang terkuat.


Hah untung saja masalah dia mengambil kembali hartanya yang hilang tidak disebar luaskan. Jika tidak bagaimana mungkin dia bisa mengetahui wajah sebenarnya dari pangeran ketiga.


P


Sementara itu,pangeran Ketiga mengerutkan kening, merasa geram oleh ketidaksopanan Jenderal Su yang tidak memberikan penghormatan sejelas apa yang dia harapkan. Dia menegakkan tubuhnya dengan sikap lebih tegar, mencoba untuk mengesankan Jenderal Su.


"Mau dibawa ke mana istri ku?" tanyanya dengan nada tinggi dan tajam, seolah mencoba untuk mengejek Jenderal Su.


Jenderal Su menatap Pangeran Ketiga dengan tatapan yang dingin dan tajam, tetapi dia tetap bungkam. Ada perasaan sakit hati yang mendalam di dalam hatinya, melihat bagaimana Pangeran Ketiga memperlakukan adik perempuan nya.


Dengan tetap diam, Jenderal Su melangkah maju melewati Pangeran Ketiga, membawa adik perempuannya yang pingsan dengan penuh kehati-hatian. Dia mengabaikan sikap sombong Pangeran Ketiga dan fokus pada tugasnya untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan adiknya.


"Jendral.. kurang ajar sekali kau. ini adalah kediaman pangeran yang tidak bisa kau masuk dan keluar sesuka hatimu. Sekarang dia adalah istriku dan terserah Pangeran ini, mau memukul atau membunuhnya sekalipun. tinggalkan dia dan pergilah dari istanaku"


Sebenarnya hal yang dikatakan oleh pangeran ketiga ini adalah hal yang benar. Setelah menikah seorang wanita seorang wanita dikatakan putus dengan keluarga kelahirannya.


Apapun yang dilakukan oleh pihak suami itu tidak akan terkait lagi dengan masa lalu.


Hari ini, dia berlari dari tempat persembunyian begitu mendengar kabar Zhang Mei mengalami keguguran.


Padahal dia sudah membuat rencana untuk memberikan menteri kanan tugas paling penting menggantikan posisi jenderal Su.


Bagaimana bisa hal itu dilakukan jika putri dari menteri kanan sendiri mengalami keguguran di istananya ?Apa yang harus dijawab ketika menteri kanan bertanya dan berpaling hati.


Sekarang jendral su bukalah siapa-siapa. Tapi dia cenderung menjadi lintah penghisap darah untuk pangeran ini seumur hidup.


Lebih baik memusnahkan lintah penghisap darah ini dan meraih keuntungan yang bisa diraih.


Dengan begitu dia harus menjaga agar menteri kanan tidak lepas dari genggamannya dengan menjaga putrinya selalu aman di istana.


Tapi apa yang dia dengar adalah sesuatu yang tidak ingin dia dengar.

__ADS_1


Zhang Mei keguguran.


Sebagai seorang yang bertanggung jawab di halaman belakang bukankah putri pangeran harus bertanggungjawab.


__ADS_2