
Saat ini Ratu sedang duduk sendirian di ruangan mewah istana. Cahaya remang-remang dari lilin-lilin menyoroti wajahnya yang pucat.
Dalam genggaman tangannya terdapat sebuah buku yang telah mengguncang kepercayaannya. Dia membuka lembaran-lembaran buku tersebut dengan penuh emosi, mata memerhatikan setiap kata yang terpampang di atas halaman.
Kata-kata di dalam buku itu seperti tusukan tajam, meresap masuk ke dalam pikiran dan hati Ratu. Saat dia membaca, rasa marah dan frustrasi semakin mendalam. Mata birunya berkobar dengan kemarahan yang terpendam dan tiba-tiba tanpa sadar, buku itu terjatuh dari tangannya ke lantai marmer.
Brak...
Dengan gerakan yang cepat dan penuh kemarahan, Ratu berdiri. Dia berjalan menuju meja, mengambil beberapa benda berharganya yang diletakkan di sana.
Cling...
Tak ....tak.. cling...
Vas kaca indah pecah berantakan ketika melemparnya ke lantai. Gambar-gambar indah di dinding hancur saat patung-patung hiasiannya terhempas.
Lantai mewah istana yang sebelumnya terlihat bersih dan tertata rapi sekarang dipenuhi dengan pecahan kaca, potongan-potongan keramik dan barang-barang berhamburan. Ruangan yang indah itu berubah menjadi medan kekacauan yang mencerminkan gejolak dalam hati Ratu.
"Kurang ajar, siapa itu anonim!!"pekik nya marah,matanya yang cantik berubah menjadi mengerikan ketika dia menatap satu persatu pelayan di depannya.
Para pelayan hanya bisa menundukkan kepala dan tidak mengeluarkan suara apapun.
Sekarang Ratu merasa sedang berada dalam sebuah labirin tanpa arah yang jelas. Dia tahu bahwa situasi ini bisa mengancam posisinya dalam kerajaan Dayun.
Plak..
Seorang pelayan di dekat ratu langsung ditampar dan dia terduduk dengan pipi yang memerah. Mungkin karena tamparan yang begitu keras ada beberapa titik darah di sudut bibirnya. Hanya saja pelayan ini tidak memiliki keberanian untuk menghapus darah itu.
Dengan susah payah dia langsung berdiri lagi dan menundukkan kepala seperti semula, bertingkah seolah-olah tidak ada kejadian tamparan tadi.
Di tengah reruntuhan ruangannya yang hancur, Ratu jatuh terduduk di kursi kebesarannya sendirian. Matanya yang biru mengeluarkan kilatan emosi yang kompleks. Rasa marah dan kebingungannya berbaur dalam pandangan matanya yang tajam, mencerminkan kekacauan dalam hatinya.
"Mengapa aku tidak pernah menganggap serius penulis anonim ini sebelumnya?" gumam Ratu dalam batinnya.
Dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena telah mengabaikan isyarat-isyarat yang jelas terlihat di depannya.
Kata-kata dalam buku itu terus menghantuinya. Dia membayangkan bagaimana isu yang seharusnya hanya berfokus pada Pangeran ketiga, sekarang juga melibatkan dirinya. Ketidakpastian dan kekhawatiran merajai pikirannya, menghasilkan suasana yang gelap dan gelisah di dalam dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisik Ratu dalam hati. Sekarang bukan hanya kepercayaan rakyat yang mungkin tercoreng, tetapi juga posisinya sebagai Ratu yang bisa terancam. Dia sedang terjebak dalam jaring yang rumit dan keputusan-keputusan sulit menanti di hadapannya.
Sementara dia masih duduk di tengah-tengah puing-puing, rasa marahnya berubah menjadi tekad. Dia tahu dia tidak bisa lagi mengabaikan isu ini atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia harus mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini dan memulihkan stabilitas dalam istana.
Dengan perlahan, Ratu bangkit dari tempat duduknya dan memandangi pemandangan hancur di sekitarnya. Dia merenung dan merencanakan langkah-langkah berikutnya.
Tiba-tiba saja ,ada suara penjaga pintu mengumumkan keberadaan kerabat Ratu yang ingin menghadap.
"Biarkan orang orang masuk"kata Ratu yang membuat para pelayan bergegas berhamburan keluar.
Salah satu pelayan mendatangi pintu gerbang dan mempersilahkan orang di luar untuk masuk menghadap Ratu.
Pintu terbuka dan langkah-langkah berat terdengar mendekat. Mata Ratu terangkat saat dia melihat sosok ayah kandungnya dan saudara laki-lakinya masuk ke dalam ruangan. Wajah mereka terlihat tegang dan tidak nyaman, seolah membawa beban yang berat.
Ayah kandung Ratu, seorang pria yang telah lama mengenakan mahkota, memiliki rambut putih yang tegas namun mata yang tajam dan bijaksana. Dia memasuki ruangan dengan langkah mantap, meskipun wajahnya terlihat penuh perhatian dan kegelisahan.
Ayah kandung Ratu adalah menteri ritus negara, yang sudah mengabdi kepada negara sejak usia 22 tahun.Jadi dia sudah begitu akrab dengan percaturan dunia perpolitikan.
Tapi masalah hari ini adalah masalah yang begitu penting bahkan bisa mengancam nyawa dia dan keluarganya.
__ADS_1
Sementara itu saudara laki-laki Ratu, yang masih muda namun sudah cukup berpengalaman dalam urusan kerajaan.Dia memiliki wajah yang mirip dengan ayahnya. Matanya menatap tajam ke arah ratu dengan mata kecil mencerminkan pemikiran yang mendalam dan penuh perhitungan.
" Ayah, kakak, Ratu ini senang kedatangan kalian ," sapa Ratu dengan hormat saat mereka berdua masuk ke ruangan yang masih berantakan akibat amarahnya sebelumnya.
Ayah kandung Ratu memberikan senyuman tipis sebagai tanggapannya, sementara saudara laki-lakinya hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi serius.
Dia juga sudah melihat bagaimana berantakannya ruangan Ratu. jelas saja kabar di luar sudah didengar oleh Ratu sendiri. Jadi pemandangan ini bisa menjelaskan bagaimana marahnya Ratu saat ini
"Sudah menjadi berita heboh di seluruh penjuru ibukota tentang buku anonim ini," ujar ayah kandung Ratu, suara lembutnya terdengar melengking di tengah keheningan ruangan. "Mereka mengaitkannya denganmu dan keluarga kita"
Saudara laki-lakinya menambahkan dengan nada yang lebih tegas, "Gosip semakin menggila dan mengancam stabilitas kita. Ratu apakah kau sudah menyelidiki siapa itu anonim?"
" ratu ini tahu masalahnya sangat serius. Tapi sampai sekarang Ratu ini sendiri tidak tahu siapa penulis di balik buku ini atau motifnya."
Beberapa waktu yang lalu ratu dan ayahnya sempat tertawa ketika berbicara dengan penulis anonim ini. Mereka berpikir buku ini menargetkan Pangeran ketiga sehingga mereka aman. Dan jalan untuk pangeran kedua menjadi putra mahkota lebih lancar karenanya .
Tapi siapa sangka mereka lengah sesaat Dan inilah akhirnya.
"Kita harus mengetahui lebih banyak tentang ini. Sebelumnya kita lengah tapi sekarang kita harus mengambil tindakan cepat untuk mengatasi situasi ini."
Saudara laki-lakinya menambahkan, "Tapi kita harus berhati-hati dalam menyikapinya. Melangkah gegabah dapat memperburuk situasi."
Ratu mengangguk lagi, menghela nafas dalam. " ratu ini membutuhkan saran dan bantuan kalian dalam hal ini. Kalian berdua memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang dibutuhkan."
Ayah kandung Ratu mengambil nafas dalam, tahu bahwa saatnya untuk bertindak telah tiba. "Kita harus mencari tahu siapa yang berusaha mengganggu stabilitas kita dan mengambil langkah-langkah untuk meredakan dampaknya."
Saudara laki-laki Ratu juga berkata dengan pelan"Kita juga harus mempertimbangkan cara-cara untuk mengembalikan citra kerajaan dan menghilangkan keraguan di mata rakyat."
Ratu, ayah dan saudara laki-laki Ratu merasa gelisah dan takut karena mereka menyadari bahwa masalah ini bisa saja mencapai pendengaran Kaisar. Rasa cemas merayap di dalam hati mereka, menciptakan ketegangan yang tak terelakkan.
Ayah Ratu juga merasakan rasa cemas karena dia merasa bertanggung jawab atas kelangsungan keluarganya. Keberhasilan atau kegagalan dalam menangani situasi ini bisa mempengaruhi reputasi keluarganya secara keseluruhan.
Akibat yang akan dihadapi oleh mereka jika masalah ini sampai ke hadapan Kaisar sangatlah besar. Jika Kaisar mengetahui tentang peran Ratu dalam skandal ini, hal itu bisa merusak hubungan mereka secara pribadi dan politik.
Akibatnya, citra ratu kerajaan bisa hancur di mata rakyat dan bangsawan. Kekuasaan dan legitimasi kerajaan bisa tergoyahkan, menciptakan ketidakstabilan yang berbahaya dalam keluarga mereka. Ratu dan keluarga kelahiran nya mungkin akan menghadapi tindakan disipliner atau bahkan pengasingan.
Jika Kaisar merasa bahwa tindakan mereka mengancam integritas kerajaan malah akan di hukum bunuh sembilan klan.
Pada akhirnya Ratu, ayah nya dan saudara laki-laki Ratu duduk bersama,. mereka mengutarakan kekhawatiran mengenai konsekuensi dari skandal yang melibatkan buku mengenai Pangeran ketiga. Mereka tahu jika situasi ini memiliki dampak yang lebih dalam daripada yang terlihat pada awalnya.
" Jika kabar buruk ini sampai kepada Kaisar, keluarga kita akan berada dalam bahaya besar, ayah "
Saudara laki-laki Ratu, yang biasanya tegas dalam pandangannya, mengangguk setuju, "Saya juga merasa seperti itu. Ada yang mencoba mengubah dinamika kekuasaan di balik layar. Pangeran keempat akan menjadi pemenang terbesar dalam situasi ini. Dengan Pangeran kedua ditarik ke dalam skandal ratu, Pangeran keempat akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari rakyat dan bangsawan."
mengikut isi dari buku tersebut, bukan saja Pangeran ketiga akan tersingkirkan dari calon kandidat putra mahkota. tapi hal yang sama juga berlaku untuk pangeran kedua.
nama baik ibunya akan membuat dirinya tidak bisa menjadi calon kandidat putra mahkota.Jadi keberadaan buku itu benar-benar menyingkirkan dua kandidat sekaligus.
Karena itu kandidat terakhir yang tinggal adalah Pangeran keempat. Jadi mudah untuk mereka berpikir jika Pangeran keempat adalah orang dibalik penulis anonim ini.
Sebelumnya mereka tidak pernah berpikir jika Pangeran keempat memiliki kemampuan untuk melakukan ini.
Huh sebenarnya mereka sedang meremehkan lawan yang salah.
Sialnya , ketika semua orang menyadarinya itu sudah sangat terlambat.
"Ini bisa menjadi kesempatan bagi pangeran ke empat untuk menyingkirkan persaingan dan mengambil alih posisi putra mahkota. Dia akan bisa mendekati rakyat dengan narasi 'bersih'nya dan menempatkan dirinya sebagai harapan baru."
__ADS_1
Sementara ayah dan anak sedang berbicara tentang rencana selanjutnya, di dalam kamar Kaisar, suasana tiba tiba saja jadi penuh ketegangan.
Kasim tua baru saja selesai membacakan isi buku anonim kepada Kaisar. Wajah Kaisar seketika berubah menjadi merah padam, dipenuhi dengan rasa marah dan kejutan yang mendalam. Tidak lama kemudian, ekspresi marah itu berganti dengan rasa sakit yang tiba-tiba memasuki tubuhnya.
Kaisar merasakan perutnya berkontraksi keras dan sensasi panas yang menggelapkan penglihatannya. Dalam sekejap, dia merasa mulutnya penuh dengan darah yang akhirnya memuntahkan darah dengan keras.
"Huek...
Byur ...
"Kaisar!!"
"Kaisar... Kaisar, berusahalah tenang," bisik Kasim Tua dengan penuh perhatian.Dia segera menepuk-nepuk punggung Kaisar dengan pelan.
Begitu juga dengan tabib yang selalu berada di sisi Kaisar. Mereka langsung disibukkan dengan memeriksa situasi Kaisar melalui detak nadi.
Juga bergegas seseorang langsung menyeduh ramuan obat. seorang tabib juga meminta kasim tua untuk mundur dan memberikan akupuntur dengan jarum emas.
Dengan cepat penanganan darurat di lakukan dan Untung saja Kaisar sudah tidak muntah darah lagi beberapa menit kemudian.
Tabib utama segera berbisik bisik dengan Tabib lain untuk mendiskusikan pengobatan apa yang harus mereka lakukan lagi setelah ini.
Beberapa waktu yang lalu, tabib tidak merasakan ada keganjilan dalam tubuh Kaisar. Tapi hari ini setelah Kaisar kedapatan muntah darah mereka mulai melihat reaksi dan kejanggalan itu.
Muntah darah bisa diartikan jika Kaisar sedang mengalami luka dalam.Tabib utama mengambil jarum perak dan menekannya pada sisa muntahan Kaisar tadi.
Hasilnya, warna darah yang merah menjadi biru ketika jatuh dengan jarum perak.
Dalam sekejap, wajah tabib utama ini benar-benar tidak enak di lihat.
Kaisar sedang di racun.
"Kaisar, bertahan lah Kaisar "kata kasim tua dari samping.Dia tidak melihat dari sisi tabib tentang jarum perak.Dia hanya fokus dengan kondisi Kaisar saja.
Kaisar berusaha menenangkan dirinya sambil menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa bernafas dengan lebih teratur.Tapi dia tidak lupa dengan informasi tadi, informasi jika Pangeran ketiga mandul karena ratu yang kejam.
"Kasim Tua... Ini semua tidak mungkin benar!" Kaisar mengeluarkan suara dengan napas yang masih terengah-engah. "Tidak mungkin ada yang bisa membuat putra ku.. mandul!"
Kasim Tua menatap Kaisar dengan tulus, "Kaisar, rendahan ini tahu bahwa ini adalah kabar yang sangat mengejutkan dan sulit dipercaya. Tetapi kabar ini masih harus di klarifikasi lagi.Melihat kondisi fisik Kaisar yang rapuh, rendahan ini khawatir Kaisar harus segera beristirahat."
Ini hanya sebuah bujukan untuk kaisar, tapi itu semua tidak mempan sama sekali.
Kaisar masih merasa tidak percaya dan menolak menerima kenyataan yang baru saja diungkapkan. Dia menggenggam selimut di tangannya dengan kuat, mencoba menyingkirkan rasa lemah yang mendominasi tubuhnya. Namun, pandangannya perlahan memudar dan kebingungan terbaca dari matanya.
" kaisar ini.. harus merenungkan semua ini," gumam Kaisar dengan napas yang terengah-engah. Dia menutup matanya, mencoba mengumpulkan pikirannya yang kacau.
Kasim Tua mengangguk dengan penuh pengertian, " Ya Kaisar. Anda butuh istirahat yang baik. Dengarkan apa kata Tabib.Setelah sembuh, mari klarifikasi lagi.Lagi pula, pengeran ke tiga tidak ada di ibukota sekarang ini"
Dia tahu bahwa apa yang dia ungkapkan kepada Kaisar adalah berita yang sangat mengguncang dan sulit diterima. Kini, Kaisar harus menghadapi kenyataan yang tak terduga dan merenungkan akibat-akibat dari informasi yang baru saja dia terima.
"Perintah kan... agar.. agar ratu dilarang keluar dari istana nya .Dan..dan ini berlaku juga untuk pelayan budak nya tanpa terkecuali" kata Kaisar dengan suara lemah.
"Ratu tidak bisa di maaf kan,dia tahu jika pangeran ketiga adalah kesayangan Kaisar sejak lama.Jadi dia tega melakukan hal ini.Jangan...jangan biarkan Ratu bertemu dengan siapa pun.Tangkap ...orang yang melanggar perintah kaisar ini "kata Kaisar lagi hampir seperti orang yang sedang berbisik-bisik.
Hanya Kaisar sendiri yang tahu bagaimana kecewa nya dia tentang Ratu.
Hati wanita memang tidak bisa di tebak.
__ADS_1