
Di ruang makan yang elegan dan terang, kepala sekolah duduk di kursi utama di ujung meja. Anggota keluarga yang lain, termasuk istri dan anak-anaknya, duduk di sekitar meja yang dihiasi dengan motif ukiran kayu yang indah. Suasana pagi yang tenang terasa di ruangan itu, tercium aroma harum teh hangat dan makanan segar.
Menu sarapan pagi mereka terdiri dari sejumlah hidangan yang lazim di Cina kuno. Di tengah meja terdapat mangkuk-bowl berisi mi gandum panas yang dilengkapi dengan irisan daging dan sayuran segar. Piring-piring kecil berisi jiaozi, dumpling dengan isian daging cincang dan sayuran, ditempatkan di sebelah mi.
Ada juga sepiring besar mantou, roti kukus putih dan lembut, yang disajikan dengan selai kacang dan selai wijen. Sebagai pelengkap, terdapat hidangan acar sayuran segar seperti timun dan wortel yang diawetkan dengan cuka dan rempah-rempah.
Kepala sekolah dengan tegas memimpin suasana di meja, menegaskan kepatuhannya terhadap tata tertib dan kedisiplinan. Tatapannya tajam dan wajahnya yang tegar mencerminkan kepemimpinannya di luar rumah. Namun, di balik semua itu, tersembunyi rasa tegang yang tidak terlihat oleh anggota keluarganya.
Sementara mereka menikmati hidangan pagi yang lezat, suara gemuruh percakapan hangat terdengar di sekitar meja. Meskipun kehidupan keluarga ini tampak normal di permukaan, kekhawatiran dan rahasia kelam kepala sekolah tersimpan di dalam hati yang tak terlihat oleh mata orang lain.
Dengan pakaian yang rapi dan ekspresi wajah yang tegang, dia memegang sendok di tangan kanannya, tetapi pandangannya terfokus pada piring kosong di depannya.
" Hari ini, saya mungkin tidak bisa pulang seperti biasa. Ada masalah sekolah yang mendesak yang harus saya selesaikan"
" Baiklah, suami. Kami mengerti pentingnya tugas-tugas Anda sebagai kepala sekolah"kata istri kepala sekolah.
Istri kepala sekolah adalah wanita penurut dan yang berasal dari kalangan menengah. Dia memiliki pengajaran dari keluarga kelahirannya agar wanita tidak selalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki di luar.
Namun begitu putranya adalah laki-laki juga ,dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh ayahnya ini, karena itu dia bertanya."Ayah, apakah semuanya akan baik-baik saja di sekolah?
Kepala sekolah menggelengkan kepalanya saat ini dia memang sedang memikirkan wanita itu dan berpikir untuk "menemaninya" sebelum menghabiskan waktu di sekolah.
"Aku akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Tetapi kalian juga harus menghormati peran dan tanggung jawab kalian di sekolah"
Gaya bicara kepala sekolah ini menyiratkan ada masalah yang terjadi di sekolah yang membuatnya Mayang membuat ayahnya ini tidak bisa. sebagai seorang Putra tentu saja dia khawatir dan ingin selalu bisa diandalkan di rumah ini." Ayah, apakah kita bisa membantu dalam masalah ini?"
Sang ayah menggelengkan kepala dan menatap wajah putranya dengan tegas seolah-olah dia bangga tapi juga sekaligus marah dengan pertanyaan ini. Seakan-akan sang putra sedang bertanya tentang kredibilitasnya sebagai seorang kepala sekolah.
"tidak ada masalah besar tapi ini adalah urusan kepala sekolah yang harus saya selesaikan. Kalian fokuslah pada studi dan menjaga nama baik keluarga kita"
Kepala Sekolah tiba tiba saja bangkit dari kursi meja makan dan menarik ujung bajunya ." Saya harus segera pergi ke sekolah. Setelah ini selesai, saya akan berangkat seperti biasa"
"Tentu, suami. Aku akan mengantarmu dan menunggu hingga kau naik ke gerbong kereta"
Kepala Sekolah dan istrinya berjalan keluar dari ruang makan menuju halaman. Mereka melewati lorong-lorong yang tenang, diikuti oleh beberapa pelayan yang siap membantu mereka.
Gerbong kereta yang menunggu di halaman istana adalah gerbong yang sederhana namun tetap terawat. Gerbong tersebut terbuat dari kayu berwarna gelap dengan ukiran-ukiran sederhana yang menghiasi permukaannya. Kapasitasnya cukup untuk menampung beberapa orang, termasuk sang kepala sekolah dan istrinya.
"istriku masuk lah ke dalam, jangan khawatir,aku akan kembali segera"katanya seraya melambaikan tangannya ke atas
"Hati-hati di perjalanan, suami ku"
Kepala Sekolah mengangguk pada istrinya dengan serius, dan gerbong kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman istana. Istri Kepala Sekolah tetap berdiri di sana, menatap kepergian suaminya dengan tatapan ringan.
Istri Kepala Sekolah masih berdiri di halaman istana, menatap kepergian gerbong kereta yang membawa suaminya. Matanya penuh harap dan kekhawatiran, namun tiba-tiba ia terkejut ketika melihat salah satu pelayan budak keluar dari pintu istana dengan wajah berkeringat.
Pelayan Budak mahar ini bernapas terengah-engah , seperti nya dia sudah berlari begitu cepat."Nyonya, maafkan budak ini. Budak harus memberitahukan sesuatu yang penting"
Istri Kepala Sekolah terkejut melihat budak mahar nya datang dengan cara itu."Apa yang terjadi? Mengapa kamu terlihat begitu gelisah?"
Pelayan Budak datang mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya dengan hati-hat." budak ini menemukan buku ini di ruang kerja Kepala Sekolah. Isinya... isinya mengungkapkan sesuatu yang mengerikan, nyonya. Kepala Sekolah kita terlibat dalam skandal korupsi dan..dan dia menyimpan wanita muda di luar!"
__ADS_1
Istri Kepala Sekolah merasakan detak jantungnya berdegup kencang, dan pandangannya berkabut sejenak. Kepalanya berputar, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Kegelisahan menghantam hatinya, dan dia hampir pingsan oleh berita yang mengejutkan ini.
Istri Kepala Sekolah berusaha mengendalikan diri tapi dia masih nsaja bergumam."Bagaimana bisa? Apa buktinya?"
"Buku ini berisi bukti-bukti yang kuat, nyonya. Ada daftar transaksi korupsi dan catatan rahasia tentang aliran uang yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Ada juga alamat lengkap di mana wanita itu di simpan nyonya"
Istri Kepala Sekolah menatap buku tersebut dengan campuran rasa takut dan kemarahan yang mendalam. Hidupnya yang tampak sempurna dan bahagia tiba-tiba terguncang oleh pengkhianatan dan kejahatan yang tersembunyi di balik suaminya.
Istri Kepala Sekolah berteriak dalam keputusasaan " Oh, dewa! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Nyonya, tenanglah. Kita harus menghadapinya dengan bijaksana. Budak akan membantu nyonya menemukan kebenaran"
Istri Kepala Sekolah menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan kecemasan dan ketakutannya.
Di sini dia bingung lagi dengan apa yang harus dilakukan, dia adalah istri bukan seorang selir. Pernikahan membuat dia jadi ikat dengan jalan yang sama dengan kepala sekolah. Jika karena ini kepala sekolah jatuh ini artinya dia akan juga jatuh bersama-sama.
Hancur juga keluarga kelahirannya dan anak-anak yang dilahirkan.
Istri Kepala Sekolah yang masih terguncang oleh kejutan dan kebingungan atas pengkhianatan yang baru saja diungkapkan oleh pelayan budaknya. Tatapan matanya kosong, mencerminkan kebingungan dan ketidakpercayaannya terhadap apa yang baru saja dia dengar.
Istri Kepala Sekolah segera sadar ,dia dengan suara gemetar berkata pada pelayan budak nya ."Tolong... Tolong ambilkan gerbong kereta untukku. aku harus pergi ke sana dan melihat dengan mataku sendiri"
"Tentu, Nyonya. Segera budak akan mengatur semuanya"
Istri Kepala Sekolah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sambil menunggu pelayan budaknya pergi mengambil gerbong kereta. Pikirannya berkecamuk dengan kekhawatiran tentang masa depan keluarganya dan perasaan yang rumit terhadap suaminya yang terbukti tidak sebaik yang dia kira.
Sementara itu, Istri Kepala Sekolah memutuskan untuk memberitahu anak-anaknya tentang apa yang sedang terjadi. Dia memanggil mereka ke ruangan keluarga, di mana mereka tengah bermain.
Putra pertama dari kepala sekolah ini memiliki perasaan yang sensitif dia langsung berlari ketika melihat ada sesuatu yang ganjil pada ibunya.
"Ibu, ada apa? Mengapa Ibu terlihat gelisah?"
"Putra ku ,ini tentang Ayah kalian... Ada sesuatu yang terungkap mengenai Ayah. Kita harus pergi melihat dengan mata kita sendiri"
" Apa yang terjadi, Ibu? Apa yang Ayah lakukan?"tanya putra kedua yang juga datang dengan rasa penasaran.
"jangan banyak bertanya Ayo ikut ibu bersama ke gerbong. Ambil buku ini dan bacalah di dalam gerbong kereta .nanti kalian juga akan mengerti"
Anak-anaknya baik Putra atau Putri, sama-sama memandang ibu merdeka dengan perasaan heran tapi mereka setuju dengan itu.
lebih baik membaca buku yang diinginkan oleh sang ibu agar mereka tahu apa yang terjadi.
Setelah memberi penjelasan singkat kepada anak-anaknya, Istri Kepala Sekolah kembali menunggu pelayan budaknya dengan gerbong kereta.
Begitu pelayan budak kembali dengan gerbong kereta yang siap digunakan, Istri Kepala Sekolah meminta mereka semua untuk segera pergi menuju alamat yang tertera dalam buku tersebut.
Dalam kebingungan dan kekhawatiran, Istri Kepala Sekolah dan anak-anaknya berangkat dengan gerbong kereta, menuju alamat yang tertulis dalam buku sebagai upaya mereka untuk mengungkapkan kebenaran dan menghadapi konsekuensinya.
Kepala Sekolah tiba di sebuah rumah besar yang menjulang tinggi dengan arsitektur bergaya Cina kuno. Rumah itu terletak di tengah-tengah taman yang indah, dikelilingi oleh pepohonan besar dan kolam dengan air yang tenang. Bangunan utama rumah tersebut terbuat dari kayu dengan dinding merah maroon yang didekorasi dengan ukiran halus.
Pintu gerbang rumah itu terbuka lebar saat kepala sekolah mendekat, memberikan sambutan hangat kepada tuan rumahnya. Di dalam rumah, suasana terasa tenang dan damai. Ruangan-ruangan besar dipenuhi dengan perabotan yang elegan dan perhiasan artistik, mencerminkan kekayaan dan keanggunan pemiliknya.
__ADS_1
Kepala Sekolah berjalan melalui lorong-lorong yang luas, melintasi kolam ikan yang dihiasi dengan bunga teratai. Suara gemercik air memberikan suasana yang menenangkan. Lampu-lampu kuning lembut menerangi jalan, menciptakan atmosfer yang hangat dan misterius.
Kepala sekolah tanpa ragu masuk ke sebuah kamar yang indah di dalam rumah tersebut. Kamar ini dihiasi dengan warna-warna yang lembut dan perabotan yang elegan. Dinding kamar dihiasi dengan lukisan-lukisan indah yang menggambarkan pemandangan alam dan bunga-bunga yang mekar.
Di tengah kamar terdapat sebuah ranjang besar yang dikelilingi oleh tirai sutra berwarna merah muda yang melambangkan keanggunan dan keintiman. Di atas ranjang, seorang wanita duduk dengan pakaian yang mencerminkan kecantikannya dan usia muda yang dimilikinya.
Wanita tersebut mengenakan hanbok tradisional dengan warna-warna cerah yang menonjolkan kulit putihnya. Hanboknya dihiasi dengan bordiran halus dan sulaman emas yang menambahkan sentuhan kemewahan. Rambutnya dihiasi dengan perhiasan bunga dan kanzashi yang indah, menambah pesona dan keanggunannya.
Wanita tersebut memberikan senyuman lembut dan menyambut kepala sekolah dengan penuh kasih sayang. Mereka duduk berdampingan di atas ranjang, saling bertukar pandangan yang penuh kehangatan dan keakraban.
Di dalam kamar yang indah ini, kepala sekolah merasa seperti berada di tempat yang paling aman dan damai. Wanita simpanannya, dengan kecantikan dan kelembutan yang dimilikinya, memberikan dukungan dan cinta yang tak tergantikan bagi kepala sekolah.
"Oh wanita ku, Ayo ku peluk kau"Katanya dengan cabul. sungguh perilaku dan kata-katanya saat ini berbanding terbalik dengan apa yang dia pamerkan ketika sedang berada di rumah.
Gadis muda itu mungkin sudah terbiasa jadi dia turun di atas ranjang dan memeluk kepala sekolah walaupun dengan gaya sedikit enggan.
Kepala sekolah tertawa terbahak-bahak dan mulai mengerayangi seluruh tubuh wanita simpanannya ini.
"Hahaha muah..muah.. sejak tadi malam aku menahannya, hahaha tapi pagi ini kau harus siap , wanita ku hahaha muah"
Bibir berkerutnya langsung jatuh pada wajah gadis muda ini. entah bagaimana dia menyukai kemudaannya dan merasa uang yang dihabiskan di sini tidaklah sia-sia.
Kepala sekolah bahagia dengan caranya. Tapi dia sama sekali tidak mengetahui jika di depan pintu gerbang tadi ketika dia masuk sudah ada beberapa orang yang melihat nya dengan cara yang aneh.
Dia hanya merasa itu tatapan biasa, karena pagi ini , buku itu baru saja diluncurkan tentu saja dia bukanlah orang yang suka mencari gosip. jadi dirinya sendiri tidak tahu ada hal seperti itu.
"Tuan ku, ini terlalu pagi apa Tuan ingin sarapan dulu?"kata gadis muda itu. ada tatapan jijik dari matanya Tapi kepala sekolah tidak mengambil hati.
Namun nafsunya sudah sampai ke ubun-ubun bagaimana mungkin dia bisa menahannya.
"Hem tuanmu ini sudah makan di rumah, tapi sekarang tuanmu ini ingin makan kau Ayo cepat lah, buka semua pakaianmu dan telanjang lah hahaha" kata kata cabul yang tidak menampilkan aura seorang kepala sekolah sama sekali.
Dengan ganas ,dia menarik gadis itu ke arah ranjang besar.Air liur nya segera jatuh dengan apel Adam di tenggorokan nya yang bergerak turun naik.
"ahh Tuan, aku lah yang belum sarapan tuan,Hem ..ahh Tuan...
Srak...
Ada bunyi pakaian robek yang terdengar sampai keluar ruangan. Dengan cepat ada juga suara yang berdesah yang membuat udara semakin panas.
Para pelayan di rumah tersebut sudah terbiasa dengan perilaku ambigu kepala sekolah dan wanita simpanannya. Mereka melihat hal itu sebagai bagian dari rutinitas yang ada di rumah tersebut dan bertindak dengan sikap biasa-biasa saja. Mereka tetap melaksanakan tugas mereka dengan efisiensi dan profesionalisme, tanpa menunjukkan perhatian atau keheranan berlebihan terhadap hubungan rahasia kepala sekolah dan wanita simpanannya.
Ketika kepala sekolah masuk ke dalam kamar wanita simpanannya, para pelayan dengan tenang melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka melihatnya sebagai bagian dari privasi kepala sekolah yang tidak perlu mereka ikut campuri.
Beberapa pelayan membantu menutup pintu kamar dengan hati-hati, memastikan bahwa privasi dan keamanan mereka terjaga.
Para pelayan juga tetap menjaga ketertiban dan kebersihan di sekitar rumah. Mereka melakukan tugas mereka dengan sigap, seperti membersihkan ruangan lain, merapikan perabotan, dan mempersiapkan makanan atau minuman jika diperlukan.
Perilaku acuh tak acuh dari para pelayan ini bukan berarti mereka tidak peka terhadap situasi yang ada. Mereka hanya menjaga sikap profesional dan tidak terlalu terlibat dalam urusan pribadi kepala sekolah. Mereka mengerti bahwa setiap orang memiliki privasi dan kehidupan pribadi yang perlu dihormati.
Dengan sikap yang santai dan acuh tak acuh, para pelayan tetap menjaga etika dan menjalankan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Mereka tidak memberikan komentar atau mengomentari hubungan rahasia antara kepala sekolah dan wanita simpanannya, tetapi tetap fokus pada tugas-tugas rumah tangga yang harus diselesaikan.
__ADS_1