
Dalam cuaca dingin dan bersalju, seekor burung merpati pengirim surat terbang dengan penuh semangat. Bulu putihnya berkilauan di bawah cahaya gemerlap salju yang turun dari langit. Angin kencang berusaha menerjangnya, tetapi dia terus melaju dengan lincah, terbang rendah untuk mencari tempat berteduh.
Akhirnya, burung merpati itu menemukan sebuah gua di sela-sela bebatuan. Gua itu memberikan sedikit perlindungan dari hembusan angin, membuatnya sedikit lebih hangat daripada di luar. Tanpa ragu, dia masuk ke dalam gua dan terbang menuju seorang laki-laki muda yang duduk di dekat api unggun.
Laki-laki muda itu adalah Paman Pangeran. Dia mengenakan pakaian hangat dan mantel tebal untuk melindungi diri dari cuaca yang ekstrim. Wajahnya terlihat serius ketika dia sedang berdiskusi dengan puluhan prajurit yang berdiri di sekitarnya. Puluhan ekor kuda berbaring di tanah, tampak lelah dari perjalanan mereka dalam salju.
Burung merpati itu hinggap dengan lembut di atas bahu Paman Pangeran, seolah-olah dia tahu bahwa inilah tujuannya. Paman Pangeran menatap burung merpati itu dengan penuh perhatian dan penghargaan.
"Apakah burung merpati ini dari putri?"pikir Paman pangeran dalam diamnya.
Gua itu menyediakan sedikit kehangatan bagi Paman Pangeran dan para prajurit di dalamnya, karena api unggun yang menyala di tengah gua. Namun, Paman Pangeran tidak menghiraukan kenyamanan itu. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada burung merpati dan pesan yang dibawanya.
Puluhan prajurit di sekitarnya juga melihat burung merpati itu dengan rasa ingin tahu. Mereka tahu betapa berharganya burung merpati pengirim surat dan betapa pentingnya pesan yang dibawanya.
Namun, mereka juga paham bahwa ini adalah urusan pribadi Paman Pangeran, jadi mereka membiarkan dia berurusan dengan pesan tersebut dengan tenang.
Paman Pangeran segera membuka gulungan pesan yang dibawa oleh burung merpati itu. Wajahnya tampak serius dan penuh pemikiran ketika dia membaca isi pesan tersebut.
Sementara itu, burung merpati itu duduk dengan tenang di atas bahu Paman Pangeran.
"Paman pangeran, untuk bisa pergi dalam cuaca ini,ada cetak biru untuk kereta luncur yang bisa berjalan cepat.Gunakan itu dan cepat lah pulang"
Pesan yang singkat tapi mampu menghangatkan hati Paman pangeran. Tanpa sadar,da senyum di sudut mulut Paman pengeran.Selain surat ,ada juga cetak biru tentang sistem kereta luncur tersebut.
"Putri tunggu aku pulang Hem!"bisik Paman pangeran di dalam hatinya.
Setelah membaca cetak itu,Paman Pangeran memanggil seluruh prajuritnya untuk berkumpul di sekitar cetak biru dari kereta luncur salju yang telah dikirimkan oleh Zhang Fei.
"Saudara-saudaraku, tugas kita adalah membuat kereta luncur ini secepat mungkin. Cetak biru ini berisi panduan yang sangat berguna, tapi kita harus kreatif dalam menyesuaikan dengan apa yang kita miliki di sekitar kita."
Tapi Paman pangeran memberikan mereka kesempatan untuk berbicara tentang ide masing-masing.
"Tuanku, kita harus bisa, soalnya salju tidak akan berhenti, di khawatirkan kita akan terjebak di sini sekitar dua atau tiga minggu "kata seorang prajurit.
" tuan itu benar, daripada tetap diam, lebih baik kita bergerak cepat.Bisa atau tidak Itu masalah lain"
Para prajurit berbicara satu sama lain dengan semangat, memberikan saran-saran tentang bagaimana mereka dapat menggunakan sumber daya alam di sekitar mereka untuk membuat kereta luncur tersebut.
"Kita dapat menggunakan pepohonan ini untuk menjadi bingkai kereta, cukup kuat dan kokoh untuk menahan beban."
"Tali pengikat dari kuda-kuda kita akan sangat berguna untuk mengikat semua potongan kayu dan membuatnya kokoh."
"Kita bisa mengambil kulit binatang untuk membuat bagian penutup atas kereta, agar kita terlindungi dari salju yang turun."
Mereka berdiskusi dan saling bertukar pikiran tentang cara membuat berbagai bagian kereta luncur dengan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.
Saat malam semakin larut, api unggun yang menyala memberikan cahaya redup dalam gua. Di sekitar api, para prajurit sibuk mencari ide tentang bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat kereta luncur salju.
Tidak beberapa lama kemudian,di dalam gua yang terang benderang oleh sinar api unggun, terlihat pemandangan yang sibuk dan penuh semangat.
Para prajurit terbagi menjadi beberapa tim, masing-masing bertanggung jawab untuk tugas-tugas tertentu dalam pembuatan kereta luncur salju.
Beberapa prajurit terlihat sedang memotong kayu untuk menjadi bingkai utama kereta, menggunakan pedang mereka dengan terampil untuk membentuk kayu menjadi bentuk yang diinginkan.
Di sebelahnya, tim lain sedang mencari tali pengikat dari kuda-kuda yang mereka bawa. Mereka dengan cerdik menggunakan tali-tali tersebut untuk mengikat semua potongan kayu, menjadikannya kokoh dan kuat.
Paman Pangeran juga tidak tinggal diam. Dengan pakaian yang sedikit berantakan karena ikut terlibat dalam pekerjaan fisik, dia turut membantu dalam membangun kereta luncur.
Beberapa prajurit lain sedang mencari bahan-bahan tambahan seperti kulit binatang atau kain untuk menjadi penutup atas kereta. Mereka harus menggabungkan segala bahan dengan cermat agar kereta luncur menjadi kuat dan tahan terhadap cuaca dingin dan salju yang berlimpah.
__ADS_1
Meskipun harus bekerja di dalam gua dengan salju yang tebal di luar, semangat para prajurit tidak kendur. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab, tahu bahwa kereta luncur yang mereka bangun akan menjadi alat yang penting untuk mereka pulang lebih awal.
Setelah beberapa saat, kereta luncur salju pertama selesai dibangun. Mereka semua merasa bangga melihat hasil kerja keras mereka. Tapi mereka tidak berhenti di satu kereta luncur saja. Tim-tim tersebut terus bekerja keras, membangun 15 hingga 20 kereta luncur lainnya dengan cepat dan efisien.
Semakin lama, prajurit bergerak dengan terampil dan koordinasi yang baik, membantu satu sama lain untuk menyelesaikan proyek ini dengan sukses.
Hanya dalam satu malam saja semua kereta luncur salju sudah berhasil dibangun. Mereka tersusun rapi, siap untuk digunakan dan menghadapi musim dingin yang sulit. Para prajurit berdiri di depan karya mereka dengan bangga, dan Paman Pangeran melihat dengan puas atas kerja keras dan dedikasi mereka.
Kereta luncur salju itu terlihat begitu megah dan tangguh. Dibangun dengan kokoh dari kayu yang dipotong dengan presisi dan diikat dengan tali pengikat dari kuda yang kuat.
Atapnya tertutup rapat dengan kulit binatang yang tebal dan tahan terhadap angin salju. Selain itu, ada juga tambahan kain yang menutupi bagian atas kereta, memberikan ekstra perlindungan dari suhu dingin.
Di bagian depan kereta, terdapat tempat duduk yang luas dan empuk, diberi alas dari kulit domba yang hangat. Pada bagian belakang, terdapat rak untuk menyimpan barang-barang bawaan. Roda-roda kereta luncur ini juga telah dipasang dengan penuh keahlian, memberikan stabilitas dan kelincahan saat meluncur di atas salju.
Para prajurit dan Paman Pangeran melihat kereta luncur ini dengan kagum. Mereka tahu bahwa dengan kereta ini, mereka dapat kembali ke ibukota dengan lebih cepat dan aman, bahkan dalam cuaca dingin yang sedang berlangsung.
Percakapan pun berlangsung dengan semangat di antara para prajurit.
"Tuan, apa pendapat Anda tentang bergerak kembali ke ibukota segera besok pagi?"
"Ya, setuju tuan ,dengan kereta luncur ini, kita akan lebih cepat sampai di ibukota"
"Benar, harus segera kembali dan bergerak pagi-pagi. Semakin cepat kita sampai di ibukota, semakin baik "
Paman Pangeran memandang mereka semua dan setuju dengan apa yang dibicarakan. Hanya Paman pangeran yang mengetahui bagaimana inginnya dia kembali lebih cepat.
"Kalian benar. Besok pagi, kita akan bergerak kembali ke ibukota. Tapi ingat, kita harus istirahat dengan baik malam ini dan memastikan kuda-kuda dalam kondisi terbaik. Cuaca masih dingin, dan semua orang harus memastikan keselamatan selama perjalanan."
"Tuan, jangan khawatir. Kuda-kuda kita sudah di rawat dengan baik. Mereka akan dalam kondisi terbaik untuk bergerak besok."
"Kami akan berjaga-jaga dan memastikan semuanya berjalan lancar, Tuan."
Para prajurit kemudian membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka masing-masing untuk beristirahat. Dengan kereta luncur salju yang megah dan semangat yang tinggi, mereka siap untuk menghadapi perjalanan yang menantang dan membawa kabar baik untuk keluarga di rumah.
Sementara itu Paman pangeran tidak bisa tidur, tapi dia menarik tubuh nya yang lelah untuk berbaring di dekat api unggun.
Matanya hanya bisa menutup lebih dari satu jam kemudian.
Ketika dia membuka matanya lagi,itu sudah pagi dan para prajurit sudah d sigap bergerak mengeluarkan satu per satu kereta luncur dari dalam gua.
Dengan hati-hati, mereka menarik keluar kereta luncur yang telah mereka bangun dengan susah payah. Setiap kereta luncur diikatkan pada empat kuda yang kuat, sehingga dapat menahan beban yang cukup berat.
Setiap kereta luncur memiliki ukuran yang cukup besar, mampu menampung sekitar delapan hingga sepuluh orang prajurit di dalamnya.
Tapi ada sedikit ruang untuk membuat anglo pemanas.
Bagian dalam kereta luncur dilapisi dengan kulit domba yang hangat, memberikan kenyamanan selama perjalanan yang dingin.
Untuk menarik satu kereta luncur, diperlukan dua kuda yang kuat dan tangguh. tapi khusus untuk kali ini mereka memutuskan untuk memakai 4 ekor kuda pada masing-masing kereta luncur.
Masing-masing kuda diikatkan pada bagian depan kereta, diikat dengan kuat agar tidak terlepas selama perjalanan. Dengan bantuan dari beberapa prajurit, kereta luncur diarahkan dan disiapkan untuk bergerak.
Khusus untuk paman pangeran, dia hanya akan berada sendirian di dalam kereta luncurnya.
Para prajurit dengan cekatan mengatur formasi dan memastikan semuanya siap untuk berangkat. Beberapa kereta luncur ditempatkan di barisan depan, diikuti oleh barisan kereta luncur lainnya di belakangnya. Semuanya diikat dengan kuat pada kuda mereka.
"Tuan, semuanya sudah siap. Kuda-kuda juga telah diikatkan dengan kuat."
"Kami telah memeriksa semua ikatan. Semua dalam kondisi baik."
__ADS_1
"Kami telah menyiapkan bekal dan peralatan untuk perjalanan. Semua sudah siap."
Paman Pangeran menganggukkan kepala ketika mendengar laporan para prajurit bayangan ini. "Baik. Kita bergerak saat fajar menyingsing. Pastikan para prajurit lain juga siap"
Paman Pangeran berdiri di depan barisan kereta luncur, mengenakan pakaian tebal yang melindunginya dari udara dingin dan salju yang semakin tebal. Dia melambaikan tangan, memberikan isyarat kepada para prajurit untuk berangkat.
Segera setelah itu dia sendiri masuk ke dalam kereta luncurnya, dengan Seorang prajurit yang akan mengemudikan kereta luncurnya dari bagian depan.
Hiya..hiya .hiya....
Para prajurit dengan cekatan menggerakkan kuda-kuda yang menarik kereta luncur. Kuda-kuda itu bergerak maju dengan tenang dan penuh keberanian meskipun salju semakin tebal dan udara semakin dingin. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak kaki dalam salju yang terbang mengikuti pergerakan kaki kuda.
Kereta luncur mulai berjalan, dan para prajurit mengikuti dengan hati-hati di belakangnya. Mereka bergerak perlahan-lahan melintasi gua yang semakin jauh dari mereka. Paman Pangeran memandang ke belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, dan melihat gua itu menghilang di balik salju yang turun dengan deras.
"Akhirnya kami berhasil meninggalkan gua itu"pikir Paman pangeran dalam diamnya.
Kereta luncur meluncur dengan mulus di atas lapisan salju yang tebal. Para prajurit berusaha menjaga keseimbangan mereka di atas kereta, sementara kuda-kuda tetap kukuh menarik beban di hadapan mereka.
Salju turun semakin lebat dan angin dingin membuat perjalanan semakin menantang.
Hiya...hiya ..hiya..
Kereta luncur Paman Pangeran menghadap ke depan dengan tegas, mengikuti jejak kuda dan kereta luncur di depannya.
Bagi Paman Pangeran dan para prajuritnya,mereka telah menghadapi berbagai tantangan dan rintangan sebelumnya dan mereka siap untuk menghadapinya lagi.
Saat mereka melanjutkan perjalanan, jejak kaki kuda dan roda kereta luncur meninggalkan bekas di atas salju yang membeku.Mereka bergerak maju dengan penuh semangat, menembus udara dingin dan salju yang turun tanpa henti.
Tidak ada yang tau jika, zhang fei yang jauh di ibukota, juga melihat keberhasilan Paman Pangeran dalam membangun kereta luncur saljunya.
Tapi lebih tepatnya dia mendengar bukannya melihat.
Hanya dalam satu malam mereka berhasil membuat kereta luncur salju pertama di negara Dayun.
"Ohh mama, terkadang aku bertanya apakah Kaisar juga menginginkan teknologi kereta luncurnya?"
("Ya itu kalau tau sih, taman Pangeran itu nggak bodoh dia sudah merencanakannya tadi")
"Hem apa yang direncanakannya?"
("Hei sayang, apa kau lupa seharusnya Paman Pangeran masih berada di istana kecil ini? jadi tidak ada orang yang boleh mengetahui jika dia sudah pergi dari ibukota.Ah sayang, cantik-cantik bodohnya nggak ketulungan")
"Mama!"
Sistem tidak menjawab lagi rupanya dia sudah mengaktifkan mode offline. Akhir-akhir ini sistemnya selalu menganggap seperti itu.
Terkadang sampai berpikir apakah sistem ini memiliki emosi sendiri atau hanya sekedar sistem AI saja.
Tapi tadi sistem sempat mengatakan jika Paman Pangeran memang sudah merencanakan hal ini. kelompok mereka akan berhenti pada kota yang paling dekat di ibukota.
Di sana mereka akan menyembunyikan kereta luncur ini pada tempat rahasia
sebelum melanjutkan perjalanan ke ibukota lagi.
Dengan begitu Kaisar sendiri tidak mengetahui adanya kereta luncurkan Jadi bagaimana mungkin Kaisar masih serakah dengan teknologi ini.
Kaisar yang malang, dia yang sedang berbaring di atas ranjangnya tiba-tiba bersin tanpa sebab.
"ohh apakah aku terkena flu?"
__ADS_1