Sistem Gosip Putri Ke Empat

Sistem Gosip Putri Ke Empat
239


__ADS_3

Selagi merenung tiba-tiba Zhang Fei ingat sesuatu ."Mama bukankah itu pada hari pemberontakan terjadi, sekarang adalah hari ketujuh Kaisar meninggal jadi apa kabarnya dia sekarang?"


("hidup yang dialaminya di istana dingin itu semakin mengerikan. Semakin lama tidak ada banyak ranting yang ditemukan. Juga tikus yang lewat berkurangan apalagi dengan ular ")


Zhang Mei yang kini menghuni istana dingin,telah mengalami perubahan drastis. Tubuhnya semakin kurus,dia kehilangan berat badan dengan cepat. Sinar cahaya yang dulu menghiasi wajah cantiknya, kini tertutupi oleh bayang-bayang kelelahan dan kehilangan semangat.


Rambutnya kusut dan mata kosong, menjelaskan betapa hancurnya dia saat ini.Harapan tentang datang nya perbekalan makanan telah memudar.


 Wajah yang dulu memancarkan kecantikan kini tak lagi ada, digantikan oleh ekspresi lemah dan lesu. Dalam beberapa hari saja, Zhang Mei berubah dari seorang selir yang mempunyai harga diri menjadi seseorang yang bahkan pengemis pun tidak akan mengenali.


"Eh dia mati?"


("Tidak,ini masih hidup, tapi tidak ada semangat lagi.jika di hitung,ini adalah hari kesepuluh dia di tempatkan di istana dingin.Jadi wajar lah dia lemah dan kurus")


"Hem tapi mah, tidak ada orang di istana pangeran,apamdoa tidak tahu?"


Zhang Mei masih mengharap seseorang datang untuk mengirimkan bahan makanan.


Tapi dia tidak tahu jika istana pengeran sudah kosong.


Orang orang lari tapi lupa jika ada Zhang Mei yang di dalam istana dingin.


Siapa yang bisa ingat hidup orang lain, ketika hidup sendiri pun tidak begitu jelas.


"Ohh kasian nya"


("Hem dia sampai saat ini masih memangil ibu nya Jiang moyun.Aku bisa dengar dia mengeluh")


"Gimana doa ngeluh?"


Meskipun dia tidak bergerak tapi mulut nya masih terus bergumam.


"Ibu..ibu.. datang lah,aku.. aku lapar ibu!!"


"Ibu tidak sayang lagi, ini tega kan??"


"Ibu....


Zhang Mei sama sekali tidak tahu tentang nasib ibunya saat ini .Tapi dia berpikir jika Jiang moyun dan keluarganya masih harus baik-baik saja di zhang mention.


Dia pikir semua orang tanpa terkecuali pasti sedang makan daging merayakan kemenangan Pangeran ketiga.


Tapi karena kesalahan yang sudah dia buat maka semua orang melupakannya. Karena takut menyinggung Pangeran ketiga.


Di dalam benaknya dia benar-benar dibuang oleh pangeran ketiga dan ibunya tega meninggalkan dia karena takut membuat Pangeran ketika marah.


"Persik?"kata zhang Fei pada gadis persik.


Gadis Persik sedang membersihkan lantai dan mengganti sprei segera berhenti, dia berjalan ke arah zhang Fei.


"Putri"sapanya.


"pergi katakan kepada Paman Pangeran ada masalah di istana pangeran. minta dia mengambil Selir zhang Mei dan kirim ke pangeran ketiga"


Gadis Persik mengerutkan keningnya tapi dia tidak mengelak.


Selir zhang atau Zhang Mei masih Kakak tertua dari putri peipei terlepas dari status yang mereka sandang saat ini.


Jika putri menghawatirkan nya ,ini adalah wajar.


Jadi gadis persik,pergi untuk menemukan penjaga bayangan Paman pangeran untuk mengabarkan berita.


Segera informasi di bisikan pada telinga Paman pangeran.Paman pangeran tahu betul dari mana sang Putri mendapatkan kabar.


Dia melambaikan tangan dan berkata dengan pelan"lakukan lah, suami istri tidak baik berpisah lama.Tapi berikan dia pakaian bagus sebelum di kirim ke sana"


"Baik Tuan "kata penjaga bayangan dan di langsung pergi ke tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Jadi hari itu, zhang Mei yang tidak lagi mengharapkan bantuan apapun tiba-tiba mendapat pembantuan secara tidak.


Dia memiliki badan lemah dan juga tidak memiliki keinginan untuk hidup. karena itu dia tidak menolak untuk di bawa oleh beberapa pria yang besar.


Tidak lama kemudian beberapa pelayan budak yang tidak dikenal membantunya pergi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih baik.


Bukan itu saja dia juga diberi makanan yang layak sebuah makanan yang sudah tidak dia maka sejak berhari-hari.


Ketika makan ,ada setetes air mata yang jatuh ke dalam sup.


"Terimakasih "untuk pertama kalinya di dalam hidup, zhang Mei mengucapkan terima kasih dari bibirnya yang sedikit getar.


Para pelayan budak tidak begitu mengenali dengan siapa yang mereka layani sekarang tapi ada perintah dari atas untuk melayani dengan baik dan memberikan dia makanan terbaik juga.

__ADS_1


Tapi tidak satupun yang mengharap jika orang yang mereka layani saat ini mengucapkan kata-kata terima kasih.


Setelah makan, pelayan budak merapikan dirinya dengan bedak, perona pipi dan sedikit warna bibir. Ia mengenakan pakaian bagus, meskipun tanpa perhiasan di atas kepalanya.


"Dalam hati, Pangeran ketiga sudah menang atau masih marah?" pikirnya, mencari tahu apakah kemarahannya masih berlanjut.


Tidak ada tempat untuk bertanya. Hanya dalam hati, dia mempertanyakan hal itu.


Tidak lama kemudian, seseorang datang dan berkata, "Mari pergi."


Zhang Mei, setelah beberapa hari menderita, telah belajar pelajaran berharga. Kini, dia merasakan bahwa rendah diri dan kepuasan atas apa yang dimilikinya adalah kunci. Dengan menganggukkan kepala, dia mengikuti pria itu.


Zhang Mei diangkut dengan kereta kuda. Awalnya dia berharapan, kereta kuda ini akan membawa nya pada tempat yang lebih baik, tempat di mana dia mungkin bisa menemukan kenyamanan. Namun, semakin dekat dengan tujuan, ketidakpastian mulai merayap di benaknya.


"bukankah ini jalan menuju penjara? Hah kenapa aku berharap dengan pangeran ketiga yang masih memikirkan aku?hah betapa naif nya!!"ejek nya pada dirinya sendiri.


Kereta itu segera berhenti.Benar saja, ternyata, tempat yang mereka tuju memang sebuah penjara yang suram.


"Pangeran ketiga,aku salah sudah memberikan hati ku padamu dulu"


Tanpa sepatah kata pun, zhang Mei mengikuti pria itu menginjak-injak tanah yang keras dan berdebu menuju ruang penjara yang penuh sesak. Langkahnya menjadi lebih berat, seolah-olah beban berat menghimpit dadanya.


"Sudah selesai"pikir nya.


Tiba-tiba, di tengah kegelapan penjara yang kelam, suara perlahan memanggil namanya.


"Meimei, Meimei, apakah itu kau??"


Zhang Mei berbalik dan melihat seseorang yang berada di balik jeruji besi.


Dalam sudut gelap penjara, mata Zhang Mei memancarkan kejutan dan bahagia saat dia melihat seseorang yang terlihat begitu dikenal. Ibu yang selama ini hilang dari pandangannya, kini ada di balik jeruji besi. Dalam keadaan yang begitu penuh dengan emosi, mereka berdua berpelukan dengan erat.


Air mata bergulir di pipi mereka saat mereka saling merangkul, terlalu lama terpisahkan satu sama lain. "Ibu... Ibu, mengapa ini bisa terjadi?" rengek Zhang Mei sambil menangis.


Ibu tersenyum pahit, mencoba menyembunyikan kepedihan di matanya. "Ke mana saja kau selama ini, anakku?" tanya ibunya dengan suara lembut, penuh rindu.


Zhang Mei menundukkan kepala, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Dia juga ingin tahu mengapa dia bisa sampai berakhir di tempat seperti ini.


"Dia sudah kalah, Pangeran ketiga kalah , ayah mu berada di pihak pemberontak," kata Jiang moyun dengan suara bergetar ketika mengungkapkan berita itu. "Dan inilah akhirnya... di penjara ini."


Zhang Mei merenung, kebingungan merajai wajahnya. " kalah? tidak mungkin Pangeran ketiga rencananya sudah matang dan... tapi kenapa Itu di sini?"


Jiang moyun tersenyum getir. "Mungkin ini cara alam untuk mengingatkan kita bahwa dunia kita tidak selamanya gemilang." Lalu matanya menatap tajam Zhang Mei. "Apakah kau masih memiliki uang? Bisa kau menebus kami dari penjara ini?"


"Kakak, apa kau punya makanan aku lapar?"


"Meimei jika kau punya makanan kirimkan sedikit untuk nenek.Nenek mu sudah demam sejak kemarin tapi tidak ada obat bisakah kau mencari obatnya di luar?"


Satu persatu keluarga yang dia kenal menggapai-gapai dan bertanya tentang beberapa hal bahkan ayah, menteri kanan yang dulunya populer dan bisa berdiri negara megah sebenarnya terlihat begitu kurus dan sudah lebih tua dari usia yang sebenarnya.


"Meimei, katakan apakah kau masih menyimpan uang atau makanan,?" kata zhang tua dengan nada yang menyedihkan.


Sungguh menteri kanan tidak akan pernah berpikir jika dia bisa berakhir dengan cara seperti ini.


Meminta makanan dari anak perempuan yang sudah menikah. posisinya bakal lebih rendah dari seorang pengemis.


Tapi malu adalah masalah kedua masalahnya sekarang apakah Meimei bisa membantu.


Zhang Mei menggigit bibirnya, merasa malu karena tidak bisa memberikan jawaban yang diharapkan. "Aku... aku tidak memiliki uang sebanyak itu," gumamnya.


Ibu menarik nafas dalam-dalam. "50 keping emas. Ini adalah harga kebebasan kami." Ibu tersenyum getir lagi, kali ini ada rasa pahit. "Tapi sepertinya.... bagi seorang selir, uang lebih berharga daripada keluarga."


Dilihat dari segi pakaian Zhang Mei tidak seperti mereka yang didorong mati ke dalam penjara ini.


Dia masih memakai pakaian bagus dan bersih ada sisa minyak di bibirnya yang mengatakan Jika dia masih bisa makan enak di luar sana.


Tapi putri yang diharapkan sebenarnya menolak untuk membantu.


Hah Apakah ini Putri yang sudah dia besarkan dengan penuh kasih dan sayang.


Zhang Mei menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, bukan begitu... Aku hanya..." Kata-katanya terputus saat dia memandang ibunya dengan mata penuh penyesalan. "Maafkan aku, Ibu. Aku tidak tahu apa-apa."


Tangan-tangan yang menggenggam jurusi besi tiba-tiba melemah. Semuanya berpikir Zhang Mei pasti memiliki uang paling tidak untuk melepaskan satu di antara mereka.


Tapi mereka lupa jika Zhang Mei sebenarnya adalah selir dari pangeran ketiga ,yang artinya kedudukannya bahkan lebih berbahaya dibanding dengan mereka sendiri.


"Putri ku yang malang"tiba tiba saja Jiang moyun menangis. sekarang dia begitu menyesal sudah menikahkan Putri terbaiknya dengan pangeran ketiga.


Jika saja dia tidak melakukan itu maka...


Tangan penjaga yang tidak sabar itu meraih lengan Zhang Mei, menariknya dengan agak kasar. "Cepatlah, aku punya banyak hal lain untuk dilakukan selain ini," katanya dengan suara keras.

__ADS_1


Zhang Mei menoleh ke arah ibunya dengan mata penuh penyesalan, tetapi tindakan keras penjaga membuatnya terpaksa mengikuti langkah-langkahnya tanpa bisa berkata apa-apa.


"Hey..."


Jiang Moyun ingin sekali mengeluarkan umpatan pedas, tapi ketika dia melihat wajah pria itu yang penuh kesedihan, kata-kata kasar itu terhenti di bibirnya. Dia menyadari bahwa posisinya sekarang sangat tidak pantas.


"Ibu, Ayah, Nenek..." bisik Zhang Mei sambil menahan air mata yang mengancam keluar. Dia melihat ketiga orang yang dulu bangga, sekarang mereka semua dalam posisi yang penuh dengan kesulitan.


"Ibu , aku pergi"


Meskipun dipaksa untuk pergi, Zhang Mei akhirnya merasa harus memberikan penghormatan terakhir kepada orang tua dan neneknya. Dia berlutut di depan mereka dengan mata yang penuh emosi.


Nenek yang sudah renta itu bahkan tidak mampu berbicara, tapi Zhang Mei melihat setitik air mata mengalir di mata wanita tua itu. Seolah-olah dia tahu bahwa inilah saat perpisahan terakhir mereka.


Setelah memberikan kongtow kepada orang tuanya, Zhang Mei mengangguk pada nenek dan pergi mengikuti pria tersebut, meninggalkan ruang itu dengan hati yang berat.


Tiga belokan saja dan mereka berhenti di depan sebuah penjara lain. Tapi di sana, hanya ada satu orang yang terkurung di dalamnya. Pintu penjara terbuka dan dengan kasar Zhang Mei didorong masuk ke dalam.


"Ahh"


Zhang Mei melangkah perlahan ke dalam penjara dan pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terikat di sudut ruangan. Itu adalah sosok manusia yang sekarang tampak sangat rapuh dan hancur.


Sosok ini terbaring di lantai dengan tali yang mengikatnya dengan erat, bahkan mulutnya pun disumpal rapat dengan sehelai kain.


Awalnya Zhang Mei tidak sadar siapa orang itu tapi dia terus memperhatikannya detik demi detik dan mendapati jika itu adalah Pangeran ketiga.


"Pa.. pangeran??"


Pangeran ketiga, yang dulu begitu tegar dan kuat, sekarang tampak seperti puing-puing manusia yang hancur.


Zhang Mei merasa hatinya berdenyut pelan saat dia melihat kondisi Pangeran ketiga. Ada perasaan campuran di dalamnya, dendam dan kebencian yang membara, namun juga ada belas kasihan.


"Pangeran ketiga... Bagaimana bisa kamu berakhir seperti ini?"


Zhang Mei bisa merasakan kemarahan dalam mata Pangeran ketiga, meskipun mulutnya disumpal kain dan dia tidak bisa menjawab.


Pangeran ketiga masih memiliki kemampuan untuk menatapnya dengan cara seperti itu ,Jadi zhang Mei sama sekali tidak mau menarik kain yang menutup mulutnya.


Ketika dia melihat tatapan tajam itu, Zhang Mei tahu bahwa Pangeran ketiga pasti masih memiliki kemarahan atas kekalahan nya.


Zhang Mei tidak segera mendekat tapi duduk di lokasi yang paling jauh. Hanya saja penjara ini memiliki 5 x 5 m jadi di mana bisa dia kabur.


Dalam posisi masih yang bersandar pada jeruji besi, zhang Mei menatap Pangeran ketiga dengan pandangan yang berkecamuk.


Sungguh pangeran yang mampu membuat jeritan di antara para gadis sekarang benar-benar kehilangan jejak ketampanannya.


Apakah ini yang namanya karma.


"Saat ini, kamu mungkin sangat membenci aku," kata Zhang Mei dengan suara sedih. "Aku tahu, aku mengkhianatimu dengan pria lainvdan itu adalah keputusan yang sangat buruk. Tapi tahukah kamu, dulunya aku pernah mencintaimu dengan tulus? Aku mencintaimu begitu dalam, meskipun kamu tidak pernah membalasnya."


Zhang Mei berbicara dengan penuh emosi, meratapi kegagalan cintanya yang pernah begitu dalam. Dia melihat ekspresi Pangeran ketiga yang masih berusaha mengekspresikan kemarahannya, meskipun mulutnya terbungkam.


"Kamu tahu, Pangeran, aku tidak akan pernah menyangka kita akan berakhir seperti ini," sambung Zhang Mei dengan suara penuh kehancuran. "Tapi memang, hidup penuh dengan ironi. Sekarang kita berdua berada di titik terendah kita. Kamu terikat di sini, dan aku... aku tidak lebih baik darimu."


"Meskipun begitu...meskipun kamu mungkin tidak akan pernah memaafkanku, aku ingin kamu tahu bahwa ada sebagian hatiku yang masih merasakan sesuatu untukmu. Terlepas dari semua dendam dan kebencian ini, masih ada perasaan yang sulit kuatasi."


Pangeran ketiga tetap diam, mata tajamnya tetap menatap Zhang Mei dengan ketegasan. Meskipun mulutnya disumpal kain, ekspresi matanya tetap kuat dan tegas.


Zhang Mei mengangguk dengan lemah, air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Dulu, kamu begitu berani dan tegar. Aku berharap kamu bisa mendapatkan kembali sedikit kehormatanmu, bahkan jika kamu membenciku."


Suara lembutnya penuh dengan getir dan penyesalan saat mengutarakan bagaimana cintanya pernah mengalir begitu tulus untuk Pangeran ketiga, tetapi akhirnya hancur ketika dia diangkat menjadi selir.


"Dulu Pangeran, aku mencintaimu dengan segenap hatiku," bisiknya pelan, suaranya gemetar. "Ketulusan itu membuatku bahagia. Aku bahkan tidak merasa terganggu ketika kamu memiliki istri lain, selama aku masih merasa menjadi prioritasmu."


Zhang Mei berhenti sejenak, matanya terlihat kosong dan hampa saat dia mengingat kenangan-kenangan yang pernah mereka miliki. Namun, wajahnya segera berubah menjadi penuh kehampaan dan kesedihan saat dia melanjutkan, "Tapi semua perubahan terjadi saat aku diangkat menjadi selir."


Dengan nada pahit, dia melanjutkan, "Aku masih berharap cinta dari Pangeran ketiga, meskipun aku tahu perselingkuhan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan istana. Aku masih membayangkan, jika kita menikah, mungkin pangeran akan mencintaiku sepenuh hati."


Tetapi mata Zhang Mei segera memancarkan kekecewaan yang mendalam, dan bibirnya bergetar saat dia melanjutkan, "Tapi aku salah. Pangeran lebih mementingkan tahta daripada perasaan. Aku hanyalah alat untuk mengamankan posisinya, bukan wanita yang dia cintai."


Zhang Mei mengambil napas dalam-dalam, tangannya meremas erat pakaian di dadanya, seolah merasa sesak dalam kehampaan yang dia ceritakan. "Aku bahkan tidak tahu, jika Pangeran ketiga mandul. Semua ini... kehamilan yang aku kandung, itu semua milik pria lain. Aku tidak pernah tahu, pikir itu adalah milikmu Pangeran ketiga"


Air mata mulai mengalir di pipi Zhang Mei saat dia melanjutkan dengan suara gemetar, "Pangeran ketiga, aku tidak akan menyangkal, aku pernah berselingkuh tapi aku tidak menyesalinya. Itu adalah momen ketika aku merasa menjadi wanita sempurna, merasa berharga. Aku bahkan merasa beruntung pernah hamil, meskipun hanya sebentar ."


Dalam tatapannya yang penuh penyesalan, dia mengungkapkan, "Tapi sekarang, aku sadar, itu semua hanyalah ilusi. Hidupku di istana hanya tentang politik dan ambisi, bukan tentang cinta. jika pemberontakan ini berhasil, jika....jika kamu mendapatkan tahta yang kau impikan, aku masih berharap bisa menjadi istri sahmu, menjadi permaisuri yang menemanimu."


"Hem..hum...hum."


Pangeran ketiga , sepertinya memiliki emosi yang meledak-ledak dia ingin menghentikan pembicaraan itu tapi zhang Mei tersenyum.


"tenang saja pangeranku kita memiliki waktu yang banyak untuk bercerita"

__ADS_1


Benarkan


__ADS_2