
Tidak hanya Pangeran Ketiga dan pasukannya yang menghadapi kesulitan.Tetapi dua lorong rahasia juga ikut di serang dengan cara yang hampir mirip.
Taktik baru telah diterapkan dalam bentuk asap yang tidak hanya memadatkan ruang, tetapi juga mengandung ramuan obat bius yang mematikan. Begitu asap itu dihirup, orang akan merasakan kelemahan mendalam dan fungsi organ tubuh mereka akan terhenti.
Efek mematikan dari asap ini dirasakan oleh mereka yang memiliki stamina yang lemah, menyebabkan kematian mendadak dalam waktu sekitar 10 menit setelah terpapar.
Meskipun demikian,orang-orang dengan kemampuan yang lebih baik bisa bertahan.Tapi mereka juga mengalami dampak serius pada paru-paru dan jantung, jika pun selamat, mereka terpaksa melawan efek buruk yang ditimbulkan asap ini seumur hidupnya.
Di pihak Paman Pangeran, prajurit-prajurit telah menelan pil penawar yang membuat mereka kebal terhadap efek obat bius dalam asap itu. Dengan langkah ini, mereka bisa menyerang dengan percaya diri tanpa khawatir tentang dampak efek samping yang mematikan.
Taktik ini berhasil menguasai ratusan hingga hampir seribu prajurit di dalam lorong tersebut. Namun, semua pihak mengetahui bahwa penaklukan yang terjadi bukanlah hal yang mudah dilakukan, terutama tanpa informasi penting dari Putri.
Dalam waktu setengah jam, lebih dari separuh prajurit tangguh dari Pangeran Ketiga tewas dalam lorong itu.
"Akhh sakit...
Uhuk.. akhhhh...
"Tolong aku....
Ahhhh..
Teriakan-teriakan menyayat hati terdengar saat orang-orang merasakan efek mematikan dari asap tersebut. Beberapa dari mereka berjuang untuk menghela napas terakhir mereka, sementara yang lain jatuh tanpa kesadaran, tubuh mereka tak berdaya melawan racun dalam asap.
Namun, ada juga beberapa yang berusaha melawan efek obat bius tersebut. Mereka mencoba menahan rasa kelemahan dan menyemangati satu sama lain.
"bertahan lah,pasti ada jalan"
"Tutup jalan nafas,ingat lah maju atau mati"
"Ohh tolong,mata ku perih.. akhh"
"Bertahan lah, pangeran ketiga bersama kita,uhuk..uhuk.."
Teriakan-teriakan semangat dan upaya untuk tetap sadar memenuhi lorong tersebut, suara itu mengimbangi suara detak api di ujung lorong.
Berbanding terbalik dengan penderitaan orang-orang di dalam lorong yang memperjuangkan hidup dan mati. Orang yang menunggu di sebalik sebenarnya sedang bosan.
"Hey, sudah mulai bosan nih menunggu mereka keluar. Cepatlah, ayo!" kata seorang prajurit elit dari pihak Paman Pangeran, suaranya penuh dengan nada tidak sabar.
Dia berdiri dengan sikap tegap, pedang kesayangannya melekat di pundaknya. Wajahnya yang tak sabar mencerminkan keinginannya untuk segera terlibat dalam pertempuran.
Dengan tatapan yang tidak sabar, dia menggigit ujung ilalang dan dengan sedikit gerakan menjauhkannya dari bibirnya, meludahkannya ke tanah dengan ekspresi rasa jengkel.
Sambil terus memandang pintu lorong yang belum terbuka, dia melanjutkan dengan sedikit keluhan, "Hum, katanya ada seribuan orang di sana tapi belum keluar-keluar sampai sekarang. Seharusnya waktu sudah habis, apakah mereka mati semua karena efek asap beracun?"
Saat dia berbicara, beberapa prajurit lain yang ada di sekitar juga merespons dengan sedikit keluhan dan gerakan tak sabar. Ada yang mengerutkan kening dan menghentakkan kaki kecilnya ke tanah, sementara yang lain memutar pedangnya.
"ini bukan perang namanya kalau bisa menang dengan cara begini mudah.Ah memalukan sekali"
"Ya tapi begitu berakhir Kita juga bisa pulang ke rumah aku bahkan tidak sempat mengotori pakaianku dengan darah ckckck"
puluhan prajurit yang menunggu dengan pedang di ujung lorong. hanya sekedar menunggu sampai tidak ada api lagi di sana.
tidak perlu mengkhawatirkan sisa asap karena mereka sudah menelan pil penawar sebelumnya.Jadi puluhan prajurit ini masuk dengan semangat dan berharap akan ada lawan yang bisa mereka bunuh hari ini.
Bagi mereka, bukan perang namanya jika tidak ada darah yang melekat pada pedang.
Ketika pintu-pintu lorong rahasia akhirnya terbuka dan asap beracun mereda, pemandangan yang mengejutkan dan mengerikan terungkap di hadapan mata.
Lorong yang semula terisi oleh asap kini dipenuhi oleh mayat-mayat para prajurit, tersebar di berbagai sudut. Namun, pemandangan ini lebih dari sekadar tumpukan mayat, karena posisi mereka mengisyaratkan kesiapan untuk bertempur.
Di dalam lorong yang hanya cukup lebar untuk satu orang berjalan, mayat-mayat prajurit terhampar dalam berbagai posisi. Beberapa masih memegang erat pedang mereka, sementara yang lain terbaring dalam sikap bertahan, seolah-olah siap menghadapi serangan musuh.
Di tengah mayat-mayat yang terbaring, beberapa prajurit dari pihak Paman Pangeran mendekati mereka dengan penuh perhatian.Jujur dikatakan, para prajurit pemberontak yang mati dengan cara menyedihkan di lorong rahasia ini sebenarnya adalah orang-orang yang pernah bertarung untuk mempertahankan negara ini.
"sebenarnya mereka adalah pahlawan untuk Dayun tapi karena menyanjung atasan yang salah maka inilah yang harus mereka terima"kata Seorang prajurit yang masih memegang pedang karena tidak ingin ada prajurit musuh yang bangkit dan melakukan serangan balik.
__ADS_1
Beberapa prajurit elit paman Pangeran lainnya mendengar itu dan mengangguk kepala.
Mereka hanyalah prajurit yang setia pada atasan dan terkadang tidak pernah meragukan perintah meskipun diperintah untuk memberontak seperti mereka lakukan sekarang.
Prajurit elit paman Pangeran tidak pernah jatuh ke medan perang, mereka hanya diajari berperang dan mengawasi dari jauh. Meskipun demikian mereka tetap menyayangkam para prajurit yang dengan gagah berani maju ke medan perang untuk mempertahankan negara.
Tapi sayangnya, dari Hero menjadi Zero.
Tanpa banyak bicara prajurit elit Paman Pangeran segera memeriksa kondisi para prajurit pemberontak yang tampak masih hidup. Dalam keheningan yang hampa, suara-suara teriakan meletus dari bibir mereka saat mereka menemukan prajurit yang masih memiliki tanda-tanda kehidupan.
"Di sini masih ada yang hidup!" teriak salah satu dari mereka dengan nada lega, suaranya terdengar di tengah keheningan yang mencekam. Mereka meraih tangan dan tubuh para prajurit yang masih memiliki tanda-tanda napas dan denyut jantung.
Seorang prajurit dari pihak Paman Pangeran menghampiri salah satu prajurit yang masih hidup, dan dengan suara dingin berkata, "Bagus, kau tidak mengecewakan aku. Tetap hidup dan terimalah hukumanmu." Kata-kata itu terlontar dalam nada seperti menertawakan ketidakberdayaan prajurit yang terbaring lemah di hadapannya.
Tidak ada belas kasihan dalam suara seorang prajurit ini yang berbicara dengan nada keras dan tajam, "Ini adalah pembalasan bagi orang yang berdosa terhadap negara Dayun. Kalian adalah prajurit yang memalukan, hanya pantas mendapatkan hukuman yang setimpal." Nada suara tegas dan sinisnya mencerminkan penghinaan terhadap prajurit yang masih hidup dalam keadaan lemah.
Segera lorong rahasia di evakuasi.
Sisa prajurit yang tidak tewas atau pingsan diangkut dan diseret ke penjara, menunggu saat diadili atas kesalahan masing-masing.
Masing-masing orang akan diangkut mengikut status mereka.
berbeda dengan kemenangan mutlak di luar dua lorong terakhir.
Ada pergerakan di sisi kelompok keluarga yang akan dievakuasi keluar dari ibukota.
Hanya beberapa prajurit elit di dalamnya dan juga ada pengawal pribadi rumahan yang memiliki kemampuan kecil. mereka mengemban tugas sebagai penjaga keselamatan para keluarga bangsawan ini.
Berbanding terbalik dengan dua lorong rahasia, orang-orang yang kabur ini membawa serta anak-anak lansia bahkan harta benda mereka di punggung.
Ini membuat pergerakan mereka melambat dan juga mempersulit aksi penjagaan.
Berbanding terbalik dengan lorong rahasia yang menggunakan asap.Di sini para prajurit elit bahkan menghadangnya dengan menutup pintu lorong secara spontan.
Saat pintu itu terkunci, suasana seketika berubah menjadi kacau. Orang-orang yang berniat untuk keluar dari ibukota melalui lorong itu menjadi panik dan histeris. Suara-suara kebingungan dan ketakutan memenuhi udara.
"Apakah kita dikepung?" ucap seseorang dengan nada cemas, suaranya terdengar penuh dengan kekhawatiran.
"Ibu, aku takut." Tangisan seorang anak perempuan bergema.
"Oh ayah, ayah di mana? Chu'er takut, huhu."
"ayah... ayah' huhuhu "
Ketakutan merajalela di antara mereka, dan berbagai cerita dan spekulasi bermunculan.
"Oh apa Pangeran ketiga sudah kalah?"
"Tidak mungkin, bagaimana mungkin Pangeran ketiga kalah dia adalah pangeran yang kuat. tidak ada pangeran lain lagi di Dayun kecuali Pangeran ketiga"
"Ya aku yakin walaupun apa Pangeran ketiga itu kalah dia tidak mungkin di nonaktifkan. selain Pangeran ketiga tidak ada yang layak untuk naik tahta"
"Ya tetap saja aku khawatir dengan kondisi sekarang? kelompok mana yang menutup pintu keluar ini??"
Dalam kepanikan para penjaga menyadari bahwa pintu lorong tidak bisa dibuka dari dalam.
Beberapa penjaga dan prajurit yang dikerahkan untuk mengawasi situasi bergegas maju ke depan, berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Ketika mereka sampai di pintu lorong, tiba-tiba saja, kepala semua penjaga terlepas dari tubuhnya dan berguling-guling di tanah.
trak.....trak... trak...
"Ah dibunuh..ah....
"Siapa? siapa yang mati "
"Ahhk kepala... ke.. kepalanya...
Kejadian mengerikan ini memicu kegemparan baru. Para orang dewasa, anak-anak, serta wanita yang berusaha melarikan diri teriak histeris.
__ADS_1
"Tolong kami!"
"Ibu..."
"Ayah..."
"Nenek, aku takut!"
Situasi semakin memanas dan dalam kekacauan itu, beberapa orang dengan pakaian prajurit tampil ke depan. Mereka memegang senjata tajam dengan tampilan yang mengancam, menunjuk pada penjaga yang baru saja kehilangan kepala.
Ini adalah prajurit paman pangeran dengan senjata lengkap.
"Kau... kau siapa?" tanya salah seorang dari mereka dengan suara yang gemetar.
"Hehehe, tidak perlu ditanyakan siapa kami. Tapi yang jelas, Pangeran Ketiga sudah kalah dan para prajuritnya telah tewas. Jika ada yang masih hidup, itu hanya sedikit orang dan waktu adan habis untuk mereka," kata salah satu dari orang-orang bersenjata tersebut dengan suara yang dingin dan tajam. Wajahnya tanpa ekspresi, namun pedang yang dia pegang masih menetes darah segar.
Ketika mendengar bahwa Pangeran Ketiga telah kalah total, raut muka mereka berubah drastis. Mata mereka terbelalak dan bibir mereka terkatup erat. Raut wajah yang semula penuh harapan dan keberanian berubah menjadi gambaran keputusasaan.
Ketakutan mengguncang tubuh mereka, terlihat dari pandangan mata yang gemetar dan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Raut wajah mereka yang tadinya tenang dan percaya diri kini dipenuhi dengan kecemasan yang menggelegar.
Ada yang memegang jantung mereka dengan tangan gemetar, seolah berusaha menenangkan denyut nadinya yang semakin cepat.
"Bagaimana ini ya tuhan"
Selagi semua orang berteriak dan ketakutan, beberapa prajurit datang dengan begitu banyak barang di tangan.
"Sekarang kalian semua sudah mengetahui jika Pangeran ketika sudah kalah. Di sini aku masih berbaik hati untuk memberikan kalian dua pilihan"
"pilihan pertama adalah menyerah, jika kalian menyerah maka aku akan membawa kalian ke penjara dan tunggulah nasib kalian di sana"
"pilihan kedua adalah racun, aku memberikan kalian kesempatan untuk memberanikan diri untuk mati saat ini juga.Jadi pilihan ada di tangan kalian dan cepatlah memilih "
Segera kaki semua orang menjadi lemah.
Ketika seseorang ikut dalam pemberontakan maka hukuman mati akan diberikan bukan saja untuk orang yang melakukan tapi 9 Klan juga akan terkena imbasnya.
Ini juga menyangkut nyawa ratusan orang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan pemberontakan tersebut.
Hukuman ini juga bahkan akan berlaku bagi anak-anak yang baru lahir.Artinya tidak akan ada lagi orang yang mengikuti nama klan mereka di masa depan.
"Tuan itu sama sekali Bukan pilihan, tuan aku..aku adalah keluarga cabang yang Bahkan tidak tinggal di ibukota. aku hanya datang jalan-jalan di sini.Mana aku tau jika Paman akan memberontak"kata seorang gadis yang berlutut dengan cara menyedihkan dengan prajurit .
"Tuan, aku akan melakukan bunuh diri tapi bisakah bantu selamatkan cucuku, hanya dia satu-satunya selebihnya aku tidak akan memohon lagi"seorang wanita tua juga memohon dengan cara yang sama.
Sebelum hari ini mereka semua adalah orang-orang yang dipandang mulia di ibukota. Begitu arogan dan memandang dunia seolah-olah dunia adalah milik mereka.
Bahkan memiliki pelayan dengan jumlah yang tidak sedikit.
Tapi sekarang sepertinya roda kehidupan berbalik. Merekalah yang harus memohon di kaki para prajurit ini untuk menyelamatkan beberapa nyawa.
Segera bisa tangis terjadi dan permohonan meminta bantuan segera bergema di lorong tersebut.
Tapi prajurit Paman Pangeran tidak memiliki hak untuk memutuskan hukuman bagi orang-orang ini.
Tapi di dalam hati mereka juga sangat menyayangkan kejadian ini hanya satu orang yang melakukan kesalahan tapi ratusan nyawa akan habis karena nya.
Hanya saja, jika Putri ada, mungkin dia akan berpikiran lagi.
Tapi hanya jika.
Pada akhirnya, tidak ada satu prajurit pun yang menjanjikan keselamatan untuk orang-orang yang sedang melarikan diri ini.
Jadi beberapa orang langsung melakukan tindakan bunuh diri di tempat. Mereka adalah orang dengan status tinggi sebelumnya dan merasa terhina karena kejadian ini lebih baik mati sekarang dengan dada terangkat daripada mati dieksekusi di depan umum.
Namun begitu masih ada orang yang mencari harapan agar pemerintah bersimpati karena mereka tidak melakukan kesalahan.
Tapi harapan masih adalah sebuah harapan yang tidak jelas.
__ADS_1
Ruang pelarian ini ada tiga di titik dan di tiga titik ini juga mengalami hal yang hampir mirip. Karena tindakan yang terjadi hari ini ,tiba-tiba saja penjara penuh bahkan terkesan berdesak-desakan.
Semua sedang menunggu nasib mereka yang jelas akan mati tanpa di adili.