
Jalanan ibukota dipenuhi dengan kerumunan orang yang berdiri di tepi jalan, bersorak gembira menyambut iring-iringan prajurit berkuda yang melintas. Orang-orang berdesakan untuk bisa melihat dengan jelas setiap detailnya. Banyak yang mengangkat tangan mereka, melambai-lambaikan tangan ke arah pangeran ketiga yang menjadi pusat perhatian.
Pangeran ketigan dengan gagah perkasa, menunggangi kuda perang yang perkasa. Pakaian pangeran ketiga terbuat dari sutra merah yang berkilau, melambangkan kebesaran dan kebangsawanan. Di tangannya , pangeran ketiga memegang tombak perang yang berkilauan, melambangkan keberanian dan ketegasan.
"Suami hati-hatilah di jalan ingat kami di rumah"
"Suami ku, Huhuhu..suami ku aku akan menjaga keluarga di rumah tapi kau harus berjanji untuk menjaga dirimu sendiri "
"Ayah berjanjilah kau akan pulang dalam keadaan hidup-hidup ayah"
Beberapa wanita yang suami dan keluarga mereka ikut di dalam perjalanan kali ini .Turut menangis dan melambaikan tangan dengan kata-kata perpisahan.
Para pria yang tergabung dalam prajurit ini menganggukkan kepala tapi menatap ke depan seolah-olah mereka tidak peduli dengan kata-kata itu.
Meskipun demikian semua orang tahu jika perjalanan dan perpisahan ini adalah sesuatu yang menyakitkan.
Di sisi lain, Zhang Mei yang baru saja menikah kemarin dengan pangeran ketiga. Matanya berkaca-kaca saat melihat pria itu berlalu di depannya. Ia merasakan campuran perasaan bangga, sedih, dan kekhawatiran.
Bangga karena suaminya adalah seorang pangeran yang perkasa, sedih karena harus berpisah sejenak setelah pernikahan yang baru saja mereka jalani.Dan khawatir karena tak tahu kapan mereka akan bertemu kembali.
Zhang Mei berdiri tegak memegang sapu tangan di tangannya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Pandangannya terfokus pada pangeran ketiga yang semakin menjauh.
Sementara itu, iring-iringan prajurit berkuda semakin jauh meninggalkan Zhang Mei dan kerumunan yang bersorak. Pangeran ketiga menjadi semakin kecil dalam pandangan, namun keberaniannya dan kehadirannya masih terasa di hati Zhang Mei.
"Is zhang Mei pernah menjadi gadis paling cantik di ibukota .Tapi sekarang dia menangis di sini.ckckck aku tidak tahu apakah dia menangis karena posisinya sebagai selir atau memang benar-benar nangis karena sedih"
"Hus tentu saja dia sedih soalnya setelah pergi kali ini tidak tahu kapan pangeran ketiga akan pulang lagi kan ke ibukota "kata seseorang.
"Ya kasian sekali ,ahh tapi siapa peduli. dia tuh menjadi selir seorang pangeran. Itu sudah ada yang pantas untuk nya"
"Uf pangeran ketiga juga memiliki istri sah loh. Apakah ada yang tidak lihat jika istrinya saat ini juga sedang menangis.Ah mata kalian hanya melihat wanita cantik saja ckckck"seorang pria berbisik dan menunjukkan ke arah di mana Putri pangeran ketiga menatap ke arah yang sama dengan zhang Mei sang selir cantik.
Istri sah Pangeran Ketiga, adik dari Jendral Su sedang berdiri di samping Zhang Mei dengan ekspresi yang penuh perasaan. Wajahnya terpancar kecantikan yang sederhana namun memikat. Meskipun tidak memiliki kecantikan yang menonjol, pesona alami dari sosoknya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Ia memiliki postur yang anggun dan tegap, menunjukkan kelasnya sebagai seorang istri sah. Pakaian yang dikenakannya menunjukkan keanggunan dan kemewahan. Gaun sutra yang elegan dengan motif bunga-bunga halus dijahit dengan rapi di sepanjang pinggiran.
Meskipun terlihat sedih dan melepaskan kepergian sang suami, ia tetap tegar dan penuh dengan martabat.
Walaupun rasa sedih menghampirinya, ia tetap menjaga penampilan yang terhormat dan memancarkan ketenangan di tengah keadaan yang sulit.
Istri sah Pangeran Ketiga menyampaikan perpisahan dengan suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Meskipun memiliki rasa sedih yang mendalam, ia tetap menjaga sikap yang tenang dan berwibawa. Tidak ada celaan atau kecemburuan yang terpancar dari dirinya, melainkan kehangatan dan dukungan dalam kepergian sang suami.
Sementara itu di sebuah restoran ,di mana beberapa orang berkumpul untuk menonton iring-iringan yang menjauh dari ibukota. Beberapa di antara mereka memperhatikan perbedaan sikap antara Zhang Mei dan istri sah Pangeran Ketiga.
" selir Zhang Mei memang terlihat sedih, tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa dia telah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi ke provinsi. Kita harus memberinya pengertian. Ah kau tahu sejak dulu aku tergila-gila dengan kecantikannya dan siapa sangka yang beruntung di sini adalah pangeran ketiga ckckck,"
" Ya tapi lihatlah istri Pangeran Ketiga, meskipun juga sedih, ia tetap mempertahankan martabat seorang bangsawan. Itu menunjukkan kelas dan keanggunannya. kalau begitu dia memang pantas menjadi seorang istri kan karena pembawaan dan pencitraannya memang mencerminkan posisi itu sekarang"
" Ah apakah maksudmu ,Zhang Mei hanya mencari dukungan dan simpati dari orang-orang di sekitarnya? Kita tidak bisa menghakiminya begitu saja."
__ADS_1
"Tapi sebagai seorang selir, dia juga harus memperhatikan tata krama dan etiket. Terlihat terlalu berlebihan dengan kesedihannya bisa merusak reputasi keluarga." kata yang lain dengan mendengus kesal.
apapun statusmu baik itu selir ataupun istri ataupun selir biasa itu masih ada lah wanita dari pangeran ketiga. apapun reaksi dan apapun yang mereka lakukan mencerminkan wajah dari pangeran ketiga.
Jadi kesedihan pura-pura dari selir ini benar-benar membuat Citra dari seorang pangeran ketika itu hancur.Tapi beberapa pria memang tergoda dengan kesedihan seorang wanita lemah yang cantik.
" Ya kalian itu jangan menduga seperti itu pikirkan saja hal yang baik-baik.Setiap orang bereaksi secara berbeda terhadap situasi sulit. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang menunjukkan sikap yang sama."
"Tapi sebagai wanita Pangeran Ketiga, dia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga reputasi keluarga. Lihat saja Putri pangeran ketiga,Sikapnya yang tetap terhormat adalah contoh yang harus diikuti.Tidak seperti es teler mie yang hanya membuat pencitraan"
Pandangan pro dan kontra berlanjut di antara orang-orang yang berkumpul, menggambarkan perbedaan pendapat mereka terkait sikap Zhang Mei dan istri sah Pangeran Ketiga. Beberapa mendukung Zhang Mei dengan alasan empati dan pemahaman, sementara yang lain menekankan pentingnya menjaga martabat dan reputasi sebagai seorang bangsawan.
Sementara itu di halaman istana setelah iring-iringan rombongan telah pergi. Zhang Mei, bersama dengan para selir lainnya dan istri sah Pangeran Ketiga, berdiri di sana sambil melihat rombongan itu menjauh hingga tak terlihat lagi. Mereka tetap berdiri dalam diam, menyelami perasaan mereka masing-masing.
Zhang Mei tidak menyadari pembicaraan di belakangnya, bahwa beberapa orang telah membandingkan sikapnya dengan istri sah Pangeran Ketiga. Dia terpaku pada perasaan kehilangan yang mendalam akibat kepergian suaminya, meskipun itu hanya untuk sementara.
"apa gunanya keberadaan aku di istana pangeran ini. hanya untuk merendahkan martabat diriku di depan istrinya, cih ini semua salah selir Fei. Seandainya dia ini mau melepaskan beberapa propertinya mungkin aku akan berdiri di sini sebagai istri bukan sebagai selir. ini semua gara-gara dia. awas saja jika ada waktu aku akan menghancurkan bisnis mu selir Fei"
Matanya tidak fokus dan dia sedang berpikir untuk meletakkan kesalahan ini kepada siapapun selain daripada dirinya sendiri.
Menurut pandangan semua orang yang hadir dia hanya sedang bersedih tapi sebenarnya tidak begitu. Hanya zhang Fei yang tahu bagaimana marahnya dia hari ini.
Setelah rombongan benar-benar hilang dari pandangan, suasana hening terus berlangsung. Zhang Mei dan para selir, serta istri sah Pangeran Ketiga, akhirnya memasuki istana perlahan-lahan. Gerbang besar ditutup, memisahkan mereka dari dunia luar.
Jauh dari kediaman pangeran ke tiga.
Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dia tiba-tiba saja sudah duduk di depan zhang Fei, sehingga putri itu terkejut.
"Oh astaga jantung gue..is Paman pangeran. kalau datang mau kasih tahu dulu jangan diam-diam seperti ini kan udah terkejut kan?"kata zhang Fei yang mau elus dadanya menunjukkan Jika dia memang sedang terkejut.
"Hehehe Putri Paman pangeran ini sudah lama tidak melihat putrinya jadi tentu saja kangen. Gimana bisa beritahu lebih dulu.Tapi Putri kalau terkejut lucu juga ya. tadi pakai bahasa apa sih?"katanya dengan.mata berkedip.
Deg...
"Alamak kan ketahuan tuh..!" pikir zhang Fei.
"Ehem bahasa apa lagi sih. Itu kan bahasa orang terkejut iya dadakan aja" katanya berkilah.
"Tapi sudahlah kapan pangeran kenapa bisa ada waktu untuk pulang sekarang?"katanya lagi untuk pengalihan.
"Ohh sepertinya Putri kita hari ini sedang fokus pada masalah lain sehingga dia tidak tahu jika suaminya pulang hari ini.Ehh atau Mama pangeran ini bukanlah prioritas utama?"
Menurut pandangan Paman pangeran tidak ada yang tidak diketahui oleh sang putri bagaikan kemampuannya yang diberikan oleh "dewa"kemarin.
"Mama cepat cari informasi dengan penjaga bayangan paman pangeran , aduh kenapa lupa sih"
"Paman pangeran, Putri ini masih ada begitu banyak hal yang perlu dipikirkan tidak seperti Paman pangeran yang hanya mengurusi masalah politik.Hai berpolitik sih boleh aja tapi semuanya kan perlu biaya dari mana datang biayanya kalau kita tidak bekerja keras"kata zhang Fei beralasan.
Mendengar jawabannya seperti itu Paman pangeran jadi rileks lagi dan dia duduk dengan santai.
__ADS_1
Perjuangan itu memang berat .Tapi semuanya memerlukan dana seperti yang digunakan oleh sang putri. Oleh karena pergerakan yang terbatas jadi dia harus menyerahkan zhang Fei.
Bagaimana mungkin dia sebagai Paman pangeran tidak mengetahui bagaimana besarnya pengeluaran istana kecil ini. Dulu dia tidak peduli sama sekali karena masalah dana di istana kecil ini tidak ada satu pautnya dengan dirinya.
Secara diam-diam Paman pangeran juga memiliki berbagai usaha sampingan yang tidak diketahui oleh orang lain.
Apa yang dipegang oleh sang putri saat ini adalah harta yang ditinggalkan oleh selir ibu nya.Tapi dia masih harus mencari pemasukan lain untuk menghidupi para prajurit yang berada di dalam tangan nya.
Tapi sekarang, dia tidak bisa berdiam diri lagi .Karena ambisinya sudah begitu besar, Paman pangeran harus memberikan beberapa dana tambahan pada pangeran keempat, dengan begitu dia harus memutar otak nya.
Untung saja Putri bisa menghasilkan dana kebutuhan istana kecil. Karena itu Dia juga sering meminta bantuan dari zhang Fei untuk keperluan mendesak.
"Putri,maaf jika suamimu ini belum bisa menyenangkan. Tapi percayalah kondisi kita akan semakin baik jika pangeran keempat sudah naik tahta"Katanya dengan percaya diri.
"Hah Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya Tapi percayalah Putri ini sama sekali tidak tertarik oke" kata zhang Fei dengan jijik.
"oh tapi ini tertarik kan!" kata paman pangeran yang langsung menarik zhang Fei ke dalam pelukannya.Dengan sedikit dorongan dia sudah mencuri ciuman dari putri nya ini.
Dia mencium putri dengan keras , mungkin karena sudah seminggu ini tidak bertemu muka.
"Paman pangeran,apa apaan sih,ini masih siang juga "kata zhang Fei geli.
"Siapa peduli dengan siang atau malam Putri.Kau tau jika bisa ,aku ingin membawa Putri ke dalam kantong ku. sejak menikah , paman pangeran ini baru tahu bagaimana wanita itu bisa menyenangkan sekali kan.Ahh pantas saja ada orang yang suka dengan Harem di halaman belakang kan"
"Apa?apa Paman pangeran ingin membentuk Harem juga?" kata zhang Fei geram.
Inilah sisi pria yang tidak disukai oleh zhang fei. Pria terlalu serakah dan jika bisa mereka ini bagi semua wanita diri mereka sendiri. Paman pangeran mungkin juga bukan pria yang berbeda.
"Hahaha Putri , kau tambah cantik saja jika cemberut. Bagaimana mungkin Paman pangeran ini membuat harem di halaman belakang.Putri seorang saja tidak akan ada habisnya untuk seumur hidup"katanya dengan mengigit ujung bibir zhang Fei sehingga dia berteriak geram.
Untung saja para pelayan sudah hafal dengan perilaku bodoh pria ini .Jadi mereka sudah mundur terlebih dahulu sehingga apa yang dilakukannya tidak membuat malu.
Namun begitu tidak ayal, wajah zhang Fei memerah karena jujur, dia masih gadis yang bau kencur.Dalam dia kehidupan dia tidak berbicara serius dengan lawan jenis menyangkut hubungan pacaran dan sebagainya.
"Hem paman pangeran, lepasin dulu. Aku masih sedang membaca buku keuangan ini dulu. Kau lihat keuntungan di sini dan di sini lebih besar dari bulan kemarin. Apakah Paman pangeran tidak penasaran?" kata zhang Fei malu malu.
"Hahaha Putri ku, saat ini Paman pangeran ini hanya tertarik untuk melihat yang mana lebih besar, yang kiri atau yang kanan Hem"kata nya dengan menyentuh dada zhang Fei.
"Paman pangeran, putri ini sibuk. lihat lagi betapa tebalnya buku ini.Ah kenapa tidak papa pangeran membantu sedikit Hem"kata zhang Fei mencoba menghindari pembicaraan yang menjurus ke hal-hal negatif.
"Paman pangeran ..ahh kau..
"Hahaha putri paman pangeran pengen main kuda-kudaan hahahaha "
Dengan cepat Paman pangeran menggendong zhang Fei pergi ke kamar mereka dibawah mata para pelayan budak.
Hanya ada suara jeritan tidak terima sang Putri yang kedengaran dari luar kamar.Hal ini sudah tidak bisa di sembunyikan lagi dari pada para pelayan budak yang suka bergosip di istana kecil ini.
Namun begitu tidak ada reaksi yang berlebihan di sana karena para pelayan budak di istana kecil memang sudah terbiasa dengan "kebodohan"paman pangeran ini.
__ADS_1