Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Kebingungan Arga


__ADS_3

Saat Arga memasuki ruangan setelah Emerson ayah Melisa, wajah Melisa berubah seperti orang yang melihat hantu di depannya. Dada Melisa terasa sesak, serta nafas terasa tertahan di tenggorokan. Melisa yang sudah bersumpah akan memberikan hidupnya kepada orang yang dapat menolong adiknya, sangat senang saat mengetahui jika Arga yang ternyata menolong adiknya dengan membiayaai semua operasi dan perawatan Meita. Melisa mengetahui ketika Melisa berjuang mendapatkan informasi tentang seseorang yang membiayai operasi adiknya setelah operasi berhasil tadi pagi. 


Siapa yang tidak akan senang saat sudah bersumpah akan memberikan hidupnya kepada sang penolong adik dan ternyata yang menolong adalah Arga Litohu, pria tampan dan sangat kaya. Meski awal melisa membenci Arga, Melisa tidak menampik jika Arga adalah pria jujur, baik dan tampan. Meski Melisa menganggap Arga adalah pria mesum. Sebab, Melisa pernah melihat Arga menggenggam kemalu*nnya ketika bertemu Arga dan Melisa menganggap waktu itu Arga memegang dadanya dengan sengaja. 


Tetapi perasaan senang tersebut seakan sirna saat Arga masuk ke ruangan rawat inap adiknya dengan wanita yang sangat cantik. Wanita tersebut adalah Bella. Melisa tidak dapat berkata-kata apapun karena nafasnya sangat sesak dan serasa tertahan di tenggorokan. 


Setetes air mata Melisa tak terasa keluar dari matanya yang lentik dan indah setelah melihat Arga bersama wanita cantik datang memenuhi undangan Melisa. 


"Perkenalkan aku Bella Litohu, adik Arga Litohu." Bella dengan segera memperkenalkan dirinya saat melihat ekspresi Melisa yang nampak terkejut dan sedih sampai meneteskan air mata. Bella yang tahu 


Mendengar hal tersebut, seketika ekspresi wajah Melisa berubah datar dan cenderung senang. Melisa merasa lega dengan pengakuan dari Bella yang menyatakan jika dirinya adalah adik kandung Arga. 


"Haaii… Perkenalkan aku Arga, bersemangatlah untuk sehat." Arga berbicara kepada adik Melisa. Meski Meita belum bisa menjawab, tetapi Meita memberikan respon dengan mengedipkan matanya. 


Setelah berbasa-basi di dalam ruangan rawat inap, Melisa mengajak Arga dan ayahnya untuk berbicara di luar. Kini mereka semua keluar. Begitu juga Bella yang selalu mengikuti Arga. 


****


"Aku.. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Melisa berbicara dengan menundukkan kepala dan terlihat wajah Melisa mulai memerah. Melihat Melisa ingin mengatakan hal serius, semua muali memasang telinga. Sebab, suara Melisa terdengar gugup dan semakin mengecil. 


"Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih. Akan tetapi hanya sekedar ucapan terima kasih tidaklah cukup untuk mengganti keselamatan adikku. Sebelum Arga membantu pembiayaan Meita. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, bahwa aku akan menyerahkan hidupku kepada siapapun yang akan membantu adikku." Melisa melanjutkan ucapannya. 

__ADS_1


Degh… seketika jantung Arga berdegup dengan kencang. Saat mendengarkan pembicaraan Melisa. 


"Ouuuhh.. Apa yang harus aku jawabkan pada situasi ini? Aku menjawab iya ataupun tidak. Akan sama-sama melukai hati wanita. Jika aku menjawab tidak, hilang kesempatanku mendapatkan wanita secantik Melisa. Jika aku menjawab iya, benar Bella akan tetap bersamaku dan pasti akan mengikutiku. Tetapi aku akan selalu melukai hati Bella setiap hari, karena Bella akan tetap selalu melindungiku." Arga membatin saat mendengarkan ucapan Melisa yang belum selesai. 


"Maka dari itu, kini aku akan menyerahkan hidupku kepada Arga. Entah Arga mau atau tidak, semua kembali kepada Arga. Jika Arga mau, aku ingin secepatnya dapat menikah. Tetapi jika Arga menolak, maka aku tidak akan menikah sampai akhir hidupku. Karena pada dasarnya aku sudah bersumpah dan diriku kini telah menjadi milik Arga terlepas dari bersedia ataupun tidaknya Arga." Setelah Melisa mengatakan hal tersebut, semua terdiam menunggu jawaban Arga. Mereka berempat kini hening tanpa sepatah kata-kata pun. 


Terlihat raut wajah terkejut dan berpikir yang di nampakkan Arga. Bingung untuk memutuskan. 


"Jika kamu membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan Melisa, maka Melisa pasti akan siap menunggu sampai kapanpun." Emerson berbicara memecah kecanggungan dan keheningan. 


"Kenapa harus membutuhkan waktu, kau sering menceritakan tentang Melisa kepadaku dari pertama pertemuanmu. Kamu juga pernah mengatakan padaku jika dirimu sangat menginginkannya? Cepat jawab Melisa dengan iya." Bella berbicara dengan manja kepada Arga sambil menggenggam lengan Arga. 


"Kau anak kecil tidak usah ikut campur." Arga berbicara sambil mengetuk kepala Bella yang berbicara dengan sikap manja kepada Arga. 


"Aaaauuu… Selalu… Sakit, tau gak.." Bella berbicara dengan menggosok kepalanya dengan wajah cemberut. 


"Tuan Emerson, Melisa… Berikan aku waktu untuk menjawab, sebab ada hal-hal yang harus aku pikirkan. Secepatnya aku akan memberikan jawaban kepada kalian." Arga berbicara dengan hati-hati agar tidak di artikan sebagai penolakan. 


"Tentu saja, aku akan selalu memberimu waktu, kapanpun kamu siap menjawab. Tidak perlu terburu-buru untuk menjawab. Aku akan selalu mengiyakan dan memenuhi sumpahku sepanjang hidupku." Melisa menjawab dengan semakin menundukkan kepalanya. 


Terdengar dan terlihat dari suara beserta bahasa tubuh yang di perlihatkan Bella, menandakan kesedihan dan juga malu. Tetapi Melisa berusaha untuk sebisa mungkin menahan tangisnya meski tanpa dia sadari dan tanpa bisa menahan air mata yang terus-menerus keluar dari matanya. 

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Arga kini merasa serba salah dengan keadaan yang kini di hadapinya. Tidak ingin terus melihat kesedihan Melisa, Arga memilih untuk berpamitan dan meninggalkan tempat tersebut. 


****


"Apa yang kau lakukan tadi? Kau semakin membuatku terpojok." Arga berbicara kepada Bella yang kini sedang jalan menuju balkon rumah sakit untuk naik Helikopter. 


"Aku hanya membantumu yang terlihat ragu. Kau jangan lagi berharap untuk dapat bersama denganku sebagai pasangan hidup. Kita hanya bisa menjadi seperti ini." Bella berbicara dengan nada tinggi kepada Arga. Hal itu di isyaratkan oleh Arga jika Bella sebenarnya masih merasa berat. 


Tetapi Arga hanya diam tidak menjawab kata-kata Bella dan lebih memilih terus berjalan menuju balkon. 


Disaat Arga sudah berada di balkon, Mancini tidak berada di Helikopter sehingga memaksa Arga untuk menunggu Mancini yang ternyata sedang ke tiilet. 


****


Saat Mancini buang air kecil, datang dua orang mengenakan jas, masuk berdampingan ke toilet, Mancini hanya mengira jika mereka juga ingin buang air kecil. Mereka berdiri di samping kanan dan kiri Mancini. Tetapi bukan batang yang mereka keluarkan, melainkan pistol dan menodongkan kepada Mancini. 


"Di mana tuanmu? Kau hanya memiliki waktu 5 detik untuk menjawab."


"Tuanku siapa? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Satu" Tanpa menghiraukan jawaban Mancini salah satu pria tetap menghitung detik waktu yang di berikan untukancini menjawab. 

__ADS_1


__ADS_2