Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Pelayan Rumah Makan dan Cafe


__ADS_3

Terlihat senyum terus menghiasi wajah cantik Elena di sepanjang perjalanan. Wajah cantik manis nan anggun yang didukung dengan tubuh seksi dan bulatan kembar di depan yang seakan mendekati sempurna sesuai dengan yang di idam-idamkan kebanyakan pria. Pemandangan yang sulit untuk dilewatkan oleh mata Arga, terlebih dengan pakaian pramugari yang di kenakan Elena. Membuat Arga semakin bersemangat untuk mendapatkan Elena. 


Arga dan Elena kini semakin akrab dan hati Elena seakan semakin luluh karena rayuan-rayuan yang diucapkan Arga. Di setiap pembicaraan, Arga tidak pernah melewatkan kalimat yang dapat membuat hati Elena tersanjung. Arga juga membuat Elena terus tertawa, seakan telah melupakan jika maskapai yang dimiliki ayah Elena kini sedang di ujung kebangkrutan. Perbincangan mereka berdua berakhir setelah pesawat akan landing. 


Kini pikiran Arga kembali fokus pada misi yang akan dia selesaikan. Setelah pesawat berhenti, pengawal Arga dengan sigap keluar pesawat terlebih dahulu untuk mengamankan dan memberi perlindungan ketika Arga sudah turun. Setelah pengawal Arga sudah berada di bawah semua, giliran Arga bersiap turun dari pesawat. Akan tetapi ketika Arga akan turun, tangan Arga di tarik oleh Elena agar Arga berbalik menghadap Elena. 


"Mana handphonemu? Aku pinjam sebentar." Tanpa ragu, Arga memberikan Handphone miliknya kepada Elena. 


"Aku di kamar 411 hotel bandara. Aku tidur sendiri." Elena berucap dengan menundukkan kepala dan mencatat kode akses pintu kamar hotel yang akan ditempati Elena setelah turun dari pesawat. Setelah mencatat kode akses pintu kamar hotel, Elena memberikan Handphone Arga kembali. 


Melihat Elena berbicara dengan menundukkan kepala, Arga tersenyum tipis. Arga merasa kini dirinya di atas angin. Sebab kini Elena yang terlihat lebih malu-malu dari pada Arga. Hal yang biasanya Arga alami sebelum Arga menggunakan skil istimewa merayu lawan jenis. Saat Arga melihat hal tersebut, Arga mengangkat dagu Elena hingga wajah mereka berdua saling berhadap-hadapan. 


"Cantik sekali." Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Arga untuk di ucapkan saat melihat wajah Elena yang kini berada di depan wajah Arga. Mendapati perkataan tersebut, wajah Elena terlihat memerah karena malu dan senang dengan ucapan Arga. 


Melihat wajah Elena yang memerah, gairah Arga seolah bergejolak. Perlahan dengan ragu-ragu, Arga mendekatkan wajahnya dan berniat mengecup bibir Elena. Saat nafas mereka berdua mulai saling merasakan nafas dari orang yang berada di depannya. Dengan cepat Elena memalingkan wajahnya dan bergerak mundur untuk menghindar dari usaha Arga yang akan menciumnya. 

__ADS_1


"Sepertinya kamu telah ditunggu oleh pengawalmu." Elena dengan segera berucap sesaat Elena bergerak mundur untuk menghindari ciuman Arga. Sedangkan Arga tidak mempermasalahkan hal tersebut dan merasa akan memiliki kesempatan yang sama atau bahkan lebih di lain waktu dan dengan segera turun dari pesawat dan pergi untuk menyelesaikan misinya. 


"Mengapa aku menghindarinya jika aku telah memberi akses pintu kamar hotelku? Apa yang sebenarnya aku pikirkan. Mengapa aku seakan tidak memiliki keputusan pasti akan hal ini. Apa yang akan aku lakukan jika nanti malam Arga tiba-tiba datang ke kamarku. Apakah aku akan memberi mahkotaku padanya. Astaga, apa yang sedang aku pikirkan, mengapa aku merasa sangat bimbang di saat seperti ini." Siska berbicara di dalam hatinya dan melihat Arga pergi turun dari pesawat. 


Di bandara, Arga segera menaiki mobil yang sudah disiapkan oleh maskapai Elena air. Dengan segera, Arga mencari rumah bordil yang memaksa para imigran untuk menjadi PSK. 


Arga yang bersama 7 pengawalnya mengendarai 2 mobil untuk mencari lokasi beradanya rumah bordil yang mempekerjakan para imigran. Tidak sulit menemukan rumah bordil yang memaksa para imigran untuk menjadi PSK di kota kecil zapata. Rumah bordil tersebut sangat mencolok, karena terletak di tengah kota dengan pengawalan ketat. Bahkan rumah bordil tersebut dilindungi oleh pihak yang memiliki latar belakang yang kuat di kota tersebut. Sehingga sangat tidak mungkin jika rumah bordil tersebut tersentuh oleh hukum. 


Arga tidak langsung memasuki rumah bordil tersebut, akan tetapi Arga mencari informasi ke sebuah rumah makan dan cafe yang berada di seberang jalan rumah bordil tersebut. Arga bersama ke 7 pengawalnya masuk bersama ke sebuah rumah makan dan cafe untuk mendapat informasi dari pengunjung yang berada di sana. Supaya Arga dapat menentukan tindakan apa yang harus dilakukan untuk membebaskan ke 50 PSK sesuai misi yang di dapat Arga. 


"50 orang.. 50 orang.. Aku harus menggunakan kendaraan besar untuk mengangkut mereka semua." Setelah Arga berpikir demikian, Arga memerintahkan salh satu pengawalnya untuk membeli sebuah bis. 


"Tapi bagaimana caraku supaya mereka dapat di keluarkan dari sana. Jika aku membeli semua wanita tersebut agar di bebaskan. Pasti harganya akan menembus Milyardran dollar. Aku khawatir hal tersebut akan menjadi masalah lagi dengan sistem. Jika aku menggunakan keberatan, pasti akan banyak nyawa yang hilang. Bahkan mungkin aku akan kehilangan semua pengawalku, sebab aku sekarang kalah jumlah." Arga mencari cara dan berpikir keras di dalam otaknya. Hingga pikiran Arga di buat hilang oleh seorang pelayan yang datang ke meja Arga untuk menanyakan menu apa yang akan dipesan Arga dan rombongannya. 


"Nona, kau sudah lama bekerja di sini?"

__ADS_1


"Ya tuan, saya sudah lama bekerja di sini. Tuan dari mana? Saya tidak pernah melihat tuan di kota ini."


"Apakah kau mengenal semua orang di kota ini?" 


"Aku memang tidak mengenal semua orang di kota ini tuan. Tapi di kota kecil seperti zapata yang terletak di perbatasan. Tidaklah sulit mengetahui anda orang asli zapata atau bukan."


"Kamu juga sepertinya bukan orang asli zapata. Bahkan kamu juga bukan orang USA." Arga asal menebak karena Arga tidak ingin menjawab pertanyaan pelayan tersebut secara gamblang. Dengan kata-kata Arga yang mengatakan kumu juga, itu sudah menandakan Arga mengakui jika dirinya bukanlah orang asli zapata. 


Mendapati pernyataan Arga, pelayan tersebut tidak menjawab dan hanya meminta Arga untuk cepat menyelesaikan pesanannya. 


"Tenanglah, temanku masih menulis pesanan kami. Kamu jawab saja pertanyaanku, siapa tau aku dapat membantu. Sebab aku melihat raut wajah kegelisahan di wajahmu." Arga yang kini lebih yakin jika pelayan tersebut bukanlah orang USA karena ekspresi takut dan gelisah yang di tunjukkan oleh pelayan rumah makan dan cafe tersebut. 


"Aku tidak ingin menjawab di sini tuan, jika anda memang menginginkan diriku. Anda bisa membeliku untuk satu kali permainan. Bayar mahal di kasir, maka aku dapat menemanimu di sebuah kamar." Pelayan tersebut memberikan kode agar tidak terlalu membicarakan hal pribadi di tempat tersebut. 


"Baiklah, aku akan membelimu untuk 3x permainan agar bisa lebih lama aku bersamamu." Arga menanggapi keinginan pelayan tersebut.

__ADS_1


"Lagi pula aku membutuhkan informasimu, bukan tubuhmu." Arga berbicara di dalam hatinya.


__ADS_2