
Setelah keluar dari ruang perawatan, Arga menuju ruang ICU untuk mengetahui keadaan Alerto pengawal Arga yang ikut mengawal Arga saat terjadi penyerangan di bandara San Diego. Arga hanya dapat melihat Alerto yang masih belum sadarkan diri dari luar kaca jendela.
"Tuan, apakah anda tuan Arga Litohu yang kemarin sedang di serang waktu bersama tuan Alerto?" Seorang perawat menyapa Arga sebelum memasuki ruang ICU.
"Ya, benar. Aku Arga Litohu."
"Anda diminta ke ruang dokter yang berada di ujung koridor ini sebelum pertigaan koridor."
"Baik, terimakasih pesannya." Mendapat pesan demikian dari dokter yang merawat Alerto, dengan segera arga menuju ke ruangan dokter yang di maksud oleh perawat. Serta meminta keempat pengawalnya untuk tetap berada di ruang ICU.
"Ternyata benar-benar tampan. Jika melakukan pertarungan di ranjang, apakah dia bisa sehebat di pertarungan sewaktu di bandara ya." Perawat tersebut berbicara di dalam pikirannya dengan memperhatikan wajah Arga saat arga menjawab pesan yang dia sampaikan dari dokter.
"Apakah mungkin aku bisa mendekatinya?" Perawat tersebut membatin saat Arga berlalu pergi meninggalkannya.
****
Arga duduk di depan ruangan dokter karena di dalam sedang ada keluarga pasien yang lain dan sedang berkonsultasi dengan dokter tersebut.
"Sebaiknya jangan terlalu lama untuk mengusahakannya. Lebih cepat akan lebih baik." Terdengar percakapan dokter wanita dengan seseorang yang berbincang saat dokter tersebut membukakan pintu. Mengetahui pintu ruangan di buka, Arga segera berdiri untuk berganti memasuki ruangan dokter agar mengetahui kondisi Arleto.
"Baik dok, terima kasih. Saya akan mengusahakannya." Setelah menjawab demikian, terlihat wanita keluar dari ruangan dokter yang sudah dibukakan pintu oleh dokter ahli bedah dan saraf tersebut.
__ADS_1
"Sama-sama. Tuan silahkan." Setelah dokter tersebut berbicara dengan wanita yang akan keluar ruangan, dokter tersebut mempersilahkan Arga yang sudah berdiri dari kursi untuk masuk ke dalam.
"Bukankah dia Melisa?" Arga membatin saat berpapasan dengan wanita keluarga pasien yang baru saja keluar dari ruang dokter. Melisa tidak mengetahui jika dia berpapasan dengan Arga. Sebab saat keluar, Melisa hanya menundukkan kepala dan sedang memikirkan sesuatu.
Arga tidak memiliki kesempatan untuk menyapa Melisa. Sebab jika Arga menyapa melisa, bisa saja dokter tersebut akan merasa tidak di hiraukan. Arga langsung memasuki ruangan yang di susul oleh dokter wanita yang sudah terlihat berumur 50an.
"Silahkan duduk tuan. Aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengan pemuda yang sedang viral di berbagai media sosial, bahkan sampai masuk di beberapa televisi lokal dan nasional." Dokter spesialis bedah dan saraf tersebut basa-basi saat mempersilahkan Arga untuk duduk.
"Tengkorak pasien Alerta mengalami keretakan dan harus segera di bedah. Sebab lapisan luar otak Alerta di masuki terlalu banyak darah dan terus bertambah. Hal itu dapat membahayakan nyawa Alerta, oleh sebab itu. Awal Alerta terlihat baik-baik saja. Tetapi saat otaknya mengalami tekanan dari darahnya, Alerta muntah-muntah lalu kejang." Dokter tersebut menyampaikan permasalahan yang terjadi kepada Alerta.
"Lakukan yang terbaik dok. Untuk masalah biaya, tidak perlu khawatir. Aku akan membayarnya berapapun, yang terpenting nyawa Alerta bisa selamat." Setelah Arga menyampaikan jika masalah bukan menjadi persoalan. Banyak hal yang disampaikan oleh dokter tersebut kepada Arga setelahnya.
Setelah dirasa cukup Arga pamit meninggalkan ruangan. Saat Arga meninggalkan ruangan, terlihat melisa masih duduk di tempat tadi Arga duduk. Arga mengira jika melisa akan kembali memasuki ruangan tetapi setelah Arga menutup pintu ruangan, melisa tidak beranjak dari duduknya dan tetap dengan posisinya menutup wajah dengan kedua tangannya dengan sedikit menunduk.
"Suara ini tidak asing. Sepatu dan celana ini adalah orang yang tadi berpapasan denganku di pintu ruang dokter. Siapa dia?" Melisa membatin saat mendengar teguran dari Arga dan saat Melisa menyingkirkan kedua tangan dengan kepala masih tertuntuk.
"Tuan Arga!!" Dengan terkejut Melisa melihat sosok yang di depannya benar orang yang dia kenalkenal, yaitu Arga Litohu.
"Mengapa kau menangis? Kau tidak terlihat cantik jika menangis. Beri aku senyumanmu." Arga berusaha menghibur Melisa dengan cara menggodanya. Sebab dari pembicaraan yang sebelumnya Arga dengar, melisa sedang mengalami masalah yang terlihat dari air matanya.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu. Sebaiknya kamu pergi dan urus urusanmu sendiri. Aku tidak berkewajiban menghargaimu jika di luar jam kerja." Melisa yang sedang dalam suasana hati tidak baik-baik saja. Membalas godaan Arga dengan jawaban ketus. Mengalami jawaban yang tidak sesuai harapan, wajah Arga menjadi kecut.
__ADS_1
"Mana mungkin aku pergi saat melihat wanita cantik, seksi dengan buah sebesar itu yang selalu kamu bawa, sedang menangis sedih." Arga membatin di dalam hatinya.
"Cantik, aku akan menemanimu di sini meski kamu tidak mengharapkannya. Maafkan aku jika kata-kataku sebelumnya membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menghibur. Apa yang membuatmu menangis di rumah sakit? Apakah ada anggota keluargamu yang sedang dirawat? Izinkan aku menjenguknya?" Mulut Arga berbicara seakan sedang di bimbing. Hal itu karena skil istimewa merayu yang Arga miliki karena menanggapi pikiran Arga yang memiliki ketertarikan kepada melisa.
Pujian yang dipikirkan Arga, dianggap sebuah ketertarikan oleh skil istimewa merayu. Sehingga akan memberikan cara yang tepat untuk merayu wanita.
"Pasti ini ulah skil istimewa yang aku miliki. Lumayan. Terkadang dia menggunakan cara frontal, tetapi sekarang dia menggunakan cara yang tepat menurutku. Meski cara frontal sudah terbukti berhasil sebelumnya." Arga membatin sesaat dirinya menjawab perkataan Melisa.
Skil istimewa bukan hanya mengendalikan mulut Arga, tetapi juga dapat melihat peluang lawan bicara dengan membaca bahasa tubuh, ekspresi wajah dan gaya bahasa. Sehingga selalu dapat memasuki situasi dengan tepat untuk mendapatkan hati wanita yang menjadi target Arga.
"Aku hanya mengharap kamu tidak di sini." Melisa menjawab Arga dan beranjak pergi dari duduknya. Serta menghapus air matanya. Tetapi meski sesaat, terlihat wajah tersipu melisa saat mendengar ucapan Arga.
Melisa tidak menghiraukan Arga dan berjalan menuju tempat adiknya di rawat. Sedangkan Arga mengikuti Melisa meski Arga tau jika Arga tidak di hiraukan.
"Apakah kamu tuli!! Pergilah…!!!" Melisa mengusir Arga yang terus mengikutinya tanpa berbicara dan menjawab ucapan Melisa. Sedangkan Arga terus mengikuti Melisa karena skil istimewa yang dimiliki Arga. Sebenarnya Arga bisa saja pergi tanpa menuruti langkah kaki yang sedang diarahkan oleh skil istimewa merayu lawan jenis. Tetapi Arga tidak melakukannya karena juga ingin tahu apa yang membuat Melisa bersedih hingga menangis.
****
"Siapa laki-laki itu Mel?" Ayah Melisa bertanya kepada Melisa sesaat Melisa sampai di depan ruang rawat inap tempat adiknya di rawat.
"Selamat pagi pak, perkenalkan saya Arga Litohu kekasih Melisa. Sudah lama saya ingin bertemu anda." Dengan segera Arga menyalami ayah melisa dan menjawab pertanyaan ayah Melisa yang sebenarnya ditujukan kepada melisa.
__ADS_1
"Tidak.. Tidak.. Bukan, aku hanya mengenalnya. Dia adalah customer yang pernah aku ceritakan. Dia yang membeli unit 2206." Melisa yang terkejut dengan jawaban Arga yang secara tiba-tiba. Menjadikan Melisa seakan salah tingkah dan berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada ayahnya.