
Angka di dalam lift sudah menunjukkan angka 5, tidak lama lagi Arga akan sampai di lantai 7. Arga kembali memastikan jika pistol berperedamnya dalam kondisi baik.
"Bersiaplah." Arga berbicara kepada Bella yang sudah siap dengan paku-pakunya.
Ting.. Menandakan lift berhenti dan angka di dalam lift menunjukkan angka 7. Saat pintu lift baru terbuka sedikit, Arga melihat dua pria dari jarak kisaran 10 meter menodongkan pistol ke arah lift. Dengan segera Arga menembak dan menghindar dari peluru yang terlihat seperti tetesan air hujan oleh Arga.
Mendengar suara tembakan, penjaga yang berada di sekitar kediaman Kapten Lion yang merupakan pemimpin wilayah Illinois dengan segera menuju sumber suara tembakan. Saat berada di persimpangan koridor, mereka bergerak perlahan untuk mengetahui apa yang terjadi di depan lift.
Mereka hanya melihat kedua rekannya sudah tergeletak bersimbah darah. Dengan segera, prajurit yang menjaga kediaman Pemimpin wilayah Illinois menghubungi semua keamanan terkait dengan kediaman Kapten Lion.
Mereka tidak tahu siapa yang membunuh rekan mereka. Hanya saja, lift yang tadi di tumpangi Arga, menunjukkan jika liftnya terus naik ke lantai atas.
"Dua rider tewas. Tidak ada visual penembak. Hanya lift yang mereka jaga jalan terus menuju lantai atas dan masih terasa bergerak." Seorang prajurit menginfokan ke yang lain.
Lima orang kini menaiki lift di sebelah lift yang terus kergerak ke atas. Saat tiga orang tersisa dari delapan prajurit tetap berada di depan pintu lift dan berusaha mengamankan rekan mereka.
Bruuak.. Suara penutup ventilasi terjatuh bersamaan dengan Arga yang bergelantung terbalik di ventilasi koridor. Dengan segera arga menembak ke tiga prajurit tersebut.
****
"Sial, apa yang harus aku lakukan? Aku sangat yakin jika yang menembak adalah Arga Litohu." Pemimpin wilayah Illinois membatin di dalam hati setelah memastikan pintu sudah tertutup dengan pintu besi.
Setelah merasa pintu sudah aman, pemimpin wilayah Illinois duduk dengan menggenggam handphone dan mengabari kepada para pemimpin lainnya jika dirinya sedang di serang oleh seseorang yang masih belum di ketahui identitasnya. Tetapi pemimpin wilayah Illinois atau kapten Lion sangat yakin jika itu adalah Arga Litohu.
Sedangkan dilantai bawah, beberapa truk militer datang atas panggilan para pengawal Kapten Lion dan juga Kapten Lion sendiri. Dia mengatakan jika pemberontakan Arga Litohu ada di blok kediamannya.
__ADS_1
****
"Ini dia nomor 714." Arga membatin di dalam hatinya lalu di minta mundur oleh Bella. Dengan kekuatan serta kulit dan tulang yang lebih keras dari manusia normal, Bella memukul ganggang pintu hingga hancur hanya dengan dua kali pukulan. Setelah pintu terbuka, terdapat pintu besi yang menutupi pintu.
Sekilas Bella melihat seseorang dari dalam rumah, dengan segera Bella menarik Arga untuk berlindung di dinding sebelah pintu. Benar saja, bersamaan dengan Bella dan Arga yang berlindung, beberapa kali tembakan di lepaskan dari dalam. Dengan keterampilan yang Bella miliki, Bella melemparkan paku tepat sejajar dengan lubang pistol yang di gunakan kapten Lion.
Bersamaan saat paku baru masuk 2 cm dari bibir lubang pistol, Kapten Lion menembakkan pistolnya hingga terjadi ledakan di bibir pistolnya dan memecahkan butiran besi akiban benturan paku dan peluru. Kapten Lion yang terkejut, di manfaatkan oleh Bella untuk melemparkan paku ke tangan dan kaki Kapten Lion.
Bella sengaja tidak melemparkan paku ke daerah vital karena ingin memberikan kesempatan kepada Arga untuk membunuh kapten Lion dengan tangannya sendiri. Setelah berhasil melumpuhkan Kapten Lion, Bella menghancurkan pintu besi yang menutupi akses masuk.
"Bagaimana rasanya ketika kematian sudah berada di depanmu?" Arga berbucara dengan mengeluarkan pisau pendek yang mirip dengan pisau yang di gunakan pembunuh ibunya.
"Tidak.. Tidak.. Aku tidak terlibat.. Bukan aku pembunuhnya.."
"Kau bukan pembunuhnya, tetapi kau terlibat dalam penyusunan rencananya. Kau juga terlibat dalam pembunuhan semua peserta sebelumnya."
"Jelaskan nanti pada malaikat di neraka." Arga berbicara dengan terus menghunuskan pisaunya ke tubuh Kapten Lion yang merupakan pemimpin wilayah Illinois dari kelompok TP&P.
Arga seolah melampiaskan semua dendamnya yang selama ini dia pendam. Arga menghunuskan pisau pendeknya hampir sama dengan cara para pembunuh menghunuskan pisau pendeknya kepada ibu Arga.
Setelah melihat Kapten lion sudah lemas dan sudah sekarat, kini Arga mulai menghunuskan pisaunya ke leher untuk mengakhiri hidup Kapten Lion. Sama persis dengan cara pembunuh mengakhiri hidup ibu Arga.
Setelah memastikan kematian Kapten Lion, Arga menyulut api untuk membakar kediaman Kapten Lion. Dengan cepat api membakar ruangan tersebut. Saat Arga melihat api mulai membesar dan yakin jika tidak mungkin padam, Arga meninggalkan tempat tersebut dengan rasa puas.
****
__ADS_1
Alarm kebakaran gedung blok st.Pierta berbunyi bersamaan dengan air yang menyemprot ke seluruh koridor untuk memadamkan api. Kepanikan terjadi dari penghuni yang lain. Dengan segera mereka berusaha untuk turun dan keluar dari gedung blok st.Pierta.
Arga membaur dengan para penghuni untuk keluar dari gedung, Arga dan Bella turun dari lantai 7 mengenakan handuk basah menutupi kepala dan tubuhnya sesuai dengan standar penyelamatan kebakaran. Arga dan Bella terus berjalan menjauh dari gedung blok st.Pierta.
****
"Ayo kita jalan mencari hotel untuk menginap." Arga yang datang dan langsung duduk di mobilnya, berbicara kepada Smith yang langsung di respon dengan melakukan mobilnya. Dari dalam mobil, Arga dapat menyaksikan kebakaran hebat dari rumah Kapten Lion.
Pandangan kosong Arga kembali terlihat saat Arga mengingat kematian ibunya. Kini Arga satu langkah lebih dekat untuk membasmi kelompok pembunuh ibunya.
****
"Aku ingin kamar Presidential suite yang menghadap ke kebakaran." Arga yang sudah kembali dengan tampilan penyamarannya, berbicara kepada resepsionis.
"Kebakaran? Di mana ada kebakaran tuan." Resepsionis yang tidak tau jika ada kebakaran, di beritahukan arah ke gedung blok st.Pierta oleh Arga.
"Emm.. Kebetulan kamar Presidential suite kami memang menghadap ke timur dan barat tuan. Jika tuan ingin bisa melihat kebakaran tersebut, tuan ambil yang menghadap timur."
"Baik, aku ambil itu."
"Untuk berapa jam tuan? Kamar Presidential suite kami di hitung per jam dengan minimal sewa 30jam tuan." Resepsionis menjelaskan dengan ramah kepada Arga.
"Baiklah, aku ambil 30 jam saja. Sebenarnya aku tidak akan lama, pagi atau siang aku sudah cekout." Setelah mengatakan demikian, Arga melakukan pembayaran lalu mendapatkan kunci kamar yang Arga pesan.
"Silahkan ikuti petugas kami tuan. Semoga istirahat tuan menyenangkan." Resepsionis kembali berbicara dengan ramah.
__ADS_1
Saat Arga dan lainnya mengikuti pelayanan menuju kamar, notifikasi di layar transparan Arga muncul. Tetapi Arga tidak membukanya karena hanya pemberitahuan pembayaran tanpa mendapatkan skil poin tambahan.