
Kini Arga sudah berada di dalam rumah yang akan di jual oleh pemiliknya. Rumah itu masih memiliki beberapa perabot, bahkan di setiap kamar masih memiliki ranjang.
Arga duduk santai di sofa sambil melihat notifikasi di handphonenya yang sudah tidak di buka beberapa hari karena kejenuhan saat hanya berdiam di markas Julio hingga beberapa hari.
Terlihat ada notifikasi yang belum Arga buka, sehingga Arga membuka notifikasi di layar handphonenya.
(Baru saja membayar $70.000.000. Sisa saldo $999.895.261.309.371.)
(0 poin skil baru di dapatkan)
(Total 824 poin skil belum digunakan)
(Skill saat ini)
(Fisik 250)
(Kecerdasan 250)
(Kecepatan 250)
(Kekuatan otot 250)
(Akurasi 250)
(Skil istimewa permanen : -pengobatan kuno)
Ini notifikasi ketika aku membayar 70jt dollar kepada kepala penampungan imigran. Lalu notifikasi penambahan poin dari para imigran yang aku minta keluarkan kenapa tidak ada? Apakah kepala penampungan itu menipuku, dia tidak mengeluarkan para imigran? Aku akan ke sana ketika aku sudah ke California.
"Semua aman, lalu apa tindakanmu setelah ini?" Bella duduk di samping Arga setelah berkeliling ke seluruh ruangan. Mendapati pertanyaan Bella, Arga mengeluarkan handphonenya dan melihat foto tentang daftar pemimpin wilayah dari kelompok TP&P.
"Aku akan membunuh mereka satu persatu." Arga berbicara sambil melihat daftar nama-nama pemimpin wilayah kelompok TP&P.
"Karena kita berada di negara bagian Illinois, beberapa jam lagi kita akan ke Springfield terlebih dahulu. Kita akan membunuh pemimpin wilayah Illinois terlebih dahulu. Sekarang kita akan membeli mobil anti peluru terlebih dahulu. Untuk berjaga-jaga, lebih baik kita menggunakan mobil anti peluru." Arga mengucapkan rencananya kepada Bella.
"Bagaimana kita akan membelinya? Bukankah kamu dulu pernah akan membelinya dan mobil itu hanya ada di New York. Untuk saat ini kita tidak mungkin ke new York."
"Tenanglah, aku sudah memikirkannya. Kita hanya akan menunggu saja." Arga menjawab ucapan Bella dengan senyum.
Setelah mengatakan hal itu, Arga melihat layar handphonenya dan mengetik nama seseorang di pencarian kontak WhatsApp. 'Melisa' terlihat di layar, Arga sedang menghubungi Melisa.
__ADS_1
****
Triiingg… Triiingg… Triiingg… suara handphone Melisa berbunyi.
"Arga?" Melisa terkejut dengan perasaan campur aduk saat melihat nama di layar handphonenya.
"Haallo." Melisa menjawab dengan ragu karena pemberitaan di setiap telefisi sedang memberitakan Arga sebagai pemberontak. Melisa khawatir jika yang menelponnya bukanlah Arga meski nama yang tertera adalah nama Arga.
"Melisa? Bagaimana kabarmu? Kamu masih di New York?" Terdengar suara orang yang sangat Melisa khawatirkan. Mendengar suara dari handphonenya, Melisa meneteskan air mata.
"Iya.. Iiya.. Aku masih di New York. Adikku juga sudah sembuh dan hanya perlu pemulihan sedikit lagi. Mungkin 1 minggu lagi akan pulang. Kamu… kamu ada di mana? Kamu baik-baik saja bukan..? Aku sangat khawatir saat melihat di semua siaran di stasiun televisi yang memberitakanmu." Terdengar suara Melisa yang berbicara sambil menangis.
"Kau menangis? Tidak ada yang perlu di tangisi. Aku baik-baik saja." Arga berusaha menenangkan Melisa.
"Wanita ini sepertinya benar-benar telah mencintaiku, terdengar dari suaranya jika dia memang sangat khawatir padaku." Arga membatin dan berdiam tidak berbicara. Begitu pula dengan Melisa yang juga tidak berbicara dan hanya terdengar tangisan lirih dari Melisa.
"Sudah jangan menangis lagi. Sebenarnya aku menelponmu karena aku ingin meminta pertolonganmu. Sebab tidak banyak orang yang bisa aku percaya untuk saat ini. Dan dirimu termasuk beberapa orang yang bisa aku percaya. Apa kau bisa membantuku?"
"Apapun dan kapanpun. Aku pasti akan membantumu. Bahkan aku sudah mengatakan jika aku sudah memberikan hidupku untukmu." Mendengar jawaban Melisa, Arga sampai menelan ludah.
"Aku ingin kamu ke dealer Rolls-Royce. Aku ingin kau membelikanku mobil Rolls-Royce anti peluru. Nanti akan aku transfer uangnya. Sekarang juga kamu ke sana dan antarkan ke Chicago. Hanya dirimu yang ke Chicago."
"Baik, malam ini aku pasti sudah sampai di Chicago."
Tlululululululut… Tlululululululut… Tlululululululut… suara handphone Arga berbunyi. Terlihat nama Melisa di layar handphone Arga.
"Hallo?" Arga menjawab telpon Melisa.
"Aku sudah sampai dealer Rolls-Royce. Di sini Ada dua mobil Rolls-Royce anti peluru yang ready di sini. Tetapi mobil ini tidak di jual karena hanya di jadikan contoh dan pajangan untuk saat ini. Bagaimana?"
"Temui managernya dan katakan jika kamu akan membelunya berapaun harganya." Arga mengarahkan Melisa yang kini berada di dealer Rolls-Royce.
"Baiklah. Sebaiknya kau jangan menutup teleponnya supaya kau mendengar apa yang aku bicarakan. Jika aku nanti memerlukan sesuatu, maka kau bisa berbicara langsung."
"Baik, aku akan mendengarkan." Arga menjawab ucapan Melisa.
"Nona, sepertinya ini tidak dalam jangkauan kapasitasmu. Bisakah aku menemui manajermu?" Melisa berbicara kepada pramuniaga.
"Apa maksud nona?" Pramuniaga tersebut merasa di ejek oleh Melisa.
__ADS_1
"Maaf jika aku menyinggungmu. Tetapi aku tetap menginginkan salah satu mobil anti peluru itu berapapun harganya. Apakah kau bisa melayaniku jika aku tetap menginginkan itu?"
"Maaf nona, aku tidak memiliki wewenang untuk menyetujuinya."
"Nah itu yang aku maksud. Maka dari itu, tolong panggilkan manajermu."
"Baik nona. Tunggu sebentar." Pramuniaga tersebut pergi meninggalkan melisa untuk memanggil manajernya.
"Apa kau sangat membutuhkan mobil itu?" Melisa kembali berbicara dengan Arga melalui handphone saat Melisa hanya sendiri untuk menunggunya.
"Ya, bagaimanapun caranya kau harus dapat. Untuk harga, tidak jadi masalah."
"Di sana ada 2 tipe, ada Rolls-Royce Cillian dan Rolls-Royce phantom limo. Dua-duanya sama-sama anti peluru."
"Beli yang terbaik."
"Baiklah, aku akan beraksi. Aku tidak hanya bisa menjual sebuah unit rumah. Tapi aku juga pandai berkomunikasi. Dengarkanlah caraku." Dengan penuh keyakinan Melisa berbicara kepada Arga karena Arga tidak mempermasalahkan tentang harga.
Tidak lama kemudian, pramuniaga tersebut datang bersama dengan seorang laki-laki sekitar umur 40an.
"Selamat siang nona, apakah anda membutuhkan bantuan ku? Aku manajer di dealer ini." Laki-laki tersebut mengenalkan diri saat sampai di hadapan Melisa.
"Ya tuan, aku ingin membeli salah satu mobil ini." Melisa berbicara sambil menunjuk kedua mobil Rolls-Royce anti peluru.
"Nona, mobil ini tidak kami jual. Jika anda mau yang seperti ini, anda bisa memesannya terlebih dahulu. 6 bulan kemudian baru akan datang mobil pesanan nona."
"Tidak, aku ingin hari ini. Dan aku ingin yang terbaik dari salah satu ini."
"Jika yang terbaik dari keduanya ini, saya merekomendasikan Rolls-Royce Phantom Limo plus ini. Sebab, Rolls-Royce Phantom Limo plus ini sudah di upgrade dengan armor lv 9 yang sebelumnya hanya armor lv 3. Tetapi saya tidak dapat menjualnya. Tetapi jika anda menginginkan yang seperti ini, anda bisa memesannya."
"Aku pastikan kau akan menjadi orang pertama yang aku pecat jika kau tidak menjual mobil ini padaku. Karena aku akan membeli saham dealer ini dari tuan Hans Potter jika aku tidak mendapatkan mobil ini sekarang. Dan aku pastikan, kamu orang pertama yang aku pecat karena menghalangi perusahaan mendapatkan keuntungan besar." Melisa yang mengetahui nama pemilik dealer ini karena Melisa pernah bertemu saat Melisa di antar ayahnya ke rumah sahabat ayah melisa yang memiliki saham di 700 Front ST San Diego.
"Gadis muda ini mengenal tuan Hans Potter..? Dia pasti bukan orang sembarangan. Memangnya gadis ini mau membeli berapa mobil ini jika aku menawarkannya?" Manajer tersebut membatin.
"Emm… ee… maaf nona, tetapi hal ini akan menjadi sangat bertentangan dengan aturannya." Manajer tersebut menjawab Melisa dengan sopan dan hati-hati.
"Apakah aturan harus kaku jika perusahaan dapat memiliki ke untungan berkali lipat. Kamu tinggal sebutkan harganya, aku akan membelinya."
"Sial, gadis ini terus memaksaku. Apakah dia akan membelinya jika aku memberi harga 4x lipat dari harga normal?" Manajer tersebut kembali membatin dengan ucapan Melisa.
__ADS_1
"Harga normal mobil ini $3.300.000. Aku akan memberikannya jika nona mau membeli dengan harga 4x lipat."
"Baiklah, setuju." Melisa berbicara dengan menjulurkan tangannya untuk simbol kesepakatan.